Hari ini adalah hari terakhir Keya sekolah, karena besok ia sudah bersiap untuk pindah. Sekarang sedang kelas biologi, namun di beri jam kosong karena gurunya sedang ada urusan mendadak.
Banyak murid berkumpul di satu meja, yaitu di meja Keya. Hanya membicarakan hal yang tidak begitu penting, yaitu tentang hubungan Keya dan Erga yang telah berakhir.
“Tapi serius, cuma karena itu kamu putuskan Kak Erga, Key?” tanya seorang siswi di antara mereka, dengan terang-terangan ia menatap aneh Keya.
Mila yang berdiri di samping Keya langsung menyembur tak santai. “Yah, kamu mikir lah sendiri. Emang kamu rela pacar kamu tiap hari ganti-ganti godain cewek lain depan kamu?”
Belum sempat siswi itu membalas, Mila sudah dulu membungkam mulutnya dengan ucapan pedasnya. “Kamu lihat pacar mu saling sapa sama Bu kantin aja langsung cemburu, gak usah sok komen, deh!”
“Ih, kok kamu ngomong gitu, sih!” seru siswi itu tak terima, menunjuk Mila dengan raut wajah kesal.
Akhirnya keributan pun terjadi, keduanya sama-sama tak mau kalah. Keya menutup sepenuh wajahnya dengan telapak tangan. “Mau tenang aja susah banget,” gumamnya di balik tangannya.
Tak lama kemudian jam istirahat berdering, akhirnya Keya memilih pergi duluan keluar kelas. Mila yang masih berdebat dan ingin minta bantuan Keya, malah tidak mendapati temannya di tempat duduknya lagi.
“Eh, eh, Keya, tunggu!” Ia segera berlari keluar kelas menyusul Keya, ia berbalik sejenak hanya untuk menjulurkan lidah mengejek siswi tadi.
“Eh, Key, emang pindahnya kapan? Mau aku bantuin ngemas barang, gak? Aku lagi free besok,” ujar Mila menawarkan diri.
“Thanks, ya, Mila. Tapi kamu datang aja bawa raga sama nyawa, soalnya udah ada Bi Sinta yang bantu aku ngemas barang.”
Mila mengangguk paham, sebelum kembali berucap dengan nada sedih. “Yah … ldr-an deh kita, Key.”
“Humm.” Keya mengerucutkan bibirnya dengan mata hampir berair menatap Mila.
Melihatnya, Mila langsung memeluknya erat. “Aku bakalan rindu banget sama kamu, Key,” ucapnya tulus, matanya ikut berair sedih.
“Aku juga bakalan rindu sama yapping kamu, Mila!” ucapnya tak kalah dramatis.
“Huwaaa! Gak ada teman maskeran aku lagi!”
Mereka berpelukan dan merengek begitu dramatis di tengah-tengah lorong kelas, sampai menarik perhatian murid-murid di sekitar.
“Aku bakal rinduin kamu, Key! Pokoknya kalau udah di Jogja jangan lupain aku, ya!”
“Siapa yang ke Jogja?” celetuk seseorang berhasil menghentikan drama perpisahan dua gadis itu, keduanya serempak menoleh.
Cepat-cepat Keya dan Mila melepaskan pelukan, dan bersikap santai seperti biasa.
“Bukan siapa-siapa,” cetus Keya jutek sembari mengusap matanya. Kemudian ia menggandeng tangan Mila mengajaknya pergi.
Namun Erga lebih dulu menahannya, ia menarik lengan Keya mendekat. “Jangan menghindari aku lagi, Keya. Aku gak suka,” desis nya rendah terasa mengancam.
Tiba-tiba Keya merasakan dingin menjalar di tulang punggungnya. Ia ingin kabur, tapi bagaimana caranya.
“Kamu mau pergi ke Jogja? Apa karena masalah kemarin?”
Keya tak bisa menahan tatapan jijik nya setelah mendengarnya. “Enggak, lah. Emang sepenting apa kamu di hidup aku. Sekarang lepas, aku mau ke kantin,” pintanya sembari berusaha melepaskan cengkeraman tangannya.
Namun Erga malah semakin mengencangkan cengkeramannya, membuat Keya meringis. “Jawab dulu, kenapa kamu pergi ke Jogja?” desaknya.
Mila ingin membuka suara tapi tertahan kala mendapat tatapan tajam Erga yang menakutkan.
“Lepas … sakit, Erga!” sentak Keya. Matanya berair, bukan karena sakit tapi dia takut.
Murid yang berada di sana seketika diam, menganggap ini hanya tontonan yang menarik.
Erga terhenyak melihat wajah Keya, ia segera melepaskan cengkeramannya. “Maaf, maaf, Keya. Aku gak sadar, sayang-“
“Kita udah putus, Erga! Jadi jangan ganggu aku lagi!” pungkasnya sebelum berbalik pergi di susul Mila, meninggalkan Erga berdiri sendiri di sana.
Erga mengumpat marah, sambil mengacak rambutnya frustrasi. “Anj*ng!”
Ia menatap kepergian gadis itu yang semakin menjauh, semakin mengecil di antara kerumunan murid-murid di lorong.
‘Kamu gak bisa ninggalin aku gitu aja, Keya. You will always be mine.’
***
Setelah seharian di kejar oleh Erga, atau lebih cocok di panggil Ergila itu. Akhirnya Keya bisa pulang ke rumah dan bernafas lega di kamarnya.
Sekarang ia harus segera mandi, lalu bersantai dengan mamanya di teras selagi menunggu makan malam bersama nanti. Setelah itu semua barulah ia bisa membereskan barang-barangnya untuk pindah besok, supaya besok ia tidak keteteran lagi.
Seharusnya begitu, itu rencana Keya. Namun di saat ia baru selesai makan malam dengan mamanya dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, tiba-tiba suara bel rumah berdering membuat ia mengurungkan niatnya.
Ia pun kembali menuruni tangga, sambil menggerutu. “Ini siapa yang datang malam-malam? Masa Mila? Kan udah di bilang besok sore aja datangnya.”
Tetapi dugaannya salah. Ketika ia membuka pintu, yang muncul bukanlah Mila, melainkan si Ergila itu.
“Malam, Sayang,” ucap Erga dengan senyum tanpa dosa.
Dengan cepat Keya menutup pintu, namun sial Erga lebih cepat bergerak. Laki-laki itu menahan pintu dengan lengannya, ia mendorongnya bersamaan dengan kakinya mulai melangkah masuk ke dalam.
Keya memundur karena ia tau kekuatannya tak seberapa di banding laki-laki di hadapannya ini. Kemudian ia berlari masuk ke dalam rumah sambil berteriak.
“Kamu mau ngapain, sih?! Pergi, gak?!” teriak Keya sambil berlari menghindarinya.
“Sayang aku cuma pengen lihat kamu,” kata Erga berucap begitu manis, sambil melangkahkan langkahnya yang panjang itu mencoba mengikis jarak dengan gadis itu.
“Aaah! Mama!” teriak Keya kencang saat tangannya berhasil di gapai laki-laki itu. Erga tersentak kaget.
“Ssut, Keya please … aku gak bakal gitu lagi. Aku janji bakal berubah. Kita balikan, ya?” bujuk Erga sambil menampilkan wajah memelasnya.
Tidak, Keya sudah cukup hapal kebiasaan laki-laki ini. Gadis itu menggelengkan kepalanya kuat. “ENGGAK MAU!”
“Eh, ada apa ini?” Weni dan Bi Sinta keluar dari dapur.
Keduanya serempak menoleh. Keya langsung menepis kasar tangan Erga dan berlari ke arah mamanya.
“Mama, dia maksa aku lagi, Ma!” adu Keya bersembunyi di balik punggung Weni.
Weni berkacak pinggang dengan menampilkan wajah garang. “Mau apa lagi kamu Erga, gak puas nyakitin anak tante, ha?!”
Erga tersenyum tipis, ia melirik Keya sejenak sebelum kembali menatap Weni. “Enggak Tante, saya cuma mau ngobrol sebentar sama Keya. Tapi kayaknya Keya masih marah sama saya, kalau gitu saya pergi dulu.”
Akhirnya Erga pergi, Keya menghembuskan napas lega begitu pun dengan bi Sinta.
“Anak Bupati kok kelakuannya gitu, ya? Tapi untung lah, besok Keya udah pindah, jadi dia gak bisa ganggu kamu lagi, Nduk,” ujar bi Sinta sambil menepuk-nepuk bahu Keya lembut.
Weni berbalik menghadap putrinya. Ia memegang kedua bahunya. “Keya kayaknya kita harus majuin jadwalnya. Mama takut besok dia datang lagi, dan ngancam kamu kayak waktu itu.”
***
Keya pun begadang membereskan barang-barang untuk di bawa pindah. Sambil melakukan panggilan telepon video dengan Mila.
“Sumpah, emang gila tuh anak! Lagian kamu juga terima aja pacaran sama dia dulu,” omel Mila di telepon.
Keya melempar barang tak santai ke dalam kotak penyimpanan, dan mendengus kesal. “Udahlah Mila, itu kan dulu karena aku emang agak tol*l. Mana tau kalau ternyata dia sebrengs*k itu. Dan setelah hampir setahun lebih, akhirnya aku bisa lepas dari dia.”
“Iya sih, apalagi dia kan muka sama badannya lumayan ya kan, ya? Jadi dulu kamu mikirnya, oh dia cuma cowok playboy doang. Eh, gak taunya lebih dari itu!” seru Mila heboh.
“Udah dulu ya, Mila, aku udah siap beresin ini, mau tidur,” ucap Keya mengambil ponselnya yang ia sandarkan ke lampu tidurnya.
“Oke, sip, tidur yang nyenyak jangan sampai mimpi si Erga bawa tali,” ucap Mila bercanda.
“Jangan lah, mimpi buruk itu. Yaudah, makasih udah nemenin begadang, met malam!”
“Met malam juga, sorry ya gak bisa ngantar ke bandara besok,” ucap Mila merasa bersalah.
“Santai aja, gak papa, kok. Kan kamu masih sekolah. Yaudah, ya bye Mila~”
Ia harus segera tidur karena besok pagi sudah berangkat menuju bandara. Padahal rencananya sore hari mereka berangkat, tapi karena insiden Erga barusan, Weni memutuskan untuk mempercepat jadwal berangkatnya.
***
Sudah hampir lewat 15 menit Weni menunggu di bandara, tapi putrinya tak kunjung muncul. Saat di perjalanan menuju bandara, Keya melupakan barang pentingnya yang memperharuskan ia untuk kembali lagi ke rumah.
Tak lama kemudian Keya muncul dengan bi Sinta di belakangnya. Mereka berlari menghampirinya dengan tergesa-gesa.
“Maaf, Ma … tadi ada pengemis nahan kita maksa minta uang, ada keributan dikit,” ucap Keya ngos-ngosan.
Weni menggelengkan kepalanya. “Yaudah, ayo cepat, keburu ketinggalan nanti kita.”
Untung saja mereka datang tepat waktu, saat gate hampir mau di tutup. Tinggal menunggu sebentar, dan bisa langsung naik pesawat, karena Weni sudah memesan tiket terlebih dahulu.
Keya memilih tidur selama perjalanan, karena jujur saja ia masih sangat mengantuk dan agak linglung. Bahkan dia tadi hampir saja menabrak pramugari saat berjalan di kabin pesawat karena kurang fokus.
Dari Malang ke Yogyakarta, penerbangan selama lebih dari satu jam. Selama itu Keya menikmati perjalanan dengan tertidur.
Setelah melewati perjalanan yang … menyenyakkan, akhirnya Keya dan bibi juga mamanya turun dari pesawat. Keya mendorong kopernya mengikuti langkah mamanya menuju lobi bandara. Katanya sudah ada yang menjemput, jadi tak perlu memesan taksi online.
Keya sibuk berbalas pesan dengan Mila sampai tak sadar mamanya sudah berhenti, sehingga ia menabrak punggung mamanya.
Ia mengaduh sambil mengusap hidungnya. “Aduh, Ma … berhenti gak bilang-bilang-“
Ucapannya tergantung saat matanya menangkap sosok laki-laki tampan di hadapannya. Laki-laki itu berdiri di samping seorang pria dewasa.
‘Wih, di jemput cogan. Keren juga outfit-nya.’
Ia terlihat tampan dengan hanya memakai hoodie warna abu gelap dan celana cargo warna khaki. Tak lupa sneakers merek Converse warna cream-coklat.
‘Tapi bentar, kok kek kenal, ya?’
Ia melamun menatapnya sampai mamanya menyadarkan nya. “Keya, ini Om Roni. Papa baru kamu,” ucap Weni dengan senyum memperkenalkan pria dewasa bertubuh tegap di hadapannya itu.
Kini mata Keya beralih menatap pria itu, ia pun tersenyum ramah dan menyaliminya. “Malam, Om Roni. Saya Keyyanara Ishikana, panggil Keya aja.”
Mendengar nama itu, ekspresi laki-laki muda di samping Om Roni terlihat berubah sekilas. Ia memandangi Keya lebih lama dari yang seharusnya, seakan sedang mengamati.