Di rumah Bu Erna, hari kerja pertama tanpa Lily dimulai dengan magic com yang kosong.
Senin itu Bu Erna bangun pukul enam, berjalan ke dapur, dan membuka tutup penanak nasi. Kosong. Ia membuka tudung saji. Kosong melompong. Ia menoleh ke arah kamar anak-anak, kebiasaan yang sudah bertahun-tahun, lalu teringat kamar itu sudah ditinggalkan penghuninya.
Selama ini, walaupun Lily tidak lagi memasak untuk mereka, rumah itu tetap terasa hidup. Ada suara Husen yang merengek tidak mau mandi. Ada suara Abi membaca hafalan surat pendek dengan keras. Ada bunyi motor Lily yang dipanaskan setiap pukul enam lewat lima belas.
Pagi ini, yang terdengar hanya dengkur Rizal dari sofa ruang tamu.
"Nes! Nessa!" Bu Erna mengetuk pintu kamar utama. "Bangun! Masak nasi!"
Pintu terbuka. Nessa sudah berpakaian rapi, siap berangkat kerja. Bedak di pipinya menutupi bekas lebam yang mulai menguning.
"Aku kerja, Bu. Enggak sempat."
"Dulu kamu sempat! Tiap pagi kamu bikinin Rizal sarapan!"
"Dulu aku kira Mas Rizal mampu, Bu," jawab Nessa sambil memakai sepatu. "Ternyata mas kawin saja pakai uang istri tuanya."
Bu Erna tercengang. "Kamu ... kamu mau jadi menantu durhaka?"
"Aku bukan babu, Bu," Nessa menyampirkan tas di bahunya. Ia berhenti di ambang pintu, lalu menoleh dengan senyum tipis. "Dulu Lily juga mikir begitu, kan? Sekarang aku ngerti kenapa."
Pintu depan tertutup. Bu Erna berdiri sendirian di dapur, memegang tutup magic com seperti memegang perisai yang kalah perang.
****
Perang yang sesungguhnya meletus hari Rabu malam.
Rizal baru pulang kerja dan sedang melepas sepatu ketika Nessa keluar dari kamar dengan telapak tangan menengadah.
"Mas, ATM-mu mana?"
"Buat apa?"
"Mulai bulan ini, gajimu aku yang pegang," jawab Nessa tegas. "Aku istrimu. Aku yang berhak. Kata Bapak, kalau kamu mau bayar utang mas kawinku, uangnya harus kelihatan. Bukan menghilang entah ke mana."
"Enak saja!" Bu Erna menyambar dari kursinya. "Gajih Rizal dari dulu Ibu yang pegang!"
Nessa berbalik menghadap mertuanya. "Makanya Mas Rizal enggak punya apa-apa, Bu. Sebelas tahun kerja, tabungannya nol. Mas kawin pakai uang istri. Ke mana uang gaji Mas Rizal selama ini, Bu? Lily enggak pernah kebagian. Anak-anaknya cuma dapat jatah susu sama popok. Terus sisanya?"
"Itu ... itu buat kebutuhan rumah! Listrik! Air! Beras!"
"Listrik rumah ini aku yang bayar, Bu. Dari lima tahun lalu."
Semua orang menoleh. Arjuna berdiri di pintu dapur, baru pulang, kemejanya masih berdebu semen. Ia meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja makan, tepat di samping tudung saji yang kosong.
"Ini buat beli beras sama lauk sebulan," katanya pada Bu Erna. "Bukan buat arisan."
Bu Erna membuka amplop itu. Matanya membelalak melihat isinya. Ia mendongak, menatap anak sulungnya yang bertahun-tahun ia sebut urakan dan susah diatur.
"Juna ... selama ini listrik ...."
"Sudahlah, Bu," potong Arjuna. Ia mengambil segelas air, lalu berjalan ke kamarnya tanpa menoleh lagi.
Rizal menatap ibunya dengan wajah bingung. Bu Erna memalingkan muka. Nessa tertawa pendek, tawa yang sama sekali tidak terdengar gembira.
"Jadi listrik dibayar Kak Juna. Belanja anak-anak ditutup Lily. Gaji Mas Rizal Ibu yang pegang," Nessa menghitung dengan jarinya. "Terus gaji itu ke mana, Bu?"
"Nes, sudah, sudah ...," Rizal mencoba melerai.
"Kamu diam, Mas!" bentak Nessa. "Kamu yang paling enggak berhak ngomong di sini!"
Rizal terdiam. Di sudut ruangan, jam dinding berdetak keras sekali. Ia memandangi amplop cokelat di atas meja, amplop dari kakak yang selama ini ia anggap tak punya pekerjaan jelas. Lalu ia memandangi ibunya, orang yang selama ini ia anggap paling mengerti dirinya, paling membelanya, paling layak dipercaya memegang seluruh gajinya. Untuk pertama kalinya, Rizal tidak yakin siapa sebenarnya yang selama ini menopang rumah itu. Yang ia tahu pasti, orang itu bukan dirinya.
****
Malam itu, ketika semua orang sudah masuk kamar, Nessa diam-diam membuka lemari di kamar Bu Erna, yang pintunya lupa dikunci ketika mertuanya pergi ke kamar mandi. Ia tidak berniat mencuri. Ia hanya ingin tahu. Di rak paling atas, tersembunyi di balik tumpukan kain batik, ia menemukan sebuah kotak kayu.
Isinya membuat Nessa terduduk di lantai.
Dua kalung tebal. Tiga gelang. Beberapa cincin bermata. Semuanya dengan cap toko di pengaitnya. Asli.
Keesokan paginya, kotak kayu itu sudah berada di atas meja makan ketika Bu Erna keluar dari kamar.
"Ibu punya kalung segini, gelang segini," suara Nessa bergetar menahan marah, "tapi mas kawinku pakai uang Lily?!"
Bu Erna langsung memeluk kotak kayu itu ke dadanya. "Ini simpanan Ibu buat hari tua! Kamu lancang buka-buka lemari orang!"
"Jual, Bu! Jual buat bayar mas kawinku! Bapak kasih waktu sebulan, tinggal dua minggu lagi!"
"Enak saja! Ini punya Ibu!"
Rizal, yang baru bangun dari sofa, menatap kotak di pelukan ibunya. "Bu ... itu dari gajiku, kan?" tanyanya pelan. "Bu, tolong. Kalau Nessa pulang, aku ...."
"Enggak, Zal! Ini hak Ibu! Ibu yang membesarkan kamu!"
Bu Erna berlari ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Rizal berdiri di ruang tengah dengan rambut acak-acakan, menatap pintu kamar ibunya yang terkunci, lalu pintu kamar istrinya yang juga terkunci.
Pagi itu, Rizal merasa tidak punya kamar di rumahnya sendiri.
****
Siang itu, Rizal tidak masuk kerja. Ia berjalan tanpa tujuan di dalam rumah, lalu berhenti di depan kamar anak-anaknya. Pintunya terbuka. Kasur tipis tanpa seprai. Lemari kecil yang kosong. Bau minyak telon yang masih samar-samar tertinggal.
Ia duduk di tepi kasur Husen. Di kolong, ada selembar kertas gambar yang tertinggal. Rizal memungutnya.
Gambar krayon. Sebuah rumah bertingkat dua dengan tangga di sampingnya. Di depannya berdiri empat orang yang berpegangan tangan. Seorang perempuan berbaju merah bertuliskan MAMA. Dua anak laki-laki bertuliskan ABI dan HUSEN. Dan seorang laki-laki tinggi berambut panjang, berdiri sedikit terpisah dari yang lain, bertuliskan PAMAN.
Rizal mencari-cari di seluruh kertas itu. Dirinya tidak ada di mana pun.
Ia meremas kertas itu sampai menjadi gumpalan kecil, lalu melemparnya ke sudut kamar. Setelah beberapa saat, ia memungutnya kembali, membukanya pelan-pelan, dan meratakannya di atas lutut. Ia menatap gambar rumah bertingkat dua itu lama sekali. Rumah yang belum pernah ia lihat.
Dari dapur, terdengar suara Bu Erna mengomel sendirian sambil menanak nasi. Ibunya kini memasak tanpa ada satu menantu pun yang bisa disuruh-suruh.