Setelah jatuh tertelungkup di depan banyak orang di kantin, sekarang lagi-lagi Keya menanggung malu lagi karena terpeleset di depan dua cogan!
Tadi ia sudah menyelesaikan masalah yang ia buat dengan Bella yang membuat mereka berakhir masuk ruang BK, dan di hukum buat surat saling minta maaf. Karena hal itu mereka hampir ketinggalan pelajaran terakhir.
Keya yang tak mau ketinggalan pelajaran pun berlari melewati lorong yang telah sepi. Karena panik ia jadi tak sadar ada kulit pisang di depannya, ia memijaknya dan berakhir terpeleset jatuh ke belakang.
Bruk!
“Aduh … p****t ku …” adunya meringis sembari tangannya memegangi bawah pinggulnya.
‘Udah jatuh ke depan, sekarang gantian jatuh ke belakang. Hari ini kenapa sial banget, sih!’
Beruntungnya Keya karena dia jatuh saat semua murid sedang di kelas, dan dia berada di lorong yang sepi.
Eh, tidak, sepertinya tadi ia jatuh bertepatan dua orang murid muncul dari tikungan lorong.
Keya baru ingat, dia langsung mendongak.
“Keya?”
Zean dan Juan menatapnya kaget.
Keya menggigit bibirnya, menunduk menahan malunya. ‘Anjir, kenapa malah mereka?’
Zean gercep membantu Keya berdiri, sedangkan Juan mengalihkan pandangannya dengan tangan menutup setengah wajahnya. Bahunya terlihat bergetar, dan Keya jelas tau laki-laki itu sedang menertawakannya.
‘Juan, sialan!’ batin Keya kesal.
“Kamu gak papa? Kok, bisa jatuh?” tanya Zean sembari tangannya membantu menahan bahu Keya agar gadis itu bisa berdiri bersandar padanya.
“Ee … itu, kaki ku mijak sesuatu.” Keya menunduk mencari-cari.
Mata Zean langsung menangkap sampah kulit pisang yang sudah penyet di lantai. “Ah … kamu mijak itu?”
Keya melihat dan mengangguk dan tersenyum kikuk. “Hehe, kayaknya iya.”
‘Kurang ajar! Siapa sih yang buang kulit pisang sembarangan?! Mentang-mentang ku kasih julukan kebun binatang bangsawan, jangan buang sampah sembarangan kayak hewan beneran, dong!’ batin Keya mengomel.
“Lain kali hati-hati, ya. Kamu terburu-buru jadinya gak sadar ada kulit pisang yang kamu injak,” ujar Zean.
Juan menatapnya sejenak sebelum beralih menatap Keya. Ia kemudian bersilang d**a dan bersandar ke dinding, dengan senyum miringnya.
“Kayaknya kamu secinta itu ya sama lantai, ya? Tadi udah jatuh ke depan, sekarang gantian ke belakang? Biar imbangnya?” ucap Juan. Nadanya terdengar tenang, tapi tetap terdengar menyebalkan.
Keya mendengus kasar. “Diam ya, Juan. Gak usah ngejek, kayak gak pernah kepleset di tengah lapangan pas upacara aja,” balasnya sengit.
Mendengarnya, Juan sontak melotot. Seakan berbicara lewat matanya, ia seperti berkata. ‘Jangan bocorin, anjir!’
Mengerti tatapan itu, bukannya takut Keya malah menyeringai menantang.
‘Apa? Kamu pikir aku udah lupa semua kelakuan memalukan mu? Hah, tidak bro!’
Zean menatap keduanya bergantian, lalu ia berdiri di tengah. Menengahi mereka.
“Oke-oke, stop. Keya mendingan kamu sekarang balik ke kelas, pelajaran udah di mulai dari tadi,” ujar Zean mengingatkan.
Seketika Keya kembali mengingat tujuannya, ia menepuk jidatnya.
“Oh, iya, lupa! Gara-gara kamu sih, Juan!”
Keya pun berjalan tertatih-tatih sambil memegangi pinggangnya.
Zean dan Juan yang melihatnya pun serempak berseru. “Bisa jalan sendiri?”
Kedua laki-laki itu pun saling tatap dengan tatapan tak suka.
Sedangkan Keya hanya melambaikan tangan tetap berjalan membelakangi mereka. “Bisa kok!”
Setelah gadis itu jauh, barulah kedua laki-laki itu menggeser tubuhnya saling berhadapan.
“Sekarang jawab, untuk apalagi tujuan mu dekati dia?” tanya Juan seperti sedang menginterogasi.
Zean mengalihkan pandangannya sejenak untuk tersenyum, sebelum kembali menatapnya.
“Gak ada alasan. Cuma tertarik aja. Gak boleh?” tanyanya, tapi sorot matanya seakan menantang.
Juan menghela nafas singkat, ia memasukkan kedua tangannya dan mengikis jarak sampai jarak mereka hanya satu langkah.
“Hm, terserah mu, sih. Tapi sebelum itu aku mau kasih kau saran.”
Juan mencondongkan tubuhnya dan berbisik. “Lebih baik pikirkan lagi niat mu, karena asal kau tau Zean. Meski Keya terlihat seperti gadis ceria dengan hati lembut, dia gak mudah jatuh cinta.”
***
Di atas langit, masih ada langit. Di bawah tanah, masih ada tanah. Kalau kata Mila, jangan terlalu sombong karena masih ada orang yang lebih hebat dari kita, dan jangan terlalu rendah diri karena masih ada orang yang lebih pantas di rendahkan daripada di kasihani.
Nah, contoh wujud orang dari kata terakhir Mila itu, kini berada tepat di hadapan Keya.
Keya berdiri tegak dan bersilang d**a, menatap siswi yang terduduk lemah di hadapannya. Ia bahkan tak berniat sedikit pun untuk membantunya, malah lebih memilih melihat kuku-kuku cantiknya.
“Aduh … sakit! Keya, kamu kenapa sih dorong aku gitu? Kamu benci banget ya sama aku?” dengan nada suara yang di sengaja keras untuk di dengar murid-murid di sekitar, Bella berakting dramatis kesakitan.
“Kayaknya kaki aku keseleo, lutut ku juga sakit! Gimana kalau tulang kaki aku patah gara-gara kamu!”
Seharusnya sudah waktunya pulang, tapi sebagian murid lebih memilih untuk mengurungkan niatnya dan berdiri menonton.
“Ya, ampun … ini kenapa lagi, ya?”
“Astaga, drama tadi belum selesai?”
“Ini sambungan drama di kantin, kah?”
Berbagai bisikan saling mereka lontarkan. Drama pulang sekolah? Sayang sekali untuk di lewatkan. Begitulah pikir para murid itu.
Juan dan teman-temannya datang menyempil dan berdiri paling depan untuk melihat apa yang terjadi.
“Aduh … sakit, ya?” balas Keya sembari berkacak pinggang dan membungkukkan tubuhnya.
Tentu ia lakukan itu agar bisa lebih leluasa mengejek gadis itu.
Bella mendengus kasar, baru saja ia ingin membalas tapi saat matanya melihat Juan, seketika ia kembali meringis kesakitan sambil memegangi lututnya.
Keya melihat arah matanya, kemudian menyeringai. Ia pun menarik tubuhnya, berdiri seperti semula.
‘Hm … mau main drama princess di tolong pangeran nih ceritanya? Hah! Nih, ku ajarin akting yang sebenarnya itu gimana.’
Tiba-tiba Keya meringis sambil memegang kepalanya. Tubuhnya bergerak sempoyongan, seperti sedang mencari pegangan. Semua pun beralih menatapnya heran.
“Sss … aw, kepalaku … “
Lalu, tubuhnya ambruk, yang langsung membuat orang sekitar heboh.
“Eh, Keya?!” Sai yang masih di dekat sana, gercep mengangkat kepala Keya untuk ia taruh di pangkuannya. Agar tak sakit terkena lantai aspal.
Juan datang dan menepuk pelan pipi Keya. “Key?” panggilnya, namun tak ada jawaban.
Ia pun berdecak dan tanpa basa-basi ia mengangkat tubuh Keya dengan mudah. Sontak pemandangan itu langsung mendapat sorakan heboh dari para murid.
Bella ter patung di tempatnya, mulutnya ternganga menatap tak percaya. Segera ia berdiri saat Juan mulai melangkah.
“Juan! Kenapa kamu gendong dia?!” serunya tak terima.
Juan berhenti dan menoleh menatapnya sinis. “Cepat juga sembuh kakinya. Tulangnya bisa nyambung sendiri, ya?” cetus Juan sarkas.
Tak ingin membuang waktu, Juan berjalan pergi dari sana dengan Keya dalam gendongannya.
Keya mengintip Bella dari balik bahu Juan, lalu dengan isengnya ia mengedipkan matanya sebelah sebelum kembali melanjutkan sandiwara pingsannya.
Bella yang menyadari hal itu seketika tercengang, mulutnya terbuka, tak dapat berkata lagi. Ia mencak-mencak di tempatnya dan berseru marah.
“Cewek SIALAN!!!”
***
Setelah menaruh Keya dengan aman di kursi penumpang, Juan berlari ke sisi mobil menuju kursi pengemudi.
Ia langsung duduk dan baru saja ingin memakaikan sabuk pengaman untuk Keya. Sontak ia berdecak, kala mendapati gadis itu kini sedang bercermin di kaca spion dalam mobil.
Juan menatap gadis yang asik merapikan rambutnya itu dengan datar.
“KEYAAAA!” teriak Juan emosi.
Keya terperanjat kaget sampai menempel ke pintu mobil. “Apa, sih, MONYET?!”
“Pakai nanya. Kamu ngapain sih tadi? Pakai acara pura-pura pingsan segala!”
Bahu laki-laki itu naik turun menahan rasa kesalnya yang seakan hampir meledak.
Sedangkan gadis itu malah bersikap santai. “Elah, santai aja lah. Itu namanya taktik cewek cakep!”
“Mata mu jajar genjang! Kamu bikin khawatir, bocak taik!” sembur Juan sebal.
Juan bisa sabar, bisa tenang, tapi ada kalanya ia juga bisa kesal dan marah. Meski marahnya tak begitu berlebihan.
“Ih, kok kasar, sih?!” Keya berkacak pinggang menggeser tubuhnya menghadap Juan.
“Orang dia duluan yang mulai! Mau fitnah aku depan banyak orang, yaudah aku balas!”
Juan menghela nafas panjang, dan memijat pelipisnya. “Masalahnya, ini baru hari pertama kamu sekolah, Keya … hari pertama, anjir! Udah buat heboh aja!”
“Heee … itu lah, kamu gak tau. Ini itu persaingan antar cewek!”
“Tapi tetap aja, emang mesti harus pura-pura pingsan?”
“Aku lebih kaget kalau kamu percaya,” ucap Keya santai.
Juan menghela nafas untuk kesekian kalinya, sembari menyandarkan punggungnya.
‘Gimana gak percaya, orang dulu kamu emang sering pingsan karena daya tahan tubuh mu lemah,’ batin Juan menatap Keya datar.
“Gak usah lihat-lihat gitu. Ini tuh prinsip aku,” kata Keya.
Juan menaikkan sebelah alisnya. “Prinsip apaan?”
“Kalau di ganggu mesti di balas dengan elegan,” ucap Keya dengan dagu terangkat dan seringai tipis.
Keya diam sejenak memberi jeda sebelum berucap. “Prinsip Princess.” Ia berucap sembari menyibakkan rambutnya ke belakang bahunya.
Juan menatap datar. “Iya, prinsip si paling princess!”