Rotasi datang dalam debu dan suara mesin. Pesawat angkut mendarat di lapangan terbang yang sama tempat Maharani pertama kali turun, dan dari perutnya keluar wajah-wajah baru — muda, pucat oleh penerbangan panjang, mata mereka menyapu lanskap asing dengan campuran kewaspadaan dan rasa ingin tahu yang Maharani kenali karena ia pernah memilikinya. Dan ke dalam perut pesawat yang sama, masuk wajah-wajah lama, membawa ransel dan kenangan dan sesuatu di mata mereka yang tidak ada saat mereka tiba.
Perpisahan terjadi di pos, cepat dan canggung seperti semua perpisahan tentara. Tidak ada upacara besar. Hanya pelukan kaku, tepukan di bahu, janji-janji untuk tetap berhubungan yang semua orang tahu mungkin tidak akan ditepati. Maharani memutuskan memperpanjang masa tugasnya — ia sudah mengajukannya minggu sebelumnya, demi Fatou yang belum kembali, demi kamp, demi nama yang ia simpan, demi buku catatan yang belum selesai. Maka ia berdiri di antara yang pergi, menjadi salah satu dari sedikit yang tinggal, dan ia merasakan beratnya pilihan itu di setiap pelukan perpisahan.
Jumadi termasuk yang pulang.
Maharani mendapatinya di dapur pagi-pagi, sedang membersihkan peralatan masaknya untuk terakhir kali, menyusun panci-panci dengan kehati-hatian seseorang yang menyerahkan sesuatu yang ia cintai kepada tangan asing. Jumadi, juru masak yang sepanjang penugasan menyulap ransum kering menjadi rasa rumah, yang diam-diam menyisihkan sebagian makanannya untuk Maharani di masa-masa tergelap setelah penyeberangan ketika sebagian regu menjauhinya — Jumadi yang tidak pernah banyak bicara tapi yang dapurnya selalu jadi tempat orang-orang berkumpul ketika hati mereka berat.
“Siapa yang akan masak di sini sekarang?” tanya Maharani, mencoba membuatnya ringan.
Jumadi tersenyum, tapi matanya tidak. “Anak baru. Namanya Reza. Aku sudah ajari dia dua hari ini. Dia masih masak seperti orang yang mengikuti resep — belum masak seperti orang yang memberi makan orang yang rindu rumah.” Ia mengelap tangannya. “Tapi dia akan belajar. Lembah ini akan mengajarinya. Lembah ini mengajari semua orang, cepat atau lambat.”
Ia berhenti, lalu menatap Maharani dengan cara yang membuat perempuan itu tahu ia akan mengatakan sesuatu yang sudah lama disimpannya.
“Bu Bidan,” kata Jumadi. “Waktu kau menyeberang sungai malam itu, aku marah. Tidak kuperlihatkan, tapi aku marah. Aku pikir kau egois, mempertaruhkan kami semua untuk nuranimu sendiri.” Ia menggeleng pelan. “Tapi makin lama aku di sini, makin aku berpikir tentang apa artinya memberi makan orang. Setiap hari aku masak untuk regu. Itu tugasku. Tapi kalau suatu hari ada orang lapar di luar pagar dan aku punya makanan, dan aturan melarangku memberi — apa aku akan menurut? Aku tidak tahu. Aku berdoa aku tidak akan pernah harus tahu. Tapi kau sudah tahu. Kau sudah berdiri di tepi itu. Dan aku tidak lagi yakin kau salah.”
Ia menyisihkan satu bungkusan kecil, terbungkus daun, dan menyodorkannya pada Maharani. “Untuk perjalananmu nanti, kalau gilliranmu pulang. Resep bumbu. Tulis tangan. Supaya kalau kau rindu rasa ini, kau bisa buat sendiri.” Ia menjeda. “Atau kau ajari penggantimu. Supaya yang baik tidak ikut pulang denganku.”
Maharani menerima bungkusan itu dengan tenggorokan yang sesak. Resep bumbu. Ia memikirkan buku catatannya, yang juga semacam resep — cara membuat lembah ini bertahan setelah orang yang tahu caranya pergi. Jumadi, dengan caranya sendiri, sedang mengajarkan hal yang sama yang sedang ia coba lakukan: mewariskan agar yang baik tidak hilang.
Di hari-hari setelah rotasi, gesekan muncul seperti yang Maharani takutkan. Personel baru datang dengan briefing standar dan semangat yang belum dilembekkan oleh kenyataan. Mereka melihat kamp pengungsi dan bertanya kenapa pos mengurusinya — bukankah itu di luar mandat? Mereka melihat warga lalu lalang di dekat tenda medis dan merasa tidak nyaman dengan kelonggaran yang sudah jadi kebiasaan. Salah seorang prajurit baru, dengan nada yang tidak ia maksudkan kasar tapi terdengar begitu, bertanya pada Maharani kenapa ia merawat “orang luar” sementara perlengkapan medis terbatas.
Maharani tidak menjawab dengan kemarahan. Ia ingat dirinya sendiri di hari pertama — yakin, terstruktur, percaya bahwa mandat adalah peta yang lengkap. Ia tahu lembah ini akan mengajari mereka, seperti yang dikatakan Jumadi, cepat atau lambat. Tapi ia juga tahu bahwa “lambat” di lembah ini diukur dalam nyawa.
Maka ia memutuskan untuk menjadi guru, bukan penghalang. Ia mulai dengan prajurit yang bertanya tadi, mengajaknya ikut ke kamp suatu pagi, menunjukkan padanya anak-anak yang ia rawat, penyaring air yang ia bangun, ibu-ibu yang menyambutnya dengan nama Bu Bidan. Ia tidak berceramah tentang mandat atau nurani. Ia hanya menunjukkan wajah-wajah, dan membiarkan wajah-wajah itu melakukan apa yang tidak bisa dilakukan kata-kata.
Di penghujung pagi, prajurit muda itu diam lebih lama dari biasanya. Lalu ia berkata pelan, “Briefing tidak menyebutkan ini.”
“Briefing tidak pernah menyebutkan ini,” kata Maharani. “Itu sebabnya orang seperti kita harus mengingatnya untuk mereka.”
Malam itu Maharani memandang pos yang kini berisi campuran wajah lama dan baru, dan ia menyadari ia telah berubah menjadi sesuatu yang tidak ia rencanakan: penjaga ingatan. Bukan komandan, bukan pahlawan, hanya orang yang tinggal cukup lama untuk tahu apa yang tidak boleh dilupakan, dan cukup keras kepala untuk menolak membiarkannya pergi bersama mereka yang pulang. Jumadi sudah di pesawat sekarang, terbang ke utara. Tapi dapurnya masih beraroma bumbunya, dan di laci Maharani ada resep yang ditulis tangan, dan itu cukup. Yang baik tidak ikut pulang. Tidak kalau ada yang menolak melupakannya.