Keheningan yang mencekam menyelimuti kantor K-Investments setelah pengungkapan hasil tes DNA tersebut. Bara duduk terdiam di kursi empuk ruang tunggu, namun baginya, kursi itu terasa seperti duri yang menusuk punggung. Pikirannya melayang pada sosok bocah laki-laki di taman panti asuhan tadi. Bocah itu bukan hanya sekadar anak; dia adalah bukti hidup dari kesalahan terbesar yang pernah Bara perbuat dalam hidupnya. Kata-kata Kiara mengenai "kutukan medis" yang mengalir di darah keluarga besarnya menghantam Bara dengan efek yang lebih dahsyat daripada kebangkrutan perusahaannya.
Selama ini, Bara hidup dalam gelembung kesombongan. Dia mengira dunia berputar sesuai keinginannya. Dia mengira uang dan kekuasaan bisa menghapus jejak masa lalunya. Namun, kenyataan menamparnya dengan brutal. Anak itu menderita karena genetik yang ia wariskan, sementara ia justru sibuk memanjakan wanita yang tidak pernah benar-benar mencintainya. Bara merasa jijik pada dirinya sendiri. Kebenciannya pada Elena mulai berubah menjadi rasa benci yang mendalam terhadap dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia begitu buta?
Di sisi lain, Kiara sedang menatap layar monitor di ruang kerjanya. Dia tidak benar-benar bekerja. Pikirannya melayang pada reaksi Bara. Dia melihat pria itu hancur, dan sejujurnya, ada bagian dari dirinya yang merasakan kepuasan yang luar biasa. Namun, di balik kepuasan itu, ada secercah rasa lelah yang menghantui. Perang ini sudah berlangsung terlalu lama. Setiap kali dia melihat Bara menderita, dia teringat pada tahun-tahun sulit yang dia lalui saat membesarkan anaknya seorang diri.
Adrian masuk ke ruangan tanpa mengetuk, membawa sebuah map yang berisi laporan intelijen terbaru mengenai Elena. "Kiara, kita punya masalah. Elena tidak diam. Dia mengumpulkan dokumen rahasia dari brankas lama milik mendiang ayah Bara. Jika dokumen itu tersebar, bukan hanya perusahaan yang akan terkena imbas, tetapi juga masa lalu keluarga besar Bara yang seharusnya tetap terkubur."
Kiara mengerutkan kening. Dia mengambil map tersebut dan membacanya dengan teliti. "Elena benar-benar nekat. Dia tahu bahwa dia tidak memiliki masa depan lagi, jadi dia mencoba menarik semua orang ke dalam lubang kehancuran bersamanya."
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Adrian dengan nada khawatir. "Jika dokumen ini sampai ke tangan media, reputasi K-Investments yang baru saja stabil bisa kembali goyah."
Kiara menarik napas panjang. Dia menatap ke luar jendela, ke arah jalanan kota yang sibuk. "Bara harus tahu tentang ini. Bukan karena aku ingin melindunginya, tetapi karena ini menyangkut anak itu. Jika Elena tahu tentang keberadaan anakku, dia akan menjadikan anak itu sebagai senjata utama untuk menekan kita semua."
Sementara itu, di sebuah apartemen yang kumuh dan tidak terawat, Elena sedang tertawa sinis di depan laptopnya. Dia telah menemukan apa yang dia cari. Dokumen tentang penggelapan pajak besar-besaran yang dilakukan oleh almarhum ayah Bara—tindakan yang jika terungkap, akan membuat seluruh aset warisan keluarga Bara disita oleh negara, termasuk dana yang digunakan Kiara untuk menghidupi anaknya.
"Mari kita lihat, Kiara," gumam Elena dengan mata yang berkilat penuh dendam. "Kau bisa mengambil segalanya dariku, kau bisa membuatku menjadi gelandangan, tetapi aku akan memastikan kau kehilangan satu-satunya alasan kenapa kau begitu berani menantangku. Aku akan menghancurkan masa depan anakmu."
Elena sudah kehilangan kewarasannya. Dia tidak lagi memedulikan apakah tindakannya akan membawanya ke penjara. Dia hanya ingin melihat Kiara menderita. Dia mulai menghubungi beberapa jurnalis gosip yang dulu sering dia suap saat masih menjadi ratu di perusahaan Bara. Dengan data yang dia miliki, dia bisa merusak reputasi Kiara dalam hitungan jam.
Kembali ke kantor K-Investments, Kiara menekan tombol interkom dan memanggil Bara masuk ke ruangannya. Bara masuk dengan wajah yang masih tampak pucat.
"Duduklah, Bara," perintah Kiara dengan nada yang jauh lebih tenang namun tetap dingin.
Bara duduk dengan patuh. "Apa yang terjadi?"
"Elena mencuri dokumen dari masa lalu ayahmu. Dokumen itu berisi bukti penggelapan pajak yang bisa membuat seluruh harta keluarga besar kalian disita, dan yang lebih berbahaya, dia mungkin akan menggunakannya untuk menyerang posisiku di perusahaan ini," jelas Kiara langsung pada intinya.
Bara terbelalak. "Ayahku? Tidak mungkin. Beliau adalah pria yang sangat jujur."
"Tidak ada orang yang benar-benar jujur dalam dunia bisnis yang kejam seperti ini, Bara," sahut Kiara. "Dan sekarang, Elena memiliki senjatanya. Dia akan menghancurkan segalanya. Kita harus bertindak cepat sebelum dia mempublikasikan data itu."
"Aku akan menghentikannya," ucap Bara dengan tekad yang baru. "Aku akan mengambil kembali dokumen itu, bagaimanapun caranya."
"Jangan bertindak bodoh," potong Kiara. "Jika kau mendekatinya sekarang, dia akan semakin gila. Kita butuh rencana yang lebih cerdas. Kita harus memancingnya keluar, membuatnya merasa bahwa dia telah menang, lalu menjebaknya di saat dia lengah."
Bara menatap Kiara dengan tatapan yang baru. Dia melihat kekuatan yang luar biasa dari wanita di depannya. Kiara bukan lagi sosok wanita lemah yang dulu dia tinggalkan di bawah hujan. Kiara adalah seorang pemimpin, seorang ibu yang tangguh, dan seorang ahli strategi yang mematikan.
"Apa rencanamu?" tanya Bara.
"Kita akan membuat pengumuman palsu," jawab Kiara dengan senyum tipis yang membuat Bara bergidik. "Kita akan mengumumkan bahwa aku akan menjual semua aset perusahaan kepada sebuah konsorsium asing. Elena akan mengira bahwa dia telah berhasil memaksaku untuk melarikan diri. Dia pasti akan muncul di pertemuan itu untuk memastikan penghancuranku secara langsung. Di sanalah kita akan menangkapnya dengan bukti pencurian dokumen yang sudah dia lakukan."
Bara terdiam sejenak, memikirkan risiko dari rencana tersebut. Namun, dia sadar bahwa tidak ada pilihan lain. Dia harus melindungi anaknya, dan dia harus menebus dosanya dengan cara menghentikan Elena.
"Baiklah. Aku akan menjadi umpan," ujar Bara tegas.
"Kau?" Kiara menatapnya dengan heran. "Kau yakin? Kau bisa saja kehilangan sisa martabatmu di depan publik jika rencananya gagal."
"Martabatku sudah hilang sejak aku membuangmu lima tahun lalu, Kiara," jawab Bara dengan suara rendah. "Jika aku bisa melindungi anak itu dan membersihkan nama perusahaan ini, aku tidak peduli apa yang akan terjadi padaku."
Kiara terdiam. Ada sesuatu dalam tatapan Bara yang membuatnya merasa goyah. Dia melihat ketulusan yang selama ini tidak pernah dia lihat. Namun, dia segera menepis perasaan itu. Tidak ada ruang untuk emosi dalam perang ini.
"Baiklah, kalau begitu," kata Kiara. "Kita mulai besok pagi. Pastikan kau siap mental, Bara. Karena ini akan menjadi pertunjukan terakhir kita."
Bara keluar dari ruangan Kiara dengan perasaan yang bercampur aduk. Dia tahu bahwa rencana ini sangat berbahaya. Jika mereka gagal, bukan hanya mereka yang akan hancur, tetapi masa depan anaknya juga akan terancam. Dia berjalan menuju lift, namun langkahnya terhenti saat ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Pesan itu hanya berisi satu foto: foto anaknya yang sedang bermain di taman panti asuhan, dengan tambahan pesan singkat: 'Aku tahu di mana mereka bersembunyi. Jangan berani-berani mencoba menghentikanku, atau dia akan menjadi korban pertama.'
Darah Bara mendidih. Elena telah melewati batas. Dia tidak hanya mengincar harta, dia mengincar nyawa anaknya. Bara merasa seolah-olah seluruh dunia berputar. Dia tidak bisa membiarkan ini terjadi. Dia harus bergegas. Dia tidak peduli lagi pada rencana Kiara. Dia harus memastikan keselamatan anaknya sekarang juga.
Bara berlari menuju parkiran, mengabaikan teriakan sekretaris Kiara yang memanggilnya. Dia harus segera pergi ke panti asuhan. Dia harus membawa anaknya ke tempat yang aman. Dia tidak bisa mempercayai siapa pun lagi.
Di ruangannya, Kiara melihat melalui kamera keamanan bagaimana Bara berlari menuju parkir. Dia mengerti apa yang terjadi. Dia melihat pesan yang masuk ke ponsel Bara melalui pantulan di kaca. Dia tahu bahwa Elena telah memulai serangan pribadinya.
"Bodoh," gumam Kiara pelan, namun matanya memancarkan rasa khawatir yang mendalam. "Kau pikir kau bisa melindunginya sendirian, Bara?"
Kiara segera meraih kunci mobilnya dan berlari mengikuti Bara. Dia tahu bahwa Elena akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan kali ini, permainan yang mereka mainkan sudah menjadi sangat nyata. Bukan lagi tentang uang atau kekuasaan, melainkan tentang kehidupan.
Di tengah hiruk pikuk kota yang mulai gelap, dua orang yang dulunya saling mencintai, kini berlomba menuju tempat yang sama, dengan tujuan yang sama, namun masih terpisah oleh dinding dendam yang belum sepenuhnya runtuh. Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang, dan tidak ada yang tahu siapa yang akan keluar sebagai pemenang dalam permainan maut ini.