Mereka datang terpisah, seperti yang direncanakan. Tetua tepi barat tiba pertama, di pagi berkabut, berjalan ditemani dua perempuan kamp yang membawa anak — gambaran sempurna seorang kakek yang mengantar cucunya ke klinik. Tetua tepi timur datang satu jam kemudian, lewat jalur yang berbeda, juga ditemani perempuan, juga tak menarik satu pun pandangan curiga. Fatou benar. Tak ada yang melihat.
Ketika keduanya akhirnya berdiri di dalam tenda medis, berhadapan untuk pertama kalinya, Maharani menahan napas. Selama beberapa detik yang terasa panjang, tak ada yang bergerak. Dua lelaki tua, masing-masing membawa beban bertahun-tahun duka dan kemarahan, masing-masing telah kehilangan orang-orang yang mereka cintai karena tangan-tangan dari tepi yang lain. Udara di antara mereka terasa padat, seperti sesuatu yang bisa pecah dengan satu kata salah.
Tetua tepi timur yang berbicara pertama, dan suaranya bergetar oleh sesuatu yang Maharani tak bisa pastikan adalah marah atau luka. Adama menerjemahkan dengan pelan, berdiri di antara keduanya, suaranya hati-hati, kata-katanya dipilih dengan ketelitian seorang yang tahu bahwa terjemahan yang buruk di ruangan ini bisa berarti perang. "Ia berkata," terjemah Adama, "orang-orangmu membunuh anak laki-lakiku tiga tahun lalu. Aku duduk di hadapanmu hari ini, dan setiap saat tubuhku ingin pergi, atau lebih buruk. Tapi aku di sini. Karena anak laki-lakiku yang lain masih hidup, dan aku tak ingin menguburnya juga."
Tetua tepi barat diam lama. Lalu ia menjawab, dan Adama menerjemahkan: "Anak perempuanku mati di sungai melarikan diri dari orang-orangmu. Aku tahu wajahmu dari jarak jauh selama bertahun-tahun, dan aku membayangkan wajah itu adalah wajah musuh. Tapi sekarang aku duduk di dekatmu, dan aku melihat seorang lelaki tua yang lelah, persis seperti aku. Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkanmu. Mungkin tidak akan pernah. Tapi aku tahu kalau kita terus saling membenci, orang yang membakar dusunmu minggu lalu akan membakar dusunku bulan depan, dan kebencian kita akan menjadi hadiah baginya."
Maharani berdiri di sudut tenda, sebisa mungkin tak terlihat, dan menyaksikan sesuatu yang ia tahu ia takkan pernah lupa. Bukan rekonsiliasi — itu terlalu indah, terlalu bersih untuk apa yang ia lihat. Yang ia saksikan lebih rapuh dan lebih nyata: dua orang yang masih saling membenci, memutuskan untuk membenci sesuatu yang lain lebih dulu. Itu bukan perdamaian. Itu permulaan dari kemungkinan perdamaian, yang lebih sedikit dan lebih jujur, dan justru karena itu, lebih kuat.
Mereka berbicara selama dua jam. Bukan tentang pengampunan — tak ada yang siap untuk itu. Tentang hal-hal praktis. Tentang berbagi peringatan dini ketika milisi bergerak. Tentang membuka jalur agar pengungsi dari dusun yang jatuh bisa berlindung di tepi mana pun yang aman, tanpa ditolak karena lahir di sisi yang salah. Tentang tidak menyerang satu sama lain selama ancaman Le Colonel ada — bukan aliansi, tetua timur bersikeras, hanya jeda dalam permusuhan, gencatan di dalam gencatan. Tentang kemungkinan, suatu hari nanti, sebuah pasar bersama yang lebih besar, yang akan memberi kedua tepi alasan ekonomi untuk tetap damai bahkan setelah Le Colonel hilang.
Maharani memperhatikan bagaimana kebencian itu retak — bukan runtuh, hanya retak — di hadapan kebutuhan bersama. Ketika tetua barat menyebutkan bahwa cucu perempuannya sakit dan tak ada penolong persalinan di dusunnya yang baru hancur, tetua timur, hampir tanpa berpikir, berkata bahwa ada perempuan di tepinya yang dilatih bidan helm biru, yang bisa membantu. Untuk sesaat keduanya menyadari apa yang baru saja terjadi — seorang dari tepi timur menawarkan bantuan kepada seorang dari tepi barat — dan keduanya tampak terkejut oleh diri mereka sendiri. Jaringan kesehatan ibu yang Maharani dan Fatou bangun, tanpa direncanakan, telah menjadi salah satu jembatan pertama yang mereka langkahi.
Ketika pertemuan berakhir, tak ada jabat tangan. Itu masih terlalu jauh. Tapi ada anggukan pelan, anggukan antara dua orang yang telah memutuskan untuk hidup cukup lama untuk melihat apakah lembah mereka bisa diselamatkan. Mereka pergi terpisah, seperti mereka datang, lewat jalur perempuan dan anak-anak, tak terlihat.
Maharani membereskan tenda dengan tangan yang sedikit gemetar, kelegaan dan kelelahan bercampur menjadi sesuatu yang membuat lututnya lemah. Adama membantunya, dan untuk beberapa saat keduanya bekerja dalam keheningan yang nyaman, keheningan dua orang yang baru saja menyaksikan sesuatu yang mustahil menjadi sedikit kurang mustahil.
"Kita melakukannya," kata Maharani akhirnya, hampir tak percaya.
Tapi Adama tidak menjawab. Ia berdiri diam di tengah tenda, memegang sehelai kain, dan menatap ke arah pintu dengan ekspresi yang membuat kelegaan Maharani membeku.
"Apa?" tanyanya.
Adama berbicara pelan, dan setiap kata jatuh seperti batu. "Hari ini berjalan lancar. Terlalu lancar. Tak ada yang menarik perhatian. Tak ada gangguan." Ia menoleh pada Maharani. "Dua tetua yang saling membenci selama bertahun-tahun, bertemu di satu tempat, di satu waktu. Sebuah pertemuan yang, kalau Le Colonel mengetahuinya, akan ia hentikan dengan cara apa pun. Karena pertemuan ini adalah satu-satunya hal yang bisa menghancurkannya — kedua tepi bersatu." Ia menelan ludah. "Tapi tak ada serangan. Tak ada provokasi. Kenapa?"
Maharani merasakan dingin merayap dari dasar perutnya. "Kau bilang sendiri kita tak terlihat. Kita membawa mereka lewat para perempuan—"
"Musa," kata Adama pelan, dan nama itu menggantung di udara seperti vonis. "Kita tahu milisi menyusup sampai ke dalam kamp. Kita tahu mereka memeras lewat keluarga. Kita berasumsi kita memutus saluran itu ketika Idris pulang. Tapi bagaimana kalau kita salah? Bagaimana kalau ada saluran lain yang tak kita ketahui, satu mata yang melihat dua tetua datang ke pos hari ini?" Ia memandang Maharani, dan matanya gelap oleh sesuatu yang lebih buruk dari ketakutan — kepastian. "Le Colonel tidak menyerang pertemuan ini, Maharani. Bukan karena ia tak tahu. Tapi karena membiarkannya berjalan lebih berguna baginya daripada menghentikannya. Sekarang kedua tepi merasa aman bersatu. Mereka akan menurunkan kewaspadaan. Mereka akan berpatroli bersama. Mereka akan mempercayai satu sama lain untuk pertama kalinya." Suaranya turun menjadi bisikan. "Dan saat itulah ia akan memukul — dengan cara yang membuat kepercayaan baru itu tampak seperti pengkhianatan."