Pukul 06.55 pagi. Bara berdiri di depan meja resepsionis K-Investments dengan napas yang memburu. Dulu, ia selalu datang ke kantor pukul sepuluh pagi dengan mobil mewah. Sekarang, ia harus menunggu lift bersama karyawan rendahan dan menatap angka lantai yang bergerak naik dengan perasaan terhina.
Begitu pintu lift terbuka di lantai sepuluh, ia disambut oleh sekretaris Kiara. Wanita itu memberikan tumpukan dokumen setebal bantal.
"Tuan Bara, Nona Kiara sudah menunggu di ruangannya. Ini laporan pengeluaran lima tahun terakhir yang harus Anda audit dan verifikasi ulang secara manual. Beliau minta selesai sebelum jam makan siang," ujar sekretaris itu datar.
Bara meraih tumpukan itu dengan tangan gemetar. Audit manual? Ini pekerjaan untuk staf magang, bukan untuk seorang mantan CEO.
Ia masuk ke ruang kantornya yang kini sempit dan pengap. Tidak ada pemandangan kota, hanya dinding beton. Ia baru saja duduk ketika pintu terbuka tanpa diketuk. Kiara melangkah masuk dengan setelan blazer putih yang terlihat sangat megah, kontras dengan kondisi kantor Bara yang suram.
"Masih belum mulai?" tanya Kiara dingin tanpa menoleh. "Mungkin kau perlu waktu untuk beradaptasi dengan posisi bawah ini."
Bara mengepalkan tangannya di bawah meja. "Apa ini perlu, Kiara? Memberiku pekerjaan staf rendahan?"
Kiara mendekat. Ia mencondongkan tubuhnya ke meja Bara hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Ini bukan pekerjaan rendahan, Bara. Ini adalah proses pembersihan. Dulu kau menginjak harga diriku. Sekarang setiap lembar kertas yang kau audit adalah pengingat bahwa keputusan bodohmu lima tahun lalu telah menghancurkan masa depanmu sendiri."
Kiara melemparkan catatan kecil ke atas dokumen. "Selesaikan itu. Jangan harap bisa keluar untuk makan siang sebelum pekerjaanku beres. Kita harus belajar arti disiplin, bukan?"
Tanpa menunggu jawaban, Kiara berbalik dan pergi. Bara menatap dokumen itu dengan mata memerah. Di balik tumpukan kertas tersebut, terselip sebuah foto lama. Itu adalah foto pernikahan mereka yang sudah robek menjadi dua. Kiara sedang menyiksanya secara psikologis, memaksanya meninjau kembali kegagalan masa lalu yang ia sembunyikan selama ini.
Bara meraih pulpennya. Ia sadar setiap tanda tangan yang ia bubuhkan hari ini bukan lagi untuk mengesahkan keputusan perusahaan, melainkan untuk menandatangani ketundukannya pada wanita yang kini memegang kendali atas hidupnya.
Di luar ruangan, Elena menelepon. "Bara, kapan kau pulang? Aku takut."
"Diamlah, Elena!" bentak Bara pelan agar tidak terdengar karyawan lain. "Jangan meneleponku jika tidak penting. Aku sedang bekerja!"
Ia mematikan ponselnya. Untuk pertama kalinya, Bara merasa Elena adalah beban yang sangat menyesakkan. Ia menatap tumpukan dokumen itu lagi. Kiara benar-benar tahu cara memenangkan hati dengan mematahkan tulang punggung lawannya.
Siang hari di kantor K-Investments terasa menyesakkan bagi Bara. Ia menatap tumpukan dokumen yang tak kunjung habis. Di balik rasa marahnya, ia mulai merancang rencana. Jika ia tidak bisa melawan Kiara secara terbuka, ia akan menggunakan orang dalam.
Bara teringat pada Pak Darma, mantan tangan kanan ayahnya yang kini bekerja sebagai kepala keuangan di perusahaan Kiara. Mungkin pria tua itu bisa membantunya memanipulasi laporan agar Kiara terlihat melakukan penggelapan dana. Jika Kiara terjerat hukum, maka posisinya akan aman kembali.
Saat jam pulang kantor tiba, Bara menemui Pak Darma di ruang arsip yang sepi.
"Pak Darma, saya butuh bantuan Anda," bisik Bara dengan nada memohon. "Anda tahu perusahaan ini dibangun oleh ayah saya. Apakah Anda tega melihat wanita itu menghancurkannya?"
Pak Darma menatap Bara dengan tatapan kasihan namun tegas. "Tuan Bara, saya bekerja untuk perusahaan yang memberi saya keadilan. Nona Kiara adalah pemimpin yang jujur dan tegas. Saya tidak akan mengkhianatinya."
"Saya akan membayar Anda dua kali lipat dari gajinya!" desak Bara.
"Uang tidak bisa membeli integritas, Tuan," sahut Pak Darma lalu beranjak pergi.
Bara terdiam, emosinya meledak. Ia membanting vas bunga yang ada di dekatnya hingga hancur berkeping-keping. Tepat saat itu, pintu ruang arsip terbuka lebar. Kiara berdiri di sana bersama dua petugas keamanan.
"Wah, rupanya mantan CEO kita sedang mencoba menyuap karyawan?" suara Kiara terdengar tenang namun penuh ancaman.
Bara memucat. "Kiara, aku..."
"Cukup, Bara," potong Kiara. "Aku sudah memantau gerak-gerikmu lewat CCTV sejak kau masuk ke ruangan ini. Kau benar-benar tidak pernah belajar dari kesalahan."
Kiara melangkah mendekat. Ia memberikan sebuah amplop pada Bara. "Itu surat peringatan terakhir. Jika kau mencoba melakukan hal kotor lagi, aku tidak hanya akan memecatmu. Aku akan memastikan kau dan Elena kehilangan rumah tempat kalian bernaung saat ini juga."
Bara terpaku. Ia tidak menyangka Kiara akan memasang kamera pengawas di setiap sudut, bahkan di tempat yang dianggap paling rahasia oleh karyawan.
Kiara berbisik pelan di samping telinganya. "Jangan pernah mencoba melawan orang yang sudah tahu setiap langkahmu sebelum kau melakukannya."
Setelah Kiara pergi, Bara terduduk lemas. Ia merasa seperti tikus yang sedang dipermainkan oleh kucing besar yang elegan namun mematikan. Harapannya untuk melawan dari dalam telah hancur total.
Di rumah, Elena masih menunggunya dengan wajah penuh harap. "Bagaimana, Bara? Apakah kau sudah mendapatkan cara untuk menjatuhkannya?"
Bara hanya menatap Elena dengan tatapan kosong. "Tidak ada lagi jalan keluar, Elena. Kita sudah kalah total."
Malam itu, hujan turun dengan deras, menyapu debu jalanan kota. Di sebuah restoran eksklusif, Kiara duduk berhadapan dengan Adrian. Mereka sedang merayakan keberhasilan akuisisi terbaru, namun pikiran Kiara justru tertuju pada sebuah pesan masuk di ponselnya.
Sebuah foto. Foto seorang anak laki-laki berusia empat tahun dengan mata yang sangat mirip dengan mata Bara, namun memiliki senyum lembut yang mengingatkannya pada dirinya sendiri.
"Ada apa, Kiara?" tanya Adrian lembut, menyadari perubahan ekspresi di wajah wanita itu. "Kau terlihat terganggu."
"Tidak ada, Adrian. Hanya sedikit kelelahan," dusta Kiara. Ia segera mematikan layar ponselnya.
Tanpa disadari, di seberang ruangan, Bara juga sedang duduk sendirian di bar setelah diusir secara halus dari rumah oleh Elena yang terus mengamuk. Matanya yang lelah menangkap sosok Kiara. Ia hendak memalingkan wajah, namun perhatiannya terpaku pada sebuah tas kecil yang tertinggal di kursi yang sempat diduduki Kiara saat wanita itu pergi ke toilet.
Bara tidak tahu mengapa, tapi ia melangkah mendekat. Saat ia hendak memanggil Kiara, ia melihat ponsel wanita itu tergeletak di atas meja yang menyala karena notifikasi baru.
Foto anak laki-laki itu terpampang jelas di layar.
Bara terpaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia sangat mengenal wajah itu, meski ia tidak pernah melihatnya secara langsung. Wajah itu adalah cermin dari dirinya sendiri saat masih kecil.
"Kiara..." bisik Bara dengan suara bergetar.
Kiara baru saja kembali dari toilet dan melihat Bara berdiri di depan mejanya dengan tatapan kosong menatap ponselnya. Wajah Kiara seketika memucat, namun ia segera menguasai diri. Ia menyambar ponsel itu dengan kasar.
"Siapa yang memberimu izin menyentuh barang pribadiku?" tanya Kiara dengan nada penuh intimidasi.
Bara tidak menjawab. Ia menatap mata Kiara dengan tajam. "Siapa anak itu, Kiara? Katakan padaku, siapa anak itu?"
Kiara merasakan tangannya dingin. Ia tidak menyangka Bara akan melihatnya secepat ini. "Itu bukan urusanmu. Pergilah sebelum aku membuatmu menyesal karena telah menginjakkan kaki di sini."
"Itu anakku, bukan?" suara Bara kini meninggi, membuat beberapa tamu menoleh. "Kau hamil saat kita bercerai, dan kau menyembunyikannya dariku selama lima tahun?"
Kiara tersenyum sinis, senyum yang paling tajam yang pernah ia tunjukkan. "Kau tidak berhak menyebutnya anakmu. Kau yang membuang kami. Kau yang berkata bahwa anak itu tidak berguna. Jadi, mulai detik ini, jangan pernah berani menyinggung tentang dia, atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa melihatnya selamanya."
Kiara membalikkan badan dan meninggalkan Bara yang masih berdiri mematung di tengah restoran. Hujan di luar sana seolah ikut meruntuhkan pertahanan terakhir Bara. Ia baru saja menemukan alasan mengapa Kiara begitu membencinya, namun ia juga baru saja menemukan bahwa ia telah membuang sesuatu yang jauh lebih berharga daripada tahta maupun harta.