"Huft, Sebenarnya—tadi malam aku mimpi buruk!" Seru Vira.
"Terus apa yang ngebuat kamu galau? Vira—itu kan cuman mimpi!" Aline tertawa.
"Hei—Aline, yang buat aku kepikiran itu di mimpi kemarin, aku ngerasa kita gak boleh bermain-main sama 'mereka' soalnya dimimpi kemarin itu—" Omongan Vira terpotong oleh Pandhu.
"Apa?!" Potong Pandhu.
"Bentar dulu pandhu! Kan ini juga aku mau nyeritain!" Kesal Vira.
"Oh iya, silahkan-silahkan!" Cengir Pandhu.
*Flashback On*
Vira.Gadis itu berharap ada yang menolongnya. Entah dimana ia sekarang berada, pepohonan-pepohonan yang tinggi menjulang menambah kesan menyeramkan ditambah lagi ia berada disini pada malam hari dengan suara-suara binatang nokturnal. Dia berjalan tanpa ada pencahayaan sedikit pun. Keringat bercucuran membasahi tubuhnya, karena kelelahan ia akhirnya berhenti didekat pohon yang lumayan besar.
"Hah—Hah, dimana aku? Kenapa gak ada satu orang pun yang datang buat ngebantu aku!" Gadis itu memelas tak ada harapan lagi.
"Hiks-hiks mama—" tangis gadis itu meledak.
Tetapi tak selang berapa lama gadis itu berhenti menangis.
Ia melanjutkan perjalanan dengan langkah pelan tapi—di depan gadis itu ada sebuah bangunan kecil lampunya menyala remang-remang.
Tanpa basa-basi gadis itu mengetuk pintu bangunan itu. Tok, tok, tok.
"Hallo, ada orang didalam?!" Tanya gadis itu.
"Permisi" lanjut gadis itu.
Tapi karena tidak ada jawaban dari si penghuni rumah akhirnya gadis itu putus asa.
Namun ketika gadis itu mulai beranjak pergi...
Pintu rumah itu terbuka menampakkan sesosok wanita tua yang sedang memakai syal.
"Masuklah!" Seru wanita tua itu.
"Kamu pasti kedinginan! Ayo masuklah!" Ajak wanita tua itu ramah.
"Ah—terima kasih nek!"
Gadis itu memasuki bangunan kecil itu...
"Ayo diminum dulu" seru wanita tua itu memberikan teh hangat pada gadis itu.
"Ah" gadis itu langsung meneguk teh hangat itu.
"Kenapa?" Tanya wanita tua itu bingung.
"Hah—maksud anda?"
"Kenapa kau ada di sini nak?"
"Ah—entahlah nek, aku tiba-tiba ada disini, tak tau mengapa!" seru gadis itu bingung.
"Seharusnya kamu tidak disini nak! Berbahaya!"
"Maksud nenek, berbahaya bagaimana?"
"Dunia-mu bukan disini?"
"Hah—aku tak mengerti maksud nenek!"
"Dunia-mu, bukan disini nak— pergilah!" Perintah nenek itu.
"Lalu dunia-ku dimana?" Tanya gadis itu bingung.
"Hah—sepertinya kamu tersesat di alam bawah sadar! Kembalilah nak!tetapi, Nenek titip pesan! Untukmu dan teman-teman mu—Ingat baik-baik jangan pernah mengganggu bangsa kami ataupun memasuki dunia kami—jika sekali lagi kamu menggangu bangsa kami—" Nenek itu berhenti berbicara.
"Maka tamatlah riwayat kalian!" Tegas nenek itu dan wajahnya berubah menjadi menyeramkan.
"Uwaa, untung cuma mimpi!" Seru Vira sambil menghela nafas.
*Flasback Off*
"Yaelah, Ra—itu kan cuman mimpi, percaya banget sih lo!" Seru Elva.
"Kan gue udah bilang! Kayaknya kita harus percaya sama omongan nenek di mimpi itu!" Pikir Vira.
"Gimana kalau bohong?!" Seru Surya.
"Kalaupun kita percaya, nanti liburan kita jadi sia-sia, Ra!" Raka memastikan.
"Iya nih, cuman gara-gara percaya yang gitu aja, liburan kita tertunda!" Cerewet Pandhu.
"Ngapain liburan-nya, harus di tunda kan aku cuman minta, liburannya jangan yang aneh-aneh! Jangan mencari hal yang mistis-mistis!" Tukas Vira
"Jangan percaya Ra! lagian itu kan cuman halusinasi dibawah alam sadar lo!" Perintah Elva.
"Iya, lo tau kan! Kita itu—kalau liburan harus ada hal-hal yang berbau mistis, kalau gak ada, mana asyik liburan-nya! yang ada malah jadi bosen!" Ucap Surya menasihati.
"Iya nih Ra!" Seru Raka.
"Tapi feeling aku berkata nanti bakal ada sesuatu yang buruk terjadi!" Lanjut Vira.
"Yaelah—Ra, pake logika-nya dong! Jangan feeling melulu!" Ujar Pandhu yang udah bosan sama penjelasan Vira.
"Justru biasa-nya kalau feeling yang mengatakan, semua-nya bisa aja terjadi!" Vira terus menyakinkan teman-temannya karena Vira sangat khawatir kalau benar-benar terjadi sesuatu nanti.
"Belum tentu feeling itu selalu benar kan!" Aline mengerutkan keningnya.
"Ya udah pokoknya aku gak bakal ikut! Itu sih terserah kalian!" Vira memanyukan bibirnya.
"Vira—ikut dong lah!" Aline memohon.
"Kalau gak ada kamu rasa-nya sepi Ra!" Elva bersedih.
"Hampa gitu loh!" Ucap Raka melanjutkan.
"Ehem-ehem rasa-nya ada yang ehem!" Sindir Pandhu.
"Apa?! Hah!" Tanya Raka kesal.
"Jangan-jangan lo suka sama Vira ya?"
Tanya Surya membisikkan suaranya kepada Raka.
"Apa sih lo?!" Raka memukul tangan Surya.
"Habisnya lo yang paling perhatian sama Vira—Ka!" Bisik Surya lagi.
"Suka-suka gue mau perhatiin siapa aja!" Darah Raka terus naik.
"Calm bro!, Jangan termakan emosi!" Seru Surya.
"Gimana ya!" Vira berpikir keras.
"Please—Ra sekali ini aja!" Mohon Elva.
"Ok, deh aku ikut!" Vira memutuskan.
"Walaupun aku percaya bahwa feeling aku gak bakal salah!" Tegas Vira.
"Udah gue bilang jangan percaya! Tapi gak apa-apalah, yang penting Vira ikut sama kita!" Seru Raka.
"Cie yang bentar lagi mau jadi calon suami Vira" bisik Surya terus menggoda.
"Dasar lo!" Tensi darah Raka terus naik dan mulai mengejar Surya yang terus berlari, mereka layak di sebut kucing dan anjing yang sedang bertengkar.
"Woy, ada apa ini bro?" tanya Pandhu yang tak mendengar pembicaraan mereka.
"Ini gue cuma bilang 'Raka lo suka sama Vira?' terus Raka-nya jadi marah!" Teriak Surya yang berlari karena dikejar-kejar Raka.
"Apa?!" Kompak semua.
"Jangan-jangan lo emang beneran suka!" Ketawa Aline menggelegar.
"Bwuahahaha" Tawa semua kompak.
Raka dan Vira sama-sama menahan malu.
———————————
#HeiHeiTinggalkanJejakKalianJugaYa ?✨
#JanganLupaVoteAndCommentCeritanya ??