Hujan turun pagi hari dan membuat kebun tidak dapat digunakan. Air menggenang di jalur batu yang baru dipasang minggu lalu, dan kursi rotan yang sempat ditata semalam kini basah semua. Akad dipindahkan ke ruang keluarga. Kursi disusun rapat sampai lutut tamu hampir bersentuhan, sebagian dekorasi ditinggalkan di luar dengan penutup plastik, dan suara air terdengar terus dari jendela seperti latar yang tidak bisa dimatikan.
Bau cat dinding masih tercium samar, bercampur bau melati dari rangkaian bunga yang sempat diselamatkan. Seseorang menyalakan kipas untuk mengusir lembap. Ruangan itu jelas belum jadi, dan justru karena itu tidak ada satu pun bagiannya yang terasa palsu.
Bian berdiri di depan bersama Zhian. Kemejanya rapi, tetapi ujung sepatunya kotor karena ia sempat keluar memeriksa saluran air. Ia tidak melihat Dine sampai perempuan itu muncul di ujung lorong. Ada beberapa detik ketika suara hujan seperti hilang sama sekali dari pendengarannya.
Dine berjalan sendiri setengah perjalanan, lalu berhenti. Itu bagian yang mereka bicarakan berminggu-minggu sebelumnya, dan sekarang terjadi persis seperti yang disepakati.
Setengah lorong itu terasa lebih panjang daripada perhitungannya. Ada bunyi kain gaun menyapu lantai, ada mata yang menoleh satu per satu, dan ada bagian dari dirinya yang sempat menunggu pintu terbuka dengan keras di belakangnya. Pintu itu tidak terbuka. Yang terdengar hanya hujan, dan itu cukup untuk membuat bahunya turun.
Sesuai kesepakatan, Bian mendekatinya. Ia berjalan pelan, menahan diri untuk tidak terburu-buru. Ia tidak mengambil tangan Dine sebelum perempuan itu mengulurkannya. Tangan itu terulur, dingin di ujung jari.
"Masih iya?" bisiknya.
"Masih."
Mereka berjalan bersama menuju tempat akad, melewati barisan kursi yang terlalu rapat sehingga beberapa tamu harus menarik kaki. Nola menangis di baris depan, menutup mulut dengan telapak tangan dan gagal menutupi suaranya. Helena hadir tanpa fotografer dan duduk di samping beberapa staf lama keluarga Emery, punggungnya tegak, tangannya terlipat rapi di pangkuan.
Bian sempat melirik ke arah Helena satu kali, hanya sekejap, memastikan bahwa perempuan itu benar-benar datang sebagai orang yang duduk dan bukan sebagai orang yang mengatur. Helena membalas dengan anggukan kecil, lalu memandang lurus ke depan. Tidak ada yang berbicara di antara mereka sepanjang pagi itu, dan justru itu yang membuat kehadirannya bisa diterima.
Akad berlangsung singkat. Suara Bian sedikit bergetar ketika mengucapkan penerimaan, tetapi kalimatnya jelas dari awal sampai akhir, tanpa satu pun kata yang tertelan. Ada jeda satu tarikan napas sesudahnya, lalu seseorang menyatakannya sah. Setelah dinyatakan sah, ia tidak langsung mencium Dine. Ia menunggu sampai perempuan itu mendekat lebih dahulu.
Dine menyentuh pipinya, ibu jarinya berhenti di tulang rahang.
"Sekarang kamu boleh."
Bian mengecup keningnya, lama, matanya terpejam. Tepuk tangan memenuhi ruang yang belum selesai direnovasi dan memantul di dinding kosong sehingga terdengar dua kali lebih ramai daripada jumlah orangnya.
Dre berjalan keluar dari kamar dan duduk di antara kaki mereka, ekornya melingkar rapi seakan sudah lama berada di situ. Beberapa tamu tertawa. Zhian mengangkat kedua tangan dan mengaku tidak melepaskannya. Kucing itu rupanya mendorong pintu yang tidak tertutup rapat.
"Dia tetap ingin menjadi saksi," kata Bian.
Dine menunduk dan menggaruk kepala kucing itu dengan ujung jari. Dre memiringkan wajah, memejamkan mata, lalu menguap lebar tanpa peduli pada seluruh ruangan yang sedang memperhatikannya. Dari semua makhluk yang hadir pagi itu, hanya dia yang sudah ada di sisi Dine sejak jauh sebelum nama Emery pernah disebut di hidupnya.
Ada satu detik ketika Dine memejamkan mata dan mendengar semuanya sekaligus: hujan di atap, tepuk tangan, isak Nola, dan napas Bian yang terlalu dekat di keningnya. Ia pernah membayangkan bahwa hari seperti ini akan terasa seperti kemenangan. Ternyata tidak. Rasanya lebih mirip meletakkan tas berat yang sudah terlalu lama disandang tanpa sadar.
Acara makan berlangsung tanpa panggung. Meja panjang ditaruh di ruang tengah, piring diambil sendiri, dan orang berdiri di mana saja yang lantainya kering. Ketika listrik padam sebentar akibat hujan, para tamu menyalakan lampu ponsel hampir bersamaan, dan ruangan berubah menjadi kumpulan titik putih kecil yang bergerak pelan. Tidak ada yang panik. Seseorang malah bertepuk tangan lagi.
Helena mendekati Dine sebelum pulang, ketika lampu sudah menyala kembali dan sebagian tamu sedang mencari payung masing-masing. Ia menyerahkan sebuah kotak berisi bros milik almarhum ibu Bian. Kotaknya beludru tua, sudutnya sudah aus oleh tangan.
"Ini bukan kewajiban untuk meneruskan tradisi," katanya. "Simpan kalau kamu mau."
Dine memegang kotak itu tanpa membukanya lebih dulu. Ia menoleh mencari Bian di seberang ruangan, dan menerima setelah memastikan Bian setuju lewat satu anggukan kecil. Bros itu disimpan sebagai kenangan, bukan simbol penyerahan posisi perempuan keluarga Emery. Perbedaan itu tidak diucapkan keras-keras, tetapi ketiganya memahaminya.
Setelah Helena pergi, Dine berdiri sebentar di dekat pintu sambil memegang kotak itu dengan kedua tangan. Ia sadar betul bahwa benda kecil di dalamnya pernah menjadi milik seseorang yang tidak pernah ia temui, dan bahwa penerimaannya hari itu tidak menghapus apa pun yang sudah terjadi. Menerima bukan berarti selesai. Menerima hanya berarti ia tidak lagi harus menolak untuk merasa aman.
Di luar rumah, media hanya mendapatkan foto tamu pulang: payung, kaca mobil yang berembun, dan lampu rem yang menyala di jalan basah. Bian dan Dine tidak memberikan wawancara. Pernyataan resmi mereka hanya berbunyi bahwa pernikahan telah berlangsung secara pribadi.
Malamnya, setelah semua pergi, keduanya duduk di lantai di antara kotak dekorasi. Hujan sudah berhenti dan yang tersisa hanya tetes dari talang. Ada sisa kelopak bunga menempel di ubin, gelas kosong di meja, dan bau lilin yang baru dipadamkan.
Kaki Dine pegal, riasannya sudah luntur di bagian mata, dan gaunnya terasa berat di pinggang. Ia menyandarkan bahu ke kotak kardus terdekat dan membiarkan kepalanya miring. Rumah itu masih setengah jadi di setiap sudut yang bisa dilihat, dan tidak ada satu pun bagian dari hari ini yang berjalan sesuai rencana awal.
"Aku menikah lagi di tengah kekacauan," kata Dine.
Bian menyandarkan kepala ke dinding.
"Kali ini akadnya selesai."
"Dan tidak ada orang menerobos sambil berteriak."
"Aku sudah ada di dalam. Tidak perlu menerobos."
Mereka tertawa, dan tawa itu berlangsung lebih lama daripada leluconnya, sampai keduanya diam sendiri dan hanya terdengar suara air dari talang. Dine melepas gaun sendiri, tanpa menunggu dibantu dan tanpa upacara apa pun. Lalu ia kembali kepada Bian tanpa simbol kesucian atau tuntutan. Malam pertama mereka berlangsung dalam keintiman yang dipilih bersama dan tetap menjadi milik keduanya.