Minggu pagi, Rizal datang satu jam lebih awal dari janji.
Lily baru selesai menjemur pakaian di ruang atas ketika mendengar suara mobil di parkiran. Ia mengintip dari jendela. Mobil hitam Rizal. Ia mengerutkan dahi. Anak-anak bahkan belum mandi.
Ia turun dan membuka rolling door setengah. Rizal berdiri di depannya dengan wajah kusut, mata merah, dan kemeja yang kancingnya salah pasang.
"Anak-anak belum siap, Mas. Masih jam sembilan."
"Aku tunggu," jawab Rizal pendek. Ia duduk di salah satu kursi plastik di teras ruko, menyandarkan kepala ke dinding, dan memejamkan mata.
Lily menatapnya sejenak. Ia bisa menebak apa yang terjadi kemarin. Nessa sudah pergi. Lily menghela napas, lalu masuk dan menyeduh segelas teh manis. Ia meletakkannya di meja di samping Rizal tanpa berkata apa-apa, lalu naik untuk memandikan anak-anak.
Belum sampai lima belas menit, suara Rizal menggelegar dari bawah.
****
Lily berlari menuruni tangga. Di halaman parkir, sebuah mobil hitam lain sudah berhenti di depan unit laundry. Arjuna berdiri di sampingnya bersama Pak Udin, yang memanggul tangga lipat. Pak Hasan, pemilik laundry, sedang menunjuk-nunjuk atap tokonya.
"Pak Juna, bocornya di sini lagi. Semalam hujan, cucian pelanggan basah semua," keluh Pak Hasan.
Rizal sudah berdiri. Wajahnya merah padam. Matanya bergantian menatap Arjuna, Pak Hasan, deretan ruko, lalu Lily yang berdiri terengah di ambang pintu.
"Pak Juna?" ulang Rizal. Lalu ia tertawa. Tawa yang ganjil dan menakutkan. "Pak Juna. Jadi ini punya kamu, Jun? Semua ruko ini punya kamu?"
Arjuna menatap adiknya dengan wajah datar. "Iya."
"Jadi ini!" Rizal menunjuk Lily, lalu Arjuna, bergantian. "Kamu sewa ruko punya Juna! Kalian main belakang dari dulu! Dari dulu! Aku sudah curiga! Ipar adalah maut! Benar, kan?!"
Orang-orang mulai berdatangan. Penjaga konter pulsa keluar dari tokonya. Dua penghuni mes yang sedang lewat berhenti. Acil Imah, yang datang pagi-pagi untuk merendam bahan masakan hari Senin, muncul dari pintu belakang ruko sambil memegang sendok kayu besar.
"Mas, jangan teriak-teriak di sini," pinta Lily, suaranya bergetar. "Anak-anak ...."
"Biar! Biar semua orang tahu!" Rizal melangkah cepat ke arah Arjuna dan mendorong dada kakaknya keras-keras.
Arjuna mundur satu langkah, tapi tidak membalas. Ia bahkan tidak mengangkat tangannya.
"Pukul aku, Jun! Ayo, pukul!"
"Anak-anakmu di tangga, Zal," kata Arjuna pelan.
Rizal menoleh. Di puncak tangga ruko, Abi dan Husen berdiri berpegangan pada pegangan besi yang baru. Rambut Husen masih basah, handuk tersampir di bahunya. Wajah keduanya pucat ketakutan. Husen mulai menangis tanpa suara.
Tangan Rizal yang terkepal perlahan turun.
****
Lily masuk ke dalam ruko dan kembali beberapa saat kemudian membawa sebuah map plastik. Tangannya gemetar, tapi suaranya tegas.
"Mas mau bukti? Ini," ia mengeluarkan kertas-kertas dari dalam map. "Kontrak sewa, atas namaku. Harganya sama seperti penyewa lain. Saksinya Kak Romy dan Kak Ina. Ini kuitansinya, bermeterai. Aku bayar tunai setahun penuh, uangnya kutarik sendiri dari bank. Semua kunci ruko ini ada di aku, termasuk cadangannya. Kak Juna enggak pernah naik ke atas. Enggak sekali pun."
"Saya saksinya," suara serak Acil Imah memotong. Ia melangkah maju dengan sendok kayu masih di tangan. "Tiap hari saya di sini dari subuh sampai sore. Pak Juna enggak pernah datang ke warung ini. Yang datang tukang-tukangnya. Makan, bayar, pulang."
"Saya juga," sahut Pak Hasan dari depan laundry-nya. "Pak Juna ke sini kalau ada yang rusak. Seperti hari ini. Atap saya bocor."
Rizal menatap mereka satu per satu. Napasnya masih memburu, tapi dadanya tidak lagi membusung.
Ia menatap Arjuna. Suaranya berubah lirih, nyaris seperti anak kecil. "Kamu enggak kawin-kawin karena dia, kan, Jun? Dari dulu. Iya, kan?"
Arjuna tidak menjawab. Wajahnya tidak berubah, tapi rahangnya mengeras. Hening yang panjang menggantung di udara pagi itu.
"Pulang, Zal," akhirnya Arjuna berkata. "Kalau mau ketemu anak, Minggu depan. Dengan kepala dingin."
Rizal mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Lalu, tanpa menoleh pada siapa pun, ia berjalan ke arah tangga. Ia naik dua anak tangga, memeluk Abi dan Husen sebentar, dan membisikkan sesuatu yang tidak bisa Lily dengar. Kemudian ia turun, masuk ke mobilnya, dan pergi.
Kerumunan perlahan bubar. Gelas teh manis yang tadi Lily letakkan untuk Rizal masih penuh di atas meja, sudah dingin, dengan seekor semut yang tenggelam di permukaannya.
"Ma," panggil Husen dari puncak tangga, suaranya serak sehabis menangis. "Papa kenapa marah sama Paman?"
Lily menengadah. "Papa lagi sedih, Sayang. Orang sedih kadang marahnya salah alamat."
"Kayak Abang kalau kalah main kelereng, terus marahnya ke Husen?" tanya Abi dengan gaya sok bijak.
Lily tertegun, lalu tanpa sadar tertawa kecil di sela gemetarnya. "Iya, Bang. Kayak itu."
Acil Imah membawa anak-anak naik ke atas sambil menjanjikan wadai kalau mereka berhenti menangis.
****
Lily berdiri di halaman parkir, gemetar dari ujung kepala sampai ujung kaki. Arjuna masih berdiri di dekat mobilnya. Pak Udin, dengan bijak, sudah memanjat atap laundry bersama tangganya.
"Kenapa Kakak datang hari Minggu?" desis Lily. "Kakak tahu Mas Rizal datang tiap Minggu!"
"Atap Pak Hasan bocor dari semalam. Aku lupa ini hari Minggu." Arjuna menatap tanah. "Maaf, Ly."
Itu pertama kalinya Lily mendengar Arjuna meminta maaf. Pada siapa pun.
"Mulai sekarang, urusan ruko lewat WA. Kalau harus datang, bilang dulu. Dan jangan hari Minggu."
"Iya."
Lily berbalik hendak masuk, tapi kakinya berhenti di ambang pintu. Pertanyaan itu sudah mengganjal di tenggorokannya sejak malam rawon asin itu. Sejak Rizal memergokinya mencuci rambut Arjuna di kamar mandi dan menuduh yang bukan-bukan. Sejak Arjuna menolak mendampingi adiknya menikah lagi.
Ia menoleh. "Yang dibilang Mas Rizal tadi ... benar?"
Arjuna mengangkat wajahnya. Untuk sesaat, Lily melihat sesuatu di mata kakak iparnya yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Sesuatu yang bukan es.
"Kamu masih istri orang, Ly," jawabnya pelan. "Pertanyaan itu jangan sekarang."
"Terus kapan?"
"Nanti. Kalau kamu sudah bukan istri siapa-siapa." Arjuna membuka pintu mobilnya. "Tanya lagi. Kalau kamu masih mau tanya."
Ia masuk ke mobil, menunggu Pak Udin turun dari atap, lalu pergi.
Lily berdiri lama di ambang pintu. Ia baru sadar tangannya mencengkeram map plastik itu sampai kusut.
Malam itu ia tidak bisa tidur. Ia berbaring menatap langit-langit, beristighfar berkali-kali, mengingatkan dirinya sendiri bahwa yang harus ia pikirkan sekarang hanya dua hal: sidang berikutnya dan anak-anak. Hanya itu.
Tapi setiap kali ia memejamkan mata, yang muncul justru wajah Arjuna di parkiran tadi pagi. Wajah yang bukan es.