Mayor Renaud bergerak cepat, seperti yang Maharani takutkan. Dalam dua hari ia menyusun laporan yang menempatkan Adama sebagai tersangka utama kebocoran, dengan bahasa yang rapi dan kesimpulan yang sudah ditentukan sebelum bukti dikumpulkan. Adama dibebastugaskan dari semua kegiatan, dilarang meninggalkan area pos, akses kepercayaannya dicabut. Yang lebih buruk: Renaud sudah mengisyaratkan kepada penghubung faksi timur bahwa pembocor mungkin telah teridentifikasi — dan kabar semacam itu, sekali bergerak, tak bisa ditarik kembali. Di tepi timur, kecurigaan terhadap Adama sebagai mata-mata sudah lama membara. Konfirmasi setengah resmi dari helm biru sama saja dengan vonis mati.
"Ia memberi tahu faksi," kata Maharani pada Bagas, suaranya gemetar menahan marah. "Renaud belum membuktikan apa-apa dan ia sudah membuka pintu untuk membunuh Adama. Kalau Adama diserahkan atau bahkan hanya dipecat dan diusir keluar gerbang, ia tak akan hidup sampai sungai."
Bagas menatap meja, rahangnya tegang. Maharani tahu pergulatan di dalam komandannya. Renaud lebih tinggi pangkatnya dalam rantai penghubung sektor. Melawannya secara terbuka adalah bunuh diri karier — dan Bagas sudah membayar mahal karena membela malam penyeberangan dulu. Tapi Bagas bukan lagi orang yang sama dengan yang dulu memerintahkan regu tetap di pos.
"Aku tidak bisa membatalkan keputusan Renaud," kata Bagas akhirnya. "Tapi aku bisa menunda eksekusinya. Aku bisa berargumen bahwa menyerahkan staf lokal ke faksi tanpa bukti tuntas adalah pelanggaran prosedur yang justru membahayakan kontingen — bahwa kalau Adama tak bersalah dan kita membunuhnya, kita kehilangan setiap staf lokal yang tersisa dan setiap kepercayaan warga." Ia memandang Maharani. "Itu memberimu waktu. Tidak banyak. Mungkin satu minggu sebelum Renaud menemukan cara untuk memaksakan kehendaknya. Pakai waktu itu untuk menemukan pembocor sebenarnya. Karena kalau kau tidak menemukannya, tidak ada argumen prosedural yang akan menyelamatkan Adama."
Maharani mulai bekerja malam itu juga, dan ia melakukannya dengan cara yang ia tahu paling baik: ia mendengarkan.
Ia tidak punya wewenang menyelidiki, tak punya pelatihan intelijen. Yang ia punya adalah sesuatu yang tak dimiliki Renaud dengan semua pangkatnya — ia dipercaya. Para perempuan kamp berbicara padanya. Para staf lokal mengenalnya bukan sebagai atasan tapi sebagai Bu Bidan yang menjahit luka anak mereka. Dan Fatou, yang kini mendengar segala sesuatu yang bergerak di antara perempuan-perempuan pengambil air, menjadi telinganya di tempat-tempat yang tak bisa ia jangkau.
Mereka memulai dari pertanyaan yang salah, lalu menemukan yang benar. Pertanyaannya bukan "siapa yang membenci kita" — karena tak ada staf lokal yang membenci pos yang memberi mereka makan dan kerja. Pertanyaannya adalah "siapa yang sedang ketakutan."
"Kebocoran di tempat seperti ini jarang lahir dari kebencian," kata Fatou, mengulang sesuatu yang ia ucapkan dengan kepahitan orang yang tahu dari dalam. "Tidak ada yang menjual orang yang memberinya makan karena uang. Mereka menjual karena ada sesuatu yang lebih mereka takutkan kehilangannya daripada nyawa orang lain."
Maharani memikirkan kata-kata itu. Lebih ditakuti daripada nyawa orang lain. Apa yang lebih ditakuti seorang ibu, seorang ayah, kehilangannya daripada apa pun?
Ia mulai memetakan, bukan jadwal kebocoran, tapi staf lokal: siapa mereka, dari mana, siapa keluarga mereka. Dan dalam proses itu, ia menemukan sesuatu yang membuat darahnya dingin. Penyusupan milisi ke struktur lokal misi jauh lebih dalam dari yang siapa pun bayangkan. Bukan satu pembocor. Tekanan ada di mana-mana, halus, seperti akar yang menjalar di bawah tanah. Seorang sopir yang adiknya hilang bulan lalu. Seorang pekerja dapur yang tiba-tiba punya uang untuk membeli obat ibunya yang sakit. Seorang penjaga gudang yang istrinya berhenti datang ke drum air sejak dua minggu lalu, tanpa alasan.
Le Colonel tidak merekrut pembocor. Ia memeras mereka. Ia tidak membutuhkan satu pengkhianat setia. Ia membutuhkan banyak orang yang putus asa, masing-masing memberi satu keping kecil, masing-masing dipegang dengan ketakutan yang berbeda. Itulah cara seorang panglima perang yang tak ingin terlihat bekerja: tidak dengan tentara, tapi dengan ratusan tali halus yang mengikat orang-orang biasa lewat hal yang paling mereka cintai.
"Ini bukan tentang Adama sama sekali," kata Maharani pada Bagas, ketika ia akhirnya memahami bentuk dari hal yang ia hadapi. "Adama hanya kambing hitam yang paling mudah karena ia paling terlihat. Tapi kebocoran yang sebenarnya datang dari orang yang tak akan pernah Renaud curigai — karena pembocor itu bukan musuh. Pembocor itu korban."
Ia hampir menemukan pola itu ketika potongan terakhir jatuh dengan cara yang paling menyakitkan. Fatou datang ke tenda medis larut malam, wajahnya pucat. Ia membawa nama. Bukan nama yang Maharani harapkan. Bukan musuh, bukan pengkhianat, bukan orang jahat.
Seorang pekerja kamp. Seorang ayah. Seorang lelaki yang Maharani kenal, yang setiap hari membantu mengangkut air untuk klinik, yang anaknya pernah ia obati ketika demam tinggi.
"Dia," kata Fatou, dan suaranya patah. "Anaknya yang sulung. Yang hilang tiga minggu lalu. Kita semua mengira ia lari ke milisi seperti remaja-remaja lain." Ia menelan ludah. "Ia tidak lari, Maharani. Ia diambil. Dan setiap minggu mereka mengirim kabar — kabar bahwa anak itu masih hidup, asalkan ayahnya terus memberi mereka apa yang mereka minta."
Maharani menutup matanya. Pembocor sebenarnya bukan musuh. Ia adalah seorang ayah yang anaknya ditahan sebagai jaminan, yang setiap kebocoran adalah harga satu minggu lagi anaknya tetap bernapas. Dan kebenaran ini, yang akan menyelamatkan Adama, tidak memberinya satu pun rasa lega. Ia hanya memindahkan pisaunya ke tempat lain — ke jantung seorang ayah yang dipaksa memilih antara nyawa anaknya dan nyawa orang-orang yang mempercayainya.