Bocah itu datang digendong, dan yang menggendongnya bukan ayahnya melainkan seorang lelaki tua yang berlari menanjak ke gerbang pos sampai napasnya hampir habis. Maharani sedang menata ulang lemari obat ketika teriakan terdengar dari arah barikade, dan ia tahu, sebelum melihat apa pun, dari nada teriakan itu, bahwa hari tenangnya sudah berakhir.
Penjaga gerbang ragu. Itu wajar; protokol mengharuskan setiap orang luar yang masuk diperiksa, dan ada pertanyaan tentang siapa orang ini, dari sisi mana sungai. Maharani sudah berlari ke gerbang sebelum protokol selesai diperdebatkan. Ia melihat darah membasahi kain yang membungkus kaki kiri bocah itu, melihat warna kulit yang salah, bibir yang pucat, dan semua pertanyaan tentang faksi runtuh jadi satu kenyataan tunggal: anak ini sekarat, dan ia punya menit, bukan jam.
"Bawa ke tenda. Sekarang," katanya, dan suaranya tidak meninggi tapi tak ada yang membantah.
Di atas ranjang periksa, ia membuka balutan darurat yang dipasang seadanya. Luka di betis, dalam, dengan tepi yang compang. Bukan luka tembak, ia menilai cepat; lebih mirip terkena pecahan, atau terjatuh ke sesuatu yang tajam saat berlari. Pendarahan belum berhenti karena balutan dipasang terlalu longgar dan terlambat. Maharani menekan, memasang torniket di atas luka, mencatat waktu di lengannya sendiri dengan spidol karena itu yang diajarkan, lalu memasang jalur infus pada lengan tipis itu sambil tangannya bergerak dengan ketenangan yang justru muncul saat keadaan paling genting.
Lelaki tua itu berdiri di sudut, menggumamkan doa atau nama, Maharani tak tahu, dan Adama datang menerjemahkan dengan napas tersengal. Bocah itu cucunya. Mereka dari sebuah dusun di tepi barat. Anak itu menginjak sesuatu di ladang yang dulu jadi medan pertempuran, sesuatu yang meledak kecil tapi cukup. Bukan ranjau besar, kata Adama menerjemahkan, lebih seperti sisa amunisi yang tertinggal. Ladang-ladang di sini penuh hal seperti itu, peninggalan perang yang sudah berhenti tapi belum selesai membunuh.
Maharani bekerja hampir satu jam. Membersihkan, mengeluarkan serpihan kecil, menjahit apa yang bisa dijahit dan membiarkan terbuka apa yang harus dibiarkan. Ia menstabilkan, bukan menyembuhkan; bocah ini butuh fasilitas yang lebih besar, butuh rumah sakit lapangan misi yang ada di markas sektor, dan ia menuliskan rujukan sambil berdoa kendaraan evakuasi disetujui. Ketika denyut nadi anak itu kembali stabil di bawah jarinya dan warna perlahan kembali ke bibirnya, Maharani membiarkan dirinya menarik satu napas penuh untuk pertama kalinya.
Lalu ia mendongak, dan melihat Lettu Bagas berdiri di pintu tenda dengan wajah yang tidak marah, tapi juga tidak lega.
"Dia dari tepi barat," kata Bagas pelan setelah keluar, agar lelaki tua tak mendengar meski takkan mengerti pun. "Sudah ada yang melihat. Berita semacam ini lari lebih cepat dari kendaraan kita. Sebelum maghrib, kedua tepi akan tahu helm biru merawat anak dari Front Pembebasan Lembah."
"Dia anak-anak, Komandan. Dia menginjak sisa perang."
"Aku tidak menyalahkanmu, Sersan." Bagas memijit pangkal hidungnya. "Aku cuma mau kau mengerti apa yang baru terjadi. Di sini, sebuah jahitan bukan cuma jahitan. Tepi timur akan bertanya kenapa kita menolong tepi barat. Kalau besok ada anak tepi timur yang kita tolak karena tendanya penuh, mereka akan ingat hari ini. Setiap yang kau lakukan dengan tanganmu punya gema di kedua sisi sungai. Itu bukan salahmu. Itu cuma tempat ini."
Maharani membersihkan tangannya di baskom, air berubah merah muda. Ia memikirkan kata netral, kata yang ditulis besar-besar dalam semua dokumen misi. Ia selalu mengira netral berarti adil, berarti bersih. Sekarang ia mulai mencurigai bahwa di tempat ini, netral justru berarti setiap kebaikan dihitung sebagai keberpihakan oleh seseorang.
Kendaraan evakuasi disetujui menjelang sore, lebih cepat dari yang ia takutkan, dan bocah itu dibawa ke markas sektor dengan kakeknya menggenggam tangannya. Sebelum pergi, lelaki tua itu berhenti di depan Maharani, mengambil tangannya dengan kedua telapaknya yang kasar dan tua, lalu mengucapkan sesuatu yang panjang dan tersendat. Adama tidak langsung menerjemahkan. Ketika Maharani memandangnya, penerjemah itu berkata, "Dia bilang dia tidak akan bertanya dari mana asal Anda atau seragam apa yang Anda pakai. Dia hanya akan ingat bahwa ketika dunia tidak peduli cucunya hidup atau mati, ada satu orang yang peduli." Adama berhenti. "Saya menerjemahkan apa adanya. Tapi Anda harus tahu, Bu Bidan, kalimat seperti itu bisa berubah jadi senjata di mulut orang lain. Orang akan bilang Anda memihak. Hati-hati dengan rasa terima kasih di tempat ini. Kadang itu lebih berbahaya dari kemarahan."
Malam turun cepat seperti biasa. Maharani duduk di luar tenda dengan ponsel satelit yang disediakan untuk panggilan keluarga, jatah singkat yang dijaga ketat. Ia menekan nomor rumah di Klaten, dan setelah dengung panjang dan beberapa kegagalan, layar kecil itu menyala dengan wajah ibunya, berbintik-bintik, separuh gelap karena lampu dapur di belakangnya redup.
"Rani. Kamu makan apa di sana?" Itu selalu pertanyaan pertama ibunya, di mana pun, dalam keadaan apa pun.
"Makan, Bu. Cukup kok." Maharani tersenyum, dan ia merasa otot-otot wajahnya yang seharian tegang akhirnya mengendur. Ia ingin bercerita tentang bocah itu, tentang ladang yang masih membunuh, tentang lelaki tua yang menggenggam tangannya. Tapi ia tahu ibunya hanya akan cemas, jadi ia menelan semua itu dan bertanya tentang adiknya, tentang dagangan jamu, tentang hujan di kampung.
Ibunya baru mulai bercerita tentang langganan yang menanyakan kabarnya, kalimatnya baru sampai setengah, ketika layar membeku. Wajah ibunya membatu di tengah tawa, lalu pecah jadi kotak-kotak warna, lalu hitam. Sinyal hilang. Maharani menekan tombol panggil ulang, sekali, dua kali, tiga kali, mendengar dengung kosong yang tak berujung pada apa pun.
Ia menurunkan ponsel ke pangkuannya dan duduk diam dalam gelap. Di kejauhan, di kedua tepi sungai, titik-titik api kembali menyala seperti malam pertama. Hari ini ia menyelamatkan satu anak dan, kata orang-orang, mungkin telah memihak tanpa berniat. Dan kalimat ibunya yang belum selesai menggantung di udara seperti jahitan yang putus sebelum simpul, terbuka, tak tertutup, menunggu sambungan yang tak kunjung datang.