Namanya Musa. Maharani mengingat tangannya — tangan yang kapalan dan sabar, yang setiap pagi memegang gagang pompa air klinik tanpa pernah mengeluh, yang pernah memegangi kepala anaknya yang demam dengan kelembutan yang membuat Maharani teringat ibunya sendiri. Ia bukan musuh. Itulah yang paling sulit ditanggung. Ia bukan musuh.
Maharani tidak melaporkannya. Belum. Ia tahu apa yang akan dilakukan Renaud dengan nama itu — menutup kasus, menghukum pembocor, melanjutkan hidup, tanpa pernah bertanya apa yang membuat seorang ayah menjual orang-orang yang mempercayainya. Maharani perlu bicara dengan Musa dulu. Bukan untuk menuduh. Untuk mengerti.
Ia menemukannya di tepi kamp, sendiri, di tempat yang jauh dari telinga. Musa tahu mengapa ia datang sebelum Maharani mengucapkan satu kata. Ia melihatnya di wajah lelaki itu — kelegaan yang mengerikan, kelegaan seseorang yang sudah terlalu lama memikul rahasia yang membusukkannya dari dalam, dan akhirnya tertangkap.
"Aku tahu kalian akan menemukanku," kata Musa, lewat Adama yang Maharani bawa diam-diam — Adama, yang nyawanya bergantung pada percakapan ini, yang berdiri dengan wajah yang Maharani tak bisa baca. "Setiap malam aku berdoa kalian menemukanku. Dan setiap pagi aku berdoa kalian tidak. Karena kalau kalian menemukanku, anakku—" Suaranya hancur.
Dan kemudian semuanya tumpah. Anak sulungnya, Idris, berusia empat belas tahun. Diambil di malam hari, tiga minggu lalu, oleh orang-orang yang datang ke kamp seperti bayangan. Pesan pertama datang keesokan harinya: anakmu hidup. Ia akan terus hidup selama kau berguna. Lalu permintaan kecil pertama — hanya jadwal patroli, hal kecil, hal yang Musa katakan pada dirinya sendiri tak akan melukai siapa pun. Lalu yang lebih besar. Lalu lebih besar lagi. Dan setiap kali ia mencoba berhenti, kabar datang: foto anaknya, atau seuntai kalimat yang hanya bisa diketahui dari mulut Idris, bukti bahwa anak itu masih bernapas, bukti yang juga merupakan ancaman.
"Aku tahu orang-orang bisa mati karena yang kuberikan," kata Musa, air mata mengalir di wajahnya yang kapalan. "Aku tahu. Aku menimbangnya setiap malam. Nyawa anakku melawan nyawa orang yang tak kukenal. Dan setiap malam aku memilih anakku. Aku ayah yang buruk? Aku manusia yang buruk?" Ia memandang Maharani dengan mata yang memohon jawaban yang tak ada. "Apa kau, kalau itu anakmu, akan memilih berbeda?"
Maharani tidak bisa menjawab. Itulah luka yang ia tahu akan ia bawa pulang. Ia tidak bisa menjawab, karena ia tidak tahu, karena tak ada jawaban yang benar, karena kekejaman Le Colonel yang sesungguhnya bukanlah membakar desa atau menyandera anak — melainkan ini: memaksa seorang ayah yang baik menjadi pengkhianat, lalu membuatnya membenci dirinya sendiri seumur hidup karena melakukan satu-satunya hal yang dilakukan seorang ayah.
Ia memandang Adama. Adama, yang nyawanya kini selamat oleh pengakuan ini. Tapi tak ada kemenangan di wajah Adama. Hanya pengertian yang pahit.
"Aku tidak marah padamu," kata Adama pelan pada Musa, dalam bahasa mereka, dan Maharani tak perlu terjemahan untuk memahaminya. "Di tempatmu, aku tak tahu apa yang akan kulakukan."
Maharani membawa kebenaran ini ke Bagas, dan ke Bagas saja, sebelum Renaud. Ia tahu apa yang dipertaruhkan. Pengakuan Musa membersihkan Adama sepenuhnya — tak ada lagi alasan menyerahkannya ke faksi, tak ada lagi kambing hitam. Tapi pengakuan itu juga menempatkan Musa di tangan keadilan yang tak punya ruang untuk belas. Dalam aturan, Musa adalah pembocor yang menyebabkan kebocoran yang bisa membunuh personel. Dalam aturan, ia harus diserahkan ke otoritas misi, dipecat, mungkin lebih buruk.
"Kita selamatkan Adama dengan menghancurkan Musa," kata Maharani, dan suaranya kosong. "Satu nyawa tak bersalah ditukar dengan satu nyawa yang juga, dengan caranya sendiri, tak bersalah."
"Tidak," kata Bagas, dan ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Maharani mengangkat kepala. "Kita tidak harus memainkan permainan Le Colonel. Ia ingin kita memilih antara nyawa, selalu antara nyawa, karena itu yang membuatnya menang — ia membuat kita menjadi seperti dia. Tapi ada hal yang ia lupakan dalam perhitungannya."
"Apa?"
"Anak itu," kata Bagas. "Idris. Ia masih hidup. Selama ia hidup, ada kemungkinan lain selain menyerahkan ayahnya. Musa membocorkan karena ia tak punya pilihan lain. Beri ia pilihan lain." Bagas memandang Maharani. "Kita tidak bisa menyelamatkan Musa dari yang sudah ia lakukan. Tapi mungkin kita bisa menyelamatkan alasan ia melakukannya. Dan kalau kita menyelamatkan Idris, mungkin — hanya mungkin — kita memutus satu tali yang dipegang Le Colonel, dan menunjukkan pada setiap ayah dan ibu yang ia peras bahwa ada jalan keluar selain berlutut."
Maharani memandang komandannya, lelaki yang dulu memerintahkan regu tetap di pos malam Fatou hampir mati, dan ia menyadari betapa jauh keduanya telah berjalan. Tapi ia juga merasakan dingin yang akrab merayap di tengkuknya. Menyelamatkan anak yang disandera milisi. Operasi pembebasan. Persis jenis tindakan yang dilarang mandat, persis tembok yang sama yang membuatnya berdiri di tepi sungai berbulan-bulan lalu.
Hanya saja kali ini, ia bersumpah, ia tidak akan menyeberang sendirian.