Kamis sore, setelah berminggu-minggu menyerahkan dapur pada Nessa, Bu Erna kembali memasak sendiri tanpa diminta siapa pun.
Ia menggoreng ayam, merebus sayur asam, dan mengulek sambal terasi, sambil terus mengomel dengan suara yang cukup keras untuk terdengar sampai kamar belakang.
"Ly! Bantu Ibu! Tamunya orang terhormat. Jangan bikin malu keluarga!"
Lily keluar dari kamarnya, melirik panci-panci yang mengepul, lalu tersenyum.
"Demi nama keluarga, ya, Bu? Boleh."
Ia mengambil alih kompor yang satu lagi, membuat teh manis dalam teko besar, lalu menyusun kue lapis yang ia beli tadi siang di atas piring kaca. Semuanya rapi. Semuanya pantas. Bu Erna melirik curiga, tapi tidak protes. Ia terlalu panik untuk bertengkar.
Lily sendiri tahu betul kenapa ia mau membantu. Ini bukan soal nama keluarga. Ia hanya ingin menjadi orang yang paling tenang dan paling sopan di ruangan itu malam nanti. Kadang, menjadi tuan rumah yang baik adalah cara paling cantik untuk menonton badai.
****
Selepas magrib, sebuah mobil tua berwarna perak berhenti di depan pagar. Seorang laki-laki berusia enam puluhan turun lebih dulu, berkemeja batik dan berpeci hitam. Di belakangnya, seorang perempuan berkerudung krem berjalan pelan dengan mata sembab.
"Pak Mansyur, Bu Rahmah, silakan, silakan masuk," Bu Erna menyambut dengan senyum yang terlalu lebar.
Pak Mansyur hanya mengangguk singkat. Ia duduk di kursi tamu, punggungnya tegak, kedua tangannya bertumpu di lutut. Lily pernah mendengar dari obrolan Rizal dan Bu Erna bahwa ayah Nessa adalah pensiunan guru. Sekarang ia bisa melihatnya sendiri. Cara duduknya saja sudah membuat ruangan terasa seperti kelas yang sedang ujian.
Nessa keluar dari kamar dan langsung duduk di samping ibunya. Rizal duduk di seberang, berkali-kali mengusap lututnya sendiri dengan telapak tangan yang basah.
Lily meletakkan nampan berisi teh dan kue di meja.
"Silakan diminum, Pak, Bu."
"Terima kasih, Nak," jawab Bu Rahmah lirih.
Pak Mansyur tidak menyentuh tehnya. Ia menatap Rizal lurus-lurus.
"Rizal. Bapak langsung saja. Waktu akad, di depan penghulu, di depan saksi, di depan keluarga besar kami, kau menyebut mas kawin emas seratus gram. Orang sekampung melihat kau memasangkan perhiasan itu di leher dan tangan anak Bapak. Sekarang ternyata semuanya emas-emasan." Suaranya tidak keras, tapi setiap katanya seperti ketukan penggaris di atas meja. "Kau tahu itu penghinaan buat keluarga kami?"
"Pak, itu bukan salah Rizal!" potong Bu Erna cepat. "Itu ulah Lily! Dia yang menukar emasnya!"
Pak Mansyur menoleh pada Bu Erna, lalu pada Lily yang berdiri di dekat pintu dapur, lalu kembali pada Rizal.
"Bu Erna, saya tidak menikahkan anak saya dengan Lily. Saya menikahkannya dengan Rizal. Yang menyebut mas kawin di depan penghulu itu Rizal. Yang menyerahkan perhiasan itu Rizal. Kalau barangnya palsu, yang berutang mas kawin tetap Rizal."
Bu Erna terdiam. Rizal menunduk dalam-dalam.
"Satu lagi," lanjut Pak Mansyur. "Buku nikahnya kapan jadi? Waktu itu kau bilang sebulan diurus. Ini sudah lewat sebulan."
Rizal tergagap. "Ma-masih ... diurus, Pak."
Lily menahan napas. Setahunya, untuk beristri dua secara resmi, seorang suami harus mendapat izin dari pengadilan, dan salah satu syaratnya adalah persetujuan tertulis dari istri pertama. Lily tidak pernah menandatangani apa pun. Rizal juga tidak pernah memintanya. Itu artinya hanya satu hal.
Pak Mansyur sepertinya sampai pada kesimpulan yang sama. Matanya menyipit. Bu Rahmah menutup mulut dengan ujung kerudungnya dan mulai terisak.
"Jadi anak Bapak kau nikahi tanpa dicatat," gumam Pak Mansyur. Itu bukan pertanyaan.
Nessa memandang suaminya dengan wajah seperti baru disiram air es. Jelas ia pun baru menyadarinya malam itu.
"Begini saja," Pak Mansyur menegakkan punggung. "Bapak beri waktu satu bulan. Mas kawin seratus gram, yang asli, kau lunasi. Kalau dalam sebulan kau tidak sanggup, Nessa pulang ke rumah kami, dan urusan ini kita selesaikan baik-baik. Berpisah."
"Satu bulan? Uang dari mana, Pak?" Bu Erna hampir menjerit.
"Itu urusan yang berjanji, Bu."
****
Sebelum pamit, Pak Mansyur berhenti di dekat pintu dapur, tepat di depan Lily. Ia menatap Lily beberapa saat, lalu menundukkan kepala sedikit.
"Nak, Bapak minta maaf. Anak Bapak sudah masuk ke dalam rumah tanggamu."
Lily terkejut. Dari semua orang yang ada di rumah itu, justru tamu inilah yang pertama kali meminta maaf padanya.
"Bapak tidak salah apa-apa," jawab Lily pelan. "Hati-hati di jalan, Pak."
Di belakang ayahnya, wajah Nessa memerah padam. Ia memalingkan muka dan bergegas mengantar orang tuanya ke mobil. Lily melihat bahu Nessa naik turun dari balik jendela, seperti orang yang sedang menahan tangis sekuat tenaga.
****
Begitu mobil perak itu menghilang di ujung jalan, Bu Erna dan Rizal mengepung Lily di dapur.
"Ini semua gara-gara kamu!" desis Bu Erna. "Kamu yang bikin masalah, kamu yang harus selesaikan! Pinjamkan uangmu buat bayar mas kawin Nessa!"
"Uang emas itu sudah enggak ada di aku, Bu," jawab Lily sambil mencuci teko.
"Di mana?!" bentak Rizal.
Lily tidak menjawab. Air keran terus mengalir di atas tangannya.
"Ya sudah!" Bu Erna mengentakkan kaki. "Jual tanahmu yang sehektar lagi! Masih ada, kan, yang di kampung itu!"
Lily mematikan keran. Ia mengeringkan tangannya dengan serbet, pelan-pelan, lalu menoleh dengan senyum paling manis yang ia punya.
"Tanah yang mana, Bu?"
"Ya yang di kampung itu! Yang sehektar lagi!"
"Oh, yang itu," Lily mengangguk-angguk. "Sudah kujual, Bu. Beberapa minggu lalu."
Bu Erna dan Rizal ternganga bersamaan, seperti dua ekor ikan mas koki di dalam akuarium.
"Uangnya?!" teriak Rizal.
"Sudah jadi modal usaha. Atas namaku."
"Kamu jual tanah tanpa izinku?!"
Lily menggantungkan serbet di paku dekat jendela. "Mas juga nikah lagi tanpa buku nikah, kan?"
Rizal terdiam seperti orang yang baru ditampar.
Lily melangkah keluar dari dapur, meninggalkan mereka berdua. Dari belakang, ia masih mendengar Bu Erna meratap panjang, menyebut-nyebut nama almarhum suaminya, seolah orang yang sudah tiada itu bisa bangkit dan mengembalikan tanah sehektar ke dalam genggamannya.
Di lorong, Lily berpapasan dengan Arjuna yang baru pulang. Laki-laki itu berhenti, menatap ke arah dapur yang riuh, lalu menatap Lily.
"Tanah yang mana, Bu?" ulang Arjuna dengan suara datar, menirukan Lily.
Lily menatapnya tajam. "Kakak nguping lagi?"
"Dindingnya tipis," jawab Arjuna, lalu masuk ke kamarnya. Tapi sebelum pintu tertutup, Lily berani bersumpah ia melihat bahu kakak iparnya itu berguncang menahan tawa.