Keya pikir itu cuma perasaannya saja, tapi ternyata dugaannya benar adanya.
“Ini putra Om, namanya Arjuan Dewantara,” om Roni memperkenalkan laki-laki muda di sampingnya.
Seketika Keya termenung beberapa saat, memikirkan nama yang terasa sama itu. Ia makin mendelik kala pemuda itu menyahut dengan menyeringai tipis.
“Panggil aja Juan,” ucapnya santai.
“Ha- hah?” tiba-tiba Keya merasa gugup.
‘Lah, beneran dia? Ku pikir cuma perasaan ku aja dia mirip sama Juan. BENERAN JUAAAAN?! Situasi apa-apaan ini?!’ batin Keya ribut.
Ia tersenyum kaku, dan mengangguk. “Salam kenal.”
Setelah berbincang singkat, Roni mengajak mereka makan siang terlebih dahulu di restoran mewah langganannya sebelum mengantar Keya dan Weni untuk istirahat di apartemen yang sudah ia sewakan.
Selama berjalannya waktu bersama mereka, Keya tak bisa bersikap bebas. Apalagi … sial, laki-laki itu masih sama, senyum menyebalkan itu masih sama seperti dulu.
Bahkan ia dengan sengaja bersikap sok seperti kakak laki-laki kepadanya. Seperti memotongkan daging untuknya, mengambilkan minum saat Keya tersedak, dan lebih menyebalkan lagi sekarang ia sok membawakan koper Keya saat mereka berjalan menuju apartemen.
‘Dia ini kenapa, sih? Lagi caper sama Mama, ya?’ batin Keya melirik sinis ke laki-laki yang berjalan di sampingnya.
“Sudah sampai. Ini apartemen sementara untuk kalian,” ucap Roni sembari membuka pintu apartemen.
Setelah masuk, ia melanjutkan. “Kita baru bisa tinggal serumah setelah menikah, supaya tidak menjadi bahan perbincangan orang-orang,” ujarnya dan tersenyum.
Weni mengangguk dan balas tersenyum. “Kamu selalu bijaksana, Mas Roni. Terimakasih atas pengertiannya.”
Kemudian Weni memegang bahu Keya dan tersenyum pada Juan. “Oh, ya, Juan, bisa Tante minta tolong sama kamu sesuatu?”
Keya melirik mamanya sebelum kembali menatap Juan, laki-laki itu tersenyum.
“Apapun Tante, saya akan bantu,” ucap Juan.
“Besok ajak Keya ke sekolah kamu, ya. Surat pindah sekolahnya sudah Tante dan Papa kamu urus, kamu tolong bawa dia untuk lihat-lihat dulu sekolah besok,” pinta Weni.
Keya mendelik, ia menoleh menatap mamanya dengan sorot mata tak setuju. “Kok, satu sekolah sama dia, Ma? Mama belum tanya aku loh, aku mau sekolah di mana,” protes Keya.
Weni menghembuskan napas dan beralih menatapnya, tangannya kemudian mengusap bahu gadis itu lembut.
“Sayang, sekolah yang di tempati Juan itu sekolah favorit yang paling bagus di sini. Dan mama gak mau masukin kamu ke sekolah baru sendirian, kalau ada Juan kan sekalian bisa bantu kamu adaptasi,” tutur wanita itu begitu lembut.
Mau tak mau Keya harus menerimanya. Ia menghembuskan napas gusar dan melirik sinis pada Juan. Laki-laki itu hanya menyeringai tipis, membuat Keya makin sebal.
Malam semakin larut, maka Roni dan Juan pun pamit untuk pulang. Barulah Keya bisa bernafas lebih lega dan bersikap santai. Ia berjalan menuju kamarnya untuk membereskan barang bawaannya dan juga untuk membersihkan diri.
“Aku harus bersih dan wangi!” serunya sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Hampir memakan waktu lama Keya membersihkan diri di kamar mandi. Lalu di lanjutkan segala rutinitas perawatan tubuhnya. Cukup melelahkan, tapi karena perkataan seseorang membuat ia menjadi makin rajin merawat diri. Dan karena itu dia pun mulai menyukai aktivitas ini.
‘Kamu bau lepek!’
Memori itu seketika muncul lagi di kepalanya, membuat ia mengerang dan mengacak-acak rambutnya frustrasi.
Kemudian ia mendengus kesal. “Juan, sialan.”
Di tempat lain, yaitu di kediaman keluarga Adimarwa. Juan juga sedang sibuk membersihkan dirinya.
“Pokoknya aku gak boleh kalah harum dari dia besok, entar di ejek lagi aku kek dulu!” mantapnya sembari menggosok-gosok tubuhnya dengan sabun. Sampai keset.
‘Kamu baunya kayak bangkai!’
Seakan mendengar suara itu kembali, berhasil menyulut semangat Juan.
‘Keya, ku pastikan kamu bukan lagi mencium bau bangkai besok, tapi bau SURGA!’ batin Juan dengan seringainya.
***
Keesokan harinya, Keya sudah bangun lebih pagi. Tidak. Dia hampir tidak tidur semalaman, karena memikirkan perkataan dari seseorang dulu padanya. ‘Kamu bau lepek!’
Sudah ke berapa kalinya ia bolak-balik bercermin, untuk memastikan penampilannya rapi dan bersih. Juga sudah ke berapa kalinya ia mencium rambut dan keteknya.
‘Wangi kok, gak masalah,’ batin Keya menenangkan dirinya yang tiba-tiba gugup.
Kemudian ia berdecak sambil menghentakkan kakinya. “Kapan sih dia jemputnya? Lama banget, keburu pagar sekolahnya di tutup.”
Ia mondar-mandir di depan kasurnya, sambil ngedumel. “Aku udah sewangi ini, awas aja kalau dia masih ngejek lagi.”
Lagi-lagi Keya berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya. Ia memakai rok midi warna ivory dengan atasan cardigan biru pastel, dan sneakers putih. Tak lupa tas selempang kecil berwarna biru muda lembut, dan rambut yang hanya di jepit setengah di belakang dengan pita warna putih.
“Duh, cantik banget aku,” ucapnya dengan senyum lebar memuji dirinya sendiri sembari berputar-putar dan berpose di depan cermin full body.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintunya membuat ia sempat berjengit kaget.
“Neng, Mas Juan udah jemput itu.” Itu suara Bi Sinta.
Ngomong-ngomong, Bi Sinta juga ikut Keya dan Weni pindah ke Jogja. Tentu karena permintaan Weni yang sudah begitu percaya pada beliau.
Setelah memastikan dirinya di pantulan cermin, dan berkali-kali mencium rambut dan tubuhnya, akhirnya Keya keluar kamar.
Seketika Bi Sinta mengerutkan hidungnya mencium wangi Keya yang langsung menyerbu indra penciumannya. “Hm, wangi banget, Neng? Mana cantik banget.”
Mendengar pujian itu Keya tersenyum lebar dengan bangga. “Oh, jelas dong, Bi. Kan mau ke sekolah baru, biar first impression-nya bagus nanti,” ucap Keya beralasan.
Bi Sinta tersenyum dan mengangguk mengerti. “Yaudah, sok atuh Neng, Mas Juan udah nungguin tuh di luar,” ujar bi Sinta.
Gadis itu mengangguk dan berjalan keluar. Ia melihat laki-laki itu duduk di sofa membelakangi, memakai jaket kulit berwarna hitam.
‘Hm … lumayan juga kalau di lihat-lihat,’ batin Keya mengagumi, meski tengah memasang wajah tak niatnya.
Juan menoleh saat menyadari kehadiran gadis itu. Seperti biasa, laki-laki itu menyeringai dengan tatapan menyebalkannya. Ia memandangi Keya dari atas sampai bawah seakan sedang menilai.
Ia mengusap-usap dagunya dengan raut wajah seperti seorang juri lomba fashion sekolah, membuat Keya memutar bola mata malas.
“Hmm, ternyata kain lepek ini sudah di cuci dan di kasih pewangi, ya?” ejeknya.
Keya menggeram gemas. “Gak usah resek, deh. Sekarang kita udah jadi saudara tiri, jangan ungkit-ungkit soal dulu, karena Mama gak tau soal itu.”
Juan mengangkat tangannya dengan raut kekalahan main-main.
“Oke, oke … kalau gitu, sekarang kita sepakat nyembunyikan hubungan kalau kita pernah pacaran dulu.”
***
Mobil yang di kendarai Juan memasuki gerbang sekolah, dan membawanya masuk ke kawasan High School Prasada.
Keya tak berhenti melebarkan mata menatap kagum gedung sekolah elite ini. “Sekolah atau istana, anjir?” tanya Keya tak percaya.
Juan tersenyum bangga mendengar kekaguman yang jujur dari gadis itu. “Jelas, pangeran kayak aku harus sekolah di istana,” cetusnya dengan senyum percaya diri.
Membuat Keya merasa ingin menampol wajahnya dengan tasnya. “Sok iya banget, pangeran kodok maksudnya?”
Jalan menuju parkiran bahkan terlihat sangat lebar dan sampingnya di hiasi pohon hias yang di potong rapi.
“Pangeran kodok gak ada yang seganteng aku, Key,” balas Juan dengan wajah tengilnya, yang semakin membuat Keya merasa jengkel. Apalagi laki-laki itu ternyata masih ingat nama panggilannya.
‘Sial banget, harus serumah dan sekolah bareng dia!’
Juan berjalan terlebih dahulu, dan diikuti Keya di belakangnya. Kedatangan mereka sontak menjadi pusat perhatian murid-murid yang tengah berada di dekat mereka.
“Juan, jangan cepat-cepat dong jalannya!” protes Keya karena kesulitan menyamakan langkah kakinya dengan langkah panjang Juan.
Juan menoleh dan berdecak. “Makanya jangan pendek,” cetusnya begitu santai lalu melanjutkan jalannya.
Gadis itu menatap tak percaya dan mendengus sebelum mengejar langkahnya. “Enak aja mulut mu. Kamu yang ketinggian!”
Kemudian ia mempercepat langkahnya mendahului laki-laki itu. Juan mengernyitkan alisnya dan berseru.
“Woi! Emang tau jalannya?”
Seketika langkah Keya terhenti, kemudian ia berbalik dan wajah kesalnya. “Gak tau!”
“Ya, makanya di samping aku aja,” ucap Juan menarik tangan gadis itu untuk kembali berdiri di sampingnya.
Kehadiran mereka di lobi sekolah berhasil menarik perhatian para murid sekolah. Tiba-tiba tiga murid perempuan dengan dandanan begitu cantik dan terlihat narsis itu menghampiri mereka.
Salah satunya menyapa Juan dengan nada genit. “Pagi, Juan~”
Namun Juan malah memutar bola mata malas, lalu menarik tangan Keya melewati mereka.
Siswi itu berdecak kesal, dan berlari lalu menahan lengan Juan. “Kamu mau ke kelas, kan? Barengan, yuk!”
Tanpa basa-basi lagi ia menarik lengan Juan sampai genggaman tangan Juan pada Keya terlepas begitu saja.
Keya sontak di buat kaget dan bingung. Ia melihat sekeliling, dia masih baru dan tak tau apa-apa soal sekolah, kalau Juan di bawa dia bakal gimana. Itulah yang di pikirkan nya.
“Eh, eh, eh, enak aja asal gaet anak orang.” Keya segera menarik Juan kembali ke sisinya, dan melepaskan tangan siswi itu dari lengan Juan.
“Sorry ya Nona, Juan lagi di kasih tugas penting sekarang, yaitu jadi pemandu untuk aku mengenal sekolah ini. Jadi, kalau mau menggatal besok aja dulu, oke,” ujar Keya. Lalu tanpa menunggu balasan siswi itu, ia langsung menyeret Juan pergi dari sana.
“Kok, gitu?! Hei, JUAN!!!” teriak siswi itu marah.