Bian terbangun lebih dahulu. Cahaya pagi masuk lewat jendela yang belum berkorden, jatuh memanjang di lantai, dan ia berbaring beberapa menit hanya memperhatikan bentuk cahaya itu sebelum turun. Rumah masih berbau cat dan bunga kemarin. Ia mencoba membuat sarapan, sesuatu yang selama sepuluh tahun terakhir selalu dikerjakan orang lain untuknya.
Ia berhasil dengan telur. Ia gagal dengan roti. Alarm asap berbunyi nyaring dan panjang, memantul di seluruh rumah yang masih kosong perabot, membuat Dre lari ke bawah sofa dan membuat Dine turun dengan rambut berantakan serta kaus yang jelas milik suaminya.
Dine berhenti di anak tangga terakhir, memandang asap tipis di atas pemanggang.
"Hari pertama dan kamu sudah mencoba membakar rumah," katanya.
Bian mengibaskan lap ke arah detektor tanpa menoleh.
"Aku hanya menguji sistem keamanan."
Mereka makan telur dan bagian roti yang masih dapat diselamatkan, duduk berhadapan di meja yang kursinya belum seragam. Tidak ada staf rumah tangga karena Dine meminta minggu pertama tanpa pelayanan tetap. Ia ingin tahu bagaimana rumah itu berjalan kalau hanya ada mereka berdua, sebelum kebiasaannya dibentuk oleh orang lain.
Dapur itu terasa terlalu besar untuk dua orang dan terlalu kosong untuk disebut siap. Belum ada wadah bumbu, belum ada tempat sampah yang benar, dan mereka harus mencari pembuka kaleng di tiga laci berbeda. Namun ada sesuatu yang menyenangkan dalam kekurangan itu. Setiap benda yang akhirnya menemukan tempatnya diletakkan oleh salah satu dari mereka, bukan oleh orang yang dibayar untuk tahu lebih dulu.
Masalah praktis segera muncul. Bian meninggalkan pakaian di kursi, kemeja di sandaran dan kaus kaki di lengan sofa, seperti jejak yang menandai ke mana ia berjalan. Dine membawa dokumen klinik ke meja makan sampai kertas bercampur remah. Keduanya memiliki kebiasaan mengatur suhu ruangan berbeda, dan angka pendingin di ruang tengah berganti empat kali dalam satu sore.
Mereka membuat aturan sementara. Bian menulisnya di kertas dan hampir menempelkannya di kulkas, tetapi Dine menolak rumah berubah menjadi daftar prosedur.
"Kita boleh berantakan sedikit," katanya.
Bian menatapnya beberapa detik, seperti memastikan ia tidak salah dengar.
"Kalimat itu tidak pernah kuduga keluar darimu."
Dine mengangkat bahu dan meneruskan sarapannya. Ia tidak menjelaskan bahwa keteraturan yang selama ini melekat padanya sebagian besar lahir dari rasa takut. Rumah yang rapi lebih mudah dijaga, dan hal yang mudah dijaga lebih kecil kemungkinannya berantakan tanpa sepengetahuannya. Sekarang ia sedang mencoba tinggal di rumah yang tidak perlu dijaga seperti itu.
Pada hari ketiga, Bian harus menghadiri rapat mendadak. Ia berkata hanya dua jam. Ia pergi pukul empat sore dengan kemeja yang belum disetrika benar. Namun ia pulang lewat tengah malam karena krisis distribusi, dan Dine menunggu tanpa kabar selama tiga jam terakhir.
Tiga jam itu terasa lebih panjang daripada seluruh hari. Dine sempat membaca, lalu berhenti karena matanya kembali ke halaman yang sama. Ia menaruh ponsel telungkup, membaliknya lagi, menaruhnya lagi. Ia tahu tidak ada yang salah kalau dipikir dengan logika. Tubuhnya tidak setuju dengan logika itu.
Yang muncul di kepalanya bukan kecelakaan dan bukan rumah sakit. Yang muncul adalah gambar lama: sebuah ruangan dengan orang-orang yang tahu sesuatu tentang hidupnya sebelum ia tahu sendiri, dan seorang laki-laki yang memilih tidak menjawab. Dine sadar betul gambar itu tidak adil untuk Bian. Kesadaran tidak membuatnya hilang. Ia duduk di anak tangga dengan lutut ditarik ke dada dan menunggu bunyi mobil.
Ketika Bian tiba, membawa bau hujan dan lift kantor di jaketnya, kemarahan Dine sudah bercampur ketakutan lama.
"Ponselku mati," jelas Bian.
"Kamu berada di gedung penuh telepon."
Bian hampir membela bahwa masalahnya besar. Kalimatnya sudah tersusun: ada gudang yang tertahan, ada orang yang menunggu keputusannya. Lalu ia berhenti, karena semua itu benar dan tidak satu pun menjawab pertanyaan Dine. Ia dapat meminta Zhian mengirim kabar dalam sepuluh detik.
"Aku salah. Aku kembali memakai pekerjaan sebagai alasan menghilang."
Dine tidak langsung memaafkan. Ia mengangguk, mengambil gelas, lalu naik lebih dulu. Mereka tidur dalam keadaan tegang, saling membelakangi di ranjang yang masih terlalu baru, tetapi tidak memakai diam sebagai hukuman berhari-hari. Menjelang pagi, tangan Bian menemukan tangan Dine dan tidak ditolak.
Pagi berikutnya Bian mengusulkan protokol sederhana sambil menuang kopi. Jika perangkatnya tidak dapat dipakai, satu anggota tim mengirim kabar melalui nomor resmi. Dine juga berjanji tidak menghubungi seluruh kantor sebelum batas waktu yang mereka sepakati, karena ia tahu paniknya sendiri bisa berubah menjadi jaring yang menyeret banyak orang.
Aturan itu terdengar kecil kalau ditulis, hanya beberapa baris di catatan ponsel. Tetapi keduanya tahu ukuran sebuah aturan tidak ditentukan oleh panjang kalimatnya, melainkan oleh seberapa sering ia akan diuji. Bian bekerja di bidang yang setiap bulannya menyediakan alasan baru untuk menghilang, dan Dine hidup dengan ingatan yang setiap bulannya menyediakan alasan baru untuk curiga.
Mereka membahasnya dalam konseling setelah bulan madu singkat ditunda. Ruangannya sederhana, ada kotak tisu di meja bundar, dan konselor mengingatkan bahwa menikah tidak menghapus pemicu trauma. Kalimat itu ditulis Dine di ponselnya, satu baris saja, dan dibaca lagi beberapa hari kemudian ketika ia butuh diingatkan.
Di mobil dalam perjalanan pulang dari konseling, keduanya diam cukup lama. Bukan diam yang berat, hanya diam orang yang baru mendengar sesuatu yang sudah lama mereka ketahui tetapi belum pernah diucapkan orang lain dengan lantang. Lampu jalan lewat satu per satu di kaca samping. Dine menyandarkan kepala dan membiarkan cahayanya bergerak di kelopak matanya.
Bian pulang membawa ponsel cadangan, meletakkannya di meja seperti bukti kesungguhan. Dine menolak menjadikannya solusi utama.
"Masalahnya bukan alat. Masalahnya kamu harus ingat ada orang yang menunggu informasi."
"Aku akan mengingat melalui sistem sampai menjadi kebiasaan."
Dine menerima jawaban itu, bukan karena terdengar sempurna, melainkan karena jujur tentang cara Bian bekerja. Ia tahu suaminya lebih bisa dipegang ketika membuat mekanisme daripada ketika berjanji dengan perasaan.
Sisa minggu itu berjalan lebih pelan. Bian mengirim pesan singkat setiap kali rapatnya diperpanjang, kadang hanya dua kata, kadang hanya jam berapa ia akan pulang. Dine tidak selalu membalas. Ia hanya perlu tahu bahwa pesan itu ada, seperti orang yang menyalakan lampu teras bukan untuk menerangi apa pun, melainkan untuk memastikan listriknya masih menyala.
Pernikahan mereka baru berusia satu minggu dan sudah memiliki pertengkaran pertama. Anehnya, Dine tidak menganggap itu tanda dirinya salah memilih. Mereka telah kembali ke meja dan menyelesaikan masalah tanpa kebohongan.