Laporan medis itu datang pada Selasa pagi, terselip di antara berkas rapat yang menumpuk di sudut meja Bian. Kertasnya masih hangat dari mesin cetak klinik perusahaan dan berbau tinta. Pemeriksaan rutin dua bulan sebelum pernikahan itu semestinya hanya formalitas, sesuatu yang ia tanda tangani sambil menunggu lift. Namun di halaman ketiga ada satu baris yang membuatnya berhenti membaca: gangguan irama jantung ringan. Dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan dan mengurangi kelelahan.
Bian membaca baris itu tiga kali, seolah hurufnya akan berubah kalau ditatap cukup lama. Di luar jendela, klakson dari jalan bawah naik seperti suara laut yang jauh. Ia meletakkan berkas itu telungkup, lalu membaliknya lagi. Tangannya tidak gemetar. Yang bergerak justru sesuatu di belakang tulang dadanya, entah karena laporan itu atau karena ia baru benar-benar menyadari bahwa tubuhnya bukan mesin yang bisa dipaksa terus menyala.
Ia sempat ingin menunda memberi tahu Dine sampai hasil lengkap keluar. Alasannya terdengar masuk akal di kepalanya sendiri. Kabar setengah jadi hanya akan membuat perempuan itu tidur dengan lampu menyala dan mencari istilah medis di ponsel sampai pagi. Bian tahu persis bagaimana rasanya menunggu kepastian, dan ia pikir menyimpannya beberapa hari adalah bentuk melindungi.
Namun ia teringat kesepakatan mereka tentang kemungkinan, bukan hanya keputusan akhir. Kalimat itu dulu keluar dari mulutnya sendiri, di ruangan lain, pada malam ketika ia belajar bahwa menyembunyikan sesuatu demi kebaikan orang lain tetap bernama menyembunyikan. Bian menutup berkas dan meraih ponsel.
Ia memberi tahu malam itu.
Dapur flat berbau jahe karena Dine sedang merebus air. Uap menempel tipis di kaca jendela. Dre melompat ke kursi kosong lalu melipat kakinya, tidak peduli pada apa pun yang sedang dibicarakan manusia. Bian meletakkan laporan itu di meja, menghadap ke arah Dine, tanpa menutupi satu baris pun.
Dine terkejut, tetapi tidak panik. Ia membaca perlahan, jarinya menyusuri istilah yang tidak dikenalnya, dan hanya sekali menarik napas lebih dalam dari biasanya. Ia tidak menangis dan tidak menuntut penjelasan panjang. Ketika Bian meminta, ia menemani pemeriksaan pada hari Kamis.
Yang tidak Dine katakan malam itu adalah bahwa tangannya sempat dingin ketika membaca kata jantung. Ia sudah cukup sering berdiri di sisi meja periksa untuk tahu bahwa kata ringan dalam laporan medis tidak selalu berarti aman, dan cukup lama mengenal Bian untuk tahu laki-laki itu akan menyebut apa pun sebagai hal kecil kalau ia takut membuat orang lain cemas. Ia menahan pertanyaan yang paling ingin diajukannya sampai besok pagi, karena malam bukan waktu yang jujur untuk menakar apa pun.
Ruang tunggu rumah sakit itu dingin dan terlalu terang. Ada bau alkohol medis yang tipis, bunyi roda kursi di lantai vinil, dan seseorang di sudut yang memanggil nama pasien dengan suara datar. Dine duduk memangku tas, memperhatikan tempelan elektroda di dada Bian dari balik kaca, dan menyadari betapa asing rasanya berada di sisi meja yang lain. Bertahun-tahun dialah yang memegang alat. Kali ini ia hanya orang yang menunggu.
Hasilnya menunjukkan kondisi dapat dikendalikan dengan perubahan gaya hidup dan pemantauan, tanpa prosedur besar saat ini. Dokter menyebut beberapa angka, menggambar sesuatu di kertas resep, lalu menutup dengan kalimat yang membuat bahu Bian turun beberapa sentimeter.
Di parkiran, Dine berhenti di depan mobil dan menoleh.
"Jadi ucapanmu dulu bahwa jantungmu bermasalah saat melihatku ternyata diagnosis?" tanya Dine.
Bian menahan senyum sebentar sebelum menyerah pada senyum itu.
"Dokter pertama yang kutemui memang kamu."
"Aku dokter hewan."
"Dan sarannya benar. Aku pergi ke dokter jantung."
Mereka tertawa, sedikit terlalu keras untuk lelucon sekecil itu, seperti orang yang baru meletakkan beban dan butuh alasan untuk mengeluarkan sisa tegangan. Lalu di dalam mobil pembicaraan berpindah ke bagian yang lebih sulit: dampaknya terhadap kerja Bian. Ia sering terbang tanpa istirahat dan memimpin rapat dari zona waktu berbeda. Dewan menunjuk direktur operasional permanen agar keputusan tidak bergantung padanya.
Bian awalnya merasa kehilangan kendali. Ia tidak mengatakannya sebesar itu. Ia hanya jadi lebih sering membuka surel pada jam sebelas malam dan menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya. Dine mengingatkan bahwa perusahaan yang sehat tidak boleh runtuh jika pemiliknya tidur delapan jam. Kalimat itu tidak menyenangkan didengar. Bian mendiamkannya semalam, lalu mengakui bahwa itu benar.
Yang sebenarnya membuatnya sulit bukanlah kursi yang diserahkan, melainkan kebiasaan lama yang ikut terangkat bersamanya. Selama bertahun-tahun ia mengukur nilainya dari seberapa banyak hal yang tidak bisa berjalan tanpa dirinya. Sekarang ukuran itu dicabut, dan ia harus mencari ukuran baru pada usia yang sudah terlalu tua untuk berpura-pura belajar dari nol dengan santai.
Di Animalia, Dine juga menunjuk dokter kedua sebagai kepala klinik. Ia melakukannya sambil merapikan lemari obat, dan di tengah bau kapas serta cairan pembersih itu ia menyadari dirinya melakukan kesalahan serupa dengan menganggap semua pasien membutuhkan tangannya sendiri. Ada rasa kehilangan kecil ketika ia menyerahkan kunci ruang tindakan. Ada pula kelegaan yang tidak ia duga akan datang secepat itu.
Mereka membuat rencana kesehatan bersama tanpa saling menjadi pengawas. Dine tidak memeriksa obat Bian setiap hari, dan Bian tidak memakai kondisinya untuk meminta Dine selalu berada di dekatnya. Batas itu ditulis, bukan diandaikan. Keduanya sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa perhatian yang tidak disepakati mudah sekali berubah bentuk menjadi kendali.
Sebulan kemudian, hasil pemantauan membaik. Angkanya turun ke tempat yang dokter sebut wajar, dan kalimat itu diucapkan begitu ringan sehingga Dine sempat memintanya diulang. Pernikahan tidak perlu ditunda.
Mereka tidak merayakannya. Bian hanya mengirim satu baris pesan berisi hasil itu, dan Dine membalas dengan satu kata. Perayaan terasa berlebihan untuk sesuatu yang sejak awal mereka putuskan untuk dihadapi apa adanya, entah hasilnya baik atau buruk.
Pada malam sebelum tanggal mereka genap satu tahun bertunangan, keduanya duduk di rumah netral yang hampir selesai. Sebagian lantai masih tertutup lembar pelindung, dinding dapur berbau cat, dan ada gulungan kabel di sudut yang belum sempat dirapikan tukang. Mereka memakai satu-satunya sofa yang sudah datang. Dre tidur di antara mereka, memanjang seperti garis pemisah yang tidak memisahkan apa pun.
"Masih mau menikah?" tanya Bian.
Dine tidak langsung menjawab. Ia memandang langit-langit yang belum dipasangi lampu utama, lalu tersenyum kecil.
"Pertanyaan itu boleh ditanyakan sampai sebelum akad."
"Dan jawaban hari ini?"
"Masih iya."
Bian mencium keningnya, dan bibirnya tinggal di sana sedikit lebih lama dari biasanya. Tidak ada keyakinan bahwa kehidupan akan selalu aman. Ada penyakit, masa lalu, keluarga, dan keputusan yang mungkin salah. Semua itu tetap berdiri di sekeliling mereka seperti perabot yang belum dipindahkan ke tempatnya.
Namun kali ini tidak ada seorang pun main belakang. Semua ketakutan diletakkan di depan, di antara mereka, agar dapat dilihat bersama.