Bara tidak bisa tidur sepanjang malam. Bayangan wajah anak kecil di ponsel Kiara terus menghantuinya. Ia merasa dadanya sesak oleh penyesalan yang terlambat. Selama lima tahun ini, ia membuang seorang istri yang sedang mengandung darah dagingnya sendiri, sementara ia sibuk hidup bersama wanita yang hanya menginginkan hartanya.
Keesokan paginya, Bara tidak pergi ke kantor. Ia pergi ke tempat yang dulu sering dikunjungi Kiara sebelum mereka menikah—sebuah panti asuhan tempat Kiara dulu aktif menjadi relawan.
Di sana, ia melihat sosok yang dicarinya.
Kiara sedang duduk di taman panti asuhan, ditemani oleh seorang anak laki-laki kecil yang tertawa riang saat bermain bola. Anak itu memiliki rambut gelap dan tatapan mata yang sangat mirip dengan Bara. Kiara tampak begitu lembut, jauh dari sosok bos kejam yang ia kenal di kantor.
Bara melangkah mendekat, namun kakinya terasa berat. Saat ia sampai di dekat mereka, Kiara mendongak. Senyum di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh tatapan membunuh.
"Pergi dari sini," desis Kiara, memposisikan dirinya di depan sang anak untuk melindunginya. "Jangan berani-berani kau menginjakkan kakimu di tempat ini."
"Aku hanya ingin bicara, Kiara," ucap Bara dengan suara parau. "Aku ingin melihatnya. Aku... aku ayahnya."
"Ayah?" Kiara tertawa getir. "Di mana kau saat aku berjuang melahirkannya sendirian? Di mana kau saat aku harus bekerja serabutan agar dia bisa makan? Kau tidak ada, Bara. Kau sedang sibuk memanjakan Elena."
Anak kecil itu berhenti bermain dan menatap Bara dengan polos. "Mama, siapa orang ini? Kenapa dia terlihat sedih?"
Pertanyaan itu menghujam Bara lebih dalam daripada ribuan kata makian. Ia jatuh berlutut di depan Kiara. Untuk pertama kalinya, sang mantan CEO yang sombong itu menanggalkan seluruh egonya.
"Biarkan aku memperbaiki ini," pinta Bara lirih. "Aku tidak memintamu kembali padaku, tapi biarkan aku menjadi bagian dari hidupnya. Biarkan aku menebus dosaku."
Kiara menatap Bara dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kemarahan, namun ada juga luka lama yang masih menganga. "Kau ingin menebus dosa? Baiklah. Berikan aku semua sisa aset pribadimu dan putuskan hubungan dengan Elena. Jika kau ingin menjadi seorang ayah, kau harus membuktikan bahwa kau bisa meninggalkan hidup lamamu yang busuk itu."
Bara menatap Kiara dengan terkejut. Itu adalah syarat yang mustahil. Memutuskan hubungan dengan Elena berarti menghadapi skandal besar lainnya. Namun, melihat tatapan Kiara yang dingin, Bara sadar bahwa ini bukan lagi soal uang. Ini adalah ujian terakhir dari Kiara.
"Akan kulakukan," jawab Bara singkat.
Kiara menatap Bara dengan pandangan merendahkan. "Jangan terburu-buru, Bara. Karena setelah kau melakukannya, kau akan menyadari bahwa dunia yang kau bangun di atas pengkhianatanmu sendiri, akan runtuh tepat di depan matamu."
Malam itu, suasana di kediaman mewah Bara terasa sangat mencekam. Bara duduk di meja makan, menatap Elena yang sedang mengoceh tentang rencana liburan mereka ke luar negeri untuk memperbaiki reputasi.
"Bara, kita harus pergi minggu depan. Media sudah mulai melupakan kasusku, dan aku butuh ketenangan," ujar Elena sambil memotong daging steaknya dengan anggun.
Bara tidak menjawab. Ia hanya menatap Elena dengan tatapan kosong. Pikirannya dipenuhi oleh syarat Kiara—melepaskan segalanya, termasuk wanita di depannya.
"Elena," suara Bara memecah kesunyian. "Kita selesai."
Elena berhenti memotong dagingnya. Dia tertawa kecil, mengira Bara sedang bercanda. "Lucu sekali. Kau lelah karena pekerjaan, ya?"
"Aku tidak bercanda," Bara meletakkan pisau dan garpunya dengan tenang. "Besok, pengacaraku akan mengirimkan surat cerai. Aku sudah menandatangani dokumen pengalihan aset terakhir atas namamu ke rekening pribadi Kiara."
Wajah Elena seketika pucat pasi. Garpu yang dipegangnya jatuh ke piring, menimbulkan suara dentingan nyaring yang memekakkan telinga.
"Kau... kau melakukan apa?!" teriak Elena. Kemarahannya meledak. Dia berdiri dan menyambar gelas anggur, melemparkannya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. "Kau gila! Kau tidak bisa melakukan ini padaku! Aku adalah orang yang mendampingimu saat kau di bawah!"
"Tidak," jawab Bara dingin. "Kau adalah orang yang menikmati kejayaanku saat aku berada di atas, dan kau adalah orang yang menjebakku dalam kehancuran."
Elena mencoba menampar Bara, namun Bara menahan pergelangan tangannya dengan kuat. Bara menatap mata wanita itu dengan kebencian yang mendalam. "Keluar dari rumah ini besok pagi. Semua kartu kreditmu sudah kublokir. Jangan pernah mencari atau menghubungiku lagi, atau aku akan memastikan kau berakhir di penjara karena semua kejahatan yang pernah kau lakukan."
Bara meninggalkan Elena yang meraung histeris di ruang makan. Ia melangkah menuju kamar kerjanya, mengambil ponselnya, dan menekan satu nomor.
"Aku sudah melakukannya, Kiara," ucap Bara pelan saat panggilannya diangkat. "Semuanya. Sekarang, katakan padaku di mana aku bisa melihat anakku."
Di seberang telepon, suara Kiara terdengar tenang, namun menyimpan kepuasan yang dingin. "Datanglah ke kantor besok jam delapan. Kita akan bicara tentang masa depan... atau lebih tepatnya, tentang bagaimana kau akan menjalani sisa hidupmu sebagai orang asing bagi anakku."
Bara menutup teleponnya. Dia baru saja membakar seluruh jembatan di belakangnya. Dia tidak punya harta, tidak punya istri, dan satu-satunya orang yang dia punya hanyalah mantan istri yang sangat membencinya. Namun, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Bara merasa dia sedang melangkah menuju kebenaran, meski itu berarti dia harus berjalan di atas duri.
Pagi itu, Bara tiba di kantor K-Investments tepat pukul 08.00. Ia sudah bukan lagi CEO yang datang dengan setelan jas custom mahal, melainkan pria yang tampak lelah dengan kemeja yang sama dari semalam. Ia menunggu di ruang tunggu, menatap pintu kantor Kiara dengan detak jantung yang berpacu.
Begitu dipersilakan masuk, ia mendapati Kiara sedang berdiri membelakangi pintu, menatap kota dari balik jendela kaca.
"Aku sudah melakukan semuanya," ujar Bara tanpa basa-basi. "Sekarang, izinkan aku bertemu dengannya."
Kiara berbalik perlahan. Ia tidak membawa dokumen kali ini, melainkan sebuah amplop cokelat. "Kau benar-benar membuang Elena? Begitu saja?"
"Dia sudah tidak berarti lagi. Aku hanya ingin menebus dosaku pada anak itu."
Kiara melempar amplop itu ke meja. "Baca itu sebelum kau membuat janji muluk. Itu adalah hasil tes DNA yang kubuat setelah kita bercerai. Bukan untuk memastikan bahwa dia adalah anakmu, tapi untuk membuktikan bahwa selama ini kau tidak pernah benar-benar mengenalku."
Bara membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Matanya membelalak membaca lembar demi lembar. Ternyata, anak itu bukan hanya memiliki gen Bara, tetapi ada data medis yang menunjukkan bahwa anak itu menderita penyakit keturunan langka yang hanya dimiliki oleh keluarga besar Bara—sebuah rahasia yang bahkan Bara sendiri hampir lupa karena sudah terkubur selama tiga generasi.
"Kenapa kau tidak memberitahuku soal ini sejak dulu?" bisik Bara.
"Karena saat itu, kau bahkan tidak mau menatapku," jawab Kiara tajam. "Anak itu selamat bukan karena kau, tapi karena aku berjuang sendirian untuk mencari pengobatan terbaik di luar negeri. Dia tidak butuh ayah yang bahkan tidak tahu bahwa darah yang mengalir di nadinya adalah kutukan bagi keluargamu sendiri."
Bara terduduk lemas. Ia baru sadar bahwa selama ini ia bukan hanya ayah yang absen, ia adalah orang asing bagi anaknya sendiri.
Sementara itu, di sebuah apartemen murah di pinggiran kota, Elena sedang menatap layar ponselnya yang menampilkan berita tentang kejatuhannya. Wajahnya yang cantik kini terlihat mengerikan, penuh dengan dendam. Ia tidak akan pergi dengan tenang. Jika dia harus jatuh, maka dia akan memastikan Kiara dan Bara ikut hancur bersamanya.
"Kalian pikir bisa membuangku seperti sampah?" gumam Elena sambil memegang sebuah pemantik api. Di hadapannya terdapat tumpukan dokumen rahasia perusahaan yang ia curi saat masih menjadi 'nyonya' di rumah Bara. "Mari kita lihat siapa yang akan menang saat semuanya terbakar."