"Bodoh bodoh bodoh, Mas Azka bodoh," jerit Lani histeris seraya menutup kedua telinganya.
Tok tok tok
"Nona," panggil seseorang dari luar kamar Lani dengan pelan.
Lani mengusap wajahnya kasar lalu berjalan membuka pintu kamarnya dan menatap Asri sang asisten rumah tangganya di sana.
"Kenapa?" tanyanya pelan.
"Nona nggak ada niatan buat gantung diri kan?" tanya Asri pelan. Siapapun pasti akan berpikir demikian kalau ada di posisi Asri saat ini.
"Menurut Mbok?"
Asri melirik ke dalam kamar majikannya itu, lalu menggeleng. "Sepertinya tidak."
"Tadinya memang tidak ada, tapi sekarang niatnya udah muncul," sahut Lani cepat.
Mata Asri membulat sempurna, dengan cepat ia menahan tangan majikannya itu agar tidak melakukan apa yang baru saja ia katakan.
"Jangan Non, tolong jangan. Hidup Non masih panjang, masih ada Mbok yang harus bekerja di rumah Non, kalau Non ngerasa nggak punya keluarga yang dukung Non, anggap saja Mbok sebagai keluarga untuk Non," ujar Asri dengan suara bergetar.
Lani menghela nafas kasar. "Tapi saya lagi patah hati Mbok, sebagian hidup saya sudah hilang," ujar Lani seraya menangis sesenggukan.
"Sabar atuh Non, ingat Non masih ada bayi dalam perut Non yang menanti untuk lahir ke dunia ini dan menatap indahnya dunia."
Lani menghentikan tangisannya saat mendengar ucapan Asri, ia menunduk melihat perutnya yang masih rata lalu mengusapnya pelan.
"Maafkan Mama ya sayang, pasti kamu kaget ya karena denger Mama nangis kayak tadi," ujarnya lirih.
"Iya Non, lebih baik sekarang Non siap-siap. Udah ditunggu sama Non Zoya di luar."
Lani mengangguk pelan lalu mengusap air matanya kasar dan kembali masuk ke dalam kamarnya untuk merapikan rambutnya dan make up nya. "Ingat Lani, lo nggak bisa galau-galau terus. Masih ada Anak yang harus lo kasih makan," gumamnya pelan seraya menyisir rambutnya.
"Tapi gue nggak bisa kalau harus ketemu sama Mas Azka," Lani membanting sisirnya dengan kuat, seharusnya ia juga ingat kalau Azka masihlah atasannya kalau di kantor.
"Tapi lo harus bisa Lani, buktikan padanya kalau lo bisa bahagia tanpa harus mengemis cinta padanya. Tidak perlu membuktikan betapa cinta lo padanya, dia tidak layak untuk dicintai," ujarnya dengan penuh percaya diri.
"Memangnya dia siapa, sok banget, hanya karena lihat foto yang entah siapa yang mengirimnya dia bisa langsung nuduh gue selingkuh. Kasihan banget sih kamu Mas, udah ngelepasin berlian kayak aku, pasti Mas lagi galau kan saat ini?" ujarnya dengan senyum bangganya.
"Lihatlah, aku akan menari-nari di dalam pikiranmu.
"Kita lihat saja, sampai mana kamu bisa mengabaikan aku," ujarnya dengan sombong seraya mengibaskan rambutnya cepat.
*********
"Lo kok kayak nggak ada sedih-sedihnya sih Lan? Padahal kan lo baru saja habis cerai dari Pak Bos," tanya Zoya sambil mengimbangi langkah kaki Lani yang cepat memasuki ruangan mereka.
"Buat apa sedih, gue bisa mendapatkan yang lebih darinya dalam waktu singkat, lihatlah gue, udah cantik, manis, seksi juga," jawab Lani dengan sombong.
"Gue suka gaya lo," timpal Zoya seraya menepuk Lani pelan.
"Ekhem."
"Eh Pak Bos? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Zoya saat menyadari kalau Azka sudah berdiri di belakang mereka.
"Saya mau lewat," jawab Azka dingin.
"Nggak bisa Pak, jalannya udah dipenuhi sama dosa-dosa saya. Jadi orang suci kayak Bapak nggak bisa lewat," sahut Lani cepat dengan senyum manisnya.
"Lihatlah, permainan dimulai." Lani membatin.
Azka terdiam mendengar ucapan dari mantan istrinya itu, padahal baru saja pagi tadi ia melihat wajah sedih Lani karena keputusan cerai mereka. Tapi sekarang Lani sudah bisa bertingkah lagi, ia jadi merasa melihat Lani sebelum menikah dengannya dulu, yang galak, nyebelin dan pastinya arogant.
Lani tersenyum puas melihat kebungkaman Azka, seakan ini adalah suatu pencapaian yang sangat bagus untuk dirinya.
"Saya mau masuk, jadi jangan bercanda," pungkas Azka dingin.
"Saya tidak bercanda Pak, kan Bapak sendiri yang bilang kalau saya perempuan penuh dosa," jawab Lani seraya mencebikkan bibirnya manja.
Azka kembali tertegun saat melihat Lani yang mencebikkan bibirnya, hal yang paling sering Lani lakukan saat ingin bermanja-manja dengannya dulu.
"Lani Ashila, apa kamu mau pindah ke kantor cabang?" ancam Azka dengan suara yang semakin dingin karena merasa Lani sedang mempermainkan dirinya saat ini.
"Oh tidak Pak, tidak sama sekali. Saya tidak ingin pindah ke kantor cabang manapun, bagaimana cara saya bertemu dengan kekasih saya itu kalau Bapak memindahkan saya?" Jawab Lani seraya mengerjapkan matanya pelan.
Rahang Azka mengeras saat mendenga itu, bisa-bisanya Lani menyebut kekasihnya itu di depannya saat ini.
"Terserah kamulah, itu kan urusan kamu. Saya tidak ada urusan apapun sama kamu," jawab Azka ketus.
"Tapi anak saya mau ketemu Bapak loh nantinya. Apa Bapak tega lihat anak Bapak mencari sosok ...."
"Itu bukan anak saya. Saya tahu itu bukan anak saya karena kamu sudah tidur dengan banyak laki-laki," sela Azka cepat menghentikan ucapan Lani yang belum selesai.
Lani menghembuskan nafasnya kasar dan tersenyum miris mendengar ucapan Azka.
"Oke, anggap saja dia bukan anak Bapak. Tapi jangan sampai Bapak menyesal karena pernah mengatakan seperti ini, karena saya akan pastikan kalau Bapak menyesal suatu saat nanti...."
"Kapan? Kapan saya akan menyesal?" tanya Azka menantang.
"Saat saya bisa membuktikan kalau saya tidak bersalah, saya pastikan Bapak akan menyesal dan mengemis pada saya untuk bertemu dengan anak ini ataupun meminta saya untuk kembali," sahut Lani dengan yakin.
"Yuk Zo, kita masuk," ujar Lani seraya menarik tangan Zoya untuk masuk ke dalam kantor mengabaikan Azka yang masih diam di tempat mencerna kata-kata Lani.
Flashback on
"Loh istri kamu kemana Ka?" tanya seorang wanita paruh baya kepada Azka.
Azka menoleh ke samping, dan benar saja istrinya tidak ada di sampingnya. "Dia datang kok Tante, tadi dia datang sama Azka. Cuma kayaknya mungkin lagi ke toilet," jawab Azka seraya tersenyum tipis.
Sang wanita paruh baya itu tersenyum tipis lalu mempersilahkan Azka untuk menikmati hidangan yang tersedia di pesta ulang tahun putrinya yang ke 20 tahun saat ini.
"Lani ke mana sih?" gumam Azka pelan, ia meraih ponselnya dan mencoba untuk menghubungi istrinya itu.
"Hai hai hai selamat malam semuanya. Senang sekali hari ini saya bisa berkesempatan untuk menjadi pembawa di acara sebesar ini. Terima kasih untuk keluarga Nugraha yang sudah bersedia menjadikan saya sebagai pembawa acara di malam hari ini," ujar sang pembawa acara mulai membuka acara pada malam ini.
"Baiklah sekarang kita mulai saja ke acara utama yaitu pemotongan kue ulang tahunnya, mari kita sambut pemilik pesta. Nona Rima Ayu Nugraha, beri tepukan yang meriah."
Seluruh tamu undangan bertepuk tangan saat melihat Rima yang berdiri di depan kue ulang tahun di hadapannya.
"Yuk Ka, kita ke sana," ujar Tyas, ibunya Azka mengajak anaknya itu untuk berdiri lebih dekat dengan pusat perayaan ulang tahun anak dari suaminya.
Azka mengangguk pelan lalu melangkahkan kakinya mengikuti ibunya untuk berdiri lebih dekat dengan pusat acara tersebut.
"Silahkan Nona Rima untuk make a wish dulu," ujar sang pembawa acara.
Gadis itu nampak tersenyum tipis dan melirik ke seluruh tamu undangan lalu memejamkan matanya dan meniupkan lilin kue ulang tahunnya.
Setelah sesi tiup lilin, tibalah saatnya gadis itu memberikan potongan kue untuk orang-orang terdekatnya.
"Kamu cari Mbak Lani ya, Mas? carilah di lantai tiga, tadi aku melihatnya ke arah sana."
Kening Azka mengernyit mendengar itu. "Bagaimana kamu tahu?"
"Kamarku ada di sana, Mas. Dan aki melihatnya sebelum ke sini.
Setelah acara inti selesai, Azka langsung bergegas mencari sang istri ke penjuru tempat pesta, ia juga sampai mencari ke penjuru hotel, namun ia belum juga bisa menemukan sang istri.
Braaak
"Mas."
Akhirnya Azka busa menghembuskan nafasnya lega saat melihat istrinya sudah ada di depannya saat ini.
"Kamu dari mana saja Lan?" tanya Azka khawatir.
Lani melototkan matanya seraya menggeleng pelan. "Enggak Mas, aku nggak salah. Aku nggak salah apa-apa, aku tidak mengkhianati Mas," ujar Lani dengan terbata-bata.
Kening Azka mengernyit mendengar ucapan Lani. "Kamu bicara apa Lan? Dan kenapa penampilan kamu bisa berantakan sekali seperti ini?" tanya Azka bingung seraya melirik penampilan Lani dari atas ke bawah.penampilan istrinya itu sangat berantakan, rambutnya awut-awutan, tangan Lani sibuk menutupi bagian bajunya yang sobek.
"Ada orang yang mau memperkosaku Mas, aku tidak tahu siapa dia, aku tidak tahu," jawab Lani kalut, ia mengusap wajahnya frustasi lalu melangkahkan kakinya hendak memeluk Azka.
Azka sontak mundur beberapa langkah saat melihat Lani hendak memeluknya. Lani menatap Azka dengan tatapan tak percayanya, ia melirik ke arah tangannya yang kosong dengan tatapan tak percaya.
"Ma-mas," lirihnya.
Azka menggeleng pelan. "Enggak Lan, aku nggak mau," gumam Azka pelan.
"Maas, jangan bercanda deh," rengek Lani pelan karena merasa kalau suaminya itu hanya bercanda. Lani kembali melangkahkan kakinya mendekati Azka dan hendak memeluknya namun Azka masih tetap menghindar.
"Aku tidak bercanda Lan, aku tidak ingin dipeluk."
Lani menatap Azka dengan tatapan bingungnya. "Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin disentuh perempuan kotor seperti kamu," jawab Azka dingin.
"Mas, sudah aku bilang aku bukannya menjual diri. Aku hampir diperkosa, hampir Mas. Aku juga tidak kenal siapa laki-laki itu, beruntungnya aku bisa lolos darinya dengan susah payah dan Mas malah menuduhku seperti ini?" tanya Lani tak percaya.
"Aku sudah tahu semuanya Lan, kamu sudah mengkhianatiku, awalnya aku menepis semua itu saat ada yang mengirimiku foto kamu bersama dengan seorang laki-laki. Tapi sekarang aku sudah melihatnya sendiri, bahkan penampilan kamu sendiri jauh dari kata layak."
"Kamu memang benar-benar w************n Lan."
Lani memejamkan matanya erat mendengar cacian yang suaminya berikan kepadanya, ia tidak menyangka sama sekali kalau ternyata suaminya sendiri tidak percaya padanya.
Perlahan ia membuka matanya lagi dan menatap kepergian suaminya dengan perasaan yang teramat sedih, ia tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi mantan suaminya itu nantinya.