Permintaan itu datang lewat Adama, di malam tanpa bulan, dibawa dengan kehati-hatian seorang yang tahu bahwa kata-kata tertentu bisa membunuh kalau jatuh ke telinga yang salah.
"Tetua tepi timur ingin bertemu tetua tepi barat," kata Adama, suaranya nyaris berbisik meski mereka sendirian di tenda medis. "Bukan lewat utusan. Bukan lewat surat. Tatap muka. Untuk membicarakan apa yang harus dilakukan tentang Le Colonel."
Maharani merasakan beratnya kalimat itu. "Mereka tidak bisa bertemu di tepi mana pun," katanya pelan, mulai memahami. "Kalau tetua timur masuk ke tepi barat, anak buahnya akan mengira ia menyerah. Kalau tetua barat masuk ke tepi timur, sebaliknya. Dan kalau salah satu dari mereka diketahui bertemu yang lain—"
"Ia akan dianggap pengkhianat oleh faksinya sendiri," Adama menyelesaikan. "Kebencian bertahun-tahun tidak hilang karena ancaman bersama. Sebagian besar orang di kedua tepi masih lebih percaya pada permusuhan lama daripada pada aliansi baru. Kalau pertemuan ini bocor sebelum ada hasil, kedua tetua akan kehilangan otoritas mereka, mungkin nyawa mereka. Dan Le Colonel akan menang tanpa harus mengangkat senjata."
"Maka mereka butuh tempat yang bukan milik siapa pun," kata Maharani.
Adama mengangguk pelan. "Hanya ada satu tempat seperti itu di seluruh lembah."
Maharani memandang ke arah pintu tenda, ke arah pos di luar, dan ia memahami beratnya apa yang diminta darinya. Pos helm biru, satu-satunya tanah netral yang tersisa. Tempat yang dirancang untuk menjaga jarak dari kedua faksi, kini diminta menjadi tempat di mana kedua faksi berdamai.
Ia membawanya ke Bagas malam itu juga, dan keduanya duduk lama dalam keheningan ruang briefing yang remang, menimbang setiap sisi dari keputusan yang tak satu pun manual mandat persiapkan mereka untuk menghadapinya.
"Apakah ini melanggar?" tanya Maharani akhirnya, karena ia perlu mendengar jawaban dari orang yang seumur tugasnya menjaga garis itu.
Bagas berpikir lama. "Secara teknis," katanya pelan, "tidak. Kita tidak memihak. Kita tidak bertindak melawan siapa pun. Kita tidak memegang senjata untuk faksi mana pun. Kita menyediakan ruang netral untuk dialog antarwarga — yang, kalau kau membacanya dengan murah hati, adalah persis jenis pembangunan perdamaian yang menjadi tujuan terdalam misi ini." Ia mengusap dagunya. "Tapi kalau kau membacanya dengan kaku, seperti Renaud akan membacanya, kita memfasilitasi pertemuan politik antara dua pihak yang tak punya kewenangan diplomatik, melampaui peran penjaga zona penyangga, mengundang risiko keamanan ke dalam pos."
"Jadi kita di antara dua bacaan," kata Maharani. "Lagi."
"Kita selalu di antara dua bacaan," kata Bagas, dan ada kelelahan dalam suaranya yang Maharani kenali sebagai kelelahannya sendiri. "Itulah peacekeeping. Tak pernah ada jawaban yang bersih." Ia memandangnya. "Tapi aku sudah belajar satu hal dari malam Fatou, Maharani. Dan dari Idris. Kelumpuhan juga sebuah pilihan. Menolak bertindak punya korbannya sendiri, hanya saja korban itu tidak masuk laporan. Kalau kita menolak pertemuan ini, dan lembah ini jatuh ke milisi karena kedua faksi tak pernah bisa bersatu — itu juga keputusan kita. Diam bukan netral. Diam memihak pada apa pun yang sedang menang."
Mereka memutuskan untuk tidak memberi tahu Renaud. Bukan untuk menyembunyikan, tapi karena keduanya tahu — dan mengakui dengan terus terang satu sama lain — bahwa Renaud akan menolak bukan berdasarkan mandat, tapi berdasarkan ketakutan akan tanggung jawab, dan penolakan itu akan membunuh satu-satunya peluang lembah ini untuk bertahan. Itu beban yang Bagas memilih untuk dipikulnya sendiri, sebagai komandan pos, dengan justifikasi tertulis yang ia siapkan diam-diam — bukan untuk melindungi dirinya, tapi agar kalau kelak ditanya, kebenaran tercatat utuh.
Maharani dan Adama menghabiskan tiga hari berikutnya menata yang tak tertata. Bagaimana membawa dua tetua ke pos tanpa salah satu faksi melihat dan menarik kesimpulan yang salah. Bagaimana memastikan keduanya merasa cukup aman untuk berbicara jujur. Bagaimana menjaga pertemuan itu rahasia dari milisi, yang mata-matanya — seperti yang mereka pelajari dari Musa — bisa berada di mana saja.
Fatou ikut dalam perencanaan, dan kontribusinya tak ternilai. "Bawa mereka lewat para perempuan," katanya. "Tak seorang pun memperhatikan perempuan yang mengambil air, perempuan yang membawa anak sakit ke klinik. Milisi mengawasi lelaki bersenjata, konvoi, pertemuan resmi. Mereka tidak mengawasi seorang tetua tua yang datang ke tenda medis ditemani perempuan, seolah mengantar kerabat yang sakit." Ia tersenyum tipis, senyum seorang yang tahu kekuatan dari menjadi tak terlihat. "Kami sudah tak terlihat selama bertahun-tahun. Akhirnya itu berguna."
Malam sebelum pertemuan, Maharani berdiri sendiri di tenda medis yang telah dibersihkan dan ditata, memandang ruang sederhana itu — tempat ia menjahit luka anak-anak dari kedua faksi, tempat begitu banyak nyawa diselamatkan dan hilang, tempat Fatou pernah datang bukan sebagai pasien melainkan sebagai sesama. Besok, di ruang yang sama, dua orang yang faksinya telah saling membunuh selama bertahun-tahun akan duduk berhadapan untuk pertama kalinya. Bukan karena helm biru memaksa mereka. Bukan karena mandat mengatur mereka. Karena ada musuh yang lebih buruk dari kebencian lama mereka, dan karena di seluruh lembah yang luas dan berdarah ini, hanya ada satu meja kecil tempat mereka bisa duduk tanpa salah satu mati.
Ia memikirkan keyakinan yang ia bawa tujuh belas jam ke selatan: bahwa nyawa tidak punya bendera. Ia tidak pernah membayangkan keyakinan itu akan teruji seperti ini — bukan di tepi sungai dengan tali perahu di tangan, tapi di sebuah meja di tenda medis, tempat kebencian bertahun-tahun akan diuji oleh ketakutan yang lebih besar, dan harapan yang lebih rapuh dari apa pun yang pernah ia pegang.