Dua minggu setelah pendaftaran, Lily kembali ke gedung pengadilan agama bercat putih hijau itu. Kali ini ia tidak datang sendirian. Kak Ina menemaninya, sengaja datang dari kampung sejak semalam dan menginap di ruko.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Kak Ina untuk ketiga kalinya.
"Sudah, Kak. Nasi kuning sama wadai. Acil Imah yang maksa."
"Bagus. Orang mau sidang harus kenyang. Biar kalau mau marah, ada tenaganya."
Lily tertawa, dan tawa itu sedikit meredakan debar di dadanya.
Pukul sembilan, Rizal datang. Ia memakai kemeja batik terbaiknya, rambutnya disisir rapi. Di sampingnya, Bu Erna berjalan sambil menenteng tas tangan, wajahnya tegang. Mereka duduk di bangku seberang ruang tunggu, sejauh mungkin dari Lily dan Kak Ina.
Lily memperhatikan mertuanya. Bu Erna terlihat lebih kurus dari terakhir kali ia lihat. Kerudungnya dipakai asal-asalan, tidak serapi biasanya, dan di bawah matanya ada lingkaran gelap.
Di sebelah Lily, seorang perempuan muda menimang bayinya yang rewel. Ia tersenyum lelah ketika mata mereka bertemu.
"Pertama kali, Mbak?" tanyanya.
"Iya."
"Saya sudah tiga kali datang. Suami saya enggak pernah muncul," katanya sambil mengayun bayinya pelan-pelan. "Tapi enggak apa-apa. Kata petugasnya, perkara tetap jalan."
Lily menggenggam tangan Kak Ina tanpa sadar. Ia tiba-tiba merasa beruntung. Ia punya kakak yang datang dari jauh, kakak ipar yang menginap demi menemaninya, dan dua anak yang menunggunya pulang dengan selamat. Tidak semua perempuan di ruangan ini punya itu.
Ketika nama mereka dipanggil, Lily dan Rizal masuk ke ruang sidang. Majelis hakim memeriksa identitas mereka, lalu menjelaskan bahwa sebelum perkara diperiksa lebih jauh, keduanya wajib menempuh mediasi lebih dulu. Seorang hakim mediator ditunjuk untuk mendampingi mereka.
****
Ruang mediasi itu kecil dan berpendingin udara, dengan sebuah meja bundar dan tiga kursi. Mediatornya seorang hakim perempuan berusia lima puluhan, dengan suara lembut dan mata yang tajam.
"Saya tidak di sini untuk menghakimi siapa pun," katanya membuka pembicaraan. "Saya di sini untuk mendengar, dan kalau masih mungkin, membantu Bapak dan Ibu berdamai. Silakan, Pak Rizal lebih dulu."
Rizal menarik napas panjang. Lalu, di luar dugaan Lily, ia menangis.
"Saya khilaf, Bu," isaknya. "Saya cuma ingin punya anak perempuan. Istri saya sudah tidak bisa hamil lagi. Saya pikir ... saya pikir kalau saya menikah lagi, rumah tangga kami tetap utuh. Saya tidak pernah mau menceraikan dia."
Mediator itu mengangguk pelan, lalu menoleh pada Lily. "Ibu Lily?"
Lily menegakkan punggung. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis di ruangan ini.
"Saya tidak bisa hamil lagi karena dulu suami saya yang meminta saya steril, Bu. Alasannya supaya saya fokus bekerja," kata Lily tenang. "Selama menikah, gaji suami saya dipegang ibunya. Kekurangan kebutuhan anak-anak saya tutup dengan gaji saya. Waktu saya dirumahkan, suami saya meminta izin menikah lagi, lalu meminta saya menjual tanah yang saya beli dengan gaji saya sendiri, untuk mas kawin istri barunya. Katanya pinjam."
Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan.
"Saya juga mendengar sendiri ibu mertua saya menyebut saya keledai, karena saya pasti menurut. Saya sudah memaafkan, Bu. Sungguh. Tapi saya tidak mau kembali."
Mediator itu menulis sesuatu di bukunya. Ia menatap Lily cukup lama. "Ibu yakin? Tidak ada sedikit pun kemungkinan untuk rukun kembali?"
"Saya yakin, Bu."
****
Rizal mengusap matanya dengan punggung tangan. Tangisnya berhenti, berganti dengan nada yang lebih keras.
"Kalau begitu, saya juga punya hak, Bu," katanya. "Tanah itu dibeli waktu kami masih menikah. Itu harta bersama. Dia menjual sehektar lagi diam-diam tanpa izin saya. Saya berhak separuh."
Lily tidak terkejut. Ia sudah menduga Rizal akan sampai ke sana.
"Kalau mau dihitung, Mas, ayo kita hitung semuanya," jawab Lily pelan. "Tanah itu kubeli dari gajiku. Gajimu sebelas tahun, ke mana? Semuanya dipegang Ibu. Mobil yang kamu pakai ke sini hari ini, atas nama siapa?"
Rizal membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
"Atas nama siapa, Mas?" ulang Lily.
"... Ibu," jawab Rizal nyaris tak terdengar.
Lily tidak berkata apa-apa lagi. Ia tidak perlu. Ia bisa melihat dari wajah Rizal bahwa laki-laki itu sendiri baru benar-benar menyadarinya saat ini. Sebelas tahun bekerja, dan yang tercatat atas namanya hanyalah utang mas kawin seratus gram.
Mediator itu meletakkan penanya. "Pak Rizal, soal harta bersama, kalau Bapak merasa berhak, itu bisa diajukan sebagai gugatan tersendiri, dengan bukti-bukti yang lengkap. Hari ini kita membicarakan rumah tangga Bapak dan Ibu. Apakah ada titik temu?"
Rizal menunduk. Lily menggeleng.
"Kalau begitu, dengan berat hati saya akan melaporkan bahwa mediasi tidak berhasil," kata sang mediator. Ia menatap Rizal sebentar, lalu menambahkan dengan suara yang lebih pelan, "Pak, anak-anak Bapak tetap anak-anak Bapak. Apa pun hasilnya nanti, jangan berhenti menjadi ayah mereka."
Rizal mengangguk tanpa mengangkat wajah.
****
Di halaman parkir, Bu Erna menghadang Lily.
"Ly, kamu enggak kasihan sama Rizal? Lihat, dia kurus begitu. Kerja juga enggak tenang. Di kantor diejek terus."
Lily menatap mertuanya. Ia ingin marah, tapi yang muncul justru rasa lelah yang panjang.
"Dulu Ibu kasihan sama aku, Bu?"
Bu Erna terdiam. Angin siang meniup ujung kerudungnya yang terpasang asal-asalan.
Rizal menyusul, tangannya memegang kunci mobil. Mobil yang atas nama ibunya. Ia berdiri di samping Bu Erna, tapi matanya menatap Lily.
"Sabtu ini, Ly," katanya dengan suara serak. "Tenggat dari bapaknya Nessa. Uangku belum cukup."
Lily menghela napas panjang. Untuk sesaat, ia hampir merasa iba. Hampir.
"Semoga kamu belajar membayar janjimu sendiri, Mas," ucapnya pelan. "Sekali ini saja, pakai uangmu sendiri."
Ia menggandeng Kak Ina dan berjalan menuju motornya. Dari belakang, ia masih mendengar Bu Erna menggerutu, tapi suaranya tidak lagi setajam dulu. Suaranya terdengar seperti radio tua yang baterainya hampir habis.
Di atas motor, Kak Ina memeluk pinggang Lily dari belakang.
"Tadi di dalam gimana, Ly? Muka suamimu waktu keluar kayak kerupuk kena air."
"Ternyata mobil Mas Rizal atas nama Ibu, Kak," jawab Lily. "Dia sendiri baru sadar tadi."
Kak Ina terdiam sebentar, lalu tertawa keras sekali di belakang telinga Lily. "Ya Allah. Sebelas tahun kerja, mobil pun punya ibunya? Itu suami atau anak kos?"
Lily ikut tertawa sampai motornya sedikit oleng. Di kaca spion, gedung putih hijau itu makin mengecil, dan entah kenapa, beban di bahunya ikut mengecil bersamanya.