"Wiiiih ada Janda baru nih, mau sama gue nggak Lan?" pekik Gio saat Lani dan Zoya baru saja masuk ke ruangan mereka.
Di dalam ruangan itu hanya ada empat orang, termasuk Lani.
Lani tersenyum manis ke arah Gio lalu melototkan matanya. "Nggak minat tuh, kalau gue cari Suami baru ya minimal lebih kaya dari Mas Azka lah, Ya kali dapat yang lebih miskin," jawab Lani dengan sombongnya.
"Halaah gaya lo Lan, emangnya masih ada yang mau sama lo? Orang-orang kaya juga mikir kali kalau mau jadiin lo Istrinya, Pak Azka yang ganteng, baik, kaya dan menemani lo dari awal aja masih lo khianati apa lagi pria-pria yang baru lo kenal sehari dua hari," sahut Dewi ketus.
"Eh Mbak Dew diem aja deh, setidaknya gue udah laku ya bukannya kayak Mbak yang belum laku-laku juga. Begini nih kalau ngarep Suami orang terus, jomblo abadi kan jadinya," balas Lani tak kalah ketus.
"Ayo Lani, balas Lan, kasih paham Lan," ujar Zoya memberi dukungan kepada Lani.
"Eh eh eh, tapi kan sekarang Pak Azka udah bukan Suaminya siapa-siapa. Dia...."
"Ambil aja Mbak kalau mau, ambil aja tuh bekas gue," seloroh Lani cepat.
"Huuuuuuh, ambil tuh bekas Lani. Sekalian jangan lupa buat di daur ulang," timpal Zoya cepat.
Dewi menatap keduanya dengan tatapan berang, bisa-bisanya Lani masih tetap sombong, padahal di sini statusnya bukan lagi sebagai istri dari CEO mereka.
"Dan ya Mbak Dew, inget satu hal ya. Mas Azka itu nggak bakal mudah ngelupain gue, udah bertahun-tahun kami merajut cinta dan kasih, udah banyak kenangan yang kami lewati bersama. Belum lagi gue cantik, manis, aduhai nggak kayak Mbak yang kurus, kerempeng, kayak papan terakhir."
Zoya mengerjapkan matanya pelan saat mendengar ucapan Lani. "Papan terakhir apaan Lan?"
"Ya itu, papan terakhir saat mayat dikubur," jawab Lani santai.
Dewi membulatkan matanya mendengar jawaban dari Lani, bisa-bisanya Lani menyamakan dirinya dengan papan kuburan. Sedangkan Gio sudah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan mantan istri bosnya itu.
"Lo itu ya Lan, udah bukan istri bos juga masih berani ngelawan yang lebih tua," ujar Dewi lagi dengan wajah yang memerah.
"Ups akhirnya Mbak ngaku tua juga," jawab Lani lalu terkekeh pelan saat melihat Dewi melewati dirinya dengan perasaan kesal.
"Eh Mbak mau ke mana? Mau nyamperin bekas saya ya? Lipstiknya kurang merah Mbak,tapi nggak apa-apa deh. Oh ya semoga berhasil ya," pekik Lani kuat lalu kembali duduk di kursi kerjanya.
Tok tok tok
Ketiga orang yang ada di dalam ruangan itu langsung menoleh ke sumber suara. Saat menyadari siapa di sana Gio dan Zoya pun serentak berdiri dengan hormat.
Namun tidak dengan Lani, ia masih duduk dengan santai seraya melirik orang tersebut.
"Ada apa Pak Bos?" tanya Lani santai.
"Ekhem, ada yang bisa kami bantu Pak?" tanya Gio mengkoreksi ucapan Lani.
Azka menghembuskan melihat sikap Lani lalu ia melirik ke arah Gio dan menggeleng pelan. "Kalian berdua bisa lanjutkan kerjaan kalian lagi," ujarnya dingin.
"Dan kamu," tunjuknya kepada Lani.
"Ikut saya ke ruangan saya sekarang," lanjutnya lalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan segera.
Lani menghembuskan nafasnya kasar lalu menatap Gio dan juga Zoya dengan tatapan malasnya. "Do'ain gue ya guys semoga bisa bikin dia mau rujuk sama gue, atau minimal khilaf lah dianya, eh atau mungkin dia sadar kalau gue nggak salah."
"Aamiin," jawab Gio dan Zoya serentak.
"Fighting Lani," bisik Zoya pelan.
Lani mengangguk pelan lalu melangkahkan kakinya meninggalkan ruangannya menuju ruangan Azka.
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum ya ahli kubur, Manusia penuh dosa di sini mau masuk," pekik Lani dari luar ruangan kerja Azka dengan suara yang keras.
"Masuk."
Senyum Lani mengembang seketika saat mendengar suara dingin di sana menyuruhnya masuk.
"Ada apa Tuan? Kenapa Tuan memanggil Hamba ke sini?" tanya Lani serta mengubah gaya bahasanya lagi.
Azka menghembuskan nafasnya kasar lalu melirik ke arah kursi menyuruh Lani untuk duduk. "Duduk," perintahnya.
Lani mengernyitkan keningnya pelan mendengar nada perintah Azka padanya. "Maaf Tuan, nanti kursi mahal Tuan kotor," jawabnya malas.
"Aku bilang duduk Lani Ashila," ujar Azka penuh penekanan.
"Tapi kan saya penuh dosa, nanti...."
"Lani, mau duduk sendiri atau saya yang paksa kamu buat duduk?" potong Azka cepat.
"Aw, suka deh kalau dipaksa gini. Paksa aku dong, Pak," ujar Lani dengan suata manjanya.
"Lani, jangan bercanda."
Lani menghembuskan nafasnya kasar lalu mendorong kursi itu pelan dan duduk di lantai dengan santainya. Mata Azka membulat sempurna melihat apa yang Lani lakukan sekarang.
"Apa yang kamu lakukan hah?" Pekiknya kuat.
Lani mengabaikan ucapan Azka dan tetap diam dengan posisi duduknya. "Aku hanya melakukan apa yang Mas katakan. Bukan kah Mas sendiri yang bilang haram bagiku untuk menyentuh apapun milik Mas. Jadi aku hanya melakukan itu, tidak lebih," sahutnya dengan santai.
Azka menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. "Lan, please jangan kayak gini. Aku rasa kamu sendiri tahu bagaimana aku kalau lagi marah kan? Aku bisa mengatakan apapun dalam keadaan marah Lan."
"Dan aku akan melakukan apapun yang orang katakan, termasuk orang itu dalam keadaan marah. Kita tidak bisa menghalalkan sesuatu yang haram begitu saja," jawab Lani dingin.
Azka berjalan melangkahkan kakinya mendekati Lani lalu berjongkok dan mengulurkan tangannya kepada Lani namun tak dihiraukan Lani.
"Lan, kenapa kamu malah membuat aku seperti bersalah hah? Kamu bersikap seolah kamu adalah korban di sini, padahal kamu sendiri yang memilih untuk selingkuh dariku," ujar Azka pelan.
Lani mendongakkan kepalanya dan tersenyum sinis. "Ya karena memang kamu yang salah. Aku memang korbannya, kalau memanh aku benar sepingkuh seperti yang kamu katakan, maka pasti aku akan pergi bersama selingkuhanku itu, tidak perlu di sini lagi."
"Apa lagi kalau harus lihat muka tukang catering gratis mas itu," lanjutnya lagi.
"Namanya Rima, bukan tukang Catering," koreksi Azka.
Lani berdecak pelan. "Bodo amat mau apa namanya, aku tidak peduli. Cepat katakan kenapa Mas manggil aku ke sini?"
"Masalah anak itu...."
"Ups kita sudah sepakat, anak ini akan menjadi anakku saja. Mas tidak perlu repot-repot memikirkan nya, untuk biaya melahirkan, merawatnya bahkan membesarkannya biar jadi urusanku saja. Kasihan Mas kalau harus memikirkan anak dari laki-laki hidung belang ini," jawab Lani cepat seraya mengusap perutnya pelan.
'Sampai aku mendapatkan bukti itu Mas,' lanjutnya dalam hati.
'Sampai aku bisa membuktikan kalau anak ini memanglah anakmu, setidaknya sekarang aku tidak boleh terlalu berharap padamu.'
Azka menatap sendu mantan istrinya itu.
'Entah mengapa aku masih merasa kalau kamu memang tidak mengkhianatiku Lan, tapi aku sudah melihatnya sendiri bagaimana keadaanmu waktu itu.'
Lani memalingkan wajahnya ke arah lain, ia sangat benci tatapan Azka padanya saat ini. Dengan tatapan Azka yang seperti ini membuatnya merasa terlihat sangat menyedihkan.
"Tidak perlu menatapku seperti ini. Apapun yang Mas pikirkan tidak akan merubah segalanya, aku adalah perempuan murahan yang tidur dengan banyak Pria," ujar Lani cepat.
"Selamat siang Ma-as."
Azka dan Lani serentak menoleh ke sumber suara saat mendengar suara seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan Azka.
"Kalian ngapain?" tanya gadis itu pelan.
Namanya Rima, usianya baru saja menginjak usia dua puluh tahun. Masih kuliah semester enam fakultas kedokteran.
"Lagi nostalgia kenangan indah," jawab Lani dengan santainya.
Rima tersenyum tipis lalu ikut duduk di sana. "Ikut dong, kayaknya seru deh dengerin kisah cinta kalian," ujarnya dengan semangat.
Azka tersenyum sinis mendengar ucapan gadis muda di depannya ini.
"Sayang sekali ceritanya udah kelar, kalau mau lanjutin silahkan lanjutin aja," jawab Lani malas lalu berdiri dan meninggalkan ruangan itu dengan cepat. Namun sepertinya gadis di depannya ini polos juga, pasti bisa diajak kerja sama dengannya.
Rima mengerjapkan matanya pelan melihat kepergian Lani dengan bingung. "Maksudnya apa ya Mas? Mbak Lani masih sama ternyata ya, masih suka ngelawak," gumamnya seraya terkekeh pelan.
Azka menghembuskan nafasnya kasar lalu berdiri dan kembali duduk di kursinya. "Kamu bawa apa nih?" tanya Azka to the point.
Sudah lebih dari lima bulan Rima mengantarkannya makan siang seperti ini, awalnya karena orang tua Rima merasa kasihan melihat Azka yang malas makan karena mengetahui istrinya selingkuh dan ternyata bisa berlanjut sampai sekarang.
Rima ikut berdiri dan duduk di kursi yang tadi sempat Lani tolak. "Ini bawa ikan bakar, sayur asem sama sambal," ujarnya seraya mengeluarkan isi tas yang tadi ia bawa.
"Waaah enak nih," gumam Azka pelan sambil tersenyum tipis.
Rima mengangguk pelan. "Enak dong, kan buatan Mamanya Rima."
Azka mengabaikan ucapan Rima lalu mengambil makanan yang sudah Rima siapkan untuknya lalu memakannya dengan lahap.
Rima tersenyum senang melihat Azka yang lahap menyantap makanan yang ia bawa. "Oh ya Mas, kandungan Mbak Lani udah jalan berapa bulan ya?" tanyanya pelan.
Azka mengedikkan bahunya pelan. "Nggak tahu, mungkin tujuh bulan," jawabnya ogah-ogahan.
"Lah kok nggak tahu sih Mas, kan itu anak Mas juga."
"Itu bukan anak Mas, tapi anak p****************g itu," jawab Azka cepat.
"Dari mana Mas tahu kalau itu anaknya Pria itu, bisa saja kan kalau itu memang anak Mas."
Kunyahan Azka terhenti saat mendengar ucapan Rima, ia menatap Rima dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sulit untuk Mas percaya Rim,kamu tidak mengerti apa yang Mas rasakan. tolong kamu pahami itu ya," ujarnya pelan.
Rima menghembuskan nafasnya kasar lalu mengangguk pelan. "Iya Mas, maafin aku ya."
Azka tersenyum tipis dan mengangguk pelan, ia tak ingin melampiaskan masalahnya pada orang lain apalagi pada gadis sebaik dan sepolos Rima.
********
"Jadi gimana Lan? Kenapa Bos manggil lo ke ruangannya?" tanya Gio dan Zoya mulai kepo dengan Kabar yang seharusnya sudah Lani berikan kepada mereka.
Lani memutar bola matanya malah lalu duduk di kursi kerjanya dengan santai. "Kayaknya sih mau ngajak perang," sahutnya enteng.
"Masa sih cuma itu? Nggak ada lagi yang lain gitu?" tanya Zoya pelan.
Lani melirik ke arah Zoya dan menatapnya bingung. "Yang lain gimana?"
"Ya gitu, aroma-aroma penyesalan misalnya."
Lani terkekeh pelan mendengar ucapan Zoya lalu melempar pulpennya pelan sehingga mengenai kepala Zoya. "Aromanya akan menyeruak saat gue bisa membuktikan kalau gue nggak salah," jawab Lani seraya mengepalkan kedua tangannya