“Emmhh… “, Naya melenguh merasakan tubuhnya yang kaku.
Kedua matanya mengerjap pelan menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke pupil matanya. Samar indera pendengarnya menangkap sinyal suara dari alat patient monitor. Dia ingin menggerakkan kepala untuk melihat sekeliling namun lehernya terasa berat.
“Bu…Ibu bisa mendengar suara saya?”
Tiba-tiba terdengar suara dari sebelah kiri kepalanya. Naya menoleh sebisanya lalu mengangguk.
“Dokter, pasien Naya sudah merespon,” terdengar suara perawat yang tadi bertanya pada Naya mulai menjauh sembari memanggil dokter.
Beberapa saat kemudian seorang dokter menghampiri diikuti beberapa orang perawat termasuk yang menanyai Naya tadi. Tidak berselang lama Naya melihat seorang yang lama tidak ditemui namun sangat dikenalnya berada di antara dokter dan perawat.
“Naya! Kamu sudah sadar, Nak,” ucap wanita paruh baya yang merupakan ibunda Naya.
Terlihat air mata menetes di pipi wanita bernama Siti tersebut. Bibir Naya bergerak memanggil Siti tapi tidak ada suara yang keluar.
“Ibu di sini, Nak. Kamu jangan banyak bergerak dulu,” kata Siti.
“Alhamdulillah Bu Naya sudah sadar. Kami akan observasi dulu selama paling tidak dua puluh empat jam. Jika memang kondisi Bu Naya sudah stabil bisa dipindahkan ke ruang rawat inap, “ jelas dokter jaga ruang ICU itu kepada Siti.
“Baik, Dokter. Tapi apakah anak saya nanti bisa benar-benar sembuh dan kembali seperti biasa?” Tanya Siti.
“Ibu berdoa saja ya. Dengan kondisi trauma yang dialami Bu Naya kemungkinan tersebut sangat kecil. Tapi Ibu tetap harus optimis. Doa Ibu untuk anak dan kekuasaan Tuhan bisa saja memberikan keajaiban,” jawab dokter.
“Saya mengerti, Dokter,” kata Siti.
Dokter yang dalam perkiraan Siti berusia empat puluh tahunan itu memberi senyum, “Silahkan sekarang Bu Naya diajak berkomunikasi. Hanya saja jangan terlalu memaksakan. Nanti saat pergantian shift jaga mohon Ibu kembali menunggu di luar agar Bu Naya bisa beristirahat,” lanjutnya.
“Baik, Dokter. Terima kasih banyak,” ucap Siti sesekali mengusap air mata yang terus mengalir.
Siti berdiri di samping ranjang Naya setelah semua tenaga kesehatan meninggalkan mereka. Kedua tangannya menggenggam tangan Naya sedangkan pandangannya lekat memandang wajah putrinya. Perasaannya campur aduk antara bahagia, sedih, dan haru. Setelah hampir tiga minggu menanti Naya sadar dari koma karena kecelakaan yang dialaminya.
“Bagaimana perasaan kamu, Nak? Apa ada yang terasa sakit?” Tanya Siti.
Naya mengangguk pelan. Bibirnya kembali bergerak namun kelu dan tenggorokannya terasa tercekat.
“Ada apa, Nak? Ada yang mau kamu sampaikan?” Tebak Siti.
“Ma…Wi..da..”
“Wildan?” Tanya Siti memastikan.
Naya mengangguk pelan. Siti terdiam sejenak.
“Dia sedang pulang untuk istirahat di rumah. Wildan juga pasti lelah menjagamu selama ini,” jawab Siti.
Naya mengangguk kecil.
Setelah sehari observasi, Naya akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap. Berbeda dengan saat Naya masih di ruang ICU, di ruang rawat ini keluarga yang menjaga diizinkan mendampingi di dalam ruangan.
“Mas Wildan kapan ke sini ya, Bu? Biar dia menggantikan ibu menjagaku di sini,” tanya Naya.
Kondisinya sudah semakin membaik dan bisa kembali berkomunikasi seperti biasa. Hanya saja tubuh dan kakinya memang masih lemas sehingga belum bisa turun dari tempat tidur. Sejak di dipindahkan ke ruang ini empat hari yang lalu, Naya sama sekali belum pernah melihat Wildan mendatanginya.
“Wildan selalu datang saat kamu masih tidur. Ibu tidak tega membangunkanmu jadi Wildan hanya mengobrol di luar dengan Ibu agar kamu tidak terganggu,” jawab Siti.
“Lagipula suamimu itu kan harus bekerja. Kasihan juga kalau pulang kerja masih harus menemanimu di sini,” lanjutnya.
“Kenapa tidak membangunkanku, Bu? Ada yang ingin aku bicarakan dengannya. Ponselku kan juga masih dibawa sama Mas Wildan,” kata Naya.
“Yah nanti kalau dia datang lagi Ibu akan membangunkanmu. Atau kamu sampaikan saja apa yang ingin dibicarakan. Nanti biar ibu yang mengatakan padanya,” kata Siti.
“Tidak bisa, Bu. Aku harus bicara langsung kepadanya,” kata Naya.
“Baiklah. Kamu istirahatlah dulu. Ibu mau keluar sebentar,” kata Siti.
“Aku sudah selalu rebahan, Bu. Mau istirahat seperti apa lagi,” gerutu Naya.
Senyum tipis muncul di bibir Siti, “Kamu ini, Nay,”.
Naya menghela nafas panjang setelah kepergian SIti. Setiap hari selalu terasa sangat lama baginya. Meskipun dia tidak sendiri di ruangan ini tapi karena tidak ada yang bisa dilakukan selain berbaring membuat Naya menjadi bosan dan pada akhirnya akan tertidur lagi jika Siti tidak bersamanya.
Mata yang baru saja terpejam seketika terbuka lagi mendengar suara pria dari arah pintu ruangan. Akan tetapi dia hanya bisa kecewa karena ternyata orang itu bukan Wildan melainkan pengunjung pasien sebelahnya.
“Kira-kira saya bisa pulang kapan ya, dokter?” tanya Naya saat dokter melakukan kunjungan sore itu.
Dokter memandang Siti sejenak. Setelah mendapat anggukan dari wanita itu, dokter pun mulai menjelaskan.
“Sebenarnya kondisi Bu Naya sudah memungkinkan untuk rawat jalan. Hanya tinggal membiasakan untuk latihan dan berjalan saja,” jawab dokter.
Raut bahagia sekaligus lega terpancar di wajah Naya, “Apakah hari ini juga saya bisa keluar dari rumah sakit, Dok?” tanyanya.
“Bisa, Bu Naya. Nanti saya bawakan obat yang harus diminum selama masa pemulihan di rumah. Jadwal kontrol juga akan disampaikan oleh perawat, “ jelas dokter.
“Terima kasih banyak dokter,” ucap Naya bahagia.
“Sama-sama, Ibu. Hanya saja Bu Naya perlu diperhatikan agar tidak terlalu lelah. Luka dalam di kepala Ibu belum sepenuhnya sembuh. Jika muncul pusing atau mual segera istirahat,” lanjut dokter memberi saran.
“Baik, Dokter. Terima kasih banyak,” ucap Naya.
“Bu, bisa minta tolong menghubungi Mas Wildan agar segera mengurus administrasi dan menjemputku pulang?” pinta Naya.
“Sebaiknya kamu pulang ke rumah kita dulu saja ya, Nay. Biar ibu bisa merawat kamu sampai benar-benar pulih,” bujuk Siti.
Naya mengerutkan kening. Dia mencoba mencerna ucapan sang ibu. Jarak rumah sakit ini ke rumah orang tuanya sekitar empat jam perjalanan. Sedangkan dari rumah yang ditempatinya bersama Wildan selama ini hanya dua puluh menit.
“Kenapa, Bu? Apa Mas Wildan yang memintanya?” tanya Naya menyelidik.
“Bukan! Bukan begitu, Nay. Hanya saja kondisimu saat ini masih belum pulih sepenuhnya. Sedangkan Wildan sering bekerja hingga larut malam bahkan terkadang ke luar kota,” kata SIti menjelaskan maksudnya dengan cepat.
“Pulang larut malam? Keluar kota?” tanya Naya tidak mengerti.
Siti terdiam.
“Ibu jujur sama aku? Apa benar selama ini Mas Wildan yang menjagaku di sini? Apa benar kalau dia kemari saat aku tidur?” cecar Naya.
Siti bungkam. Wajahnya dipalingkan dari pandangan menuntut dari Naya.
Naya menghela nafas panjang, “Apa aku bisa pinjam ponsel Ibu?” tanyanya dengan suara yang sudah lebih lembut.
Siti menggeleng, “Handphone Ibu tidak ada, Nay. Hilang beberapa hari lalu,” ucapnya.
“Kok bisa, Bu?” nada bicara Naya kembali meninggi, “Hilang di mana? Di rumah sakit ini?”
Siti mengangguk.
“Apa ibu sudah lapor ke satpam? Aku yakin pasti bisa ditemukan,” kata Naya yakin.
Meskipun tempatnya dirawat adalah rumah sakit umum tapi dia sangat percaya dengan pengamanannya. Rumah sakit ini dilengkapi dengan CCTV sehingga kejadian apapun pasti ada rekamannya.
“Tidak perlu, Nay. Ibu sudah ikhlas. Biar nanti dibelikan lagi sama Bapak kamu,” kata Siti.
“Tapi, Bu-” kalimat Naya terpotong.
“Ibu yakin ponsel ibu hilang? Apa tidak ibu…” Naya tidak sanggup meneruskan ucapannya. Antara tidak tidak tega dan tidak percaya jika hal tersebut sampai terjadi.
Mata Siti berkaca-kaca melihat Naya yang tiba-tiba diam, “Maafkan Ibu ya, Nay,” ucapnya memeluk sang putri.
Tangis Naya ikut pecah dalam pelukan Siti. Hatinya terasa sangat sakit. Jika sampai dugaannya benar, itu berarti Wildan sudah sangat keterlaluan kepadanya dan orang tuanya.
“Aku yang minta maaf ya, Bu karena masih menyusahkan Ibu dan Bapak,” kata Naya bergetar.
“Sudah. Sudah. Jangan seperti ini. Ibu dan Bapak sendiri yang tidak tega sama kamu. Kamu jangan menyalahkan Wildan,” kata Siti.
Naya hanya mengangguk. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya tentang hubungannya dengan Wildan. Bisa-bisa kedua orang tuanya akan semakin sedih dan merasa bersalah.
“Kalau kita pulang hari ini apa memungkinkan, Bu?” tanya Naya hati-hati.
“Emmm, kita tunggu Bapak kamu dulu ya. Dia sedang ke rumah pamanmu. Semoga hari ini bisa kembali kesini,” jawab Siti.
“Baiklah, Bu. Sekali lagi maafkan aku ya, Bu,” kata Naya menggenggam erat kedua tangan ibunya erat.
Dia paham apa yang dilakukan orang tuanya. Paman Naya adalah anggota keluarga yang selalu menjadi tujuan akhir saat keluarga mereka membutuhkan bantuan finansial.
“Bagaimana kondisi Naya sekarang, Bu?” Suara berat pria yang baru datang kembali memecah tangis Naya. Dia membuka tangan mengundang pelukan.
“Bapak…” Ucap Naya terisak.
“Kenapa, Nak? Bapak masih bau keringat ini,” kata Umar mendekati Naya namun bertahan menyambut pelukan putrinya.
Naya menggeleng dan memberi isyarat pada Umar untuk menerima pelukannya. Umar menoleh bingung pada Siti namun segera mendekap Naya setelah mendapat anggukan sang istri.
“Maafkan aku ya, Pak,” isak Naya dalam pelukan Umar.
“Maafkan karena aku masih menyusahkan kalian,” lanjutnya.
“Sudah…jangan begini. Apapun yang terjadi kamu akan tetap menjadi putri kami,” ucap Umar mengelus lembut punggung Naya.
“Pak, tadi dokter sudah mengizinkan Naya pulang. Bagaimana? Apa kira-kira Naya bisa pulang hari ini?” Tanya Siti.
Umar melepas pelukan dan memandang Naya juga Siti bergantian, “Biaya rumah sakit sudah dilunasi,” jawabnya.
“Hanya saja…”, Umar menjeda ucapannya.
“Kenapa, Pak?” Tanya Siti.
“Bapak sudah tidak ada uang lagi untuk ongkos kita pulang,”