Masih pagi, tapi rumah kediaman keluarga Dewantara ini sudah begitu ribut dengan kehebohan Keya yang sedang bersiap-siap.
Ia berjalan kesana-kemari mencari barang-barang yang ia perlukan untuk ke sekolah. Ya, ini hari pertama ia masuk sekolah, dan dia bangun terlambat.
Dia semalam begadang karena telponan dengan Mila sampai lewat jam satu malam.
Juan yang sudah siap menunggu di ruang tengah sembari bermain ponsel dengan santai, sambil makan sandwich buatan bibi Sinta.
Ia mendongakkan kepalanya ke kamar Keya yang berada di lantai dua, lalu berseru. “Key! Udah mau jam tujuh lewat, kamu mau aku tinggal?!”
Gadis itu melongokkan kepalanya keluar pintu, dan balas dengan tak kalah kuat. “Sabar, dong! Salah sendiri bangun kecepatan!” serunya, sebelum kembali masuk.
Juan sampai memutar tubuhnya menghadap ke belakangnya, tercengang dengan jawaban gadis itu.
‘Kenapa malah aku yang salah, anjir?’
Sebenarnya Juan berniat langsung berangkat duluan ke sekolah, tapi ia di beri pesan oleh papanya dan mama Weni agar menjaga Keya sebelum mereka berdua berangkat liburan bulan madu di Bali.
Juan berdecak dan menyandarkan kembali punggungnya ke sandaran sofa, menggigit sandwich terakhirnya. Ia melihat kembali ponselnya, dan malah mendapatkan postingan foto mesra dua orang dewasa itu di story insgram akun papanya.
Ia mencibirkan bibirnya, dan mengunyah sandwichnya dengan raut jengkel. “Nih, orang udah tua masih aja sok kayak anak muda.”
Juan mendengus melihat foto mesra mereka yang di posting di story insgram papanya.
Ia menaruh ponselnya di atas meja dengan posisi layar di bawah. ‘Pantesan pernikahannya minta di percepat, ternyata ini tujuan si bapak tua ini.’
Bentar aja, kok, Juan. Papa sama Mama Weni mau healing dulu sebelum di gempur pekerjaan kantor.
Juan memutar bola matanya malas ketika mengingat perkataan papanya sebelum berangkat. ‘Healing, healing apaan, palingan healing di kasur,’ batin Juan yang seakan tau betul jalan pikiran papanya itu.
Suara langkah kaki yang menggema dari arah tangga membuat Juan menoleh. Keya, gadis itu sudah siap dengan seragam sekolahnya yang baru dan tas di punggungnya. Rambutnya hanya ia ikat kuda, dengan jepitan bentuk pita di sisi rambutnya.
Dengan nafas ngos-ngosan Keya berjalan sempoyongan mendekat, lalu ia bersandar di sandaran sofa. “Aku … udah … selesai,” ucapnya sembari berusaha menstabilkan pernapasannya.
Juan menatapnya dengan alis terangkat sebelah. “Segitu capeknya kamu? Kayak habis di kejar ogoh-ogoh aja,” kata Juan heran.
Keya menggelengkan kepalanya dan melambaikan tangannya. “Udah … buruan, terlambat, nih.”
Juan berdiri mengambilkan dua potong sandwich, lalu memberikannya pada Keya. “Nih, makan, Bi Sinta yang buat. Dia buat banyak tadi.”
Keya menerimanya. “Kok, ngasih dua? Satu aja.”
Ia mengembalikan sandwich satunya, tapi Juan menahannya.
“Makan aja. Lambung mu di kasih satu sandwich doang paling berasa kek makan angin, alias gak kerasa kenyangnya,” ujarnya, seakan masih hapal kebiasaan makan gadis itu.
Meski awalnya menolak, Keya tetap menerima keduanya. Bahkan tangannya malah mencomot satu sandwich lagi.
“Ini bukan berarti aku rakus, ya. Aku cuma mau ngisi tenaga aja,” ucapnya beralasan, dan Juan hanya menatapnya datar.
‘Tuh, kan, apa ku bilang.’
Tak ingin berlama-lama, Juan mengambil kunci mobil dan ponselnya lalu berjalan keluar rumah dengan di ikuti Keya di belakangnya.
“Duh, masih pagi kok kayaknya udaranya udah panas, ya? Nanti AC nya kamu nyalain yang lebih dingin, ya,” pinta Keya sembari berjalan ke sisi mobil menuju tempat duduknya.
Juan menatapnya hampir jengkel. ‘Nih, cewek kalau gak bersikap seenaknya mungkin badannya biduran kali, ya.’
Selama perjalanan menuju sekolah, Keya sempatkan sarapan sandwich.
***
Lagi-lagi kedatangan mereka menjadi sorotan setiap mata para murid sekolah. Mereka lebih penasaran dengan hubungan keduanya, apalagi wajah Keya yang mestinya terasa asing bagi mereka.
Keya berjalan mengekori Juan dari belakang sambil sibuk merapikan poninya dengan cermin kecil di tangannya.
“Hei, Juan!” seru seseorang di antara kelompok murid laki-laki memanggil Juan.
Juan menoleh, dan melambaikan tangannya. Sebelum menghampiri mereka, Juan menarik tali ransel Keya, membuat gadis yang sedari tadi sibuk becermin itu terseret mengikutinya.
Keya masih belum sadar situasi dan masih asik becermin saat Juan menariknya untuk ikut menghampiri teman-temannya.
Di antara teman-teman Juan yang asik ngobrol, hanya satu laki-laki yang matanya sudah menaruh perhatian pada gadis yang di bawa Juan.
Saat yang lainnya sibuk bercanda, ia menceletuk. “Cewek mu?” tanya Regan.
Seketika mereka baru beralih melihat keberadaan Keya, sebelum menatap Juan meminta jawaban.
“Keyyanara Ishikana, namanya,” Juan memperkenalkan.
Merasa terpanggil, Keya mendongak dari cerminnya. Mata sedikit melebar, menyadari di mana sekarang ia berada, sudur bibirnya berkedut menampilkan senyum.
Juan mendesah singkat. “Yang aku ceritain pas itu.”
Mereka sontak kembali menatap Keya, memindai penampilan gadis itu dari ujung kepala hingga kaki sebelum serentak berseru.
“Ooohh! Si Adik tiri baru!”
Juan mengangguk membenarkan, Keya hanya tersenyum tipis meski dalam hatinya mengumpat karena sangat tidak ingin jadi adik Arjuan.
Salah satu dari mereka menceletuk. “Oh, yang kata kamu si jamet bau lepek itu?!”
Kata-kata lain masih bisa Keya terima, tapi sialan apa-apaan yang satu ini?
Keya menatap laki-laki itu dengan melotot tajam, begitu juga dengan Juan, laki-laki itu seakan berbicara lewat mata dengan temannya.
‘Yuto baj*ngan! Nih, bocah ngomong gak pakai mikir apa?!’ batin Juan emosi.
Menyadari kesalahannya, Yuto membungkam mulutnya dan mengalihkan pandangannya.
Tangan Keya terkepal kuat di kedua sisi tubuhnya, ia kini menatap tajam kepada laki-laki yang berdiri di sampingnya.
Sedangkan Juan ia sengaja mengalihkan pandangannya, dan mengatupkan bibirnya rapat. ‘Aku merasakan aura pembunuh di samping ku.’
Regan tersenyum ramah. “Keyyanara, ya?” tanyanya berusaha menenangkan suasana kembali.
Keya balas tersenyum, dan mengangguk. “Panggil Keya aja.”
“Keya? Hm … cocok sama kamu, sama-sama cantik,” ucap Regan dengan tatapan main-main.
Mata Keya sekilas melebar, sebelum menunduk tersenyum malu.
Teman-teman yang lainnya sontak menatap jijik laki-laki bernama Regan itu.
“Geli anjir, udah lah Gan!” Yuto menjepit leher Regan dengan lengannya. Mereka pun heboh mengejek Regan.
“Sorry, ya, Keya. Teman kita satu ini emang agak miring otaknya,” cetus Aren. Sebelum menyingkirkan Regan dan Yuto dari hadapan Keya.
Ia berdeham dan berlagak keren membenarkan kerah kemejanya yang sengaja ia buka kancing bagian atasnya, lalu ia sedikit mencondongkan tubuhnya sambil mengulurkan tangannya.
“Hai, manis. Aku Aren. Bolehkah laki-laki yang semanis gula aren ini bersalaman dengan mu?”
Lagi-lagi gombalan lain datang, bibir Keya sampai sedikit terbuka menatap laki-laki yang begitu percaya diri di hadapannya ini. Yuto sigap menarik kemeja Aren agar menyingkir.
“Kamu bilangin Regan otaknya miring, lah otak kamu lebih miring 360 derajat, anjir!” seloroh Yuto emosi melihat kedua temannya yang sama saja gilanya.
Di saat mereka bertiga begitu heboh, Juan malah melihat Keya dengan tatapan datar. ‘Sok malu-malu kucing, palingan dalam hatinya kegelian itu pasti.’
Bel sekolah berdering, menandakan waktunya masuk kelas. Murid-murid mulai menuju ke kelas masing-masing.
Keya menarik lengan Juan dan berjinjit untuk berbisik karena Juan lebih tinggi darinya. “Anterin aku dulu, aku gak tau jalannya.”
Juan menghela nafas gusar dan ia pun berpamitan dahulu pada teman-temannya sebelum pergi mengantarkan Keya menuju ruang guru.
Keya pun tersenyum tipis pada mereka sebelum berbalik pergi mengikuti Juan. ‘Anying, baru masuk udah di kasih gombalan murahan aja! GELI AKU TUH!!!’ batin Keya heboh.
Ternyata benar dugaan Juan, gadis itu hanya terlihat malu-malu kucing demi menjaga image-nya padahal dia sedang berusaha menahan rasa geli dan jijiknya dengan gombalan itu.
***
Untung saja Keya dapat wali kelas yang sangat baik. Meski tadi dia datang agak terlambat, guru itu tak memarahinya dan malah tersenyum ramah padanya. Menjelaskan dengan baik semua peraturan di sekolah dan di kelas.
“Pagi, anak-anak!” seru bu Disa, yang langsung di balas sapaan murid-murid kelas.
Keya mengikuti bu Disa, dan berdiri tak jauh di sampingnya, kehadirannya sudah langsung menjadi pusat perhatian dengan tatapan penasaran.
“Hari ini kita kedatangan murid baru,” ujar bu Disa, sebelum menepuk bahu Keya mengarahkannya untuk memperkenalkan diri.
Meski awalnya gugup, tapi Keya berusaha untuk terlihat tenang dan santai. Ia pun memperkenalkan dirinya dengan lebih ceria, agar tak di cap sombong saat awal pertemuan.
Untunglah ia mendapat sambutan cukup baik oleh mereka.
“Cantik banget … duh, jadi pengen ku cium,” ceplos seorang siswi sambil bertopang dagu menatap kagum Keya.
Mendengarnya Keya hampir saja menampilkan wajah gelinya, namun segera ia paksakan bibirnya tersenyum.
“Hoi, Neta! Tolong yang normal-normal aja,” sahut salah seorang murid lainnya.
‘Nah, benar tuh! Aku juga suka lihat cewek cantik, tapi gak sampai kepikiran pengen ku cium, njir!’ batin gadis itu geli sendiri.
Kemudian Keya memindai tatapannya melihat sikap para murid itu yang berbeda-beda dan heboh. ‘Hm, kenapa aku ngerasa familiar, ya melihat mereka?’
Ada yang saling mengejek, ada yang mengkompori, ada yang tiba-tiba jadi pemandu sorak, ada yang cuma tertawa, dan beberapa lainnya hanya diam menonton.
‘Ah, aku tau mereka kayak apa … kebun binatang!’ Keya mengangguk menyetujui pendapatnya sendiri.
‘Karena mereka sekolah di sekolah elite berarti ini jenis kebun binatang para bangsawan! Fiks, aku gak perlu sok anggun di sini, karena aku bisa jadi singa!’
Keya mengira, karena ini sekolah Elite, berarti harus menjaga sikapnya dan bersikap anggun. Tapi ternyata tidak. Ternyata sama saja hebohnya seperti sekolahnya yang dulu.