Peta itu menempel di dinding kontainer komando, dilaminasi, dengan spidol yang sudah setengah memudar di beberapa garisnya. Lettu Bagas berdiri di depannya dengan sebatang penunjuk dari ranting yang diraut, dan Maharani berdiri di barisan depan bersama regu inti karena, katanya, tenaga medis harus tahu medan sama persis seperti yang memegang senjata.
"Ini area kita," kata Bagas, menggariskan sebuah bentuk tak beraturan di sekitar pos. Sungai membelahnya. "Tepi barat, wilayah yang dikuasai kelompok yang menyebut diri Front Pembebasan Lembah. Tepi timur, milik koalisi yang mereka sebut Penjaga Tanah. Nama-nama itu tidak penting buat kalian. Yang penting, garis ini." Ujung ranting itu menelusuri batas berwarna biru pucat di peta. "Di dalam garis ini, kita bertanggung jawab. Di luar, bukan urusan kita. Bukan karena kita tidak peduli. Karena begitulah misi ini dibagi-bagi ke seluruh sektor. Setiap kontingen punya kotaknya. Kalau semua orang keluar dari kotaknya, yang ada bukan perdamaian, tapi kekacauan berseragam."
Maharani menatap garis biru itu. Di atas peta ia hanya tinta. Ia mencoba membayangkan bagaimana rupanya di tanah sungguhan, garis yang tidak ada, yang tak bisa dilihat, tapi yang katanya cukup nyata untuk menentukan siapa yang boleh ia tolong dan siapa yang tidak.
"Aturan keterlibatan," lanjut Bagas, dan suaranya berubah lebih datar, seperti membaca sesuatu yang harus diucapkan tepat. "Kita boleh memakai kekuatan dalam tiga hal. Membela diri. Membela personel misi lain. Dan melindungi warga sipil yang berada di bawah ancaman kekerasan fisik langsung, dalam jangkauan kemampuan kita, dan dalam area tanggung jawab kita. Tiga syarat itu harus terpenuhi semua. Bukan salah satu. Semua."
Seseorang di barisan, Maharani tak melihat siapa, menghela napas pelan. Bagas mendengarnya.
"Aku tahu itu kedengarannya seperti pintu yang dibuka lalu dikunci di saat yang sama," kata komandan itu. "Memang begitu. Dan kalian harus paham kenapa. Kalau satu regu helm biru bertindak gegabah, yang menanggung bukan cuma kita. Tapi seluruh kontingen Garuda. Bisa-bisa seluruh misi. Nama negara kita ada di lengan ini." Ia menepuk bendera kecil di lengan seragamnya. "Kalian membawa lebih dari diri kalian sendiri ke sini."
Seusai briefing, Maharani diperkenalkan kepada seorang lelaki yang menunggu di bawah naungan menara. Tubuhnya tinggi kurus, usianya barangkali pertengahan tiga puluh, mengenakan kemeja yang sudah lama tak melihat setrika tapi kerahnya tetap dikancing rapi sampai atas, semacam kerapian yang dipertahankan dengan sengaja di tengah ketidakberaturan. Adama, namanya. Penerjemah dan penghubung lokal yang dipekerjakan misi.
"Bu Bidan," sapa Adama dalam bahasa pengantar misi yang fasih, lalu menambahkan beberapa patah kata dalam bahasanya sendiri yang Maharani tidak mengerti tapi nadanya terdengar seperti sapaan hormat. "Mereka akan memanggil Anda begitu di kedua tepi. Bu Bidan. Percayalah, gelar itu lebih kuat dari pangkat Anda di sini."
"Kenapa begitu?"
Adama mengangkat bahu. "Tentara datang dan pergi. Bidan menentukan siapa yang lahir hidup." Ia mengatakannya tanpa drama, seperti menyebut cuaca. "Saya guru sebelum ini. Sekolah saya di tepi timur. Sekarang sekolah itu jadi gudang. Maka saya menerjemahkan untuk orang asing, karena anak-anak yang dulu saya ajar sekarang menggendong senjata atau menggendong adiknya yang lapar. Saya tidak bangga dengan pekerjaan ini. Tapi saya melakukannya supaya ada satu orang di ruangan yang mendengar dua bahasa dan tahu apa yang hilang di antara keduanya."
Maharani menatapnya lebih lama. Ia datang ke sini dengan asumsi bahwa orang-orang lokal akan menjadi latar, wajah-wajah yang ia tolong lalu lupa. Adama, dengan kemeja terkancingnya dan kepahitan yang dijaga tetap sopan, langsung membongkar asumsi itu. Lelaki ini punya kehilangannya sendiri, tujuannya sendiri, dan Maharani belum tentu masuk dalam prioritas tujuan itu.
Patroli perdana berangkat siang hari, dua kendaraan, menyusuri jalur di tepi barat. Maharani ikut sebagai tenaga medis, duduk di kendaraan kedua dengan tas pertolongan pertama di pangkuan. Sungai berkilau di sisi kiri, dangkal dan keruh, dengan beberapa perempuan mencuci di tepinya yang berhenti bekerja untuk menatap.
Pos pemeriksaan faksi muncul di tikungan: sebatang kayu melintang di atas dua drum, beberapa lelaki muda dengan senjata yang dipanggul sembarangan, dan satu yang lebih tua dengan topi rajut. Kendaraan berhenti. Adama turun lebih dulu, tangan terbuka di samping tubuh, dan mulai bicara. Maharani tidak mengerti kata-katanya, tapi ia mengerti irama tegang yang naik dan turun, jeda yang terlalu panjang, tawa yang terlalu dipaksakan.
Salah satu pemuda mendekati kendaraan kedua, menunduk, mengintip ke dalam lewat kaca. Matanya bertemu mata Maharani. Sangat muda, mungkin tujuh belas, dengan luka lama yang belum sempurna sembuh di pelipisnya. Ia menatap tas medis di pangkuan Maharani, lalu menatap wajah perempuan itu, dan untuk sesaat ada sesuatu yang bukan ancaman di matanya. Lalu yang lebih tua memanggilnya, dan ia mundur, dan wajahnya kembali keras.
Kayu palang diangkat. Kendaraan lewat. Adama naik kembali, menutup pintu, dan menghembuskan napas yang ditahannya entah sejak kapan.
"Mereka ingin tahu kenapa ada perempuan dalam konvoi," katanya pada Maharani. "Saya bilang Anda bidan. Yang tua langsung berubah. Istrinya meninggal melahirkan dua musim lalu. Bidan terakhir di lembah ini pergi bertahun-tahun lalu." Adama memandang ke depan. "Anda baru saja melewati pos pemeriksaan itu bukan karena seragam Anda, Bu Bidan. Tapi karena tas itu. Ingat baik-baik. Di tempat ini, yang bisa Anda berikan jauh lebih menentukan dari yang bisa Anda larang."
Maharani memandang kembali ke arah pos pemeriksaan yang mengecil di kaca belakang. Garis di atas peta sudah ia lewati tanpa terasa. Dan ia mulai mengerti bahwa garis-garis yang sesungguhnya berbahaya di tempat ini bukan yang tergambar di dinding kontainer, melainkan yang terbentang tak terlihat di antara apa yang boleh ia lakukan dan apa yang dipanggil oleh tangannya untuk dilakukan.