“Nay?! Kamu sudah pulang?”
Wildan hampir terjungkal melihat Naya dan kedua orang tuanya sudah berdiri di ambang pintu kamar. Pria yang sejak tadi rebahan sembari menatap ponsel terkejut bukan main.
Naya beruntung karena di rumah sakit tempatnya dirawat ada donatur yang menyediakan ambulance gratis untuk pasien kurang mampu. Meskipun sebenarnya Naya tidak masuk kategori namun karena kondisi saat itu yang mendesak jadi dia bisa mendapat bantuan.
“Kenapa, Mas? Nggak suka aku pulang?” Tanya Naya dingin.
Pemandangan yang dilihat sejak masuk ke rumah ini membuat Naya geram. Rumah berantakan dengan bungkus dan sisa makanan di sana sini. Pakaian kerja dan lainnya berserakan di setiap sudut ruangan. Namun satu yang membuat Naya berada di puncak emosi adalah sepotong kemeja kerja wanita di salah satu sofa.
Wildan mencium tangan kedua mertuanya lalu merangkul bahu Naya bermaksud membantu sang istri menuju tempat tidur.
“Aku bisa sendiri,” kata Naya menyingkirkan tangan Wildan dengan gerakan bahunya.
“Tolong aku, Bu,” ucapnya mengulurkan tangan pada sang ibu.
“Biar ibu yang bantu dulu ya. Minta tolong Nak Wildan menata bantalnya saja,” ucap Siti mencoba menengahi. Dia bisa merasakan ada kemarahan dari sikap Naya.
“Baik, Bu,” kata Wildan sigap meskipun dalam hatinya menggerutu dan kesal karena Naya mempermalukannya di depan mertua.
“Kamu istirahat saja ya, Nak. Biar Bapak bantu Nak Wildan dan ibu masak buat kalian,” kata Siti setelah Naya duduk bersandar di tempat tidur.
“Tidak perlu, Bu. Ibu dan Bapak pasti sudah sangat lelah menjagaku di rumah sakit selama ini. Kalian berdua juga butuh istirahat,” tolak Naya.
“Tapi apa kamu tidak lapar? Sejak keluar dari ruang rawat tadi kita belum makan,” tanya Siti.
Jika dihitung sudah sekitar delapan jam sejak terakhir Naya mendapat jatah makan di rumah sakit. Siti sendiri merasa perutnya sudah butuh asupan. Dia yakin suaminya pun begitu.
“Tidak apa-apa, Bu. Ada Mas Wildan yang bisa belikan makanan di luar. Iya kan, Mas?” Lirik Naya yang membuat Wildan langsung mengangguk kikuk.
“I-iya, Bu. Saya bisa belikan makanan untuk makan malam kita,” jawab Wildan segera.
“Ibu dan Bapak bisa istirahat dulu di kamar belakang sambil bebersih dan menunggu saya datang,” lanjutnya.
“Tidak!” Tahan Naya tegas. Ketiga orang yang bersamanya pun langsung menoleh.
Emosinya kembali naik. Ruangan yang selama ini selalu dia bersihkan seberantakan itu. Apalagi kamar yang hampir tidak mereka tempati. Naya merasa Wildan sama sekali tidak menghargai orang tuanya.
“Biar Ibu dan Bapak malam ini tinggal di hotel. Aku sekalian pesankan tiket kereta agar bisa segera pulang dan istirahat,” kata Naya.
“Tapi, Nay-”
“Kenapa, Mas? Kamu keberatan kasih ibu dan bapakku tempat istirahat yang nyaman?” Tembak Naya.
“Bukan begitu, Nay. Aku cuma kasihan sama ibu dan bapak. Kalian kan baru sampai, masa iya ibu dan bapak langsung diminta pergi,” dalih Wildan.
“Daripada harus tidur di gudang dan melayani kamu yang-”
“Nay! Sudah! Bapak dan Ibu tidak masalah tidur di manapun. Yang penting kamu tenang dan Wildan tidak terganggu,” kali ini Umar bersuara. Menurutnya Naya sudah mulai kelewatan bersikap pada suaminya.
“Aku akan tenang kalau Bapak dan Ibu bisa istirahat dengan baik. Apalagi selama aku di rumah sakit ibu sama sekali tidak bisa tidur dengan nyaman,” kata Naya sesekali melirik Wildan sebagai sindiran.
“Ibu tidak apa-apa, Nay. Kamu anak ibu. Siapa lagi yang akan menjagamu saat kesusahan kalau bukan kami,” kata Siti.
“Iya, Bu. Tapi kan Bapak sudah menyerahkan tanggung terhadapku pada seseorang yang dulu berjanji dalam ijab qobul,” kata Naya masih sinis.
“Sudah-sudah terserah kamu saja,” kata Umar mendengar Naya semakin menjadi.
“Pinjam ponsel kamu, Mas,” kata Naya sambil mengulurkan tangan kanannya.
“Hah! Tap-”
“Mana!”, Wildan hendak menolak tapi diurungkan mendengar nada bicara Naya yang semakin tegas.
Apalagi mengingat ada kedua mertuanya di sini dia harus menahan diri.
“Biar aku yang pesankan ya, Nay,” kata Wildan lembut berusaha melindungi ponselnya agar tidak sampai ke tangan sang istri.
“Kenapa? Apa ada yang tidak boleh aku lihat?”
“Naya!” Panggil Umar.
“Bapak tenang dulu ya. Biar aku urus ini dulu,” kata Naya lembut pada sang ayah.
“Yang harusnya tenang itu kamu,” batin Umar menghela nafas panjang.
“Sini, Mas!” Pinta Naya lagi.
Ada berjuta alasan di kepala Wildan yang bisa disampaikan ke Naya. Namun melihat emosi Naya dia memilih untuk menuruti saja.
Beberapa saat Naya mengoperasikan ponsel Wildan. Pria itu hanya mengintip sambil was-was manakala sang istri membuka aplikasi tertentu.
“Berapa nomor pinnya?” Tanya Naya saat sudah sampai ke aplikasi pembayaran.
“Sini biar aku yang ini,” tawar Wildan.
“Berapa?” Ulang Naya tanpa menghiraukan ucapan suaminya.
“Tapi, Nay-”
“Berapa?!”
“171280” jawab Wildan akhirnya.
“Tanggal ulang tahun mantan ya?” Cibir Naya dengan mata tetap pada layar ponsel. Dia tidak melihat betapa merah wajah Wildan mendengar ucapannya.
“Nay…” Siti bersuara membuat Naya berpaling padanya.
“Ibu sama Bapak bisa siap-siap. Sepuluh menit lagi taksinya sampai. Maaf, Pak, bisa kesini sebentar?” Pinta Naya.
Umar yang sejak tadi tak mampu duduk karena melihat emosi Naya pun mendekat.
“Ada apa, Nay?” Tanya pria paruh baya itu lembut.
“Nanti Bapak akan diantar ke hotel ini. Bapak langsung ke resepsionis saja dan menyampaikan nomor kamar. Yang ini ya, Pak,” jelas Naya sambil menunjukkan angka-angka dari ponsel di tangannya.
“Besok jam satu siang akan ada mobil travel yang menjemput di hotel dan mengantar langsung ke rumah,” lanjut Naya.
“Kamu tidak harus seperti ini, Nay. Kasihan suamimu,” kata Umar.
“Apa menurut Bapak dia kasihan sama kita?” Tanya Naya sengaja melirik Wildan.
“Nay!” Siti mengingatkan Naya.
“Ayo kita ke depan, Pak. Sebaiknya kita bersiap dan menunggu jemputan di ruang tamu,” ajak Siti.
“Kami pergi dulu ya, Nay. Kamu yang sabar biar segera sehat dan pulih sempurna,” kata Umar berpamitan.
“Iya, Pak. Terima kasih dan maaf atas semuanya,” kata Naya mencium tangan dan pipi Umar.
“Wildan! Bisa Bapak bicara sebentar,” kata Umar lalu mengajak Wildan keluar dari kamar.
“Baik, Pak,” kata Wildan langsung mengikuti ayah mertuanya.
Siti mendekati Naya sebelum keluar kamar. Beberapa kalimat dia sampaikan untuk menasehati sekaligus menguatkan sang putri. Naya hanya bisa menangis dan mengangguk mendengar petuah sang ibu.
“Doakan aku kuat ya, Bu,” pintanya di akhir pembicaraan.
“Pasti, Nak. Ibu pergi dulu ya,” ucap Siti.
Anggukan Naya mengiringi sang ibu. Dia masih belum mampu berdiri untuk mengantarkan kedua orang tercintanya itu. Mungkin di jahat karena langsung memulangkan mereka. Akan tetapi dia merasa akan lebih jahat jika harum membiarkan Siti dan Umar tinggal dalam keadaan rumah yang sangat kacau seperti ini.
Selang sepuluh menit kemudian terdengar suara mobil berhenti dan pesan hati-hati dari Wildan kepada kedua orang tuanya. Naya kembali tersedu mengingat pengorbanan mereka. Pantas memang anak yang durhaka azabnya tidak menunggu di akhirat, bahkan di dunia pun langsung diberikan.
“Kamu apa-apaan sih, Nay?!” Suara Wildan yang tiba-tiba membuat Naya mendongak.
Sorot mata tajam pria itu tidak lagi membuat Naya takut. Tapi justru membuatnya semakin membara.
“Kenapa memangnya, Mas?” Tanyanya berani.
“Baru juga kamu pulang dari rumah sakit sudah langsung menghabiskan saldo rekeningku,” protes Wildan.
Naya tertawa sinis, “Yah anggap saja pengganti biaya hidup orang tuaku selama aku di rumah sakit,” ucapnya.
“Tapi nggak sebanyak ini juga, Nay!”
“Oh… Jadi uang segitu buat orang tuaku terlalu banyak? Tapi kalau untuk Dinda sedikit?” Sindirnya.
“Hah?! Kamu ngapain buka-buka chatku?” Wildan tidak terima.
“Ngapain juga aku buka chat kamu, Mas? Nggak penting! Transferanmu ke Dinda terpampang jelas di mutasi rekening gaji yang seharusnya untuk kebutuhan kita,” balas Naya.
“Dia cuma pinjam, Nay,” kata Wilda melunak.
“Bagus kalau cuma pinjam. Bilang sama dia untuk segera mengembalikan karena aku sudah pulang! Paling lambat minggu depan uang itu sudah harus kembali ke tanganku dalam bentuk tunai,”
“Minggu depan?! Ya nggak mungkin lah, Nay. Itu aja-”
“Aku nggak peduli dengan alasan dia. Silahkan kamu lanjutkan chatting sama Dinda. Aku mau istirahat,” kata Naya merebahkan diri dan menarik selimut.
“Aaaahhhh! Kenapa kamu nggak pulang nanti-nanti aja sih,” gerutu Wildan sambil keluar kamar.
Air mata Naya kembali meleleh mendengar ucapan Wildan. Kepercayaannya pada pria itu sudah benar-benar runtuh.