Adama benar. Ia selalu benar tentang lembah ini, dengan cara yang membuat Maharani belajar untuk takut setiap kali ia melihat lelaki itu memandang ke utara dengan wajah datar.
Dusun pertama jatuh sepuluh hari setelah Idris pulang. Bukan dibakar diam-diam di malam hari seperti dulu, bukan diserang lalu dibantah. Kali ini milisi datang di siang bolong, mengibarkan tak ada bendera tapi tak menyembunyikan apa pun, mengusir penduduk dan menancapkan kehadiran mereka di sana seolah berkata: lihat. Aku tak lagi bersembunyi.
Dusun kedua jatuh empat hari kemudian. Lalu yang ketiga. Le Colonel bergerak terbuka, merebut tanah demi tanah di tepi timur, dan dalam keterbukaan itu ada sesuatu yang lebih menakutkan daripada semua serangan rahasianya selama ini. Selama bertahun-tahun ia berperang dengan menjadi tak terlihat — memprovokasi kedua faksi agar saling curiga, memanen di celah-celah kekacauan. Kini ia melepaskan topeng itu, dan itu hanya berarti satu hal: ia tak lagi merasa perlu menyembunyikan diri. Ia merasa cukup kuat untuk menelan lembah secara langsung.
Gencatan senjata yang dijaga pos selama berbulan-bulan kini terancam bukan oleh dua faksi yang saling membenci, melainkan oleh ancaman ketiga yang menginginkan keduanya hancur. Dan ironinya, Maharani menyadari, kehadiran ancaman bersama ini mulai melakukan sesuatu yang tak pernah berhasil dilakukan oleh patroli helm biru mana pun.
"Faksi-faksi panik," lapor Adama suatu malam, kembali dari salah satu perjalanannya yang Maharani lebih baik tak tahu detailnya. "Tetua tepi timur kehilangan tiga dusun. Tetua tepi barat tahu ia berikutnya — kalau timur jatuh, tak ada penyangga lagi antara milisi dan tepi barat selain sungai dan pos kita. Untuk pertama kalinya, kedua faksi menghadapi pertanyaan yang sama: lawan Le Colonel bersama, atau ditelan sendiri-sendiri."
"Dan apa jawaban mereka?" tanya Maharani.
"Mereka belum tahu. Kebencian bertahun-tahun tidak menguap dalam sepuluh hari. Tepi barat melihat penderitaan tepi timur dan sebagian dari mereka berkata: bagus, biar mereka rasakan apa yang mereka lakukan pada kita. Tepi timur melihat tepi barat masih utuh dan berkata: mereka senang kita hancur." Adama mengusap wajahnya yang lelah. "Le Colonel mengandalkan itu. Selama kedua tepi lebih sibuk membenci satu sama lain daripada melawannya, ia menang. Ia tidak perlu mengalahkan keduanya. Ia hanya perlu menjaga mereka tetap terpisah."
Maharani memikirkan ini lama. Di ruang briefing keesokan harinya, ia memaparkannya pada Bagas dan Renaud, dan untuk pertama kalinya ia melihat bahkan Renaud mendengarkan dengan serius — karena ancaman ini terlalu besar untuk diabaikan oleh ego siapa pun.
"Pos kita," kata Maharani, berdiri di depan peta lembah yang kini ditandai dengan titik-titik dusun yang jatuh, "sedang berubah, dan tak satu pun dari kita yang merencanakannya. Dulu kita garis biru di tengah peta, penjaga jeda antara dua faksi. Tapi kedua faksi kini bukan lagi ancaman utama satu sama lain. Mereka menghadapi musuh yang sama. Dan kita—" Ia menyentuh titik yang menandai pos. "Kita satu-satunya tanah netral yang tersisa di seluruh lembah. Satu-satunya tempat di mana orang dari kedua tepi bisa berdiri tanpa saling membunuh. Bukan karena mandat membuatnya begitu. Karena kenyataan membuatnya begitu."
Renaud mengernyit. "Itu justru argumen untuk menarik diri," katanya. "Kalau lembah pecah menjadi perang tiga pihak, peran kita sebagai penjaga gencatan dua pihak sudah usang. Mandat tidak mengatur situasi ini. Kita harus melaporkan ke markas dan menunggu instruksi."
"Dan sementara kita menunggu instruksi," kata Bagas, suaranya tenang tapi keras, "Le Colonel merebut dusun keempat, kelima, keenam. Markas akan butuh berminggu-minggu untuk memahami peta yang berubah. Kau sendiri tahu betapa lamban otorisasi bergerak." Ia memandang Renaud. "Aku tak menyarankan kita melanggar mandat, Mayor. Aku menyarankan kita memahami apa peran kita sebenarnya sekarang. Dan peran kita, suka atau tidak, telah menjadi satu-satunya tempat di mana lembah ini bisa memutuskan apakah ia akan bersatu melawan kehancuran, atau ditelan satu per satu."
Maharani memandang keduanya, lalu ke peta, dan ia merasakan beratnya momen ini. Selama berbulan-bulan ia berjuang melawan kelumpuhan mandat, melawan kelambanan, melawan aturan yang mengikat tangannya saat nyawa di pertaruhkan. Tapi kini ia menghadapi sesuatu yang lebih besar: bukan satu malam, bukan satu desa, bukan satu anak. Seluruh lembah berdiri di ambang. Dan pos kecil mereka — kompleks kontainer berkawat di tepi sungai yang berdebu di musim kering — telah menjadi, tanpa direncanakan oleh mandat mana pun, jantung yang menentukan apakah lembah ini hidup atau mati.
Malam itu, ia berdiri di menara pengawas, memandang ke utara. Di kejauhan, di tepi timur, ia bisa melihat cahaya samar — bukan lampu desa, tapi api. Dusun lain terbakar. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda di tepi barat juga: lampu-lampu yang menyala lebih lama dari biasanya, orang-orang yang tak tidur, yang memandang ke utara dengan ketakutan yang sama. Dua tepi yang selama ini saling memunggungi, kini sama-sama memandang ke arah bayangan yang sama.
Fatou naik ke menara, berdiri di sampingnya, mengikuti pandangannya ke api di kejauhan. "Suamiku mati karena perang antara dua tepi," kata Fatou pelan, lewat ingatan kata-kata yang kini Maharani cukup mengerti tanpa Adama. "Sekarang kedua tepi mungkin mati karena perang melawan satu orang." Ia menoleh pada Maharani. "Lucu, ya. Butuh seseorang yang ingin membunuh kami semua untuk membuat kami akhirnya berhenti membunuh satu sama lain."
Maharani tidak menjawab. Ia hanya memandang api, dan menghitung, dalam hati, berapa lama lagi sebelum bayangan di utara itu sampai ke tepi sungai mereka.