Bina mencoba menghubungi Al beberapa kali namun tidak ada sahutan sama sekali, panggilan itu terhubung namun Al tidak mengangkatnya, membuat Bina berpikir yang tidak-tidak. Di tengah banyaknya orang Bina tidak mengenal siapapun, Bina datang karena ikut bersama dengan Al tapi kini Aku meninggalkan dirinya untuk waktu yang lama tanpa tahu kemana perginya Al.
Awalnya bina masih bertahan di tempatnya karena dia tidak ingin ketika Al kembali, Al tidak menemukan dirinya di tempat namun Bina tidak bisa bertahan lagi di tempatnya ketika Al sudah pergi terlalu lama. Bina bangkit untuk mencari kemana kekasihnya pergi, Bina mencari kemana-mana di seluruh gedung ini namun tidak menemukan keberadaan Al di manapun.
"Sebenarnya kamu pergi ke mana Bang?" gumam Bina di dalam hatinya.
Tempat ini begitu ramai membuat Bina sulit bergerak dengan leluasa. Bina mendengar jika acara ijab qobul segera dilakukan, MC sudah memulai acara tapi Bina belum melihat batang hidung kekasihnya.
"Apakah dia pergi ke toilet?" Bina tanpa banyak pikir langsung pergi ke toilet namun dia tidak menemukan siapapun di toilet pria. Bina kembali menghubungi Al sambil kembali ke tempat acara, sesampainya di sana Bina sudah mendengar mempelai wanita melakukan qobul dengan suara lantang dan percaya diri.
"Saya terima nikahnya Oktavalica Harlis Natasya binti Muhammad Ishaq dengan seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar 3 juta di bayar tunai."
"Sah?" tanya sang penghulu kepada saksi.
"Sah ...," jawab saksi itu di lanjutkan oleh para undangan.
Setelah itu doa pun di panjatkan, semua orang mengangkat tangannya untuk mendoakan mempelai untuk kesejahteraan keluarga mereka. Namun hanya Bina yang tidak melakukannya, dia terpaku di tempatnya, ini bukan pertama kalinya Bina melihat prosesi pernikahan namun ini untuk pertama kalinya dia melihat laki-laki yang dia cintai yang sejak tadi dia cari duduk manis bersanding dengan mempelai wanita dan mengucapkan qobul di depan sang penghulu.
"Pasti aku hanya salah melihat," ujar Bina sambil tersenyum lebar namun matanya tidak dapat berbohong, air matanya jatuh begitu saja dari sudut matanya ketika dengan sangat jelas dia melihat Al menggunakan pakaian pengantin dan melakukan ijab qobul dengan sangat lancar.
Bina berpegangan pada dinding untuk menopang tubuhnya yang akan ambruk, dia tidak pernah menyangka jika dia melihat pemandangan ini. Laki-laki yang dia cintai di depan matanya menikahi wanita lain tanpa mengucapkan sepatah katapun dan mereka melakukannya tanpa beban. Bina ingin tidak mempercayai pengelihatannya sendiri namun Bina masih memiliki pengelihatan yang bagus dan pendengaran yang normal.
"Apa salahku padamu Bang?" tanya Bina sambil melihat Al dari kejauhan.
Tanpa sadar kaki Bina berjalan ke arah tempat Al melakukan ijab qobul, mereka masih mendengarkan sang penghulu memberikan wejangan pra nikah untuk Al dan Valica. Bina berjalan tepat di belakang punggung penghulu yang dapat di lihat dengan jelas oleh Al dan Valica. Bina berhenti mendekati mereka, selain tempat itu penuh dan Bina tidak dapat mendekat. Bina juga sudah tidak mampu lagi berjalan lebih jauh ke arah mereka. Namun Bina memastikan jika Al dan Valica bisa menyadari keberadaannya.
Bina memiringkan kepalanya memandang lekat-lekat pada Al yang di pisahkan oleh banyak orang di antara mereka saling bertatapan, ada sejuta pertanyaan yang ada di otak Bina dan di mata Al ingin memberikan penjelasan pada Bina hanya saja tempat dan waktu yang tidak memberikan mereka kesempatan itu. Al bisa melihat dengan jelas bagaimana Bina sangat terpukul dan syok.
"Kamu jahat," ucap Bina pada Al namun hanya gerakan bibir saja tapi Al bisa melihatnya dan mengetahui apa maksud Bina.
Bina memerhatikan terus ke arah Al dan Valica. Dua sahabat itu kini sudah sah menjadi pasangan suami istri dan menganggap Bina seperti orang yang tidak memiliki perasaan. Tangan Bina bergetar dan tiba-tiba kesulitan bernapas, dia tidak siap menerima kenyataan ini, tubuhnya terhuyung hampir jatuh, untung saja Bina masih bisa berpegangan ke dinding yang tidak jauh darinya hingga dia bisa mempertahankan kakinya tetap berpijak di lantai. Namun itu tidak banyak membantu karena kaki dan tangannya masih bergetar hebat dan kesulitan bernapas. Dengan merayap berlahan Bina keluar dari tempat bahagia itu, dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang, dadanya begitu penuh dan dia tidak memiliki seseorang untuk bersandar saat ini.
Setelah berjalan beberapa saat akhirnya Bina menyerah, dia ambruk di kursi yang ada pinggir trotoar. Tangannya semakin bergetar hebat tak terkendalikan di tambah Bina berkeringat hebat membuat keadaannya begitu kacau, beberapa waktu yang lalu dia nampak cantik dengan riasan tipisnya tapi kini semuanya sudah hancur karena keadaan Bina saat ini, air matanya terus menetes bagai gelombang tak tau ujungnya.
"Ibu, aku butuh ibu sekarang," ucap Bina dengan suara bergetar.
Ini bukanlah pertama kalinya Bina mengalami hal seperti ini, satu tahun yang lalu Bina mengalami hal yang sama ketika dia pergi bersama dengan Al, Bima mendapatkan panggilan dari nomor yang tidak di kenal.
"Apakah ini putri dari bapak Ramdi?" tanya seorang wanita di ujung panggilan.
"Iya benar," jawab Bina.
"Kami dari pihak rumah sakit ingin menginformasikan jika saudara Ramdi mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat dan sekarang ada di rumah sakit Sukma Jayapura."
Ponsel yang ada di tangan Bina langsung terjatuh dan kakinya bergerak, dadanya tiba-tiba sesak seperti terkena serangan jantung. Untung saat itu masih ada Al di sampingnya yang menemani Bina sana merawatnya. Semenjak saat itu Bina memiliki ketakutan dengan nomor yang tidak di kenal, Bina mengganti nama kontak yang ada di ponselnya dengan nama lengkap mereka tidak terkecuali ibu dan kekasihnya, itu dia lakukan untuk menenangkan hati Bina sendiri. Nomor siapapun yang Bina simpan harus dengan Nama asli dan lengkap jika Bina hanya mengetahui nama panggilannya Bina harus menambahkan alamat atau nama sekolahnya.
Saat ini ponsel Bina berdering dan menunjukkan nama lengkap Al yaitu Ibrahim Al Khadafi namun Bina tidak sanggup mengangkatnya, tangannya masih bergetar dan dia tidak kesulitan bicara, untuk melihat ponselnya sendiri saja Bina tidak ingin, saat ini Bina masih menenangkan dirinya sendiri dari gejala fobia yang di alami, begitu banyak jenis fobia di dunia dan sepertinya Bina mengidap salah satunya.
Gejala fobia Bina pernah muncul ketika mendapatkan kabar meninggalnya Ayahnya yang mendadak dan tidak pernah muncul setelahnya dan kini gejala fobia itu muncul lagi ketika Bina mendapatkan kabar buruk lainnya yang mengguncang dirinya. Namun perbedaannya sekarang Bina sendiri tidak memiliki siapapun di sampingnya untuk menghiburnya ataupun menenangkan dirinya.
Bina tidak tahu sudah berapa lama dia duduk di taman sendirian hingga malam tiba Bina masih ada di sana, sesekali dia melihat ponselnya yang ada di sampingnya terus berbunyi dari waktu ke waktu menunjukkan nama-nama orang yang dia kenal namun tidak satupun dari mereka yang Bina angkat bahkan panggilan dari ibunya sendiri.
Tidak hanya ibu, Al dan teman-temannya, Bina juga melihat nama Oktavalica Harlis Natasya juga terlihat di layar ponselnya, orang lain saja tidak di angkat oleh Bina apalagi wanita yang sudah merebut Kekasihnya. Pada akhirnya panggilan itu berakhir ketika ponsel Bina kehabisan daya hanya warna hitam yang dapat di lihat oleh Bina tidak ada yang lain.
Perlahan Bina mengusap wajahnya dengan punggung tangannya sendiri, membersihkan riasan di wajahnya dengan tangan kosong, matanya bengkak dengan rambutnya yang kusut, Bina seperti seseorang yang di usir dari rumah oleh orang tuanya padahal dia sendiri yang enggan pulang untuk saat ini, Bina hanya ingin sendirian tidak ingin bicara kepada siapapun. Apalagi dikasihani, Bina samasekali tidak menginginkan hal itu.
"Bina."
Bina melihat ada sepasang sepatu di sampingnya tanpa mengangkat pandangannya, Bina bisa menebak pemilik sepatu itu dan suara yang memanggilnya, Bina menutup matanya perlahan kemudian mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang ada di sampingnya. Bina tersenyum getir dengan keadaannya yang memperhatinkan, matanya tiba-tiba kembali berkaca-kaca dan Bina langsung menarik pandangannya karena tidak ingin menunjukkan air matanya pada Al.
"Ibu mencari mu, aku akan mengantarmu pulang," ujar Al sambil meraih lengan Bina.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri," jawab Bina sambil beranjak bangkit dari tempatnya duduk.
"Aku yang mengajak mu pergi, aku juga yang akan mengantar mu pulang."
"Benarkah?" tanya Bina sambil tersenyum namun senyuman itu penuh ejekan.
"Memangnya kamu siapa?" imbuh Bina, "Maaf Bang kamu suami orang sekarang aku tidak ingin di sebut perebut suami orang nantinya."
Bina pergi, dia berjalan dengan langkah kecilnya untuk pulang, Al mengejarnya dari belakang dan meraih tangan Bina.
"Lepaskan aku," ujar Bina dengan suara rendah.
"Aku ingin menjelaskan semuanya, tolong pulanglah bersamaku dan kita bicara di mobil," ucap Al.
"Lepaskan aku," jawab Bina masih dengan suara rendah.
"Aku ingin memberi penjelasan padamu."
"Lepaskan aku!" Bina membentak Al dengan suara kasar.
"Ok, baiklah. Baiklah. Tapi ... Bina, aku harap kamu tidak marah padaku."
"Tidak siapa yang marah padamu? Aku tidak menyalahkan mu, aku juga tidak meminta penjelasan tentang semua ini padamu, jadi pergilah aku bisa mengurus diriku sendiri."
Bina kembali berjalan namun Al menarik tangannya dan membawa Bina dalam pelukannya.
"Maafkan aku," ujar Al sambil memeluk tubuh Bina erat membuat Bina kesulitan untuk melepaskan diri.
"Aku tidak berniat untuk menyakiti mu," imbuh Al, memeluk gadis yang sudah dia kencani selama satu tahun lebih.
"Lepaskan aku, akuu bilang lepaskan. Sebelum aku bicara kasar!"
"Aku tahu aku bersalah tapi aku terpaksa melakukan hal ini."
"Apakah Valica memaksamu?" tanya Bina dengan tegas, dia berhenti memberontak di dalam pelukan Al.
Karena Al tidak kunjung menjawab pertanyaan yang di ajukan Bina, Bina kembali mengulang pertanyaan dengan sangat kasar.
"Apa wanita yang kamu anggap sahabat mu itu memaksa mu untuk mengawininya?" ucap Bina begitu keras di pelukannya.
Al tidak ingin jujur karena kejujurannya akan menyakiti Bina tapi Bina bersikeras untuk mengetahui jawabannya. Dengan terpaksa Al mengelengkan kepalanya dengan lesu.
"Bicaralah, aku tidak bisa melihat mu," ucap Bina.
"Tidak ada yang memaksa ku," ujar Al masih memeluk Bina.
"Itu berarti itu kemauan mu sendiri?" Bina memastikan.
"Ya."
"Ha ... ha ... haa ...," Bina tertawa begitu lantang membuat Al binggung tapi juga prihatin, perlahan Al mengendurkan tangannya untuk melihat wajah Bina yang tertawa terbahak-bahak.
"Kamu ingin di sanjung karena sudah menjadi pahlawan untuk sahabat mu," ujar Bina sambil memukul d**a Al ringan dengan genggamannya yang tidak bertenaga.
"Tentu saja kamu akan sangat berjasa dalam kehidupan mereka, terlebih kamu sudah menjalin hubungan baik dengannya sejak kecil dan juga keluarganya. Jika di bandingkan denganku, aku bukanlah apa-apa, kamu tidak perlu ragu dan berpikir ulang untuk mengorbankan aku. Karena aku hanyalah anak kemarin sore yang tidak memiliki masa depan dengan hubungan kita. Aku hanya mainan untukmu, aku tidak ada bedanya hanya mainkan untuk mu Ibrahim Al Khadafi iii ...."
Air mata itu kembali tumpah, Al tidak tega melihat Bina yang seperti ini, dia mengusap air mata di wajah Bina namun di Bina menampiknya.
"Jauhkan tanganmu! Aku bisa melakukan semuanya sendiri sekarang!" Bina mendorong dengan kuat d**a Al hingga dia bisa lepas dari dekapan Al.
"Bina, aku melakukannya karena aku hanya ingin menyelamatkan kehormatan Valica."
"Dengan mengorbankan perasaan ku? Apa kamu pikir aku masih muda tidak memiliki perasaan? Ini hati bagai di sayat, Bang?"
"Maafkan aku," ucap Al lagi dengan kepalanya terkulai sangat menyadari akan kesalahannya.
"Setidaknya bicaralah padaku sebelum mengambil keputusan sebesar ini Entah apa tanggapan yang akan aku berikan setidaknya bicaralah padaku sebelumnya, aku juga punya perasaan, aku sudah lama menjalin hubungan denganmu meskipun itu tidak bisa di bandingkan dengan sahabatmu itu."
Al tidak membantah, dia mendengarkan Bina yang sedang mengeluarkan semua isi hatinya.
"Apa kamu takut jika aku akan mengacau jika Abang bicara dulu padaku?"
"Tidak, bukan itu. Aku juga tidak berpikir sampai ke sana. Keadaan yang membuatku tidak bisa berpikir dengan jernih."
"Karena memang dari awal kamu memang sudah merasa nyaman dengan Valica hanya saja dia tidak membalas cintamu, hingga aku hanya pelarianmu dan sekarang ketika ada kesempatan Abang langsung tancap gas tanpa berpikir jika pelarianmu ini juga memiliki hati yang harus di jaga keutuhannya."
"Bina ...?!" panggil Al sambil melangkah ke depan untuk meraih Bina lagi.
"Cukup Bang, aku tidak ingin mendengar apapun sekarang darimu!"
Bina berlari menjauh dari Al, Dia bahkan meningkatkan alas kakinya untuk bisa berlari lebih kencang meninggalkan Al di belakangnya. Namun Al seorang laki-laki yang memiliki kekuatan dua kali lipat lebih banyak dari Bina tentu itu tidak akan sulit bagi Al untuk menangkap kembali Bina.
"Bina jangan berlari kamu gampang jatuh!"
Baru saja Al memperingatkan Bina, Bina sudah jatuh tersungkur di jalan, Al cukup mengenal Bina yang tidak bisa berlari karena dia begitu ceroboh akan jatuh. Saat Al akan membantu Bina yang tersungkur di jalan, Bina masih mempertahankan egonya.
"Dagu mu berdarah," ucap Al panik saat mendapati dagu Bina yang terluka karena jatuh.
"Ini hanya luka kecil Bang, andai saja kamu tahu luka seperti apa luka yang aku miliki di hatiku aku pastikan namun tidak akan pernah tega untuk mengkhianati ku."
Bina bangkit mengunakan tenaga yang dia miliki. Al khawatir karena darah masih terus keluar dari luka di dagu Bina.
"Berhentilah keras kepala Bina, aku akan mengantarmu pulang sekarang, aku tidak akan tenang meningkatkan mu sendiri."
"Seharunya Abang berpikir seperti itu sebelum Abang meninggalkan aku dan menikah dengan sahabatmu. Kamu tahu hidupku tidak akan baik-baik saja kedepannya."