Senin pagi, Lily mengantar Abi dan Husen ke sekolah baru mereka dengan berjalan kaki. Sepuluh menit saja, melewati gang mes dan sebuah lapangan voli yang tanahnya merah.
Husen memegang tangan Lily erat-erat sepanjang jalan. Di depan gerbang, ia berhenti.
"Ma, kalau enggak ada yang mau temenan sama Husen gimana?"
Lily berjongkok, merapikan kerah seragam putranya. "Husen ingat enggak, dulu waktu pertama masuk SD, Husen juga takut? Terus pulangnya bawa cerita soal teman yang suka bagi permen itu."
Husen mengangguk ragu.
"Nah. Di sini juga pasti ada yang suka bagi permen. Cari aja."
Abi menarik tangan adiknya dengan gaya kakak yang bertanggung jawab. "Ayo, Sen. Abang antar sampai kelasmu."
Lily memandangi punggung keduanya sampai menghilang di balik pintu kelas. Lalu ia menyalakan motor. Ada satu urusan yang tidak bisa ditunda lagi.
****
Gedung pengadilan agama itu bercat putih dan hijau, dengan halaman parkir yang dipenuhi motor. Lily duduk di ruang tunggu bersama belasan perempuan dan beberapa laki-laki. Ada yang menunduk, ada yang menatap kosong ke dinding, ada yang menggendong bayi sambil menyusui di balik kain. Tiba-tiba Lily merasa tidak sendirian.
Di meja layanan, seorang petugas perempuan berkerudung biru menjelaskan dengan sabar apa saja yang perlu disiapkan. Lily sudah membawa semuanya dalam satu map: buku nikah, kartu keluarga, kartu tanda penduduk, dan akta kelahiran Abi serta Husen. Petugas itu membantunya mengisi formulir, lalu menjelaskan bahwa nanti akan ada panggilan sidang, dan sebelum perkaranya diperiksa, kedua pihak akan diminta menempuh mediasi lebih dulu.
"Biasanya sidang pertama sekitar dua minggu lagi, Bu. Suami Ibu juga akan dipanggil," ujarnya.
Lily mengangguk. Tangannya sedikit gemetar saat membayar biaya pendaftaran. Tapi ketika ia menerima tanda bukti pendaftaran dan memasukkannya ke dalam map, gemetarnya hilang.
Di parkiran, ia menatap selembar kertas itu lama sekali. Lalu ia menarik napas panjang, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, napasnya terasa sampai ke dasar paru-paru.
****
Siang itu, sepulang dari pengadilan, Lily mampir ke warung kecil di mulut gang. Warungnya hanya berupa meja panjang beratap terpal, dengan beberapa baskom berisi nasi, sayur, dan wadai di atasnya. Sebagian besar baskom sudah kosong. Perempuan tua bertubuh kurus yang dulu ia lihat dari jauh sedang membereskan piring, kerudungnya diikat ke belakang.
"Habis, Nak. Tinggal wadai sedikit," katanya tanpa menoleh.
"Saya mau beli wadainya, Cil," jawab Lily, memanggilnya dengan sapaan bibi seperti kebiasaan orang Banjar.
Perempuan itu menoleh. Namanya Acil Imah. Ia sudah dua belas tahun berjualan di mulut gang itu, sejak suaminya meninggal. Setiap pagi ia memasak sendiri, dan setiap pukul sepuluh dagangannya sudah tandas.
"Kenapa enggak masak lebih banyak, Cil?" tanya Lily sambil menyuap bingka kentang yang legit.
Acil Imah tertawa. "Tangan Acil cuma dua, Nak. Pinggang Acil cuma satu. Sudah tua pula."
Lily mengunyah pelan-pelan. Semalam, ia sempat khawatir warungnya nanti akan merebut pembeli dari warung kecil ini. Ia tidak mau menjadi orang yang memakan rezeki seorang janda tua di depan rumahnya sendiri. Ia sudah terlalu lama tinggal bersama orang-orang yang hidup dari keringat orang lain.
"Cil," kata Lily akhirnya. "Saya mau buka warung di ruko ujung itu. Saya butuh orang yang pintar masak dan tahu selera orang sini. Acil mau kerja sama saya? Pagi Acil tetap jual wadai di sini, dititip juga di warung saya. Siangnya bantu saya masak. Saya bayar harian."
Acil Imah menatap Lily lama sekali, dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kamu yang baru pindah sama dua anak laki-laki itu?"
"Iya, Cil."
"Suamimu mana?"
Lily terdiam sebentar. "Sedang saya urus, Cil."
Acil Imah mengangguk-angguk, seolah kalimat pendek itu sudah menjelaskan segalanya. Lalu ia mengulurkan tangannya yang keriput.
"Kapan mulai?"
****
Dua hari berikutnya, ruko itu berubah menjadi dapur percobaan.
Lily dan Acil Imah berdebat soal menu seperti dua jenderal menyusun siasat perang. Akhirnya mereka sepakat: nasi kuning dan wadai untuk pagi, soto Banjar dan nasi campur untuk siang. Untuk penghuni mes yang pulang malam, mereka menyiapkan rantangan yang bisa dipesan bulanan.
"Soto Banjar?" Acil Imah mengangkat alis. "Di kota ini sudah banyak yang jual soto."
"Tapi belum ada yang jual soto Banjar buatan saya, Cil," jawab Lily dengan percaya diri yang membuatnya sendiri heran.
Ia memasak soto pertamanya di kompor dua tungku itu pada hari Rabu sore. Kuahnya bening keemasan, harum kayu manis dan cengkih. Ayam kampungnya disuwir halus, perkedel kentangnya digoreng renyah. Abi dan Husen menjadi juri pertama.
Husen menyeruput kuahnya, lalu memejamkan mata dengan gaya berlebihan. "Enaaak! Lebih enak dari soto dekat sekolah lama!"
"Beneran?"
"Beneran, Ma!" sahut Abi. "Enggak asin kayak rawon."
Lily tertawa sampai perutnya sakit. "Yang ini enggak sengaja dibikin asin, Bang."
Acil Imah mencicipi sesendok, lalu diam cukup lama. "Kurang garam sedikit," katanya. Lalu ia menyendok lagi. Dan lagi. "Tapi enak."
Malam itu, Lily mencatat semua pengeluarannya di sebuah buku tulis bergaris. Kompor gas tambahan, panci besar, mangkuk, sendok, meja dan kursi plastik, serta bahan-bahan untuk tiga hari pertama. Semuanya dibayar dari separuh uang tanah kedua, yang memang disisihkan untuk usahanya sendiri. Ia menjumlahkan angka-angka itu dua kali. Masih ada sisa untuk berjaga-jaga.
Kak Romy pernah berpesan, usaha kecil mati bukan karena sepi pembeli, tapi karena pemiliknya tidak tahu uangnya lari ke mana. Lily menulis pesan itu di halaman pertama buku catatannya, besar-besar, lalu menggarisbawahinya dua kali.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Rizal.
[Minggu aku mau ketemu anak-anak. Alamatnya di mana?]
Lily menatap layar cukup lama. Bagaimanapun, Rizal tetap ayah mereka. Ia mengetik alamat lengkap ruko itu, lalu menambahkan satu baris.
[Jam sepuluh sampai jam dua belas. Di lantai bawah]
Pesannya terkirim. Dua centang biru. Tidak ada balasan.
Lily meletakkan ponsel di samping buku catatannya, lalu naik ke kamar anak-anak. Husen sudah tertidur dengan seragam yang belum diganti, memeluk buku tulis bergambar pesawat milik kakaknya. Abi masih terjaga, menatap langit-langit.
"Ma," bisiknya. "Di kelas baru tadi, ada yang nanya Papa Abang kerja di mana."
Lily duduk di tepi kasur. "Abang jawab apa?"
"Abang jawab di kantor. Terus dia nanya kenapa pindah. Abang jawab, ikut Mama buka warung."
Lily mengusap kepala putra sulungnya. "Jawaban yang bagus, Bang. Itu jujur, kan?"
Abi mengangguk, lalu memejamkan mata. Lily tetap duduk di sana sampai napas anaknya teratur, mendengarkan suara motor penghuni mes yang pulang larut, dan merasa bahwa rumah dua lantai yang sederhana ini, dengan airnya yang lemah dan nodanya yang lembap, pelan-pelan mulai menjadi rumah.