Tiga hari sebelum pernikahan, sebuah amplop tiba di Animalia Pet World. Kurir meletakkannya di meja resepsionis di antara paket vaksin dan katalog pakan, lalu pergi tanpa menunggu tanda terima. Nola yang pertama memegangnya. Ia langsung merasa ada yang salah dari cara nama Dine ditulis: huruf besar semua, tinta ditekan terlalu kuat, dan tidak ada alamat pengirim di sudut mana pun.
Isinya surat dari Edrick yang masih menjalani hukuman. Kertasnya kasar dan bergaris tipis. Tulisan tangannya rapi dengan cara yang justru membuat perut Dine mengencang, seolah setiap huruf disusun berjam-jam sebelum ditulis. Ia meminta Bian mengizinkan Helena menghadiri akad sebagai wakil keluarga Emery dan menuduh Dine memecah keluarga.
Dine membaca surat itu sambil berdiri di dekat rak obat, dua kali, ditemani suara kipas ruang rawat dan gonggongan pelan dari kandang belakang. Dorongan pertamanya adalah merobek kertas itu dan membuangnya bersama sampah medis. Ia tidak melakukannya. Ia memasukkan surat itu kembali ke amplop, membawanya pulang, dan meletakkannya di meja makan.
Dine menyerahkan surat itu kepada Bian tanpa menyembunyikannya. Bian membacanya sekali, rahangnya mengeras, dan jarinya sempat menekuk sudut kertas sampai berbekas. Ia ingin membuangnya, tetapi mereka membacanya bersama agar keputusan tidak dibuat hanya dari kemarahan. Lampu meja menyala kuning di antara mereka. Dre duduk di kursi ketiga seperti biasa, tidak mengerti apa pun, dan justru itu yang membuat ruangan terasa lebih waras.
"Helena tetap kerabatmu," kata Dine. Ia mendorong surat itu beberapa sentimeter ke arah Bian. "Apa kamu menginginkannya hadir?"
Bian tidak menjawab cepat. Ia menatap tulisan tangan kakaknya, lalu menatap perempuan di depannya.
"Aku menginginkan keluarga yang menghormatimu. Bukan kursi penuh hanya agar foto terlihat utuh."
Dine menimbang kalimat itu lama sebelum menjawab. Ia tahu apa yang sedang dilakukan Edrick dari balik tembok penjara: memakai nama keluarga sebagai tali, menarik dari jauh, memastikan dirinya tetap punya suara di ruangan yang tidak bisa ia masuki. Cara paling mudah untuk melawannya adalah menolak semuanya sekaligus. Cara itu juga yang akan membuat Bian kehilangan satu-satunya kerabat yang tersisa.
Helena sendiri belum meminta undangan setelah aksesnya dibatasi. Ia diam sejak keputusan itu keluar, dan diam Helena selalu lebih sulit dibaca daripada suaranya. Bian menghubunginya keesokan sore dari balkon, berdiri memandang atap kota yang basah, dan menawarkan hadir sebagai tamu dengan satu syarat: tidak ada media, pidato, atau urusan perusahaan.
Helena menerima. Suaranya di telepon terdengar lebih tua dari yang Bian ingat. Ia juga mengakui tindakannya terhadap klinik melampaui batas, meski permintaan maafnya masih terdengar kaku, seperti kalimat yang disusun rapi di kepala sebelum diucapkan dan tidak sempat dihangatkan oleh perasaan apa pun.
Bian menyampaikannya kepada Dine malam itu juga, kata demi kata, tanpa memperhalus bagian yang tidak enak didengar. Dine mendengarkan sambil melipat handuk, lalu berhenti melipat.
"Saya belum memaafkan semuanya," jawab Dine. "Tapi Anda boleh hadir kalau benar-benar datang sebagai keluarga Bian."
Kalimat itu ia titipkan lewat Bian, dan ia meminta agar disampaikan persis seperti itu, tanpa dibuat lebih manis.
Pada hari berikutnya, daftar tamu bocor. Beberapa wartawan berkumpul di sekitar lokasi akad sejak pagi, berdiri di seberang jalan dengan payung dan tas kamera yang dibungkus plastik. Tim keamanan menawarkan memindahkan acara ke kediaman Emery, tempat yang tembok dan protokolnya sudah teruji bertahun-tahun.
Dine menolak keputusan mendadak. Ia sudah pernah menjadi perempuan yang acaranya diatur orang lain dalam semalam, dan ia tahu bagaimana rasanya berdiri di ruangan yang bukan pilihannya sendiri. Mereka memilih menambah penghalang privasi di sisi pagar dan meminta tamu tidak mengunggah lokasi sampai acara selesai. Permintaan itu ditulis sederhana di kartu kecil, tanpa ancaman hukum, hanya satu paragraf yang meminta kepercayaan.
Ada rasa aneh ketika Dine melihat pekerja memasang kain penghalang di pagar sore itu, satu lembar demi satu lembar, menutup pandangan dari jalan. Ia teringat bagaimana dulu ia justru dipajang: foto pertunangan yang tersebar, senyum yang diminta diulang, dan kalimat yang disiapkan orang lain untuk dijawabnya. Kali ini yang ditutup bukan dirinya, melainkan jarak antara dirinya dan orang yang tidak diundang.
Masalah lain datang ketika hujan diperkirakan turun. Akad semula disiapkan di kebun kecil rumah baru mereka, di bawah pohon yang daunnya baru mulai rapat. Bian ingin memasang tenda besar dalam semalam. Ia sudah menelepon dua vendor sebelum sempat berpikir panjang. Dine memilih menyiapkan ruang keluarga sebagai lokasi cadangan.
"Rumahnya belum sepenuhnya selesai," kata Bian.
Dine menoleh dari daftar yang sedang ia coret satu per satu.
"Pernikahan kita juga tidak menunggu hidup sepenuhnya selesai."
Bian membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia membatalkan telepon ketiga.
Ia mengenali dorongan itu dan tidak menyukainya. Sepanjang hidupnya, cara ia menunjukkan sayang adalah dengan membeli jalan keluar: tenda dalam semalam, ruangan yang dipesan seluruhnya, masalah yang dihilangkan sebelum orang lain sempat merasakannya. Kebiasaan itu tidak lahir dari niat buruk, tetapi ujungnya selalu sama, yaitu orang lain kehilangan kesempatan memutuskan sesuatu untuk dirinya sendiri.
Sore itu mereka memindahkan kursi ke dalam bersama-sama, menghitung ulang jumlahnya, dan menggeser dua lemari yang belum sempat diisi. Punggung Bian berkeringat di balik kemeja. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu persiapan, ia merasa sedang benar-benar menyiapkan pernikahannya sendiri, bukan menyetujui laporan orang lain.
Malam terakhir sebelum akad, Dine tidur di flat bersama Nola. Kamar itu sempit, berbau sabun cuci, dan penuh kardus yang belum sempat dipindahkan ke rumah baru. Ia melihat gaun tergantung di balik pintu, warnanya pucat oleh cahaya jalan yang masuk lewat celah tirai, dan kembali teringat acara lama. Ingatan itu datang seperti bau yang menempel di kain dan tidak bisa dicuci dalam sekali rendam. Bedanya, kali ini tidak ada rumor yang diabaikan atau calon suami yang mematikan ponsel.
Nola sudah tertidur duluan sambil memeluk bantal, mulutnya sedikit terbuka. Dine berbaring memandang langit-langit dan menghitung suara motor yang lewat di bawah.
Bian mengirim satu pesan.
Bian: Besok pagi, kalau jawabanmu berubah, katakan. Tidak ada biaya atau tamu yang lebih penting.
Dine: Jawabanku masih iya. Kamu?
Bian: Masih iya. Dengan sadar dan tanpa rahasia.
Dine membaca tiga baris itu dua kali, lalu meletakkan ponsel di dada sebentar sebelum mematikannya. Layar padam dan kamar menjadi lebih gelap dari sebelumnya. Ketenangan tidak datang karena ia yakin tidak akan pernah terluka lagi. Ketenangan datang karena dirinya tahu masih memiliki hak memilih bahkan pada malam sebelum pernikahan.