Dengan terpaksa Al mengambil langkah kebelakang, Dia berjalan kebelakang karena dia tidak ingin wanita yang di depannya terjun bebas ke sungai yang sedang banjir. Malam ini sudah larut, Al masih bersikeras untuk mengantarkan Bina pulang karena dia bertanggung jawab atas Bina ke ibunya Bina namun ternyata Bina lebih keras kepala ketimbang Al.
Demi agar Al berhenti mengikutinya dia sampai naik ke pagar pembatas sungai dan mengancam akan terjun jika Al masih terus mengikutinya dan memaksanya untuk mengantarkan Bina pulang. Saat melihat Al berjalan ke belakang dan menjauh dari jembatan itu, Bina dengan sangat hati-hati nilai turun, Bina hanya menggertak Al saja karena sesungguhnya Bina tidak memiliki nyali sebesar itu, tangan dan kakinya yang menapak di pembatas jembatan gemetar hebat.
Hanya karena Bina muak dengan Al, Bina sampai memiliki tekad yang begitu kuat dan nekat naik ke pembatas jembatan dan mengancam Al. Dan setelah mendapati Al menyerah Bina turun dengan ketakutan hebat di dirinya. Bina merasa sangat terpuruk untuk saat ini namun Bina sama sekali tidak memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidupnya, meskipun Bina benar-benar sangat hancur sekarang.
Bina merasakan setitik air jatuh di wajahnya, itu bukan air mata Bina akan tetapi air mata langit yang seolah-olah ikut bersedih dengan apa yang sedang di hadapi oleh Bina hari ini. Bina lemas setelah memanjat pembatas jembatan, dia duduk sambil memeluk lututnya sendiri. Kembali menangis di temani langit yang juga sedang bersedih.
Kali ini Bina tidak hanya bersedih karena masalahnya dengan Al, akan tetapi Bina juga memikirkan ibunya yang tinggal sendirian di rumah. Bagaimana jadinya jika kecelakaan terjadi pada dirinya ketika Bina mengancam Al beberapa waktu yang lalu. Al mungkin akan bersedih dengan nasib yang menimpa Bina tapi Ibunya akan berkali-kali lipat sedihnya jika hal buruk terjadi padanya.
Bina sedang bersedih dia menangis karena hal buruk yang terjadi pada hidupnya hari ini namun pendengaran Bina masih sangat bagus, dia mendengar ada langkah kaki yang mendekat. Namun sebelum Bina melihat siapa yang datang, Bina merasakan sebuah rasa sakit yang hebat di tengkuknya karena pukulan keras di tengkuknya.
Pandangan Bina langsung kabur dan hanya demi hitungan detik Bina langsung tersungkur tidak sadarkan diri, bersamaan dengan jatuhnya Bina hujan semakin menjadi-jadi seperti air yang tumpah.
"Maafkan aku Bina, aku terpaksa melakukan ini karena kamu sangat keras kepala," ujar Al yang berdiri di samping Bina yang tersungkur.
"Tidak mungkin aku meninggalkan mu sendirian di tempat seperti ini apalagi ini sudah larut malam."
Al membungkuk untuk membawa Bina ke dalam gendongannya dan membawa Bina ke dalam mobilnya, Al tidak perduli dengan pakaian mereka yang basah kuyup karena lebatnya hujan. Al segera membawa mobilnya pergi dari tempat itu menuju kediaman Bina, sepanjang perjalanan Al sesekali melihat Bina yang sedang tidak sadarkan diri ada di sampingnya, tangan Al meraih tangan Bina dan menciumnya.
"Aku sangat menyayangimu," ujar Al setelah mencium punggung tangan Bina.
Perasaan Al pada Bina bukanlah main-main seperti yang di tuduhan Bina, Al menyayangi Bina namun Al sendiri tidak tahu jika Bina benar-benar mencintai dirinya hingga sedalam itu. Al berpikir Bina sama seperti gadis seumurannya yang hanya main-main dengan cinta mereka. Al berharap jika Bina sama seperti gadis-gadis seumurannya yang akan dapat dengan mudah mendapatkan pengganti dirinya dengan mudah.
Mobil Al menerobos derasnya hujan selama hampir satu jam, Al tidak berani menambah kecepatan karena cuaca buruk ini, jarak pandang yang pendek dan jalanan yang licin membuat Al hanya bisa merayap hingga mereka sampai di rumah cukup lama. Sesampainya di rumah, ibu Bina sudah mondar-mandir di ruang tamu menunggu kabar dari Al. Ketika melihat mobil Al datang, ibu Bina langsung membuka pintu untuk mereka, Al mengendong Bina yang sedang tidak sadarkan diri.
"Kenapa dengan Bina, Al?" tanya Ibu Bina dengan panik.
"Dia hanya pingsan Tante," jawab Al yang masih mengendong tubuh Bina.
"Bina luka?" ucap Ibu Bina sambil menutup mulutnya ketika melihat sagu Bina berdarah.
"Iya."
"Bagaimana dia bisa luka dan pingsan seperti ini?" tanya ibu Bina dengan raut wajah yang khawatir.
"Bisakah nanti saja aku ceritakan. Pakaian Bina basah, dia bisa sakit jika tidak segera di ganti pakaian."
"Aku akan menggantinya, bawa ke atas."
Al tidak menjawab dia langsung naik ke tangga dengan masih Bina di gendongannya. Ibu Bina mengikuti Al di belakangnya. Al dengan hati-hati menidurkan Bina di kamarnya dan keluarga agar Ibu Bina bisa mengganti pakaian Bina. Al turun dengan perlahan dia tidak duduk di sofa karena pakaiannya yang basah kuyup, Al lebih memilih duduk di meja makan yang kursinya terbuat dari kayu.
Tidak hanya Bina yang butuh mengganti pakaiannya karena pakaian Al juga basah kuyup sama halnya seperti milik Bina namun alih-alih segera pulang untuk mengganti pakaiannya Al lebih memilih menunggu ibu Bina yang masih mengurus Bina karena Al memiliki janji penjelasan pada ibu Bina.
"Aku pikir kamu sudah pulang," ujar ibu Bina yang baru saja turun dari kamar Bina.
"Masih menunggu Tante," jawab Al sambil melihat Ibu Bina.
"Pakaian mu juga basah, tante akan mengambilkan baju ganti untuk mu, om masih memiliki beberapa pakaian baru yang belum pernah terpakai sebelumnya," Ibu Bina menawarkan pakaian suaminya yang sudah tidak ada yang memakai.
"Tidak perlu Tante, aku tidak apa-apa ini akan kering sendiri lagi pula ada beberapa hal yang harus saya sampaikan pada Tante."
Al merasa tidak nyaman dengan kebaikan ibu Bina, karena jika wanita itu tahu semuanya mungkin tamparan yang di terima Al bukan perlakuan baik seperti ini.
"Kamu akan bicara apa?" tanya ibu Bina.
"Tentang saya, Bina dan juga kejadian hari ini?" jawab Al dengan suara sedikit rendah untuk menghormati Ibu Bina.
Al bingung harus memulainya dari mana tapi Al harus menjelaskan semuanya pada ibu Bina karena mungkin cerita yang akan di dengar dari Al dan cerita yang akan di sampaikan oleh Bina akan berbeda karena dari dua belah pihak yang beda, dari sudut pandang yang tidak sama pasti akan menghasilkan kisah yang berbeda juga.
"Mungkin ini adalah terakhir kali Al akan datang ke sini Tante," ucap Al mengawali ceritanya.
"Memangnya kenapa, apakah kamu putus dengan Bina?"
Al menggeleng pelan, Al tidak berbohong dia dan Bina masih berstatus kekasih hanya saja kini Al sudah menikah dengan wanita lain.
"Lalu apa?"
"Saya, saya yang bersalah dan patut untuk di salahkan."
"Bicaralah yang benar Al, Aku tidak mengerti.
"Saya, saya sudah menikah Tante," ucap Al dengan hati-hati namun meskipun Al sudah melangkah suara nya tetap saja apa yang di katakan Al bagai sayatan yang langsung membuat berdarah.