Malam itu, rumah Bu Erna berubah menjadi medan perang yang sunyi.
Pintu kamar utama terkunci sejak siang. Nessa tidak keluar untuk makan, tidak juga untuk mencuci piring seperti yang biasa ia pamerkan di depan mertuanya. Rizal sudah tiga kali mengetuk, dan tiga kali pula dijawab dengan bantal yang dilempar ke daun pintu.
Bu Erna terkapar di kursi tamu dengan balsem di pelipis, mengeluh kepalanya mau pecah. Dapur dingin. Tudung saji kosong. Magic com bahkan tidak dicolokkan.
Lily pulang dari warung depan gang membawa tiga bungkus nasi goreng dan sekantong jeruk. Ia makan bersama anak-anak di kamar belakang, duduk bersila di atas tikar.
"Ma, kenapa Tante Nessa nangis terus? Kenapa Papa marah-marah?" tanya Abi sambil mengunyah.
Lily memilih kata dengan hati-hati. "Orang dewasa lagi bertengkar soal barang, Bang. Bukan salah kalian. Kalian makan, belajar, terus tidur. Itu tugas kalian."
"Barang apa?" tanya Husen.
"Barang yang enggak sepenting kalian," jawab Lily sambil mencubit pipi bungsunya.
Husen terkikik, lalu menyuapkan nasi gorengnya dengan lahap. Abi masih menatap ibunya sebentar, seperti hendak bertanya lagi, lalu memutuskan untuk mengupas jeruk. Lily tahu putra sulungnya mulai mengerti lebih banyak daripada yang ia tunjukkan. Anak kelas empat bukan lagi anak kecil yang bisa dibohongi dengan cerita kancil.
****
Pukul sebelas malam, ketukan terdengar di pintu kamar belakang. Kali ini bukan ketukan pelan penuh harap seperti kemarin. Ketukannya berat dan tidak sabar.
"Ly, buka."
Lily tidak bangun dari ranjang. Pintu sudah ia kunci sejak anak-anak kembali ke kamar mereka.
"Ada apa, Mas?"
"Kamu pikir kamu menang?" suara Rizal rendah dan menekan dari balik pintu. "Aku bisa laporin kamu ke polisi. Penipuan, penggelapan, apa aja. Biar kamu dipenjara."
Lily memandangi langit-langit. Dulu, ancaman seperti itu mungkin akan membuatnya gemetar semalaman. Sekarang, ia malah ingin tertawa.
"Silakan, Mas," jawabnya tenang. "Sekalian ralat laporanmu kemarin."
Hening di balik pintu.
"Gelang dua puluh tiga karat, dua puluh gram lebih, kan, katamu ke polisi? Pakai surat segala," lanjut Lily. "Kalau polisi tahu gelang itu emas-emasan, yang ditanya duluan siapa? Aku, atau yang bikin laporan?"
Hening lagi, lebih panjang. Lily bisa membayangkan wajah Rizal di balik pintu, memucat seperti nasi yang kelamaan didiamkan.
"Itu ... aku kan enggak tahu kalau palsu!"
"Makanya diralat, Mas. Jujur itu murah. Jauh lebih murah dari seratus gram."
Langkah kaki Rizal menjauh dengan terseret. Lily menarik selimut sampai ke dagu, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia tertidur dengan cepat.
****
Rabu pagi, Rizal berangkat lebih awal dari biasanya. Ia tidak sarapan. Ia tidak pamit pada siapa pun. Mobilnya tidak menuju kantor, melainkan ke Polsek.
Petugas yang hari Senin menerima laporannya masih duduk di meja yang sama, menyesap kopi dari gelas plastik. Ia mengenali Rizal.
"Eh, Pak Rizal. Ada perkembangan? Sudah ingat ciri-ciri pelakunya?"
"Bu-bukan, Pak," Rizal duduk dengan kaku. "Saya mau ... meralat laporan."
"Meralat bagaimana?"
Rizal menelan ludah. "Gelang yang hilang itu ... ternyata bukan emas, Pak."
Petugas itu meletakkan gelas kopinya. "Bukan emas? Lho, Senin kemarin Bapak bawa surat dua puluh tiga karat."
"Suratnya memang asli, Pak. Tapi barangnya ... emas-emasan. Imitasi."
Petugas di meja sebelah, yang tadinya sibuk mengetik, berhenti dan menoleh. Bibirnya berkedut. Rizal bisa merasakan wajahnya terbakar sampai ke telinga.
"Jadi nilai kerugiannya berubah, ya, Pak," kata petugas pertama sambil membuka berkas. "Kira-kira berapa harga gelang imitasi begitu? Seratus ribu?"
"Sa-saya enggak tahu, Pak."
"Kita tulis seratus ribu saja." Petugas itu mencoret dan menulis ulang, lalu menyodorkan kertasnya untuk ditandatangani. "Tapi laporan penjambretannya tetap jalan, Pak. Emas atau bukan, merampas di jalan itu tetap kejahatan. Yang penting istri Bapak selamat."
Rizal mengangguk-angguk tanpa suara. Ia menandatangani berkas itu secepat mungkin, lalu keluar dengan langkah cepat. Dari balik pintu kaca, ia masih sempat mendengar dua petugas itu tertawa.
****
Di kantor, suasananya lebih buruk lagi.
Rizal datang terlambat setengah jam. Begitu ia melewati deretan meja, bisik-bisik langsung terdengar, lalu berhenti, lalu terdengar lagi di belakang punggungnya. Meja Nessa di ujung ruangan kosong.
Dodi, rekan semejanya, menggeser kursi mendekat sambil menyodorkan ponsel. Di layarnya ada tangkapan layar sebuah percakapan grup.
[Ibu-ibu, tadi di toko emas ada mertua sama mantu baru ribut. Mas kawin 100 gram ternyata emas-emasan semua!!! Saya lihat sendiri]
"Istriku dapat dari grup arisan kompleks," bisik Dodi dengan wajah prihatin yang dibuat-buat. "Benar, Zal?"
Rizal merebut ponsel itu, membaca ulang, lalu mengembalikannya tanpa berkata apa-apa.
Siang harinya, saat makan di kantin, seseorang dari meja sebelah berseru sambil tertawa, "Zal! Seratus gram itu gram apa? Gram kerupuk?"
Seisi kantin meledak dalam tawa. Rizal meninggalkan nasinya yang masih separuh. Di lorong menuju ruangannya, ia berpapasan dengan atasannya, yang hanya menatapnya sekilas dan berkata, "Urusan rumah jangan dibawa ke kantor, Zal. Laporan bulan ini sudah telat dua hari."
****
Sementara itu, Lily menjalani Rabunya dengan tenang. Setelah mengantar anak-anak, ia mampir ke ruang tata usaha sekolah dan bertanya dengan sopan apa saja yang diperlukan untuk mengurus surat pindah. Petugasnya memberinya selembar daftar. Lily melipatnya, lalu menyimpannya di dompet.
Di parkiran sekolah, ia mengetik pesan.
[Kak Juna, aku jadi ambil rukonya]
Balasannya datang tidak sampai semenit. Kali ini, Beruang Kutub itu membalas lebih cepat dari biasanya.
[Iya. Kontrak kusiapkan]
[Sabtu. Sama kakakku dan istrinya]
[Iya]
Lily menyimpan ponselnya dan tersenyum kecil. Ternyata ada juga untungnya punya pemilik ruko yang irit bicara. Tidak ada basa-basi, dan tidak ada pertanyaan yang membuatnya harus berbohong.
Siangnya ia menelepon Kak Ina, yang langsung berteriak kegirangan sampai Lily harus menjauhkan ponsel dari telinga. Kak Ina berjanji membawa kue dan seprai baru, lalu menghabiskan setengah jam bertanya soal warna cat kamar anak-anak. Lily menjawab sambil tertawa. Sudah lama ia tidak membicarakan hal-hal yang begitu sederhana dan begitu menyenangkan.
****
Malam harinya, Rizal pulang dan mendapati sebuah koper besar berdiri di depan pintu kamar utama.
"Nes ... kamu mau ke mana?" suaranya bergetar.
Nessa keluar dari kamar dengan wajah sembab tapi dagu terangkat. "Aku sudah telepon Bapak sama Ibu. Mereka mau ketemu kamu, Mas. Besok malam."
"Besok?"
"Iya. Dan koper ini," Nessa menepuk kopernya, "tergantung jawabanmu besok."