Selama sampai di sekolah Keya mengelilingi sekolah, dan melihat setiap sudut gedung sekolah barunya. Entah sudah keberapa kalinya ia berucap kagum setiap melihat sesuatu yang mengagumkan.
Sekarang Juan sedang berada dalam kelas, dan Keya memilih menunggu dengan keluyuran di taman sekolah. Taman sekolahnya sangat bersih dan membuat nyaman. Petugas-petugas sekolah juga sangat ramah, jadi Keya tak kesepian atau merasa sulit di tinggal Juan.
“Wah, ada pohon buah Plum.” Keya mengelilingi pohon yang masih bertumbuh itu. Tinggi pohon itu baru lebih tinggi tiga jengkal di atas kepala Keya.
“Ini kalau berbuah, bisa lah santai-santai di taman sambil makan buah ini,” monolognya sudah berencana. Ia menyentuh buah-buah kecil yang belum matang.
“Kayaknya ini di rawat dengan baik, tumbuhnya bagus gini.”
“Suka berkebun?” celetuk seseorang di baliknya, sontak membuat gadis itu terlonjak kaget hampir berteriak kencang.
“Ha! Astaga … kaget.” Ia memutar tubuhnya dan mundur sambil mengusap dadanya.
Laki-laki dengan seragam sekolah lengkap itu mengangkat tangannya dan meminta maaf. “Oh, sorry. Aku gak bermaksud nakutin kamu.”
Keya tersenyum kikuk, sebelum berkata. “Ah, gak papa, cuma kaget aja.”
“Btw, kamu siapa? Di lihat dari baju kamu, kayaknya kamu bukan murid sekolah ini?” tanya laki-laki berkacamata itu.
“Oh, aku murid pindahan sebenarnya, karena baju seragamnya belum dapat jadi aku kesini di suruh melihat-lihat sekolah baru aku sama Mama aku,” jelas Keya. Kemudian ia kembali melihat pohon buah Plum itu, dan memperhatikannya.
Laki-laki itu mengangguk paham. “Oh, gitu.” Lalu ia tersenyum dan mengulurkan tangannya. “Kalau gitu kita kenalan dulu. Aku Zean Davin Pratama, panggil aja Zean.”
Keya menoleh, dan melirik tangannya sebelum mendongak dan tersenyum menerima uluran tangannya. “Aku Keyyanara Ishikana, Keya. Salam kenal.”
Zean mengangguk dan tersenyum. Dia terlihat sangat ramah dan pembawaannya tenang dan santai sehingga Keya tak merasa canggung.
“Kamu suka berkebun?” tanya Zean setelah tautan tangan mereka terlepas.
Keya melihat pohon di sampingnya sebelum kembali menatapnya dan menyengir. “Hehe, enggak sih … lebih suka makan buahnya.”
Zean seketika tertawa kecil. “Oke, berarti kamu lebih suka langsung makan daripada susah-susah merawatnya,” tebaknya dan di angguki gadis itu.
“Tapi bentar, bukannya ini masih jam pelajaran?” tanya Keya heran. Ia melihat sekeliling, dan ternyata emang masih jam pelajaran karena tak ada murid di sekitar mereka.
“Kok, kamu di luar kelas? Bolos?” tebaknya.
Laki-laki itu menunduk menutupi senyum di wajahnya, sebelum mendongak menatapnya. “Enggak, aku cuma lagi menjalankan tugas sebagai anggota inti Osis, yaitu memastikan ada murid yang bolos atau melanggar peraturan sekolah.”
Keya mengangguk paham, sebelum kembali melontarkan pertanyaan. “Ooh, kamu anggota Osis. Tapi kok cuma kamu sendiri di sini?”
“Yang lain udah duluan, dan ketua Osis tadi yang nyuruh aku kesini datengin kamu,” kata Zean.
“Oh, gitu.”
Keya kembali mengarahkan perhatiannya ke sekeliling, masih sepi.
‘Ini kapan jam istirahatnya, sih? Lapar nih mau makan. Tapi gak tau kantinnya di mana, Juan juga masih di kelas,’ batin Keya, sembari tangannya bergerak tanpa sadar menyentuh perutnya dan mengelusnya.
Zean memperhatikannya, dan seketika tersenyum tipis mengerti. Ia pun menceletuk. “Lapar, ya?”
Gadis itu sontak menoleh dengan mata melebar. “Kok, tau?” ceplosnya yang langsung mendapat kekehan geli dari laki-laki itu.
Sedetik kemudian bel berbunyi, menandakan kelas berakhir berganti waktu istirahat. Kedua remaja itu menoleh ke arah suara.
“Nah, udah jam istirahat,” kata Zean.
Ia kemudian kembali menatap gadis di hadapannya. “Mau ke kantin? Aku temenin kalau kamu mau.”
***
Para murid berpencar ke tujuannya masing-masing setelah keluar kelas. Namun kebanyakan mereka pergi ke kantin.
Arjuan berjalan melewati lorong, dan tak sedikit ia mendapatkan salam sapaan dari murid-murid yang berpapasan dengannya. Laki-laki itu hanya tersenyum tipis dan mengangguk membalas setiap sapaan itu.
Ia sampai di taman sekolah, dan kemudian ia mengerlingkan matanya ke seluruh area taman. Namun ia tak mendapati gadis yang ia cari.
‘Lah, mana tuh bocah?’
Ia mengambil ponselnya, baru ia membuka layar ponselnya, Juan mengumpat karena menyadari mereka belum sempat bertukar kontak.
‘Keluyuran kemana dia, ya?’ Ia menyisir rambutnya frustrasi, dan melihat sekeliling.
Juan berpikir dan menerka-nerka kemana gadis itu akan pergi.
Dua murid melewatinya, dan Juan tak sengaja mendengar obrolan mereka. “Lapar nih, ke kantin dulu, yuk.”
“Yuk, aku juga lagi pengen makan pasta.”
Ah, Juan sekarang tau. Ia menjentikkan jarinya. ‘Pasti ke kantin,’ batinnya menebak.
Juan pun segera membawa langkahnya ke kantin, tempatnya tidak terlalu jauh dari taman … kalau sambil naik motor. Bercanda.
Hanya perlu melewati gedung olahraga, maka sudah sampai di gedung kantin. Jangan tanya kenapa tempatnya di buat di gedung berbeda-beda, karena sesuai namanya High School Prasada. Sekolah elite, favorit para kalangan atas ini memang memiliki gedung sekolah yang begitu besar dan megah.
Juan memasuki area kantin, ia melihat sekeliling. Teman-teman yang sudah melambaikan tangan memanggilnya itu tak ia pedulikan, karena kini ia fokus mencari gadis itu.
Bisa habis dia oleh mama Weni kalau sampai kehilangan putri satu-satunya wanita itu.
Lalu matanya menyipit saat mendapati gadis itu sudah duduk anteng makan di salah satu meja kantin. Dugaannya benar, gadis itu berada di sini.
Tapi hal yang tidak ia duga adalah … kenapa Zean ikut duduk di sana?
‘Ngapain Zean duduk di situ?’ batin Juan sembari menghampiri mereka, ia bahkan mengabaikan panggilan teman-teman se-gengnya itu.
Gadis itu terlihat tertawa, mungkin karena Zean. Alis Juan semakin mengernyit dalam.
“Haha, sumpah? Beneran dia kayak gitu?” tanya Keya terlihat heboh dan antusias karena cerita Zean.
Laki-laki itu mengangguk dengan tawa kecilnya. “Iya tau, makanya banyak cewek yang naksir sama dia.”
“Key,” panggil Juan, nadanya terdengar dingin.
Keya menoleh, seketika ia tersenyum. Itu bukan senyum biasa, itu senyum mengejek. Juan jadi penasaran apa yang sedang mereka bicarakan, dan apakah Zean mengatakan sesuatu soal dirinya pada Keya.
“Eh, si Ketua Basket datang,” ucap Keya dengan nada menggoda.
Juan memutar bola matanya malas, dan kemudian mengambil duduk di samping Keya. Matanya menatap tajam Zean di depannya.
Menyadari tatapan laki-laki itu padanya, Zean segera menjelaskan. “Aku cuma bilang kalau kau ketua basket, itu aja.”
“Iya, Zean cuma bilang kalau kamu itu si paling famous di sekolah. Sampai di kejar-kejar lebah,” ucap Keya sarkas. Diam-diam sengaja mengingatkan laki-laki itu tentang masa lalunya yang pernah di kejar lebah.
Juan yang mengerti maksudnya seketika mengarahkan pandangannya ke Keya dengan tajam. Dan berkata pelan dengan penuh penekanan. “Diam ya, Keya … kalau gak mau di gigit anjing.”
Senyum gadis itu seketika luntur berganti raut jengkel. Karena mengingat kenangan buruknya yang pernah di kejar anjing karena manjat pohon mangga punya orang.
Zean yang tak paham hanya memandangi keduanya bingung. “Lebah? Anjing? Apa maksudnya?”
Keduanya sontak menoleh menatapnya, dan bersamaan mencetus. “Kepo!”
***
Sepulang nya dari sekolah, selama di perjalanan Keya dan Juan tak berhenti beradu mulut dan saling mengejek.
“Ternyata si plenger ini bisa berubah jadi cowok cool yang famous, ya? Ku pikir pas kamu pindah malah jadi pelawak, soalnya muka mu itu cocok, kayak ada aura bloon-bloonnya,” ejek Keya sebelum di akhiri dengan tawa lepas.
Sembari fokus menyetir mobilnya, Juan membalas tak kalah tajam. “At least aku gak pernah kecebur got gara-gara ugal-ugalan naik sepeda!”
Gantian laki-laki itu yang tergelak berhasil membuat gadis itu terdiam menatapnya datar dengan sorot mata yang terlihat begitu kesal. Wajah Keya memerah, malu dan marah karena Juan masih mengingat kejadian memalukannya dulu.
“Juaaaan! Jangan di ungkit lagi dong itu!” seru gadis itu kesal, spontan memukul bahu Juan membuat laki-laki itu meringis kesakitan tapi senyum mengejeknya tetap terlihat di wajahnya yang tampan.
Padahal Keya sudah berusaha melupakan kejadian memalukan itu, tapi Juan malah kembali mengingatkannya.
“Lagian kamu duluan yang ngajak adu mulut, di balas malah marah,” ucap Juan sembari terkekeh.
“Kamu itu masih aja yang sama, sama aja nyebelinnya!”
Keya mengalihkan pandangan ke jendela dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan tangan bersilang.
Emosinya makin naik kalau melihat laki-laki itu, lebih baik ia melihat suasana jalanan dan gedung-gedung kota. Bahkan badut pengamen di pinggir jalan sepertinya lebih menarik untuk ia lihat daripada melihat wajah menyebalkan Arjuan itu.
Sesampainya di gedung apartemen, Keya langsung keluar dari mobil. Sebelum menutup pintunya ia berkata dengan nada jutek. “Gak usah bilang terimakasih, karena udah dapat kesempatan bisa nganterin princess cantik ini. Sekarang, bye!”
Ia langsung menutup pintu dengan cepat, dan berjalan cepat masuk ke dalam gedung apartemen.
Juan menatap kepergian gadis itu dengan tak percaya. Ia menggelengkan kepalanya dan ngedumel, “aku yang nganterin kenapa aku yang berterimakasih? Emang ada gilanya nih cewek.”
Ia pun mulai menjalankan mobilnya menjauh dari gedung apartemen tempat Keya tinggal sementara itu. Matanya melihat sejenak ke kaca spion, kemudian terkekeh geli.
“Masih sama aja ternyata dia.”
Kembali ia arahkan pandangannya ke depan, senyumnya tak juga pudar. ‘Dia mulai jadi cewek feminim, ya?’
“Haha, padahal dulu aja suka manjat pohon pak Rt,” tawa Juan saat mengingat kelucuan masa-masa mereka saat masih SD dan SMP.
Tak sadar ia malah terhibur mengingat masa-masa dulu dengan gadis bernama Keya itu, segera ia sadarkan dirinya. Ia menggelengkan kepalanya.
“Ah, udahlah, ngapain aku malah mikirin tuh cewek. Sekarang kan udah jadi adik aku, ya, mending mikirin gimana cara buat dia emosi,” ucapnya dan di akhiri dengan seringai jahilnya.