Kamis pagi, sebuah spanduk sederhana terpasang di atas rolling door ruko paling ujung. Hurufnya merah di atas dasar kuning: WARUNG LILY. SOTO BANJAR, NASI KUNING, NASI CAMPUR. TERIMA RANTANGAN.
Abi yang memilih warnanya. Husen yang memilih ukuran hurufnya, yang menurut Acil Imah terlalu besar, tapi menurut Husen masih kurang besar.
Pukul enam pagi, Acil Imah sudah menata wadai di etalase kaca kecil: bingka, amparan tatak, dan kue lam yang dibungkus plastik bening. Lily mengaduk kuah soto di panci besar. Uap harum kayu manis mengepul sampai ke parkiran.
Pembeli pertama datang pukul tujuh kurang sepuluh. Dua pegawai kantor dinas berseragam cokelat, membeli nasi kuning untuk sarapan.
"Baru buka, Bu?"
"Baru hari ini, Pak."
"Wah, kebetulan. Warung Acil biasanya sudah habis sebelum kami datang," kata salah satunya, melirik Acil Imah yang pura-pura tidak mendengar sambil tersenyum.
Lily membungkus nasi kuning itu dengan tangan sedikit gemetar. Ketika pegawai itu menyerahkan uangnya, Lily memandangi lembaran-lembaran itu seperti memandang sesuatu yang ajaib. Uang pertama dari keringatnya sendiri, setelah delapan bulan lebih tanpa penghasilan. Ia tidak memasukkannya ke laci, tapi menyelipkannya di bagian belakang buku catatannya.
"Itu buat kenang-kenangan, Cil," katanya ketika Acil Imah mengangkat alis.
****
Siang harinya, pukul dua belas lewat sedikit, warung itu kedatangan rombongan yang tidak terduga. Dua belas laki-laki berbaju kerja penuh noda semen dan bersepatu bot turun dari sebuah truk kecil. Mereka langsung memenuhi semua kursi plastik di ruang depan.
"Soto dua belas, Bu! Nasinya dipisah!" seru seorang laki-laki berkumis tebal yang tampaknya pemimpin rombongan.
Lily dan Acil Imah langsung bekerja seperti dikejar waktu. Mangkuk demi mangkuk berpindah dari panci ke meja. Para tukang itu makan dengan lahap dan berkeringat, beberapa di antaranya minta tambah kuah.
"Rombongan dari mana, Pak?" tanya Lily sambil membereskan mangkuk kosong.
"Proyek gedung serbaguna di belakang kantor camat, Bu," jawab laki-laki berkumis itu. Namanya Pak Udin, mandor. "Disuruh bos makan di sini mulai hari ini. Katanya ada warung baru, sotonya enak."
"Bosnya siapa, Pak?"
"Pak Juna."
Mangkuk di tangan Lily hampir terlepas.
Pak Udin melanjutkan tanpa menyadari apa-apa. "Bos kami itu orangnya irit ngomong, Bu. Tapi kalau soal makan anak buah, dia royal. Katanya mulai besok kami makan di sini terus sampai proyek selesai. Dibayar harian, tunai."
Lily mengangguk kaku, lalu bergegas ke dapur. Wajahnya terasa panas. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celemek dan mengetik dengan jempol yang menekan layar terlalu keras.
[Kak Juna nyuruh tukang-tukang makan di sini?]
Balasannya datang tak lama.
[Mereka harus makan. Warungmu paling dekat sama proyek]
[Jangan kasihani aku]
[Aku enggak kasihan. Mereka yang kasihan sama perutnya sendiri. Warung lama di dekat proyek masakannya enggak enak]
Lily menatap layar, setengah kesal, setengah ingin tertawa.
[Kalau sotoku enggak enak, mereka boleh pindah]
[Iya. Tapi kata Udin enak]
Lily memasukkan ponselnya kembali ke saku celemek. Acil Imah yang sedang mencuci mangkuk meliriknya dari ujung mata.
"Siapa itu? Senyum-senyum sendiri."
"Pemilik ruko, Cil! Urusan sewa!"
"Oh," Acil Imah mengangguk-angguk dengan senyum yang membuat Lily ingin melempar serbet ke wajahnya.
****
Hari Jumat, seorang pegawai perempuan dari kantor dinas datang saat jam istirahat. Namanya Bu Ratih, berkacamata, dengan senyum yang membuat orang langsung merasa nyaman. Ia mencicipi soto, lalu memesan rantangan.
"Minggu depan ada rapat koordinasi di kantor, Bu. Tiga puluh kotak nasi campur. Bisa?"
Tiga puluh. Lily menelan ludah. Ia melirik Acil Imah. Acil Imah mengangguk tanpa ragu.
"Bisa, Bu," jawab Lily. "Diantar jam berapa?"
"Jam sebelas. Kantornya cuma di seberang, kok."
Setelah Bu Ratih pergi, Lily duduk di kursi plastik dan memegangi dadanya.
"Tiga puluh kotak, Cil."
"Kenapa? Takut?" Acil Imah terkekeh. "Dulu waktu almarhum suami Acil masih hidup, Acil pernah masak buat kenduri tiga ratus orang. Tiga puluh itu sarapan."
Hari Sabtu, warung ramai oleh penghuni mes yang libur setengah hari. Abi membantu mengelap meja dengan wajah serius seperti pegawai teladan, sementara Husen bertugas menghitung kerupuk di dalam toples dan diam-diam memakan dua di antaranya. Seorang penghuni mes minta tiga puluh bungkus diantar ke mes sore itu, tepat di jam Lily sudah berjanji mengajak anak-anak bermain di lapangan voli. Lily menolaknya dengan senyum, tapi tegas, dan menawarkan hari Senin. Anak-anak lebih dulu. Itu sudah ia tulis di halaman kedua buku catatannya, tepat di bawah pesan Kak Romy.
****
Hari Minggu, warung tutup. Pukul sepuluh tepat, mobil hitam Rizal berhenti di halaman parkir.
Abi dan Husen langsung berlari turun dari lantai atas. Lily mengikuti di belakang mereka, berdiri di ambang pintu ruko yang dibuka setengah.
Rizal memeluk kedua anaknya. Ia membawa sekantong jajanan dan dua mobil-mobilan. Husen langsung bercerita tanpa jeda tentang sekolah barunya, tentang teman bernama Fauzan yang suka membagi permen, tentang lapangan voli yang tanahnya merah, dan tentang soto Mama yang laris sampai habis.
"Kemarin banyak tukang yang makan di sini, Pa! Banyak banget! Mereka makannya kayak raksasa!"
Rizal mengusap kepala Husen, tapi matanya menyapu sekeliling. Spanduk merah kuning. Meja-meja plastik yang tersusun rapi. Tumpukan rantang di rak. Buku catatan di atas etalase.
Lily bisa melihat sesuatu di wajah Rizal. Bukan marah. Lebih mirip seseorang yang baru sadar ia kehilangan sesuatu, setelah barang itu tidak lagi berada di tangannya.
Sebelum pulang, Rizal mendekati Lily.
"Ly," katanya pelan, memastikan anak-anak tidak mendengar. "Nessa bakal pulang ke rumah orang tuanya kalau aku enggak bisa bayar. Tinggal dua minggu."
"Itu urusanmu, Mas."
"Pinjami aku sebagian saja. Nanti kucicil."
"Enggak, Mas."
Rizal menatapnya sebentar, lalu mengangguk lemah dan berjalan ke mobilnya. Ketika ia membuka pintu, gerakannya berhenti. Matanya menyipit, menatap ke ujung deretan ruko, ke arah jalan menuju kantor camat.
Sebuah mobil hitam baru saja berbelok dan menghilang di tikungan.
"Mobil itu ...," gumam Rizal.
"Kenapa, Mas?" tanya Lily. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Rizal menggeleng pelan. "Enggak. Kayak kenal aja."
Ia masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan pergi. Lily berdiri lama di ambang pintu, menatap tikungan yang kini kosong.
Malamnya, setelah anak-anak tidur, Lily membuka buku catatan dan menjumlahkan penjualan empat hari pertama. Untungnya belum seberapa, tapi angkanya hitam, bukan merah. Ia menatap angka itu lama, lalu menulis di bawahnya dengan huruf kecil: Alhamdulillah.
Mobil hitam di tikungan tadi siang ia coba lupakan. Banyak mobil hitam di dunia ini, katanya pada diri sendiri. Tapi entah kenapa, matanya baru mau terpejam lewat tengah malam.