Sabtu pagi, Rizal duduk di meja makan menatap selembar slip pinjaman dari koperasi kantor.
Lima belas juta. Hanya itu yang berhasil ia kumpulkan setelah dua minggu berlari ke sana kemari. Teman-teman kantornya menolak meminjamkan uang dengan berbagai alasan, dan beberapa di antaranya menolak sambil tertawa. Dodi bahkan sempat bertanya, "Mau pinjam buat beli emas atau emas-emasan, Zal?"
Bu Erna tetap menolak menjual isi kotak kayunya. Setiap kali Rizal menyinggungnya, ibunya langsung memegangi dada dan mengeluh darah tingginya naik.
Lima belas juta. Sementara harga emas seratus gram, Rizal bahkan tidak berani menghitungnya.
Pukul sepuluh, mobil tua berwarna perak itu berhenti lagi di depan pagar. Kali ini Pak Mansyur datang sendirian.
Nessa sudah menunggu di ruang tamu dengan dua koper besar dan sebuah tas jinjing. Ia memakai gamis abu-abu yang sederhana, tanpa perhiasan apa pun, bahkan tanpa jam tangan. Wajahnya polos tanpa bedak tebal, dan untuk pertama kalinya Rizal menyadari istrinya terlihat jauh lebih muda tanpa semua kilauan itu.
"Bagaimana, Rizal?" tanya Pak Mansyur tanpa duduk.
Rizal menyodorkan amplop berisi uang pinjaman koperasi. "Baru segini, Pak. Sisanya saya cicil. Saya mohon, Pak. Beri saya waktu."
Pak Mansyur menerima amplop itu, menimbangnya di telapak tangan, lalu menyerahkannya pada Nessa.
"Itu keputusanmu, Nes."
Nessa memegang amplop itu sebentar. Lalu ia memasukkannya ke dalam tas jinjingnya.
"Kuterima sebagai cicilan pertama, Mas," katanya datar. "Sisanya kamu cicil ke Bapak. Tiap bulan. Dari gajimu sendiri, bukan dari dompet orang lain."
Rizal menatap istrinya dengan mata memerah. "Nes ... jangan pergi."
Nessa tidak menjawab. Ia membuka tas jinjingnya, mengeluarkan sesuatu, lalu berjalan ke meja makan, tempat Bu Erna duduk dengan wajah pucat.
Kotak perhiasan merah itu ia letakkan tepat di depan mertuanya.
"Ini, Bu," ucap Nessa pelan. "Mas kawin dari anak Ibu. Saya kembalikan ke yang punya ide."
Bu Erna menatap kotak itu seperti menatap ular. Tangannya bergetar di atas pangkuan, tapi tidak bergerak untuk menyentuhnya.
****
"Mas," Nessa berbalik menghadap Rizal. Suaranya tidak lagi tajam. Justru terdengar lelah. "Aku masuk ke rumah ini karena mau jadi yang pertama di hatimu. Kamu yang bilang begitu, di malam pertama kita. Ingat?"
Rizal mengangguk lemah.
"Ternyata di hatimu yang pertama itu ibumu. Yang kedua, uang orang lain. Aku enggak tahu aku ada di urutan ke berapa."
"Nes ...."
"Rizal," potong Pak Mansyur. Suaranya tegas, tapi tidak kasar. "Pernikahan kalian tidak tercatat. Justru karena itu, akhirnya harus jelas. Jangan digantung. Ucapkan dengan baik, di depan saksi, supaya anak saya tidak menunggu sesuatu yang tidak pasti."
Rizal menatap ibunya, berharap ada pembelaan. Bu Erna hanya menunduk menatap kotak merah di depannya.
Arjuna, yang sejak tadi berdiri di ambang pintu dapur, menegakkan badan. "Aku saksinya, Pak," katanya pelan.
Dengan suara terputus-putus, Rizal mengucapkan talak. Kalimat itu pendek, tapi butuh waktu lama sekali untuk selesai.
Nessa memejamkan mata sebentar. Ketika membukanya, matanya basah, tapi ia tidak menangis.
"Terima kasih, Mas. Assalamualaikum."
Ia menarik kopernya keluar. Pak Mansyur mengangkat koper yang satu lagi. Sebelum melewati pintu, laki-laki tua itu menoleh ke arah Bu Erna.
"Bu Erna, saya juga punya anak laki-laki. Hari ini saya belajar banyak dari rumah ini," katanya. "Assalamualaikum."
Pintu tertutup. Mobil perak itu pergi.
Di ruang tamu, hanya tersisa Rizal yang terduduk di sofa, Bu Erna yang membeku di depan kotak merah, dan Arjuna yang diam-diam masuk kembali ke dapur.
Lama sekali tidak ada yang bersuara. Lalu Rizal berdiri, berjalan ke meja makan, dan membuka kotak merah itu. Rantai yang putus. Gelang yang putus. Tiga cincin yang kilaunya kini terlihat murahan di bawah lampu siang. Ia mengangkat salah satu cincin, menatapnya, lalu meletakkannya kembali.
"Zal ...," panggil Bu Erna lirih.
"Ibu yang usul, Bu," potong Rizal tanpa menoleh. Suaranya pelan, tapi untuk pertama kalinya seumur hidup, ia tidak sedang merengek pada ibunya. "Ibu yang bilang, manfaatkan tanah Lily. Ibu yang bilang, Lily pasti nurut. Aku yang bodoh, karena aku nurut sama Ibu."
Bu Erna membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar. Rizal menutup kotak itu, meninggalkannya di meja, lalu masuk ke kamar utama yang kini kosong dan menutup pintunya pelan-pelan.
****
Siang itu, di Warung Lily, antrean penghuni mes baru saja bubar. Lily sedang mengelap meja ketika sebuah mobil perak tua berhenti di halaman parkir.
Pintu penumpang terbuka. Nessa turun.
Lily membeku dengan lap di tangan. Acil Imah yang sedang mencuci mangkuk ikut berhenti.
Nessa berjalan masuk, lalu duduk di salah satu kursi plastik. Bekas lebam di pipinya sudah hilang, tinggal goresan tipis di dekat pelipis.
"Sotonya masih ada?"
Lily mengangguk pelan. Ia menyiapkan semangkuk soto dengan perkedel dan sate ayam, lalu meletakkannya di depan Nessa. Ia ragu sebentar, lalu duduk di kursi seberang.
Nessa menyendok kuahnya, mencicipi, lalu diam cukup lama.
"Aku tahu alamat ini dari ponsel Mas Rizal," katanya tanpa ditanya. "Aku minta Bapak mampir. Kebetulan searah ke rumah."
"Kamu mau pulang ke rumah orang tuamu?"
"Sudah pulang," Nessa tersenyum tipis. "Barusan. Mas Rizal sudah menalakku."
Lily tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak merasa menang. Ia juga tidak merasa kasihan. Yang ia rasakan justru sesuatu yang aneh, seperti melihat cermin yang retak.
"Kamu menang, Ly," kata Nessa.
"Aku enggak pernah lomba sama kamu, Nes," jawab Lily pelan. "Yang kulawan itu cara mereka memakai orang."
Nessa tertawa kecil, getir. "Termasuk memakai aku."
Ia menyendok sotonya lagi, lebih banyak. "Sotomu enak. Pantas waktu itu rawonmu asin banget. Sengaja, ya?"
Lily ragu sebentar, lalu mengangguk. "Sengaja."
Mereka berdua tertawa. Tawa yang canggung dan pahit, tapi jujur. Acil Imah di dapur geleng-geleng kepala tidak mengerti.
Nessa menghabiskan sotonya sampai tetes terakhir. Ia berdiri, mengeluarkan dompet, dan meletakkan selembar uang di atas meja.
"Enggak usah, Nes," tolak Lily.
"Bayar, Ly," Nessa mendorong uang itu. "Aku sudah belajar. Yang gratis biasanya paling mahal."
Ia berjalan ke mobil ayahnya tanpa menoleh lagi. Pak Mansyur, dari balik kemudi, mengangguk sopan pada Lily.
Mobil perak itu pergi. Lily masih berdiri di ambang pintu warung, memegangi uang soto di tangannya.
Acil Imah keluar dari dapur sambil mengelap tangan. "Itu siapa? Madumu?"
Lily memasukkan uang itu ke laci. "Mantan madu, Cil."