Pertemuan itu digelar di gosong pasir di tengah sungai — sebidang tanah yang muncul saat air surut, tak menjadi milik tepi mana pun, tanah tak bertuan yang dengan sendirinya netral. Adama yang mengusulkannya, dan dalam pilihan itu Maharani melihat kecerdasan seorang yang seumur hidup berdiri di antara dua dunia: tempat yang bukan milik siapa pun adalah satu-satunya tempat di mana semua orang bisa hadir.
Utusan milisi datang dengan kesombongan orang yang biasa memegang kartu terkuat. Tiga lelaki, bersenjata, dengan sikap yang mengatakan mereka datang untuk menerima tuntutan, bukan untuk memenuhinya. Mereka jelas mengharapkan helm biru yang gemetar, atau seorang ayah yang berlutut. Yang mereka temukan adalah sesuatu yang sama sekali tak mereka antisipasi.
Di gosong pasir itu berdiri tetua tepi barat dan tetua tepi timur, berdampingan. Dua orang yang faksinya telah saling membantai selama bertahun-tahun, kini berdiri bahu-membahu menghadap utusan milisi. Di belakang mereka, terhubung lewat saluran yang sama yang dulu membawa permintaan milisi, ada pesan dari belasan keluarga yang anaknya disandera — yang untuk pertama kalinya tahu bahwa mereka bukan sendirian, bahwa ketakutan mereka adalah ketakutan bersama, dan bahwa bersama mereka bukan lagi tak berdaya.
Maharani dan Adama berdiri di pinggir, sebagai fasilitator, bukan pemimpin. Itu disengaja. Ini bukan kemenangan helm biru. Ini harus menjadi kemenangan lembah, kalau ia mau bertahan setelah kontingen pulang.
Tetua tepi timur, lelaki tua dengan suara yang dalam dan tenang, berbicara pertama. Adama menerjemahkan untuk Maharani dengan suara pelan. "Ia berkata: kalian merebut anak-anak kami, dari kedua tepi. Kalian pikir kami akan terus saling membenci sampai kalian memanen tanah kami. Tapi seorang anak yang hilang berbicara bahasa yang sama di tepi mana pun ia lahir. Hari ini kami berhenti membenci satu sama lain cukup lama untuk membenci kalian bersama-sama."
Utusan milisi yang tertua tertawa, tawa yang dipaksakan. Ia berbicara dengan ancaman yang biasa: milisi punya senjata, punya kekuatan, bisa membakar desa lagi kapan saja. Tapi Maharani memperhatikan sesuatu — tawa itu kosong, dan mata lelaki itu bergerak gelisah ke arah dua tetua yang berdiri bersatu. Ancaman bekerja ketika ia menghadapi orang yang sendirian dan ketakutan. Ancaman menjadi hampa di hadapan orang yang telah memutuskan untuk berhenti takut.
"Tanyakan padanya," kata Maharani pelan pada Adama, dan Adama menerjemahkan, "apa gunanya membakar lembah yang sudah tak mau berdagang dengannya. Apa gunanya tanah penuh mineral kalau tak ada satu pun yang akan membawanya ke pasar, mengangkutnya, membelinya. Tanyakan apa yang ia menangkan kalau kedua tepi memutuskan ia adalah musuh bersama mereka, sekarang dan selamanya."
Lama tak ada jawaban. Sungai mengalir di kedua sisi gosong pasir, suaranya satu-satunya bunyi. Maharani menahan napas. Ini adalah taruhannya: bukan kekuatan, tapi logika seorang panglima perang yang serakah. Le Colonel tidak menyandera Idris karena kebencian. Ia melakukannya karena untung. Dan satu anak empat belas tahun tak sepadan dengan kehilangan akses ke seluruh lembah, kehilangan setiap saluran pemerasan ketika orang-orang berhenti takut, kehilangan permainan jangka panjang yang ia mainkan.
Utusan itu pergi tanpa menyetujui apa pun. Maharani merasakan harapannya runtuh. Tapi Adama menyentuh lengannya. "Tidak ada jawaban bukan tidak," katanya. "Mereka harus melapor. Le Colonel yang akan memutuskan. Dan Le Colonel selalu memilih untung di atas gengsi. Itu yang membuatnya berbahaya. Itu juga yang akan menyelamatkan anak itu."
Tiga hari kemudian, di subuh yang berkabut, Idris berjalan pulang ke kamp. Sendirian, kurus, ketakutan, tapi hidup. Tak ada tembakan. Tak ada penyelamatan heroik. Tak ada helm biru yang menyeberang dengan senjata. Hanya seorang anak yang berjalan kembali melintasi tanah merah karena para penculiknya menghitung dan menemukan bahwa menahannya lebih merugikan daripada melepaskannya.
Maharani menyaksikan Musa berlari menyongsong anaknya, jatuh berlutut, memeluknya dengan tubuh yang berguncang oleh tangis yang tak bersuara, dan untuk sesaat ia tak bisa melihat karena matanya sendiri kabur. Tapi bahkan dalam kelegaan itu, ia tahu ini tidak menyelesaikan apa yang Musa lakukan. Anaknya pulang, tapi orang-orang yang mungkin telah mati karena kebocorannya tidak. Ada keadilan yang masih harus dijalani, percakapan sulit dengan Bagas tentang apa yang terjadi pada seorang ayah yang menjadi pengkhianat karena cinta. Tapi itu untuk besok. Hari ini, seorang anak hidup, dan ia hidup tanpa satu nyawa lain ditukar untuknya.
Bagas berdiri di sampingnya, memandang reuni itu. "Aku salah," katanya pelan, dan Maharani menoleh, kaget mendengar komandannya mengaku salah. "Bertahun-tahun aku percaya mandat hanya bisa dijalankan dengan kepatuhan. Patuh sampai tangan kita terikat, lalu menyalahkan aturan ketika orang mati. Tapi yang kau lakukan—" Ia menggeleng pelan. "Kau menjalankan mandat dengan kreativitas, bukan kepatuhan buta. Kau menemukan ruang di dalam aturan yang aku terlalu kaku untuk melihatnya. Melanggar bukan satu-satunya jalan melawan kelumpuhan. Kau membuktikannya."
Maharani memandang Idris yang dipeluk ayahnya, dan ia merasakan sesuatu yang ia tak rasakan sejak malam penyeberangan: bukan beban dari sebuah pelanggaran, tapi ketenangan dari sebuah keberhasilan yang ia tak perlu sembunyikan, tak perlu sesali, tak perlu pertanggungjawabkan di hadapan tim investigasi mana pun.
Tapi Adama, yang berdiri di sisi lain, tidak tersenyum. Ia memandang ke utara, ke arah tepi timur, dengan ekspresi yang membuat dingin merayap di tengkuk Maharani.
"Apa?" tanya Maharani.
"Kita menang hari ini," kata Adama. "Tapi kita menang dengan menunjukkan pada Le Colonel bahwa cara lamanya tidak lagi berhasil. Bahwa ketakutan tidak lagi cukup. Bahwa kedua tepi bisa bersatu melawannya." Ia menoleh pada Maharani, dan matanya gelap. "Seorang yang bersembunyi di balik ketakutan selama bertahun-tahun, ketika ia kehilangan ketakutan sebagai senjatanya, hanya punya satu hal tersisa. Ia berhenti bersembunyi. Dan ia mulai menyerang langsung."