Izin untuk ikut kunjungan kemanusiaan ke tepi seberang datang dari markas sektor setelah berhari-hari berkas berpindah meja. Itu sendiri sudah jadi pelajaran bagi Maharani tentang cara kerja tempat ini: bahkan untuk membagikan obat dan menimbang berat badan anak-anak, butuh persetujuan, jadwal, pengawalan, dan dokumen yang ditandatangani orang-orang yang tak pernah melihat anak-anak itu.
Konvoi menyeberang lewat satu-satunya jembatan yang masih utuh, ke tepi timur, ke wilayah koalisi yang menyebut diri Penjaga Tanah. Maharani duduk dengan kotak medisnya, dan Adama di sampingnya, menjelaskan apa yang akan ia lihat sebelum ia melihatnya, agar tidak terkejut, agar tidak menampakkan kejutan yang bisa melukai.
Desa itu bernama sesuatu yang sulit Maharani ucapkan, dan Adama mengejanya pelan dua kali sampai bibirnya hampir benar. Perang sudah berhenti di sini secara resmi, tapi tubuh desa itu masih menyimpan lukanya. Dinding-dinding berlubang yang ditambal seng dan terpal. Sebuah bangunan yang dulu, kata Adama, adalah klinik, kini hanya kerangka. Dan sumur di tengah desa, sumur yang seharusnya jadi pusat kehidupan, mengering, dengan ember yang menggantung di atas lubang gelap yang tak lagi memantulkan apa-apa.
"Mereka mengambil air dari sungai sekarang," kata Adama. "Sungai yang sama yang memisahkan mereka dari musuh. Air yang sama yang dipakai mencuci darah dua musim lalu. Anak-anak sakit perut terus-menerus karenanya."
Maharani membuka pos kecil di bawah pohon, dan dalam hitungan menit antrean terbentuk. Kebanyakan perempuan dan anak-anak; lelaki dewasa entah ke mana, atau tak mau menampakkan diri di depan orang asing. Ia menimbang bayi-bayi yang terlalu ringan, memeriksa telinga yang bernanah, membagikan tablet penjernih air dan menjelaskan lewat Adama cara memakainya, sambil tahu pasti sebagian akan terlupa atau dijual. Ia bukan datang membawa keajaiban. Ia datang membawa sedikit, ke tempat yang membutuhkan banyak, dan ia harus berdamai dengan jurang di antara keduanya.
Seorang perempuan menjadi pengecualian dari keramaian itu. Ia datang belakangan, berjalan pelan dengan satu tangan menopang punggung dan tangan lain menyangga perut yang sudah besar. Usianya muda, mungkin awal dua puluhan, dengan wajah yang menyimpan ketenangan yang tidak biasa, ketenangan orang yang sudah memutuskan untuk tetap hidup di tengah segala alasan untuk menyerah. Fatou, namanya.
Maharani memeriksanya di balik kain yang digantung jadi tirai. Kehamilan pertama, ia menilai, mendekati cukup bulan. Posisi bayi masih bisa berputar. Tekanan darah agak tinggi, tapi belum mengkhawatirkan kalau dijaga. Ia menjelaskan semuanya pelan lewat Adama, dan Fatou mendengarkan dengan saksama, mengajukan pertanyaan yang tajam dan tepat, pertanyaan perempuan yang sudah membaca tubuhnya sendiri dengan teliti karena tak ada orang lain yang akan membacanya untuknya.
"Dia bertanya," kata Adama, "apakah Anda akan ada saat waktunya tiba."
Maharani terdiam. Itu pertanyaan yang seharusnya ia jawab dengan hati-hati, dengan semua syarat dan ketentuan tentang area tanggung jawab, otorisasi, dan jadwal kunjungan yang tak menentu. Pertanyaan itu seharusnya ia jawab seperti seorang prajurit. Tapi Fatou menatapnya, dan di mata perempuan itu Maharani melihat ketakutan yang sangat tua: ketakutan melahirkan sendirian, ketakutan yang sama yang membunuh istri lelaki tua di pos pemeriksaan dua musim lalu, ketakutan yang lebih purba dari semua faksi dan garis di atas peta.
"Bilang ke dia," kata Maharani pelan, "aku akan berusaha sebisaku untuk ada."
Adama menatapnya sejenak, dan Maharani melihat sesuatu yang seperti peringatan melintas di wajah penerjemah itu. Tapi ia menerjemahkan juga, dan Fatou menutup matanya sebentar, lalu mengangguk, dan menyentuh punggung tangan Maharani dengan jemarinya, dingin dan kering.
Di perjalanan pulang, Adama duduk diam lebih lama dari biasanya. Lalu ia berkata, tanpa menoleh, "Anda tahu Anda tidak boleh menjanjikan itu."
"Aku tidak menjanjikan. Aku bilang akan berusaha."
"Bagi Fatou, itu sama saja." Adama memandang sungai yang berkelok di bawah jembatan. "Saya tidak menyalahkan Anda. Saya cuma ingin Anda tahu beratnya. Di sini, janji jarang sekali ditepati oleh orang asing. Mereka datang, mereka berjanji, mereka pergi ketika rotasi mereka selesai. Fatou sudah kehilangan suaminya di perang. Dia tidak punya ibu lagi, tidak punya saudara perempuan. Kalau Anda bilang akan berusaha ada, dia akan menyimpan itu seperti menyimpan satu-satunya pelita di rumah gelap. Dan kalau Anda tidak datang..."
Adama tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak perlu.
Maharani memandang keluar, ke tepi timur yang mengecil, ke desa berdinding tambalan tempat seorang perempuan muda kini menggenggam janji rapuhnya. Ia memikirkan pasien pertamanya, bertahun-tahun lalu, di sebuah ruang bersalin di tanah air, perempuan muda lain yang juga ia janjikan akan baik-baik saja, dan yang tidak baik-baik saja, dan yang wajahnya tak pernah sepenuhnya pergi dari mimpi-mimpinya. Ia menutup matanya sejenak.
Konvoi melintasi jembatan kembali ke tepi barat, dan air keruh mengalir di bawahnya, sungai yang memisahkan dua dunia dan menyatukan semua luka. Maharani membuka mata. Janji itu sudah keluar dari mulutnya, dan tak ada cara menariknya kembali tanpa menghancurkan sesuatu pada Fatou yang lebih berharga dari semua aturan yang ia langgar dengan mengucapkannya. Ia hanya bisa berharap, dengan harapan tipis yang ia kenali sebagai harapan seorang bidan, bahwa tubuh dan waktu akan berbaik hati, dan ia benar-benar bisa ada ketika Fatou membutuhkannya.