Sepekan terakhir di rumah Bu Erna terasa lebih panjang daripada sebelas tahun yang sudah Lily lalui di sana.
Teriakan-teriakan sudah reda, berganti sunyi yang ganjil. Bu Erna berhenti bicara pada Lily, kecuali untuk menyindir. Rizal tidur di sofa ruang tamu hampir setiap malam, karena pintu kamar utama lebih sering terkunci daripada terbuka. Nessa berangkat kerja sendiri naik ojek, pulang sendiri, dan makan sendiri di kamarnya.
Arjuna hampir tidak pernah terlihat. Ia berangkat sebelum subuh dan pulang lewat tengah malam, seolah sengaja menjauh dari rumah itu. Lily mengerti. Ia sendiri juga ingin menjauh.
Senin, Lily membawa surat permohonan pindah ke sekolah. Wali kelas Abi, seorang ibu guru berkacamata, memeluk Abi lama sekali dan memberinya buku tulis bergambar pesawat sebagai kenang-kenangan. Abi pura-pura tidak menangis. Husen justru menangis sejadi-jadinya karena harus berpisah dengan teman sebangkunya yang suka membagi permen.
Rabu, Lily menyeberang kabupaten lagi untuk mendaftarkan anak-anaknya di sebuah sekolah dasar negeri, sepuluh menit jalan kaki dari ruko. Kepala sekolahnya ramah. Kursi untuk kelas empat dan kelas dua masih tersedia. Senin depan mereka sudah boleh masuk.
Kamis, Lily mencicil barang. Baju-baju yang jarang terpakai ia masukkan ke kardus. Buku-buku anak ia ikat dengan tali rafia. Semuanya ia susun di kamar belakang, menunggu hari Sabtu.
****
Jumat malam, ketika Lily sedang menulis label di atas kardus, pintu kamarnya diketuk pelan. Ia membukanya. Bu Erna berdiri di sana, masih memakai mukena, matanya basah.
"Ly," panggilnya dengan suara lembut yang sudah lama tidak Lily dengar. "Boleh Ibu masuk?"
Lily mempersilakannya duduk di tepi ranjang.
"Ly, jangan pergi," Bu Erna meraih tangan Lily. "Ibu yang salah ngomong waktu itu. Ibu khilaf. Kasihan cucu-cucu Ibu. Siapa yang nanti ngurus mereka? Siapa yang antar jemput? Ibu sudah biasa sama mereka."
Lily menatap tangan mertuanya yang menggenggam tangannya. Tangan yang bertahun-tahun memegang ATM suaminya. Tangan yang dulu menepuk-nepuk punggungnya sambil memuji, kamu memang baik sekali, Ly, tepat setelah tanah pertamanya terjual.
"Bu, aku yang ngurus mereka dari dulu. Aku yang antar jemput dari dulu," jawab Lily lembut, menarik tangannya pelan-pelan. "Ibu masih bisa ketemu cucu-cucu Ibu kapan saja. Pintu rumahku terbuka buat Ibu."
"Tapi ...."
"Tapi aku enggak akan tinggal di rumah yang menyebutku keledai, Bu."
Bu Erna menunduk lama. Kemudian ia berdiri, membetulkan mukenanya, dan keluar tanpa sepatah kata pun. Untuk pertama kalinya, Lily melihat punggung mertuanya terlihat tua.
****
Sabtu pagi, sebuah pikap putih berhenti di depan rumah. Romy turun bersama seorang pemuda bertubuh kekar yang ia ajak dari kampung untuk membantu mengangkut barang. Kak Ina menyusul dengan mobil abu-abu mereka.
Lemari besar beroda dan meja rias Lily dikeluarkan dari kamar belakang. Lily memandangi dua benda itu sambil tersenyum getir. Dalam sebulan lebih, lemari dan meja rias ini sudah tiga kali pindah tempat. Pertama didorong Arjuna ke kamar anak-anak. Kedua diangkat Rizal dan Nessa ke kamar belakang. Dan hari ini, untuk yang terakhir kalinya, keduanya akan meninggalkan rumah ini.
Rizal muncul dari ruang tamu dengan wajah kusut. Ia menahan pintu lemari yang sedang didorong ke arah teras.
"Lemari itu ...."
"Kubeli pakai gajiku, Mas. Notanya masih ada di laci meja rias," jawab Lily sebelum Rizal sempat menyelesaikan kalimatnya.
Rizal melepaskan tangannya dari pintu lemari.
Satu per satu kardus naik ke bak pikap. Bu Erna duduk di teras, di ayunan besi, menonton dengan wajah sembab. Ketika Husen datang berpamitan, Bu Erna memeluknya erat-erat dan menangis tersedu-sedu. Husen yang kebingungan ikut menangis.
"Nenek jangan nangis. Nanti Husen main ke sini," hibur Husen sambil menepuk-nepuk punggung neneknya, persis seperti cara Lily menepuk punggungnya kalau ia menangis.
Abi menyalami Rizal. Rizal menatap putra sulungnya lama, lalu menariknya ke dalam pelukan yang kaku.
"Papa nanti jenguk, ya, Bang."
"Iya, Pa."
Lalu kedua anak itu berlari ke pagar. Arjuna berdiri di sana, bersandar pada tiang pagar dengan tangan di saku celana. Husen langsung memeluk pinggang pamannya.
"Paman nanti main ke rumah baru, ya!"
Arjuna menatap ke bawah, ke kepala kecil yang menempel di perutnya. Tangannya terangkat ragu, lalu mengusap rambut Husen dengan canggung.
"Kalau dibolehin Mamamu."
Lily pura-pura sibuk mengikat tali rafia di kardus terakhir.
Ketika ia menegakkan badan, matanya tak sengaja menatap jendela kamar utama. Tirainya tersingkap sedikit. Nessa berdiri di balik kaca, menatap ke halaman. Mata mereka bertemu. Hanya sesaat. Lalu Nessa melepaskan tirai, dan jendela itu kembali tertutup.
****
Sebelum menyalakan Honda Beat-nya, Lily menatap rumah itu sekali lagi. Teras dengan ayunan besi tempat ia menelepon Romy malam itu. Tiang tempat Arjuna bersandar seperti penonton sirkus. Pintu kamar yang dulu menjadi kamarnya selama sebelas tahun.
Ia teringat pesan mendiang ibunya. Berbaik-baiklah dengan keluarga suamimu. Kalau suatu saat ada masalah, pasti ada salah satu dari mereka yang membela.
"Sudah kucoba, Mak," bisiknya dalam hati. "Sungguh, sudah kucoba."
Ia menarik gas. Pikap Romy berjalan di depan, dan mobil Kak Ina dengan anak-anak di dalamnya mengikuti di belakang.
****
Menjelang asar, mereka tiba di ruko. Pemuda dari kampung itu mengangkat lemari ke lantai atas bersama Romy, sementara Lily dan Kak Ina menyusun kardus-kardus. Pegangan tangga yang baru tidak bergoyang sedikit pun.
Malamnya, mereka makan nasi bungkus yang dibeli Romy di rumah makan di jalan besar, duduk melingkar di lantai ruang atas yang masih kosong. Lauknya ayam masak habang, merah dan manis, yang membuat Husen menjilati jarinya sampai bersih.
"Enak, Ma! Besok beli lagi!"
"Besok Mama masak sendiri," jawab Lily sambil tertawa.
Air di kamar mandi atas mengalir lemah. Mereka antre mandi sambil bercanda. Romy dan Kak Ina pamit pulang ke kampung setelah memastikan semua pintu terkunci. Abi dan Husen tertidur di kamar kecil yang jendelanya menghadap gang, berselimut sarung karena selimut mereka masih entah di kardus yang mana.
Lily duduk sendirian di dekat jendela kamarnya. Lampu-lampu dari mes karyawan di seberang gang berkelap-kelip. Ia menangis tanpa suara. Bukan karena sedih. Ia sendiri tidak tahu persis karena apa. Mungkin karena lega. Mungkin karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sebuah tempat terasa seperti miliknya sendiri.
Ponselnya bergetar.
[Kamu akan menyesal]
Pesan dari Rizal. Lily tidak membalasnya.
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar lagi. Kali ini dari nomor tanpa foto itu.
[Pegangan tangganya kuat?]
Lily tersenyum di sela air matanya, lalu membalas satu kata.
[Kuat]