"Masa sih Pak Bos nanya gitu?" tanya Gio merasa tak percaya dengan yang Lani katakan.
Lani mengangguk pelan, berusaha meyakinkan Gio."Iya Gio."
"Pak Bos, nanyain masalah calon bayi lo?" tanya Gio lagi untuk memastikan kebenaran cerita Lani yang ke sekian kalinya.
Lani menatap Gio dengan tatapan gemasnya lalu mendelikkan matanya malas. "Sudahlah, kalau nggak percaya juga nggak apa-apa kok," sahut Lani mulai kesal.
Zoya yang sedari tadi memilih diam kini mendongakkan kepalanya menatap Lani dan Gio dengan wajah seriusnya. "Kalau yang lo katakan itu memang benar Lan, berarti ini sih fiks Lan, si Bos itu sebenarnya masih berharap kalau tuduhannya itu salah," celetuk Zoya cepat.
Lani menatap Zoya dengan senyum anehnya, ia masih merasa tak yakin kalau yang Zoya katakan itu benar. Pasalnya waktu itu Azka sangat ngotot tidak ingin mengakui kalau anak yang ada di dalam kandungannya sebagai anaknya, melainkan anak dari pria lain.
"Gue rasa itu nggak mungkin deh Zo," gumam Lani pelan.
"Lah, kenapa nggak mungkin Lan?" tanya Zoya cepat.
"Iya kenapa nggak mungkin?" tanya Gio menimpali pertanyaan Zoya.
Lani menunduk seraya menatap secangkir coklat panas miliknya, dengan perlahan tangannya mulai meraih sendok yang ada di sana lalu mengaduknya pelan.
"Ya nggak mungkin aja gitu, gue masih ingat betul bagaimana sikapnya ke gue waktu itu. Bahkan pas Sidang dia juga masih sempat-sempatnya mencaci sama menghina gue dengan sebutan wanita murahan."
"Iya juga ya," sahut Gio cepat.
Zoya menoleh ke arah Gio dan menatapnya tajam karena sembarang menyahuti ucapan Lani.
"Tapi kan Lan, bisa aja kan itu adalah bentuk kekecewaan dia karena merasa lo udah mengkhianati dia," tuturnya.
Lani mengangguk pelan. "Bisa jadi sih, tapi masa sih sampai segitunya?"
"Ya namanya juga orang lagi kecewa. Coba lo tanya nih sama Gio, dia pas tahu pacarnya selingkuh gimana perasaannya?"
Gio tersentak pelan saat mendengar namanya di sebut, sedangkan Lani dan Zoya sudah menatap Gio dengan wajah serius mereka.
"Jadi gimana Gi? waktu pacar lo ketahun selingkuh bagaimana perasaan lo dan apa yang lo lakukan?" rundung Lani dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
Gio tersenyum canggung melihat keduanya lalu menghirup kopinya dengan cepat. "Masalahnya gini guys, gue nggak pernah diselingkuhin, tapi gue yang selingkuh makanya nggak tahu rasanya gimana hehehe."
Lani menghembuskan nafasnya kasar saat mendengar jawaban Gio yang teramat mengesalkan baginya, bisa-bisanya Zoya menyuruh dirinya untuk bertanya pada manusia model seperti Gio dan lebih parahnya lagi dengan bodohnya dirinya mengikuti ucapan Zoya dengan mengajukan pertanyaan sejenis ini kepada Gio yang ia sendiri tahu kalau laki-laki yang lebih tua darinya dua tahun ini adalah seorang playboy.
"Yaa masa sih nggak ada cewek yang selingkuh dari lo Gi? Nggak ada gitu karma yang dateng buat lo yang suka mainin cewek?" tanya Zoya seraya mendesak.
"Loh kok lo malah doain gue kena karma sih Zo," protes Gio.
Lani hanya bisa menghela nafasnya kasar menonton perdebatan yang sangat tidak berfaedah di hadapannya saat ini.
"Lagian hobi kok selingkuh, orang kalau cari hobi itu yang bermanfaat dikit kek, yang berguna bagi nusa bangsa dan agama gitu."
"Ya gue itu juga bermanfaat kali Zo, bisa meningkatkan...."
"Stoop, stop it," ujar Lani cepat seraya menatap Gio dan Zoya dengan wajah sebalnya.
"Kalian berdua mau bahas masalah masalah gue sih atau masalah kalian berdua sih? Katanya mau bantu gue, tapi ini kenapa malah bahas masalah yang nggak penting gini, kalau nggak mau bantu gue mending nggak usah deh, gue bisa sendiri," ujar Lani semakin kesal.
Zoya mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Lani, ia melirik Gio dengan mata tajamnya seakan menyiratkan kalau ini semua karena Gio namun pria itu malah menatapnya dengan tatapan yang sama.
"Eh eh eh kok malah main tatap-tatapan segala," celetuk Lani cepat seraya menatap kedua sahabatnya ini tajam.
"Kalian sedang gosipin gue ya?" tanya Lani lagi.
"Enggak Lan, sejak kapan sih tatapan-tatapan bisa menghasilkan sebuah gosip? Biasanya kalau nggak tumbuh rasa sayang ya tumbuh benih cinta," jawab Gio dengan santainya.
Zoya menatap Gio dengan tatapan jijiknya, mendengar ucapan Gio kembali membuatnya tersadar kalau selain suka mainin perempuan ternyata Gio juga narsis dan juga bucin.
"Nggak ada ya, nggak gitu konsepnya. Nggak ada gosip, sayang ataupun cinta, yang ada hanyalah rasa kesal dan ingin nyekek," sahut Zoya cepat seraya mengulurkan kedua tangannya seolah ingin mencekek Gio.
"Stop Zo, gue bilang tadi kan stop," ujar Lani yang mulai lelah, dengan usia kandungan yang semakin tua membuatnya semakin malas saat ini, apalagi kalau untuk berdebat
"Iya Lan, maaf," gumam Zoya pelan.
"Ya udah sekarang rencana kalian gimana? Gimana caranya agar kita bisa meyakinkan Mas Azka kalau gue nggak bersalah."
"Ya cari bukti lah, apa lagi emangnya?" celetuk Gio santai.
Lani menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya dengan kasar,ia kembali menatap Gio dengan senyum yang menurut Gio tidaklah manis, melainkan sangat menyeramkan.
"Kenapa lo natap gue gitu? Gue yakin lo masih cinta sama Pak Bos Lan, lo belum suka sama gue kan?" tanya Gio gelagapan.
Lani semakin menatap pria itu dengan tajam dan kesal. "Nggak usah bercanda deh Gi, lo itu nggak ada sama sekali dalam kriteria cowok idaman gue."
"Iya iya, gue tahu kriteria lo itu Bos kayak Pak Azka."
"Bukan Bosnya yang jadi kriteria gue, tapi hatinya," sahut Lani ketus.
"Lah, ngambek dia."
Zoya menghembuskan nafasnya kasar lalu mencubit tangan Gio kuat.
"Awh awh awh sakit Zo, kenapa sih kalian para cewek suka banget melakukan penganiayaan. Trus yang disalahin para cowok, kalau ada kasus KDRT pasti yang salahnya cowok,tapi pas kami para Cowok dianiaya tetap salahnya kami juga "
"Ya karena itu memang sudah jadi kodratnya kalian sebagai Cowok," balas Lani dan Zoya serentak.
"Kalian itu memang selalu salah," ujar Lani lagi.
"Iya, habis itu kalau udah ketahuan salah masih juga nggak mau ngaku," timpal Zoya cepat.
Gio menghembuskan nafasnya kasar, mengahadapi dua perempuan dalan sekaligus bukanlah keahliannya. Menghadapi satu cewek saja ia kalah, apalagi dengan dua cewek sekaligus seperti ini.
"Ok oke oke, kodrat laki-laki memang selalu salah," ucapnya pasrah.
Lani dan Zoya tersenyum puas mendengar pengakuan dari Gio.
"Nah gitu dong, coba dari tadi kek ngakunya."
"Jadi gimana nih kelanjutannya? Kita mau cari dari mana buktinya?" tanya Lani mengembalikan topik pembicaraan mereka pada topik utama mereka di sini.
***********
"Ka...."
Azka menoleh ke sumber suara dan menatap sosok yang sudah melahirkannya yang sedang berdiri di sana dengan anggunnya.
"Mama kapan datang?" tanyanya lirih.
Wanita paruh baya itu tersenyum tipis lalu duduk di samping Azka dan menepuk bahunya pelan. "Sudah dari tadi, Mama ke sini ingin melihat keadaanmu. Tapi ternyata rumah kamu tak kalah kacaunya dengan dirimu Nak, jadi Mama putuskan untuk merapikannya."
Azka menatap wanita itu dengan sendu. "Harusnya Mama nggak perlu melakukannya, biar Azka saja, Azka bisa....."
"Sampai kapan? Sampai seluruh pecahan piring itu penuh dengan bekas darah?" potong wanita itu cepat sebelum Azka sempat menyelesaikan ucapannya.
Azka kembali menatap sang ibu lalu masuk ke dalam pelukannya dan menangis di sana seperti seorang balita yang menangis karena kalah kalah sebuah permainan.
"Maafin Azka, Ma."