Gerbang pos terbuka untuk mereka, dan tak ada yang menyambut.
Maharani sudah menyiapkan diri untuk kemarahan. Sepanjang perjalanan kembali ia menyusun pembelaan di kepalanya, menanti teguran keras Bagas yang pernah ia terima setelah persalinan Fatou, menanti wajah-wajah regu yang menatap dengan tuduhan. Kemarahan setidaknya adalah sesuatu yang bisa ia hadapi, sesuatu yang bisa ia balas dengan kebenaran tindakannya. Tapi yang menyambutnya di gerbang bukan kemarahan. Yang menyambutnya adalah keheningan, dan keheningan jauh lebih berat.
Regu berdiri di sana, sebagian, ketika kendaraan masuk. Mereka memandang Maharani dan Wanto turun, dan tak seorang pun bicara. Oddie, yang biasanya akan melemparkan lelucon untuk mencairkan tegangan apa pun, berdiri dengan tangan tergantung di sisi tubuh, mulutnya rapat. Jumadi muncul di pintu dapur, lap di bahu, dan menatap dengan ekspresi yang tak bisa Maharani baca, lalu masuk kembali tanpa kata. Keheningan itu menjalar ke seluruh kompleks, dan Maharani menyadari bahwa pos ini, yang dulu terasa seperti satu tubuh, kini terbelah, dan belahan itu berjalan tepat di tengah, di antara orang-orang yang sama yang berbagi ransum Jumadi dan jaga malam yang sama.
Ia melihatnya di wajah-wajah. Sebagian, ketika menatapnya, ada sesuatu yang mendekati kekaguman, atau setidaknya pengakuan: kau melakukan yang kami semua ingin lakukan tapi tak berani. Mereka melihat reruntuhan klinik yang penuh nyawa terselamatkan, dan mereka melihat seorang bidan yang menolak menunggu, dan bagi mereka itu adalah keberanian dalam bentuknya yang paling murni.
Tapi sebagian yang lain menatapnya dengan sesuatu yang dingin dan terluka. Dan Maharani mengerti pandangan itu juga, mengerti dengan adil, karena ia tahu apa yang mereka lihat. Mereka melihat dua orang yang menyeberang dan mempertaruhkan seluruh kontingen, seluruh nama negara, seluruh keselamatan setiap orang di pos ini, demi keputusan yang mereka ambil sendiri tanpa bertanya. Mereka melihat bahwa kalau penyeberangan itu berakhir buruk, kalau Maharani atau Wanto tertangkap atau terbunuh, kalau insiden meledak menjadi krisis diplomatik, mereka semua akan menanggungnya. Anak istri mereka di rumah akan menanggungnya. Dan mereka tak pernah diberi suara dalam keputusan yang menaruh hidup mereka di atas meja.
Patar yang akhirnya bicara. Ia maju selangkah, rahangnya keras, dan suaranya, ketika keluar, rendah tapi bergetar oleh sesuatu yang ditahan. "Mereka hidup," katanya, menunjuk dengan dagu ke arah seberang, ke desa yang telah mereka tinggalkan. "Bagus. Aku senang mereka hidup, Bu Sersan, sumpah. Tapi malam ini, waktu kalian di seberang sana, aku berdiri di menara dengan jari di picu, siap menembak kalau ada yang mengejar kalian. Tahu apa artinya itu? Kalau aku menembak, perang pecah. Kalau aku tidak menembak dan kalian mati, aku yang menonton. Kalian menaruh aku di posisi itu. Kalian menaruh kita semua di posisi itu. Dan kalian tidak pernah tanya." Ia menarik napas, dan suaranya nyaris pecah. "Aku tidak tahu harus marah atau lega. Itu yang kalian lakukan pada kami. Kalian buat kami tidak tahu harus merasa apa."
Maharani membuka mulut, tapi tak ada yang keluar yang cukup. Karena Patar benar. Setiap kata yang ia ucapkan benar, persis seperti setiap kata Bagas dulu benar, dan kebenaran yang tak bisa dibantah selalu yang paling menyakitkan. Ia menaruh seluruh regu dalam bahaya yang tak mereka pilih. Ia menyelamatkan nyawa di seberang dan, dalam prosesnya, melukai sesuatu di sini, ikatan yang dirakit Jumadi lewat sambalnya dan Oddie lewat candanya dan setiap orang lewat air yang dibagi saat seseorang demam.
Bagas turun dari kendaraan terakhir dan berjalan ke tengah kompleks, dan kehadirannya mengembalikan keteraturan pada kekacauan tak bersuara itu. Wajahnya lelah melampaui kelelahan fisik, wajah seorang komandan yang telah menghabiskan satu hari penuh menyelamatkan, mendesak, dan menanggung, dan yang kini harus melakukan satu hal lagi yang ia benci.
"Sersan Maharani. Sertu Wanto." Suaranya formal, dan formalitas itu sendiri adalah sebuah pesan. "Kalian telah melakukan tindakan yang berada di luar mandat dan di luar perintah. Apa pun hasilnya, apa pun niatnya, itu adalah pelanggaran serius yang harus diproses. Sampai keputusan dari sektor turun mengenai status kalian, kalian berdua ditahan di barak. Tidak bertugas. Tidak meninggalkan kompleks. Senjata diserahkan." Ia menatap mereka, dan di balik formalitas itu Maharani melihat sesuatu yang lain, sesuatu yang nyaris seperti permintaan maaf yang tak bisa diucapkan. "Ini bukan hukuman dariku. Ini prosedur yang harus kujalankan supaya aku bisa membela kalian dengan benar nanti. Mengerti?"
"Mengerti, Komandan," kata Maharani pelan. Wanto melepas senjatanya dan menyerahkannya tanpa kata, dan dalam gerakan itu ada sesuatu yang final.
Mereka digiring ke barak, dan saat pintu ditutup di belakang mereka, Maharani duduk di tepi ranjang lipat dan menyadari, dengan kejernihan yang dingin, bahwa harga yang ia setujui untuk dibayar di tepi dermaga malam itu baru saja jatuh tempo. Ia telah berkata pada dirinya sendiri, saat tangannya menyentuh tali perahu, bahwa ia bersedia menanggung apa pun konsekuensinya. Kata-kata itu mudah diucapkan dalam gelap, di hadapan jeritan, ketika satu-satunya yang terasa nyata adalah dorongan untuk menyelamatkan. Sekarang, dalam keheningan barak, dengan pintu yang ditutup dan senjata yang diserahkan dan regu yang terbelah di luar sana, konsekuensi itu punya wujud, punya berat, dan ia harus mulai menanggungnya dengan tubuh yang sudah hampir tak punya apa-apa lagi untuk diberikan.