Kantor kepolisian dipenuhi awak media. Skandal yang dibuat Elena bukan lagi sekadar gosip kalangan atas; ini sudah menjadi berita nasional. Bara baru saja keluar dari ruang pemeriksaan, wajahnya kusut dan kemejanya tidak lagi rapi. Ia tidak punya pilihan lain. Ia harus menemui Kiara.
Hanya ada satu orang yang bisa menghentikan tuntutan hukum ini sebelum reputasi perusahaannya benar-benar rata dengan tanah: Kiara.
Bara berdiri di depan pintu ruang kerja Kiara di gedung K-Investments. Saat ia masuk, suasana ruangan itu terasa dingin dan berwibawa. Kiara duduk di balik meja, sedang berbicara lewat sambungan video dengan klien internasional. Ia bahkan tidak menoleh saat Bara masuk.
Bara terpaksa menunggu dalam diam selama sepuluh menit penuh. Sepuluh menit yang terasa seperti penyiksaan bagi pria yang dulunya merasa sebagai pusat semesta.
Setelah sambungan dimatikan, Kiara baru bersandar dan menatap Bara dengan tatapan yang sangat datar. "Masuk tanpa mengetuk? Kebiasaan burukmu ternyata tidak pernah hilang, Bara."
Bara mengepalkan tangannya, mencoba menekan amarahnya. "Kiara, cukup. Cabut tuntutan terhadap Elena. Dia hanya... dia sedang tidak stabil secara emosional. Kita bisa bicara baik-baik."
Kiara tertawa, suara yang terdengar sangat meremehkan. "Bicara baik-baik? Bukankah itu yang dulu selalu ingin kulakukan saat kita masih bersama? Tapi kau selalu memotong pembicaraanku, Bara. Kau bilang aku tidak berguna. Sekarang, siapa yang tidak berguna?"
"Aku mohon," Bara melangkah mendekat, suaranya kini merendah, hampir seperti memohon. "Perusahaan kita sedang di ujung tanduk. Jika Elena dipenjara, saham kita akan jatuh total. Aku tidak ingin kehilangan segalanya."
Kiara berdiri, berjalan perlahan mengelilingi mejanya hingga ia berdiri tepat di depan Bara. Tinggi mereka hampir sejajar sekarang karena hak sepatu Kiara yang tinggi.
"Kau takut kehilangan segalanya?" Kiara menyentuh kerah jas Bara dengan ujung jarinya, menatap mata pria itu dengan intens. "Dulu, saat aku memohon padamu untuk mempertimbangkan pernikahan kita, saat aku memberitahumu tentang anak yang kau sia-siakan itu... apakah kau merasa takut kehilangan segalanya? Tidak. Kau justru menginjakku."
Bara membeku. Matanya membelalak. "Anak? Kau... kau benar-benar hamil saat itu?"
"Sudah terlambat untuk menyesal," bisik Kiara dingin. "Elena akan tetap diproses hukum. Tapi, ada satu cara untuk menyelamatkan perusahaanmu."
"Apa pun! Katakan apa pun!" sahut Bara dengan mata berbinar penuh harapan.
Kiara memberikan senyum yang paling mengerikan bagi Bara—senyum tanpa kehangatan. "Jual seluruh hak kepemilikan perusahaan keluargamu kepadaku. Jadilah bawahanku, atau biarkan kau dan Elena membusuk di penjara sambil melihat perusahaanmu bangkrut dalam hitungan hari."
Bara terdiam. Pilihan itu adalah bentuk penghinaan terbesar bagi pria mana pun. Menjual segalanya dan bekerja di bawah wanita yang ia buang?
"Waktumu tinggal lima menit, Bara," Kiara kembali duduk, mengabaikan Bara seolah pria itu hanyalah debu. "Keputusan ada di tanganmu. Menjadi bos yang gagal, atau menjadi bawahanku yang setia?"
Ruangan itu hening, hanya detak jam dinding yang terdengar seolah menghitung sisa napas Bara sebagai seorang pengusaha independen. Wajahnya yang pucat pasi menatap dokumen di atas meja Kiara. Itu adalah kontrak pengambilalihan aset.
Di satu sisi, ada kehancuran total—Elena dipenjara dan perusahaannya bangkrut. Di sisi lain, ada penghinaan mutlak: menyerahkan tahta yang dibangun ayahnya kepada mantan istri yang dulu ia injak-injak.
"Tiga menit lagi, Bara," suara Kiara memecah keheningan. Ia sedang sibuk memeriksa laporan keuangan di tabletnya, benar-benar tidak peduli pada pergulatan batin pria di depannya.
Bara gemetar. Ia membayangkan wajah ibunya, rumah besar mereka, dan kemewahan yang selama ini ia anggap sebagai hak abadi. Namun, bayangan sel penjara yang dingin untuk Elena jauh lebih menakutkan.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Bara meraih pena emas di atas meja Kiara. Ia menatap Kiara yang masih fokus pada layarnya.
"Jika aku menandatangani ini... apakah kau akan benar-benar melepaskan Elena?" tanya Bara dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Kiara mendongak. Matanya menatap tajam, menembus pertahanan Bara. "Aku tidak pernah ingkar janji, Bara. Itu bedanya aku denganmu."
Tanpa kata-kata tambahan, Bara membubuhkan tanda tangannya. Tinta hitam itu tertulis di atas kertas, seolah-olah Bara sedang menandatangani surat kematian bagi harga dirinya sendiri. Begitu pena diletakkan, Bara merasa seolah beban yang sangat berat menimpa pundaknya.
Kiara mengambil dokumen itu, memeriksanya sekilas dengan senyum tipis, lalu menekan bel di mejanya.
Asisten Kiara masuk dengan membawa map baru. "Bawa dokumen ini ke notaris. Dan siapkan ruang kantor di lantai sepuluh untuk... karyawan baru kita," ujar Kiara sengaja menekankan kata 'karyawan' dengan nada meremehkan.
"Karyawan?" suara Bara meninggi. "Kau bilang aku tetap memegang jabatan!"
"Jabatanmu adalah Direktur Operasional di bawah pengawasanku," sahut Kiara datar. "Artinya, mulai besok, kau harus berada di kantor pukul tujuh pagi. Laporan pertanggungjawaban akan ditinjau setiap hari oleh sekretarisku."
Bara merasa seolah-olah dadanya dihantam palu godam. Dia tidak lagi menjadi bos; dia sekarang adalah b***k bagi wanita yang dulu ia sebut tidak berguna.
Saat Bara melangkah keluar dari ruangan itu, ia berpapasan dengan Adrian. Pria itu menepuk bahu Bara dengan kasar, tersenyum lebar. "Selamat bergabung di tim kami, Direktur. Jangan lupa, Kiara benci orang yang terlambat."
Bara keluar dari gedung dengan langkah gontai. Di luar, langit mulai gelap. Ia baru saja menjual segalanya demi menyelamatkan Elena, tapi saat ia sampai di rumah, ia disambut oleh keheningan yang menyesakkan. Ibunya menangis di sudut ruangan, dan bayangan akan masa depan yang suram kini menghantuinya.
Sementara itu, di lantai atas gedung K-Investments, Kiara menatap lampu-lampu kota dari balik kaca jendelanya. Ia meraba perutnya, sebuah senyum tipis namun tulus tersungging di bibirnya.
"Satu per satu, semua hutang akan dibayar lunas," bisiknya sendirian.
Namun, ia tahu, ada satu rahasia besar yang belum terungkap sesuatu yang akan menghancurkan Bara jauh lebih dalam daripada sekadar kehilangan uang. Sesuatu tentang anak yang dulu ia sangkal keberadaannya.
...Bara keluar dari gedung dengan langkah gontai, kakinya terasa seberat timah. Setiap tatapan karyawan yang berpapasan dengannya seolah menusuk tepat ke jantung, mereka tahu sekarang pria yang dulu diagungkan sebagai CEO hebat kini hanyalah bawahan yang terjebak. Di lobi, ia terpaksa menunduk saat seorang satpam menyapanya dengan nada datar, bukan lagi rasa hormat yang dulu selalu ia terima.
Pikirannya berkecamuk. Ia meraba saku jasnya, mencari ponselnya, namun tangannya hanya menyentuh kehampaan. Ia baru ingat ponsel itu telah ia sita sendiri sebagai simbol kepatuhan pada Kiara. Di luar, hujan deras mulai turun, membasahi setelan jas mahalnya yang kini tak berarti apa-apa. Ia berdiri di bawah kanopi gedung, menatap pantulan dirinya di genangan air; wajah yang dulu penuh kesombongan itu kini tampak layu dan penuh penyesalan. Ia teringat masa lima tahun lalu, saat ia mengusir Kiara ke tengah hujan yang sama, tanpa sedikit pun rasa kasihan. Kini, takdir memutar balik roda itu dengan sangat kejam. Ia tidak hanya kehilangan tahta, ia kehilangan martabat yang selama ini ia gunakan untuk menutupi sifat buruknya. Malam ini, ia bukan lagi seorang raja; ia adalah pengembara yang tersesat di istananya sendiri, menunggu esok hari yang akan jauh lebih menyiksa.