Pesawat angkut itu turun seperti seseorang yang menarik napas terlalu dalam, lalu menjatuhkannya begitu saja ke landasan tanah merah. Maharani merasakan getarnya naik dari telapak kaki ke gigi, dan ketika roda menyentuh permukaan, debu menyembur ke jendela kecil di sampingnya hingga dunia di luar berubah jadi cokelat susu yang pekat.
Tujuh belas jam. Itu yang ditulisnya di buku saku kecil bersampul kulit yang dijahit ibunya sebelum keberangkatan. Dari Halim ke Kolwezi, transit di dua bandara yang namanya tak sempat ia hafal, lalu penerbangan terakhir dengan pesawat baling-baling milik misi yang mendengung seperti lebah raksasa. Sepanjang jalan ia menghitung waktu agar tidak menghitung hal lain. Bukan rasa takut, tepatnya. Lebih mirip kesadaran bahwa setiap menit membawanya semakin jauh dari segala yang ia tahu cara mengurusnya.
Pintu belakang terbuka, dan udara masuk. Bukan udara seperti yang ia bayangkan. Ia mengira panas, dan memang panas, tapi keringnya yang mengejutkan, kering yang langsung menyedot kelembapan dari bibir dan mata. Bau tanah dipanggang, bau bahan bakar pesawat, dan di baliknya samar-samar bau asap kayu dari suatu tempat yang jauh. Maharani memanggul ranselnya, lalu kotak medis pribadinya yang tidak ia izinkan siapa pun menyentuh, dan melangkah keluar mengikuti barisan.
"Bu Sersan, kepala saya kayak masih di atas awan," kata Praka Oddie di belakangnya, menyeka wajah dengan lengan. Anak Ambon itu sudah mengeluh sejak transit kedua, tapi mengeluhnya selalu sambil tersenyum, seakan keluhan adalah cara dia menjaga semangat seluruh regu tetap menyala.
"Diminum airnya. Jangan tunggu haus," jawab Maharani. Itu kalimat pertama yang ia ucapkan di tanah ini, dan ia menyadari betapa kebidanannya tidak pernah benar-benar libur. Bahkan untuk lelaki dewasa berbadan dua kali tubuhnya, yang pertama keluar dari mulutnya adalah perintah merawat diri.
Landasan itu sebenarnya hanya jalur tanah yang dipadatkan, dijaga dua kendaraan lapis baja putih dengan tulisan hitam besar di sisinya, huruf-huruf yang sudah ia lihat ribuan kali di televisi dan sekarang ada di depan matanya, nyata dan berdebu. Seorang perwira penghubung dari sektor menyambut, kulitnya cokelat terbakar, logat bicaranya bercampur antara bahasa pengantar misi dan sesuatu yang asing. Ia menjabat tangan komandan regu, Lettu Bagas, lalu menunjuk ke arah deretan kendaraan yang akan membawa mereka ke pos.
Perjalanan darat memakan dua jam lagi. Maharani duduk di bangku samping dalam kendaraan tertutup, terguncang-guncang, memandang keluar lewat kaca tebal yang menguningkan segalanya. Ia melihat ladang singkong yang ditinggalkan, gubuk-gubuk beratap seng yang penyok, dan sesekali sosok manusia yang berhenti di pinggir jalan untuk menatap konvoi lewat. Tatapan itu yang membekas. Bukan kebencian, bukan juga sambutan. Sesuatu yang lebih lelah dari keduanya, seperti orang yang sudah terlalu sering melihat kendaraan asing lewat tanpa pernah ada yang berubah sesudahnya.
Pos penyangga muncul di kelokan terakhir, di atas tanah agak tinggi yang menghadap ke lembah. Kompleks kontainer yang dicat putih kusam, dikelilingi pagar kawat ganda dan barikade pasir dalam karung. Sebuah menara pengawas kayu dan baja berdiri di sudut timur laut, menghadap ke arah sungai yang berkelok di dasar lembah seperti pita cokelat. Di seberang sungai, samar di kejauhan, Maharani bisa melihat atap-atap desa lain. Dua dunia, dipisahkan air, dan pos ini berdiri persis di tengah, seperti tanda titik yang dipaksakan di antara dua kalimat yang saling bermusuhan.
Mereka turun. Debu kembali. Personel pos sebelumnya, yang akan mereka gantikan setelah masa tumpang tindih, keluar menyambut dengan wajah yang Maharani kenali sebagai wajah orang yang sudah menghitung mundur hari kepulangan. Ada serah terima, ada salam, ada lelucon lelah tentang air panas dan sinyal yang tak pernah ada.
Tenda medis ada di sayap barat kompleks, terpisah dari barak dengan jalur kerikil. Maharani memohon izin lebih dulu ke sana sebelum apa pun. Lettu Bagas mengangguk; ia sudah belajar dalam pelatihan pra-tugas bahwa membiarkan tenaga medis mengenali ruangnya adalah cara membuatnya tenang.
Di dalam tenda, seorang bidan pendahulu, perempuan dari kontingen yang akan pulang, menjelaskan tata letaknya dengan cepat dan efisien. Dua ranjang periksa, lemari obat dengan gembok, tabung oksigen yang harus dihemat, generator cadangan yang sering ngambek. "Persalinan?" tanya Maharani, dan perempuan itu berhenti sejenak. "Bukan tugas kita, secara resmi," jawabnya pelan. "Tapi tubuh tidak baca mandat." Lalu ia tersenyum, senyum yang Maharani simpan baik-baik tanpa tahu kapan akan ia butuhkan.
Briefing pertama digelar sore itu di ruang yang mereka sebut ruang operasi, sebenarnya hanya kontainer dengan meja dan peta dinding. Perwira penghubung sektor menjelaskan ulang yang sudah mereka pelajari, tapi di sini, dengan lembah sungguhan di luar jendela, kata-katanya terasa berbeda. Pasukan helm biru ada untuk menjaga. Bukan untuk berperang. Senjata hanya untuk membela diri dan melindungi mandat. Dilarang memihak. Dilarang bertindak di luar otorisasi. Setiap penggunaan kekuatan harus bisa dipertanggungjawabkan ke markas sektor, ke markas misi, ke dunia yang menonton.
"Kalian bukan penyelesai konflik ini," kata perwira itu, dan kalimatnya menggantung di udara panas. "Kalian penjaga jeda. Supaya orang punya waktu mencari jalan keluar yang bukan urusan kalian."
Maharani mencatat itu juga di buku sakunya, di bawah angka tujuh belas. Penjaga jeda. Ia memutar kata itu di kepalanya sambil malamnya membuka kotak medis pribadinya di atas ranjang lipat, memeriksa isinya satu per satu seperti seorang ibu menghitung jari bayinya. Klem tali pusat. Gunting steril. Set jahit. Ampul-ampul kecil yang ia susun rapi. Alat persalinan darurat yang ia minta khusus, yang nyaris ditolak karena katanya bukan kebutuhan misi.
Di luar, lembah gelap total kecuali satu dua titik api di kejauhan, di kedua tepi sungai. Maharani memandangnya lewat celah pintu kontainer. Begitu besar tanah ini, begitu tua perang yang ia datangi di ujungnya, dan begitu kecil kotak di pangkuannya. Untuk pertama kalinya sejak mendarat, ia membiarkan dirinya menyadari betapa kecil ia di tengah kebesaran ini. Lalu ia menutup kotak itu, mengikat talinya, dan berbaring. Tujuh belas jam ke selatan, dan entah berapa lama lagi sampai ia mengerti tempat ini sama sekali.