Sudah waktunya istirahat, murid-murid berhamburan keluar kelas, tapi Keya masih duduk diam di bangkunya.
Ia menunduk melihat ponselnya, alisnya mengernyit membaca pesan dari nomor tak di kenal.
‘Kamu gak bisa ninggalin aku gitu aja, Keya. Aku bakal cari kamu!’
Keya berpikir sejenak, kira-kira dia habis berbuat salah apa dengan orang lain. Kemudian ia mendongak dengan mata melebar.
‘Jangan bilang ini Erga?’ batin Keya panik.
Pasalnya Keya sudah mengganti nomor sebelum pindah, dan mengisi kontak barunya hanya dengan orang-orang terdekatnya saja. Jadi tidak ada nomor Erga lagi di ponselnya.
Ia melamun dan memikirkan hal-hal yang mungkin akan terjadi jika dugaannya benar.
Sampai tiba-tiba seseorang menepuk bahunya berhasil membuat ia sadar dan sontak menoleh kaget. “Ha!”
Ketiga siswi itu reflek berjengit kaget.
“Aduh, Keya … kaget banget sih cuma di pegang aja,” ucap siswi dengan rambut panjang yang di ikat dua rendah itu sambil mengusap d**a.
“Ngelamunin apa sih, sampai kayak gitu?” tanya siswi di sampingnya yang memakai kardigan warna biru muda.
Keya menghela nafas panjang, dan menyandarkan punggungnya. “Maaf, tadi aku lagi gak fokus jadi kaget.”
Siswi dengan rambut potongan pendek seperti laki-laki itu menepuk bahu Keya. “Udah, daripada ngelamun gak jelas, mending ikut kita. Makan di kantin bareng kita,” ajaknya.
Keya menatapnya, dan tanpa sadar matanya memindai penampilan gadis itu. Yang berbeda dengan siswi lain, gadis ini terlihat sedikit tomboy dengan jaket kulit hitamnya, kerah kemeja yang sengaja di buka bagian atasnya menampilkan kalung rantai peraknya.
‘Ah, dia perempuan yang tadinya bilang mau cium aku itu, ya?’ batin Keya mengingat.
Sadar akan maksud tatapan Keya, gadis itu menghela nafas singkat dan memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya.
“Iya, aku tomboy. Tapi bukan berarti aku lesbi, ya … aku masih suka cowok,” ucap gadis itu menjelaskan dengan santai.
Keya merapatkan bibirnya, sebelum tersenyum canggung. “Sorry, kelihatan banget ya aku lihatnya?”
“Santai aja, Keya. Sai emang suka bercanda gitu kok,” ucap siswi di sampingnya.
“Sai?” Keya menatap bingung.
Gadis tomboy itu mengulurkan tangannya. “Nama ku Saina Janettha, banyak yang masih panggil aku Neta tapi kalau bisa panggil aku Sai aja.”
Keya menerima uluran tangannya, dan tersenyum kecil. “Salam kenal, Sai.”
‘Unik juga nama panggilannya.’
Mereka pun berkenalan dahulu, sebelum kemudian mereka beranjak dari tempatnya keluar kelas menuju kantin.
Kini Keya tau, nama mereka. Gadis dengan rambut kucir dua itu bernama Renika Tivania, dan gadis rambut pendek bergelombang dengan kardigan birunya itu bernama Sera Violani.
Sepanjang jalan melewati lorong, tak sedikit tatapan penasaran dan kagum yang lebih di tunjukan pada Keya. Namun gadis itu sudah terbiasa, dengan tatapan-tatapan itu.
“Oh, jadi kamu dulu sekolah di Malang?” Sera bertanya sembari mengunyah makanannya.
Kini mereka sedang berada di kantin, dan makan di satu meja panjang.
Keya mengangguk membenarkan. “Iya, Mama pindah ke sini dan mungkin akan menetap di sini, ikut tinggal sama Papa baru.”
“Oh … Maksudnya Mama kamu nikah sama orang sini, makanya kamu ikut pindah?” Reni, gadis dengan rambut di kucir dua itu mengangguk mengerti.
“Ngomong-ngomong, nama Papa baru kamu siapa?” tanya Sai, tanpa mengalihkan perhatian dari makanannya yang ia santap.
“Roni Dewantara,” jawab Keya santai.
Sai mengangguk-angguk begitu juga dengan Reni dan Sera. “Oh, Roni Dewantara …” mereka terdiam, memikirkan nama yang terasa familiar itu.
Sontak ketiganya langsung mendongak menatapnya dengan mata melebar. “Hah?!”
Keya hampir tersedak karena kaget. “A-apa?”
Sera memajukan tubuhnya dan berbisik pelan, dengan ekspresi wajah penuh konspirasi. “Dewantara? Yang itu? Keluarganya si Arjuan Dewantara itu?”
Keya mengangguk kaku, dan sudut bibirnya bergetar menampilkan senyum paksa.
Ketiga gadis itu saling tatap, dan menatap Keya dengan mulut terbuka dan mata melebar. “Anjir, berarti kamu saudaraan tiri sama kak Arjuan?”
Keya menghela nafas panjang, dengan bahu turun. “Iya … adik tiri.”
Kemudian ia mencondongkan tubuhnya dan berbisik pelan. “Tapi, please … aku mohon banget, jangan kasih tau siapapun, ya?”
“Lah, kenapa?” Sai bertanya heran. “Bagus dong kalau mereka tau, biar gak ada yang berani gangguin kamu.”
Keya menggelengkan kepalanya. “Enggak mau … aku gak mau banget sebenarnya saudaraan sama si tengil itu.”
“Tengil? Kak, Arjuan tengil? Yang benar aja kamu Keya … cowok sedingin kulkas di tambah tumpukan salju dari Antartika itu kamu bilang tengil?” Reni menggelengkan kepalanya menatap tak percaya Keya.
Sera menusuk daging ayamnya dan memasukkannya ke dalam mulutnya dengan gerakan tak santai.
“Aku trauma sama tuh cowok. Diam iya diam, tapi sekali ngomong tajam banget ngalahin jarum susuk. Cukup sekali aku denger dia ngomong, aku gak mau lagi dekat-dekat tuh cowok,” ucap Sera jengkel mengingat kenangan pahitnya yang pernah kena sasaran omongan pedas Arjuan.
Keya diam sejenak, melamun berpikir. Benar juga kata mereka, setelah dia melihat sendiri acara pernikahan mamanya yang megah tapi private itu. Keluarga Dewantara pasti memiliki reputasi yang berpengaruh.
‘Di pikir-pikir, pintar juga Mama cari suami,’ batin Keya sambil mengangguk-angguk.
Tapi meski begitu, apa-apaan dengan citra yang di miliki Juan? Apa katanya, sedingin kulkas?
Keya mendengus dan bersandar di punggung kursi. ‘Cowok tengil nyebelin kayak gitu, apanya yang dingin anjir? Itu mah bukan dingin, tapi anying!’
***
Juan pikir Keya bakal kesulitan saat pertama sekolah di sini, tetapi ternyata gadis itu sudah memiliki banyak teman.
Di waktu istirahat ke dua, kini ia sedang berada di kantin dengan teman-temannya.
Dari jauh tempat Juan dan teman-temannya berkumpul di satu meja panjang, dia bisa melihat ke meja yang Keya tempati.
Gadis itu di kerumuni banyak murid. Mereka melontarkan banyak pertanyaan dengan tatapan penuh penasaran. Padahal baru sehari ia berada di sini, tapi ia sudah punya banyak teman.
“Yah, ku akui sih, dia emang cantik dan menarik. Gak heran banyak yang tertarik dekat sama dia,” cetus Yuto melihat Keya di tengah kerumunan itu, sebelum kembali menyantap makanannya.
Regan dan Aren mengangguk setuju. Kemudian Regan menatap Juan yang duduk di hadapannya, ia tersenyum jahil dan bersiul kecil memanggil temannya itu.
Juan yang sedari tadi melihat ke tempat Keya, sontak menoleh sembari berdeham.
“Boleh lah, Juan,” ucap Regan dengan nada main-mainnya dan kedipan matanya.
Melihatnya, Juan menatap jijik dengan alis terangkat sebelah. “Apaan?”
Laki-laki itu mencondongkan tubuhnya. “Boleh lah, jadi adik ipar kamu,” cetus Regan, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Juan.
“Najis,” ceplos Juan.
Bukannya takut, Regan malah tertawa renyah. Memang dasar otaknya yang sudah gesrek.
Aren merangkul pundak Juan dan menyugar rambutnya ke belakang dengan gayanya yang sok keren. “Kalau aku, Juan? Lebih cocok, kan?”
Juan menoleh tajam, tangannya sudah ancang-ancang memegang kotak tisu.
Aren yang melihatnya langsung menggeser pantatnya menjauh. “Oopss, ada yang marah. Janganlah marah-marah Mas Juan, adek Aren kan cuma bercanda~” godanya.
“Udah, Ren! Aku yang jijik dengarnya,” ceplos Yuto sembari membuat gerakan seakan ingin muntah.
Saat kelompok mereka sibuk bercanda tawa, yang bahkan bisa di bilang mereka paling ribut di kantin itu, tiba-tiba terdengar suara keras yang membuat mereka terdiam dan sontak menoleh kaget.
Gedebuk!
Juan sampai berdiri dari tempatnya. Mata melotot melihat Keya sudah terkapar di lantai.
Gadis itu meringis dan terduduk memegangi lututnya yang terantuk lantai. Ia tadi baru ingin berjalan pergi dari sana, tapi ia tersandung sesuatu membuat ia terjatuh ke depan.
“Ya ampun, Keya!”
Sera, Reni, dan Sai gercep membantunya. Keya berdiri dengan bantuan mereka, kemudian matanya menangkap tatapan menghina dari salah satu siswi yang duduk di dekatnya.
Ah, Keya tau, pasti gadis itu yang sengaja menjulurkan kakinya sehingga ia tersandung dan terjatuh.
“Kamu gak papa?” tanya Reni khawatir, mengusap-usap seragam Keya yang kotor terkena debu.
Keya tersenyum. “Gak papa.”
Ia melihat sekeliling, ada yang menatap simpati ada juga yang seperti sedang menahan tawa, bahkan ada yang terang-terangan saling berbisik mengejeknya.
Seorang siswi yang bertatap mata dengan Keya tadi menceletuk tajam. “Aduh, kalau aku jadi dia malu, tuh!”
Keya mendengus sebal, ia bersilang d**a dan berjalan menghampirinya dengan tertatih-tatih. Sampai akhirnya ia berdiri di samping siswi itu.
“Aduh … kelihatan banget ya irinya, sampai jegal kaki orang. Emang kamu kira aku gak lihat, kalau kamu sengaja jegal kaki aku? Hah?!” sengak Keya tak mau kalah.
Siswi itu mendongak dengan tatapan tak suka. “Siapa yang iri? Lagian salah kamu sendiri jalan gak pakai mata!”
“Hah? Pakai mata?” Keya melangkah ke depan sampai tepat di hadapan siswi itu, ia kemudian berkacak pinggang.
“Heh, di mana-mana orang jalan itu pakai kaki, bukan pakai mata! Pasti nilai bahasa Indonesia kamu rendah, ya?” cetus Keya.
Reni menarik lengan Keya dan berbisik. “Udah, Keya, dia itu Bella Adelitya. Siswi paling famous di sini.”
Keya memindai penampilan siswi bernama Bella itu dari atas sampai bawah. Kemudian berdecih. Dia baru ingat, dia adalah siswi yang saat itu mengejar Juan.
Dengan senyum mengejeknya Keya mencondongkan tubuhnya, tangannya bertumpu di tepi meja tempat Bella. Kemudian dia berkata pelan.
“Famous tapi … berhasil dapatkan Juan, gak? Di lihat-lihat, Juan bahkan gak ada niatan tuh sama kamu? Gak bisa, ya?” tanyanya menantang.
Tak terima dengan perkataannya, Bella berdiri sambil memukul meja dengan telapak tangannya, membuat suara yang cukup keras.
Brak!
“Gak usah sok tau!” teriak Bella marah.
Dari jauh Juan memijat pelipisnya. ‘Nih, cewek gak ada berubahnya, ya? Suka banget cari perkara. Ini kalau dia kenapa-kenapa, aku juga yang kena omel nantinya,’ batin Juan.
Keya tersenyum meringis dan sedikit mundur, waspada kalau sampai gadis di depannya mengamuk dan melempar piring ke mukanya.
‘Padahal tadi niat ku mau pergi dengan cantik, tapi nih curut bisa-bisanya jegal kaki aku, kan jadi hilang cantiknya!’ batin Keya menatap sengit gadis di depannya.