Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Al dilakukan oleh ibu Bina, entah mengapa ibu Bina terbawa perasaan ketika mendengar jika Al sudah menikah di acara yang dia hadiri bersama dengan Bina. Sebagai seorang ibu dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan putri tunggalnya harus melihat dengan mata kepalanya sendiri kekasihnya menikahi wanita lain di hadapannya.
Al sampai menoleh karena tamparan keras di pipinya namun Al tidak mengeluh maupun marah pada wanita didepannya itu karena Al sudah siap dengan apapun reaksi ibu Bina jika dia berkata jujur pada wanita itu dan sala satunya yang tamparan ini.
"Bagaimana kamu bisa melakukan hal itu pada putriku dengan mudahnya?" tanya ibu Bina sambil melihat ke arah Al yang kepalanya menunduk di depannya.
"Ini juga sulit untuk ku," jawab Al.
"Hal apa yang membuatmu mengambil langkah besar seperti ini?"
Pertanyaan yang sama persis seperti yang dianjurkan ibunya sendiri pada Al.
"Aku ingin menyelamatkan kehormatan Valica, dia sedang mengandung," jawab Al sambil mengangkat kepalanya.
"Mulya sekali, pasti sulit mengambil keputusan ini, jika aku orang lain aku tidak akan berhenti memujimu hanya saja Aku seorang ibu yang kamu sakit demi membuat wanita lain tetap bisa tersenyum."
"Maafkan aku Tante," ujar Al dengan tulus.
"Aku tidak berhak atas itu, sebaiknya kamu pergi aku tidak tahu hari esok macam apa yang akan di lalui putriku nantinya. Pergilah!"
Al pergi tanpa banyak bicara, hujan dan angin masih menari-nari di luar rumah namun waktu Al di sini sudah habis dia sudah harus pergi karena mungkin dia tidak akan pernah di terima bertamu kembali di sini.
Ibu Bina menutup pintu rapat-rapat, cuaca sungguh buruk dan keadaan buruk lainnya yang membuat suasana hati dan pikiran menjadi tidak menentu. ibu Bina naik dan melihat putrinya yang meringkuk di bawah selimut tebal nampaknya dia sudah siuman karena ibu Bina masih ingat betul bagaimana posisi Bina ketika dia turun, ibu Bina tidak ingin mengatakan apapun dia hanya ingin ada untuk putrinya yang sedang merasakan rasa sakit untuk pertama kalinya karena cinta dan level ini bagi Bina terlalu tinggi.
Seharusnya level rasa sakit karena asmara di usia muda Bina masih level rendah seperti kurangnya perhatian, sang cowok lupa memberikan kabar atau hanya kekasihnya kurang romantis. Tapi level ini level yang sangat sakit menurutnya. Bagaimana gadisnya yang masih berumur 18 tahun harus merasakan rasa sakit di tinggal menikah apalagi menikah di depan matanya.
Ibu Bina hanya berharap jika putrinya akan baik-baik saja dengan dia ada di sisinya, ibu Bina naik ke ranjang tunggal putrinya, memeluk erat dari belakang dan mengecup belakang kepala Bina. Tidak ada kata yang keluar dari mulut wanita itu hanya pelukan hangat yang dia berikan oleh seorang ibu untuk putrinya.
Bina membuka matanya, matanya sudah berkaca-kaca namun dia menolak untuk memperlihatkan kepada ibunya, Bina cukup malu bersedih karena seorang laki-laki namun dia hanya manusia biasa yang bisa menangis ketika hatinya tidak di hargai. Dia wanita tidur di ranjang tunggal, sibuk akan pikirannya sendiri malam yang larut dan dingin ini.
***
Ibu Bina membuka pintu untuk tamu, dia seorang gadis yang penuh kelembutan, itu terlihat dari gaya bicaranya dan bagaimana dia bersikap.
"Permisi Tante," ujar wanita itu.
"Ya ..., mau cari siapa?"
"Bina nya ada?"
"Bina ada, kamu temannya Bina?"
"Iya Tante," jawab wanita itu seraya tersenyum pada ibu Bina.
"Kamu ingin menjenguk Bina yang sedang sakit?"
"Iya Tante," jawab gadis itu sedikit binggung namun masih berusaha menutupinya dengan senyuman lebar.
"Dia di kamar atas sebelah kiri, baiklah aku akan membuatkan mu minuman."
"Tidak perlu repot-repot Tante," jawab gadis itu dengan cepat.
"Tidak repot hanya air," jawab Ibu Al dengan ramah, dia segera pergi. Ibu Al berusia 36 tahun dan dia terlihat masih sangat muda, banyak laki-laki yang ingin mempersuntingnya hanya saja dia belum siap membuka hatinya untuk orang baru setelah kepergian suaminya.
Karena sudah di perbolehkan masuk, gadis itu dengan perlahan naik ke atas dan menemukan kamar Bina, mengetuknya tiga kali meminta persetujuan dari Bina.
"Masuklah Ibu, Aku tidak menguncinya. Kenapa harus mengetuk pintu?" sahut Bina dengan suara lemah dari dalam.
"Ini aku," jawab gadis itu sambil membuka pintu kamar Bina perlahan menunjukkan wajahnya yang lembut.
"Valica," gumam Bina sambil menatap gadis yang muncul di pintu kamarnya. Saat ini Bina sedang demam, seluruh tubuhnya sedang memanas dan melihat Valica ada di kamarnya membuat suhu tubuh Bina semakin mendidih.
"Masih punya wajah wanita ini datang padaku," ujar Bina di dalam hatinya sambil terus memperhatikan Valica berjalan pelan ke arahnya.
Valica masuk setelah menutup pintu perlahan namun sebelum dia bisa duduk di kursi belajar Bina yang ada tepat di samping ranjang Bina yang sedang berbaring, Valica sudah di hentikan oleh Bina.
"Pergilah ..., aku tidak ingin melihat wajah mu," ucap Bina.
"Setidaknya beri waktu aku sebentar saja untuk menjelaskan kesalahpahaman ini."
"Salah paham? chihh ...," Senyum mengejek Bina dia berikan pada Valica.
"Tidak ada namanya salah paham, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, bagian mana yang salah paham."
"Aku dan Al tidak pernah merencanakan hal ini."
"Jika kalian sudah merencanakan hal ini, sungguh jahatnya kalian padaku."
"Tidak hanya dirimu yang tersakiti Bina. Aku dan Al juga sangat tidak nyaman akan hal ini."
"Hai ... siapa yang ingin hal buruk terjadi Valica? Hanya orang bodoh yang menginginkannya."
"Percayalah aku juga tidak ingin situasi macam ini, aku tidak ingin merusak hubungan mu dengan Al. Tapi orang-orang menatapku dengan tatapan membunuh aku tidak sanggup menanggung malu sebesar ini, Al hanya datang seperti biasa untuk menghibur ku tapi aku tidak berpikir jika dia akan melakukan hal besar untuk ku" Valica menunduk dia berkaca-kaca mengingat hari di mana dia diujung tanduk dan Al datang sebagai pahlawan untuk dirinya.
"Stop," ucap Bina sambil membuka telapak tangannya ke arah Valica.
"Stop mendramatisir di rumahku, jangan berbuat seolah-olah hanya kamu yang paling tersakiti, sebenarnya apa tujuan mu datang kemari? Kamu ingin pamer padaku soal pahlawanmu itu agar aku semakin tersakiti?"
"Tidak, tidak seperti itu Bina?"
"Lalu apa?"
Valica terdiam, dia sendiri tidak mengerti apa yang sesungguhnya dia inginkan dari situasi ini. Valica datang ke mari tanpa banyak berpikir dan hanya ingin menjelaskan pada Bina hanya saja waktunya belum pas karena Bina masih dalam keadaan belum baik-baik saja.
"Aku hanya ingin tidak ada kesalahpahaman di antara kita." ucap Valica setelah berpikir sejenak.
"Emm ... trus?"
"Maafkan kami."
"Jika aku sudah memaafkan kalian? Apakah kamu berharap aku masih memiliki hubungan baik dengan Abang Al? Apakah kamu tidak takut aku masih berhubungan seperti dulu dengan Abang Al di belakangmu. Itu yang kamu inginkan?"
Valica benar-benar bingung, dia serba salah, Valica tidak bisa menggeleng ataupun mengangguk dengan pertanyaan yang diajukan oleh Bina.
"Pergilah sebelum aku memutuskan untuk manjadi pelakor di hubungan kalian," ujar Bina dengan marah, tatapan mengintimidasi pada Valica membuat Valica berjalan mundur tanpa sadar.