Sepertinya inilah yang paling Keya benci, yaitu ikut membantu mengurus tamu undangan pernikahan.
Ya, sekarang sudah hari pernikahan mamanya. Entah mereka sudah tidak sabar lagi atau karena sedang mengejar jadwal sebelum kembali ke pekerjaan. Mereka mempercepat tanggal pernikahan mereka.
Padahal katanya seminggu lagi mereka akan menikah, tapi mereka mempercepat waktunya. Dan malah mengundurkan waktu Keya masuk sekolah baru.
‘Ah, mengesalkan sekali. Gigi ku kering dari tadi tersenyum terus,’ batin Keya kesal.
Ia sekarang sedang duduk di samping meja sendirian, dan tangannya sibuk mencomot buah anggur yang di sediakan di atas meja ke dalam mulutnya.
Ia dari tadi tak sempat makan karena melayani para tamu undangan yang tak ada henti-hentinya datang menghampirinya. Tentu kebanyakan tamu undangan dari belah papa barunya.
Dan Keya tau, mereka menghampirinya hanya bentuk formalitas, hanya untuk berkenalan dengannya, yang sekarang menjadi putri seorang Roni Dewantara.
Keya menyilangkan kakinya dengan santai, melihat sekeliling sembari menikmati buah anggurnya. Semua orang sibuk bercengkerama dan bercanda tawa, Mama dan Papa Roni juga sibuk mengobrol dengan teman kerja mereka.
Ah, Keya merasa kesepian sendiri sekarang. Tapi sosial energinya sudah cukup terkuras.
Ngomong-ngomong, si Juan kemana, ya?’ batin Keya bertanya-tanya. Ia mengerlingkan matanya mencari sosok laki-laki itu.
Terakhir mereka bersama saat acara pernikahan sedang berlangsung tadi, ia sempat kagum melihat laki-laki itu mengenakan pakaian tradisional yang formal. Jujur saja, dia memang tampan, ternyata benar kata Mila saat itu.
“Ah, udahlah. Mending aku makan dulu, mumpung gak ada tamu yang ngajak ngobrol lagi,” ucap Keya, sebelum beranjak dari duduknya.
Namun baru ia berdiri dan ingin meninggalkan meja, Juan datang membawa dua piring berisi makanan.
“Mau kemana? Nih, makan dulu,” ucap Juan menyodorkan sepiring makanan di atas meja samping Keya berdiri.
Keya kembali duduk saat Juan duduk di kursi sampingnya. “Tau aja aku lagi lapar.” Ia tersenyum lebar, dan mengambil sendok.
Juan mendengus dan tersenyum tipis. “Kelihatan, kok.”
“Kelihatan banget, ya?” tanya Keya sebelum memasukkan makanan ke mulutnya.
“Iya, kelihatan kerangkanya saking kurusnya,” cetus Juan sebelum terkekeh, dan memakan makanannya.
Mendengarnya Keya mencibirkan bibirnya. Ia tidak membalas karena sekarang yang penting adalah mengisi perut dulu.
Tak lama, setelah selesai makan Keya bertanya sebelum meminum air. “Kamu dari mana tadi?”
“Dari luar, ngerokok,” jawab Juan santai di selingi kunyahannya.
Seketika Keya tersedak, menatapnya melotot. “Merokok?!” ulangnya hampir seperti berteriak.
Beberapa orang di sekitar menoleh, membuat Juan menatap Keya memperingatinya dengan matanya.
“Sorry, suara ku kekencangan.” Kemudian ia mencondongkan tubuhnya, bahkan menggeser kursinya mendekat. “Serius, kamu merokok?”
Bukan apa-apa, karena dulu Keya mengenal Juan sebagai sosok yang sangat benci asap polusi. Jadi agak terkejut mengetahui laki-laki itu sekarang malah merokok.
“Kenapa kaget gitu, sih?” heran Juan, dan meminum air dari gelasnya.
“Yah, enggak, aku cuma heran aja soalnya dulu kamu bilang benci sama asap polusi.”
Laki-laki itu menyandarkan punggungnya, ia merasa kenyang. “Itu kan dulu, sekarang udah beda lah, Key.”
“Iya juga sih.” Keya mengangguk-angguk, sebelum kembali bertanya. “Emang Om Roni- maksudnya Papa Roni gak marah?”
“Papa? Dia mah santai aja. Aku di bolehin ngerokok juga pas masuk umur 18 tahun ini,” katanya.
“Anjir, umur mu 18 tahun? Tua banget!” ceplosnya.
“Heh, kurang ajar! 18 tahun masih muda ya anjir,” cetusnya tak terima. Juan dulu memang lambat daftar sekolah.
“Itu tua bagi aku, umur ku 16 tahun,” ucap Keya menyombongkan dirinya.
“Oh, pantesan sih, pendek!”
“Heh! Enak aja!”
***
Acara masih berlangsung sampai larut malam. Karena besok Keya sudah masuk sekolah, Weni menyuruh Juan untuk pulang dengan Keya duluan, bersama bi Sinta.
Namun sebelum Keya masuk ke dalam mobil seorang laki-laki memanggilnya.
“Keya!” ia berlari menghampirinya.
Ah, Keya tau dia. Barusan di acara tadi mereka sudah berkenalan, dia adalah Reyan, adik sepupu Juan yang umurnya sepantaran dengan Keya.
“Kenapa, Yan?” tanya Keya sesampainya dia di hadapannya.
Juan yang sudah di dalam mobil mengamati lewat kaca mobil. Ia mengernyitkan alisnya melihat Reyan menyodorkan sebuah paper bag pada Keya.
“Ini apa, Yan?” tanya Keya menerima paper bag itu.
Reyan menggaruk tengkuknya dan tersenyum malu. “Kue, rasa anggur dan apel.”
Mata Keya melebar, ia seketika membuka bungkusan itu. Kemudian kembali mendongak menatap Reyan. “Serius? Padahal tadi aku cuma bercanda, loh. Ternyata di sini ada jual kue ini juga?”
“Bercanda apa?” tanya Juan, tiba-tiba sekarang sudah berada di samping mereka. Sontak keduanya serempak berjengit kaget.
‘Sialan, nih orang bikin kaget aja!’ batin Keya jengkel.
“Itu, tadi aku sama Keya bercanda soal kue rasa anggur dan apel. Pas kita lagi ngobrol bareng sambil nyemilin buah. Karena kombinasi itu menurut kami kayaknya cocok,” jelas Reyan.
Keya pun ikut menyaut. “Iya, gitu. Aku bercanda pengen makan kue rasa dua kombinasi buah itu, eh malah di belikan beneran sama Reyan.”
Juan hanya mengangguk-angguk. “Oh, gitu. Yaudah, udah selesai kan ngobrolnya, kalau gitu kita pamit dulu.” Juan menepuk bahu Reyan, sebelum membuka pintu mobil menyuruh Keya masuk.
“Oh, iya, hati-hati di jalan, ya!” ucap Reyan, dan melambaikan tangan pada Keya, yang langsung di balas Keya sebelum gadis itu masuk mobil.
Setelah Juan masuk lewat sisi lain mobil, kemudian mobil pun bergerak menjauh dari gedung hotel itu.
Di perjalanan menuju rumah, Keya dan Juan tak berhenti berebut makan potongan buah-buahan yang mereka dapat dari acara tadi.
“Ih, Juaaan! Itu lecinya punya aku! Lepehin gak!” teriak Keya kesal sambil mengguncang lengan laki-laki itu dan menepuk-nepuk pipinya.
“Aku yang ambil tadi, Juan!” seru gadis itu makin mengguncang tubuh Juan.
Sedangkan laki-laki itu malah menjauhkan wajahnya, dan mengangkat dagunya saat ia masih mengunyah buah leci dalam mulutnya.
Kemudian ia menoleh mengejek gadis itu dengan menjulurkan lidahnya. “Udah habis!”
“JUAAAAN!!!” ia memukuli lengan laki-laki itu melampiaskan kekesalannya, sedangkan si Juan dia hanya terlihat pura-pura kesakitan.
Bi Sinta dan pak supir sampai saling pandang dan menggelengkan kepalanya serempak kembali melihat ke depan.
Sesampainya di rumah, yaitu rumah keluarga Dewantara yang di wariskan pada Roni. Kini sudah menjadi tempat tinggal baru Keya.
Sehari sebelum acara pernikahan, Weni dan Keya sudah pindah ke rumah ini. Keluarga terpandang itu memang jelas berbeda tempat tinggalnya. Rumah ini terlihat megah namun tetap memiliki sisi modernnya, memiliki taman yang luas, bahkan jalan dari gerbang menuju ke teras rumah saja butuh waktu 3 menit lamanya.
Keya keluar dari mobil dan berjalan masuk terlebih dahulu dengan paper bag di tangannya, rok gaunnya berayun-ayun di setiap gerak langkahnya. Ia berjalan menuju dapur, Juan mengikutinya dari belakang.
“Ngapain?” tanya Juan, ia berdiri bersilang d**a bersandar di sisi meja dapur.
“Nyangkul tanah, buat ngubur kamu,” ceplosnya asal-asalan saking jengkelnya.
Juan menyeringai lebar, dan terkekeh. “Emang kuat? Tangan kaya kayu kering gitu bisa nyangkul?” ejeknya.
“Heh, diam ya!” Keya sudah ancang-ancang ingin melempar spatula di tangannya.
“Eh, iya-iya, oke. Aku diam.” Juan merapatkan mulutnya dan mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah.
Keya mendengus, dan menaruh kembali spatula di tempatnya. Lalu ia beralih ke tujuan awalnya tadi, yaitu mengeluarkan kue dalam kotak transparan di dalam paper bag yang ia bawa tadi. Mata berbinar melihat kue itu.
Juan mendekat dan berdiri di samping Keya melihat kue itu sejenak, lalu ia berbalik mengambil dua sendok. Satunya ia berikan pada Keya.
Keya menerimanya namun ia memberi tatapan sinis. “Kenapa kamu ikut-ikutan bawa sendok juga?”
Laki-laki itu menarik kursi untuknya dan untuk Keya. Ia menarik lengan Keya agar gadis itu duduk, sebelum ia juga duduk di kursinya.
Kemudian ia berkata seakan seperti seorang guru. “Keya, ada manfaat jika suka berbagi. Yaitu menyenangkan hati dan pikiran. Jadi kita makan kuenya bareng, ya.”
Baru saja Juan mengulurkan tangannya, sudah di tepuk dengan sendok oleh Keya membuat ia meringis mengusap punggung tangannya.
“Enak aja, bagi-bagi. Tadi aja kamu rebut buah leci aku. Kue ini punya aku!” Keya menarik kue itu menjauh dari Juan.
Juan memelas, dan berkata manis. “Keya, please … kamu kan baik.”
“Baik doang gak kenyang!” sahut Keya, dan menyendokkan kue memasukkannya ke dalam mulutnya.
Juan merapatkan bibirnya ke dalam, menatap gadis itu gemas. “Oke, kalau gitu, besok pergi ke sekolah sendiri, gak usah minta antar aku!”
Keya mendongak, melotot menatap Juan beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dapur. “Kok, gitu?!”
“Juan!” Panggilannya tak di gubris oleh laki-laki itu. Membuat Keya merasa makin jengkel dengan sikapnya yang kadang kekanakan itu.
‘Umur doang bertambah, tapi masih sama aja kek bocah!’ batin Keya geram. ‘Kalau gak bareng dia, nanti aku plonga-plongo di sana gak tau siapa-siapa!’
Sebelum Juan mencapai luar area dapur, Keya akhirnya berseru. “Oke! Kita makan kuenya bareng!”
Mendengar itu Juan diam-diam tersenyum penuh kemenangan, sebelum mengubahnya dengan raut datar saat berbalik. “Oke, karena kamu yang maksa.”
Ia kembali menghampirinya. Dan duduk di kursinya yang tadi. Ingin sekali Keya melempar kursi ke wajahnya yang menyebalkan itu.
Seorang pelayan yang lewat dan sempat melihat keributan itu, sontak menggelengkan kepalanya dan tersenyum. ‘Sepertinya, rumah ini bakal kembali ramai lagi.’