Jumat malam, Rizal menelepon Romy.
Lily mendengar semuanya dari kamar belakang, karena Rizal sengaja berbicara di ruang tengah dengan suara keras, mungkin supaya terdengar gagah.
"Bang Romy, saya mau bicara soal uang Lily. Itu uang keluarga, Bang. Sekarang keluarga lagi butuh. Abang kembalikan ke sini ... Halo? ... Bang? ... Iya. Iya, Bang. Besok."
Telepon ditutup. Rizal terdiam cukup lama di ruang tengah. Lily tidak perlu bertanya apa yang dikatakan kakaknya. Ia bisa menebak. Romy tidak pernah banyak bicara kalau sedang marah. Biasanya ia hanya mengucapkan satu kalimat pendek, lalu datang.
Siang tadi, Lily sudah ke bank dan menarik uang untuk sewa ruko dari buku tabungannya di depan teller. Amplop cokelat tebal itu kini tersimpan di dasar tas selempangnya, terselip di antara map berisi surat-surat penting. Malam itu tas tersebut tidur di samping bantalnya.
****
Sabtu pukul sembilan pagi, sebuah mobil berwarna abu-abu berhenti di depan pagar. Abi yang sedang bermain kelereng di teras langsung melompat.
"Julak Romyyy!"
Husen menyusul berlari, hampir tersandung sandalnya sendiri. Romy turun dari mobil, dan tubuhnya yang tinggi besar langsung membungkuk menyambut kedua keponakannya ke dalam pelukan. Di belakangnya, seorang perempuan berwajah ramah turun membawa kantong plastik besar berisi buah dan kue.
"Kak Ina!" Lily berlari kecil dan memeluk kakak iparnya erat-erat. Selama ini ia selalu menahan diri. Begitu dipeluk Kak Ina, matanya langsung panas.
"Sudah, sudah. Kuat, Ly. Kamu kuat," bisik Kak Ina sambil menepuk-nepuk punggungnya.
Romy menegakkan badan. Ia menatap rumah Bu Erna dari pagar sampai atap, seperti tukang bangunan menaksir rumah yang sudah lapuk.
"Mana suamimu?"
****
Ruang tamu yang biasanya terasa lapang mendadak sempit. Romy duduk di kursi tunggal, Lily dan Kak Ina di sofa panjang. Di seberang mereka, Rizal dan Bu Erna duduk berdempetan. Nessa tidak keluar dari kamarnya. Arjuna berdiri di ambang pintu dapur dengan segelas kopi, wajahnya datar seperti biasa.
Anak-anak sudah dititipkan bermain di kamar mereka dengan setumpuk buku cerita bawaan Kak Ina.
"Bu Erna, Rizal," Romy membuka pembicaraan. Suaranya berat dan tenang. "Saya tidak datang untuk ribut."
"Bang, soal uang itu ...," Rizal memotong.
"Saya belum selesai." Romy tidak meninggikan suara, tapi Rizal langsung menutup mulutnya. "Adik saya sudah sebelas tahun tinggal di rumah ini. Selama dia bekerja, gajinya dipakai untuk anak-anaknya, untuk kekurangan susu dan popok yang tidak pernah cukup dari jatah Ibu. Gaji suaminya, Ibu yang pegang. Waktu dia dirumahkan, dia tidak pernah minta apa-apa. Lalu suaminya minta menikah lagi, dan tanahnya diminta untuk mas kawin perempuan lain."
Bu Erna mengeluarkan saputangan dan mulai terisak. "Ibu enggak tahu apa-apa, Romy. Ibu cuma ...."
"Bu, adik saya mendengar sendiri usul menjual tanah itu dari mulut Ibu," potong Romy. "Kita tidak perlu berpura-pura."
Isak Bu Erna berhenti mendadak, seperti keran yang ditutup.
"Saya datang untuk bilang satu hal," lanjut Romy. "Mulai hari ini, adik saya tidak menanggung apa pun lagi di rumah ini. Uangnya ada di tempat yang dia pilih. Kalau Saudara merasa berhak atas uang itu, silakan gugat. Bawa bukti."
"Dia istri saya, Bang! Uang istri ya uang suami juga!" Rizal mulai berdiri.
"Duduk, Zal," suara Arjuna terdengar dari ambang pintu dapur, datar seperti biasa.
Rizal menoleh pada kakaknya dengan wajah tidak percaya, lalu duduk kembali.
Lily menegakkan punggung. Ia sudah memikirkan kalimat ini berhari-hari. Ia ingin mengucapkannya sendiri, bukan lewat mulut kakaknya.
"Mas," panggilnya. "Aku mau pindah dari rumah ini. Sama anak-anak. Dan aku mau cerai."
Ruangan itu mendadak hening. Bahkan jam dinding seakan berhenti berdetak.
"Ce-cerai?" Rizal tergagap. "Kamu ... kamu enggak bakal bisa hidup tanpa aku!"
"Selama ini yang hidup tanpa kamu siapa, Mas?" Lily menatap suaminya tanpa berkedip. "Aku. Pakai gajiku. Pakai tanahku."
"Anak-anak tetap di sini!" Rizal menunjuk ke arah kamar anak-anak.
Pintu kamar itu ternyata terbuka sedikit. Dari celahnya, dua pasang mata kecil mengintip. Begitu nama mereka disebut, Husen berlari keluar dan memeluk pinggang Lily. Abi menyusul, berdiri tegak di samping ibunya seperti pengawal kecil.
"Kalau mau ribut soal anak, nanti di pengadilan agama," ujar Romy tenang. "Hakim yang memutuskan. Bukan suara siapa yang paling keras."
****
Siang harinya, Lily duduk di bangku depan mobil Romy, menunjukkan jalan. Kak Ina dan anak-anak di bangku belakang, ramai membicarakan jembatan sungai yang airnya seperti susu cokelat.
Ketika mereka tiba di deretan ruko itu, mobil hitam Arjuna sudah terparkir di depan unit paling ujung. Rolling door-nya terbuka. Di dalam, sebuah meja lipat dan empat kursi plastik sudah disiapkan.
Arjuna menyambut mereka di depan pintu. Romy menjabat tangannya, cukup lama, matanya menelusuri wajah Arjuna seolah sedang membaca sesuatu.
"Romy."
"Arjuna."
Hanya itu. Dua laki-laki irit bicara, saling mengukur dalam diam. Kak Ina menyikut Lily dan berbisik, "Mirip, ya. Sama-sama kayak tembok."
Lily menahan tawa.
Kontraknya dua lembar, diketik rapi. Romy membacanya baris demi baris, lalu menyerahkannya pada Lily untuk dibaca ulang. Sewa setahun, sesuai harga di iklan, atas nama Lily. Listrik dan air ditanggung penyewa. Kerusakan bangunan ditanggung pemilik.
Lily mengeluarkan amplop cokelat dari tasnya dan meletakkannya di meja. Arjuna menghitung uang di dalamnya dua kali di depan Romy, lalu menulis kuitansi dan menempelkan meterai. Lily menandatangani kontrak. Arjuna menandatangani. Romy dan Kak Ina menandatangani sebagai saksi.
Lalu Arjuna mengeluarkan sebuah kantong kain kecil dan menuang isinya ke atas meja. Enam anak kunci berdenting.
"Rolling door, pintu belakang, pintu atas. Masing-masing dua. Asli dan cadangan. Semuanya punyamu," katanya. "Aku enggak pegang satu pun."
Lily memandangi kunci-kunci itu, lalu memasukkannya ke dalam tas selempangnya bersama kuitansi yang masih wangi tinta.
Sementara orang dewasa sibuk dengan kertas, Abi dan Husen sudah berlari naik ke lantai atas. Lily menyusul dengan cemas, takut mereka berpegangan pada tangga yang longgar. Tapi ketika tangannya menyentuh pegangan tangga, ia terdiam.
Pegangannya kokoh. Besinya baru, catnya masih mengilap. Baut-bautnya terpasang rapat.
Lily menoleh ke bawah. Arjuna sedang berbicara dengan Romy tentang pompa air, sama sekali tidak melihat ke arahnya.
"Maaa! Ini kamar kita, ya?!" teriak Husen dari atas, suaranya bergema di ruangan kosong.
"Iya, Sayang," jawab Lily, suaranya sedikit bergetar.
****
Sebelum pulang, Romy menarik Lily ke samping mobil.
"Iparmu itu lurus orangnya, Ly. Kelihatan dari matanya," ujarnya pelan. "Tapi kamu tetap jaga jarak. Mulut orang lebih tajam dari pisau."
"Aku tahu, Kak."
"Sabtu depan Kakak datang lagi. Bawa pikap. Kita angkut barang-barangmu."
Lily mengangguk, lalu memeluk kakaknya. Tubuh Romy yang besar terasa seperti dinding yang hangat. Persis seperti waktu ia kecil dulu, ketika Romy menghajar anak berandal yang membuatnya menangis, lalu menggendongnya pulang sambil mengomel panjang pendek.