Tim dari markas sektor tiba dua hari kemudian, dan mereka membawa serta atmosfer yang berbeda dari segala yang Maharani kenal di pos ini. Tiga orang, dua perwira dan seorang yang Maharani duga dari bagian hukum misi, dengan map-map dan perekam dan kerapian seragam yang tak tersentuh debu lembah. Mereka datang bukan untuk menyembuhkan dan bukan untuk menjaga. Mereka datang untuk menentukan apa yang terjadi, dan lebih penting, apa yang akan dituliskan tentang apa yang terjadi.
Maharani dipanggil ke kontainer yang biasa dipakai briefing, kini diubah menjadi ruang yang lebih dingin dari fungsinya. Satu meja. Satu kursi untuknya. Tiga di seberang. Perekam diletakkan di tengah, lampu kecilnya merah. Seorang perwira, perempuan dengan logat yang asing dan mata yang tak ramah maupun bermusuhan, hanya teliti, membuka map dan mulai.
Pertanyaannya datang secara kronologis, dan dingin, dan presisi. Pukul berapa tepatnya Maharani meninggalkan menara pengawas. Apa yang ia katakan kepada penjaga gerbang. Kata-kata persisnya. Apakah ia membawa serta personel lain secara sengaja. Apakah Sertu Wanto diperintahkan atau atas kehendaknya sendiri. Pukul berapa perahu meninggalkan dermaga. Apakah ia mendengar perintah Lettu Bagas untuk tidak menyeberang sebelum ia menyeberang. Maharani menjawab semuanya. Ia tidak berbohong, tidak menghias, tidak mencoba memperhalus apa yang ia lakukan. Ia mendengar perintah. Ia melanggarnya. Ia menyeberang dengan sengaja, mengetahui konsekuensinya.
"Sertu Wanto melompat ke perahu atas kehendaknya sendiri," katanya, dan ini ia tekankan, karena ini penting. "Aku tidak memintanya. Aku menyuruhnya kembali. Apa pun yang kalian putuskan tentangku, itu keputusanku sendirian. Dia mengikuti karena dia menolak membiarkanku menyeberang tanpa perlindungan, bukan karena dia berbagi keputusanku."
Perwira itu mencatat, atau berpura-pura mencatat. "Anda menyadari bahwa dengan menyeberang, Anda menempatkan seluruh Kontingen Garuda dalam posisi yang sangat sulit. Bahwa tindakan Anda dapat ditafsirkan oleh faksi mana pun sebagai keberpihakan misi. Bahwa Anda dapat memicu insiden yang membatalkan gencatan senjata. Anda menyadari semua ini?"
"Aku menyadarinya."
"Dan Anda tetap menyeberang."
"Aku tetap menyeberang."
Perwira itu mengangkat pandangannya dari map, dan untuk pertama kalinya menatap Maharani langsung. "Apakah Anda menyesalinya?"
Dan di sini Maharani berhenti. Bukan karena ia ragu, tapi karena ia tahu pertanyaan ini adalah perangkap dengan dua sisi, dan ia harus menjawabnya dengan persis kebenaran, bukan dengan apa yang akan menyelamatkannya. "Tidak," katanya akhirnya, dan suaranya tenang. "Aku tidak menyesali menyeberang. Di seberang sana ada belasan orang yang masih hidup karena aku ada di sana. Salah satunya bayi yang nyaris kehilangan napas. Aku tidak bisa menyesali itu, dan aku tidak akan berpura-pura demi laporan kalian." Ia menahan tatapan perwira itu. "Tapi aku tidak menolak konsekuensinya. Aku melanggar perintah. Aku melanggar mandat. Aku menaruh kontingen dalam bahaya, dan aku menaruh komandanku dalam posisi yang tidak adil. Itu semua benar, dan aku tidak menyangkalnya. Aku cuma minta kalian menulis kedua hal itu sekaligus. Bahwa aku melanggar, dan bahwa orang-orang hidup. Keduanya benar."
Perwira yang dari bagian hukum, yang sejak tadi diam, akhirnya bicara, suaranya datar dan terlatih. "Laporan ini bekerja dengan kategori, Sersan. Ada kolom untuk pelanggaran prosedur. Ada kolom untuk insiden yang melibatkan personel. Ada kolom untuk penilaian risiko terhadap misi." Ia menjeda. "Tidak ada kolom untuk jumlah nyawa yang Anda selamatkan dengan melanggar. Itu bukan kategori yang diukur sistem ini. Saya katakan ini bukan untuk melukai Anda, tapi supaya Anda mengerti apa yang akan tertulis tentang malam itu. Dalam dokumen yang akan menentukan nasib Anda, dua nyawa yang Anda selamatkan tidak punya tempat untuk dicatat. Yang punya tempat hanya prosedur yang dilanggar."
Maharani memandangnya, dan ia merasakan sesuatu yang dingin dan jernih mengendap dalam dirinya. Bukan kemarahan, tepatnya; sesuatu yang lebih tenang dan lebih dalam dari kemarahan. "Kalau begitu sistemnya yang kurang satu kolom," katanya pelan. "Bukan malam itu yang salah."
Perwira hukum itu menatapnya sejenak, dan sesuatu melintas di matanya yang Maharani tak bisa baca, mungkin jengkel, mungkin sesuatu yang lebih dekat dengan pengakuan diam. Lalu ia menunduk kembali ke map-nya, dan pertanyaan berlanjut, kronologis, dingin, presisi, jam demi jam dari malam yang telah membelah hidup Maharani menjadi dua.
Ketika interogasi berakhir, sore sudah jatuh, dan Maharani keluar dari kontainer dengan kepala yang berdenyut dan sesuatu yang aneh mengendap di dadanya. Ia tidak merasa hancur, seperti yang ia takutkan. Ia juga tidak merasa menang. Ia merasa, lebih dari apa pun, telah melihat dengan jelas untuk pertama kalinya bentuk dari hal yang ia lawan. Bukan Bagas. Bukan markas. Bukan bahkan faksi yang menyerang desa. Yang ia lawan adalah sebuah sistem yang punya kolom untuk segala hal kecuali yang paling penting, sebuah arsitektur yang dirancang dengan cermat untuk netralitas dan, dalam kecermatannya, kehilangan tempat untuk mencatat satu hal yang membuat seluruhnya bermakna: bahwa malam itu, di reruntuhan sebuah klinik di seberang sungai, orang-orang yang seharusnya mati masih bernapas. Ia membawa kepastian itu kembali ke barak, dan ia menyimpannya, karena ia tahu, suatu hari, kolom yang hilang itu harus ditambahkan oleh seseorang, dan ia mulai mencurigai bahwa seseorang itu mungkin harus dirinya.