Kabar rotasi datang seperti perubahan cuaca — tidak diumumkan dengan satu pengumuman besar, melainkan terasa dulu dalam udara sebelum tampak. Oddie yang pertama menyebutnya, di dapur, sambil membantu Jumadi mengupas umbi: bahwa masa tugas kontingen sudah mendekati akhir siklusnya, bahwa sebagian besar regu akan digantikan personel baru, bahwa daftar pemulangan sedang disusun di markas.
Maharani mendengarnya dengan perasaan yang sulit ia namai. Sebagian dirinya, yang lelah sampai ke tulang, merindukan akhir — merindukan Klaten, ibunya, udara yang tidak berbau debu dan asap dan antiseptik. Tapi sebagian lain dari dirinya, yang lebih besar dari yang ia kira, merasakan ketakutan yang dingin. Karena rotasi tidak hanya berarti orang pulang. Itu berarti pengetahuan pulang. Wajah-wajah yang dipercaya warga akan hilang. Hubungan yang dibangun susah payah — kepercayaan ibu-ibu kamp pada Bu Bidan, jaringan diam-diam Adama, pemahaman tentang pola serangan milisi, dan yang paling berbahaya, nama Kambale — semuanya berisiko ikut dipulangkan dan terlupakan.
Ia memikirkan personel baru yang akan datang: prajurit dengan semangat yang belum patah, yang akan turun dari pesawat dengan briefing yang sama seperti yang dulu ia terima — garis biru di atas peta, dua faksi, satu gencatan senjata rapuh. Briefing yang ia tahu sekarang sebagai gambar yang kecil, datar, dan menyesatkan. Mereka tidak akan tahu bahwa lembah ini punya lapisan ketiga. Mereka tidak akan tahu nama di balik milisi. Mereka tidak akan tahu mana warga yang dipercaya dan mana yang ketakutan, mana keran air yang harus dijaga dan mana anak yang sedang diincar. Mereka akan memulai dari nol, dan di lembah ini, memulai dari nol berarti orang mati sementara orang baru belajar.
Maka Maharani mulai mendokumentasikan. Bukan untuk laporan resmi — ia sudah menyusun cukup laporan resmi untuk seumur hidup. Ini berbeda. Ini untuk siapa pun yang akan menggantikannya, agar tidak harus mengulang setiap kesalahan yang dibayar dengan nyawa.
Ia mulai pada malam-malam setelah tugas, di bawah lampu tenda medis, dengan buku saku bersampul kulit jahitan ibunya yang sudah penuh setengahnya dengan nama-nama. Ia membuka buku catatan kedua, yang ia minta dari perlengkapan, dan ia menulis. Bukan prosa resmi. Catatan praktis, padat, dari seorang tenaga medis untuk tenaga medis. Penyaring air drum-pasir-arang: cara membangunnya, di mana mengambil arang, seberapa sering mengganti lapisan. Pola wabah diare dan kaitannya dengan musim dan dengan siapa yang mengontrol mata air bersih. Daftar penolong persalinan lokal yang bisa dipercaya. Catatan tentang ibu-ibu mana di kamp yang menjadi penghubung, siapa yang bicara dengan siapa.
Dan, dalam halaman terpisah yang ia tulis dengan tangan yang lebih hati-hati, dengan istilah samar yang hanya bisa dipahami orang yang sudah cukup lama di lembah, ia mencatat apa yang ia tahu tentang lapisan ketiga. Tidak nama Kambale secara terang — ia sudah belajar bahaya menulis nama itu di tempat yang bisa dibaca telinga yang salah. Tapi pola. Bagaimana serangan dirancang jatuh di celah mandat. Bagaimana dua faksi diadu. Bagaimana tanah bukit timur yang kaya mineral adalah inti dari segalanya. Cukup untuk membuat penerusnya bertanya pertanyaan yang benar, tanpa cukup untuk membunuh siapa pun yang menemukannya.
Adama, yang menemukannya menulis larut malam, duduk di seberang meja dan memandang buku-buku catatan itu.
“Kau sedang menyiapkan untuk pergi,” kata Adama. Bukan pertanyaan.
“Aku sedang menyiapkan agar pengetahuan tidak pergi,” kata Maharani. “Orang akan datang dan pulang. Kau tahu itu lebih baik dariku. Kau sudah melihat banyak orang asing datang, menjanjikan, lalu pulang membawa semua yang mereka pelajari, meninggalkan lembah persis seperti mereka menemukannya. Aku tidak ingin jadi salah satu dari mereka.”
Adama diam lama. “Itu yang kukatakan padamu di hari pertama,” katanya akhirnya. “Waktu kau bertanya kenapa aku menerjemahkan untuk orang-orang yang datang dan pergi. Aku bilang: karena setidaknya seseorang harus mengingat. Karena pengetahuan yang tidak dituliskan, tidak diwariskan, mati bersama orang yang memilikinya, dan lembah harus memulai segalanya dari awal setiap kali.” Ia menyentuh sampul buku catatan dengan ujung jari. “Kau sedang melakukan apa yang aku lakukan. Mengingat untuk orang yang belum datang.”
Maharani memikirkan ini. Selama ini ia melihat dirinya sebagai bidan, sebagai tenaga medis, sebagai orang yang menyelamatkan satu nyawa pada satu waktu. Tapi mungkin ada bentuk penyelamatan yang lebih lambat dan lebih besar: menyelamatkan pengetahuan, agar orang lain bisa menyelamatkan nyawa setelah ia pergi. Ia teringat pelajaran yang ia simpan sejak malam sungai — bahwa bertindak sendirian hanya menyelamatkan satu malam. Mungkin lawan dari itu adalah ini: menulis agar banyak orang bisa menyelamatkan banyak malam, jauh setelah ia hilang dari lembah.
“Ada satu masalah,” kata Maharani pelan. “Buku ini hanya berguna kalau jatuh ke tangan yang tepat. Personel baru yang datang mungkin tidak peduli. Mungkin mereka hanya ingin menjalankan tugas, menjaga garis, pulang dengan selamat. Mungkin mereka melihat catatan ini sebagai beban, bukan warisan.”
“Maka kau harus memilih kepada siapa kau mewariskannya,” kata Adama. “Seperti tetua memilih siapa yang mendengar cerita yang benar dan siapa yang hanya mendengar cerita untuk anak-anak.”
Maharani memandang kedua buku catatan itu, lalu memandang ke arah pintu tenda, ke arah pos yang tidur dan kamp yang tidur dan bukit-bukit timur yang gelap di kejauhan. Rotasi datang. Ia tidak bisa menghentikannya. Tapi ia bisa memutuskan apa yang ikut pergi dan apa yang tinggal. Dan ia memutuskan bahwa lembah ini, yang sudah kehilangan begitu banyak, tidak akan kehilangan ingatannya juga. Tidak kalau ia bisa menuliskannya cukup cepat.