Sudah lebih dari setengah jam dirinya menatap foto yang sama.
"Nyonya mau makan apa untuk makan malam?" tanya seorang asisten rumah tangga pada Lani.
"Tidak perlu masak Bi, saya ada janji sama teman-teman saya," jawab wanita itu tanpa menoleh sedikitpun pada wanita paruh baya di belakangnya itu.
Sang asisten rumah tangga hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar melihat sang majikan yang sering melamun sejak berpisah dari suaminya itu.
"Nyonya ada perlu apa lagi nggak?"
Lani menoleh seraya menyunggingkan senyum tipisnya ke arah Asri.
"Tidak ada, Bibi bisa pulang sekarang."
Asisten rumah tangga itu langsung menggeleng keras menolak ucapan sang majikan. "Tidak Nyonya, saya akan pulang sebentar lagi. Lagian kasihan Nyonya Lani sendiri di...."
"Saya tidak apa-apa Bi, saya sudah terbiasa sendiri kok. jadi Bibi nggak usah khawatir, saya juga tidak akan melakukan hal bodoh yang bisa menyakiti bayi saya," jawab Lani cepat sebelum wanita paruh baya itu sempat menyelesaikan ucapannya.
Wanita paruh baya itu kembali menghembuskan nafasnya kasar lalu mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu saya pamit pulang dulu Nyonya. Kalau ada perlu apa-apa langsung hubungi saya ya."
Lani tersenyum tipis lalu mengangguk pelan. "Iya Bi, pulanglah dan istirahat yang cukup."
Wanita itu mengangguk singkat lalu pergi dari sana meninggalkan Lani seorang diri di dalam apartment itu.
Lani menarik nafasnya panjang lalu menghembuskan nya secara perlahan. Ia kembali menatap foto itu dan tersenyum kecut. "Memangnya apa aku terlihat sangat menyedihkan ya? Kenapa semua orang menganggap aku lemah? Padahal aku kuat kok, buktinya aku masih bisa berdiri tanpa bantuan siapapun sampai saat ini."
"Come on lah, aku besar tanpa sosok seorang Ibu dan kehilangan Ayah saat beranjak dewasa. Aku bahkan bisa membiayai kehidupanku sendiri tanpa bantuan siapapun dari zaman SMA, aku juga cukup cerdas untuk menjalani segala kesulitan hidup, buktinya aku juga bisa kuliah dengan beasiswa karena kecerdasan ku itu," gumamnya lagi.
Nafasnya tercekat saat air mata yang ia tahan hendak jatuh membasahi pipinya.
"Loh kok kamu jatuh sih?" gumamnya lagi seraya mengusap air matanya secara perlahan.
"Kamu nggak boleh jatuh, kamu itu berharga. Aku juga tahu kalau ini memang hormon ibu hamil, tapi please lah ini terlalu lebay," lanjutnya lagi sambil terus menghapus air matanya yang masih terus saja menetes membasahi pipinya.
Ting Tong
"Masuk aja Zo," pekiknya pelan lalu berjalan pelan menuju pintu apartment nya itu.
"Assalamu'alaikum ya ahli kubur," panggil Zoya seraya membuka pintu dan menyunggingkan senyum manisnya.
"Wa'alaikumussalam ya ahli neraka," jawab Lani ketus.
Zoya mencebikkan bibirnya pelan mendengar jawaban Lani, bisa-bisanya Lani menyebutnya sebagai ahli neraka.
"Kayak lo ahli surga aja Lan, nih gue udah angkut semua barang gue. Demi lo nih, gue harus meninggalkan kosan tercinta gue."
Lani mengangguk pelan seraya menatap barang-barang gadis itu yang diangkat oleh Gio. Dirinya memang meminta Zoya untuk pindah ke apartment nya untuk menemani dirinya. Semua ini harus ia lakukan, mengingat sebentar lagi ia mungkin akan melahirkan.
"Semangat Om Gio," ujarnya pelan menyemangati Gio dengan suara seperti anak kecil.
Gio mendengus pelan seraya menatap Lani dan Zoya dengan tatapan tajam. "Dosa apa gue sampai harus punya teman kayak lo berdua ini," gumam pemuda itu pelan.
"Jadi lo nggak ikhlas punya teman kayak kita berdua Gi?" tanya Zoya seraya berkacak pinggang.
Gio menoleh ke arah Zoya dan menaikkan sebelah alisnya. "Kalau udah tahu kenapa nanya lagi?"
Zoya memelototkan matanya tak percaya dengan yang Gio katakan. Sedangkan Lani hanya terkekeh pelan melihat pertengkaran antara kedua sahabatnya itu.
"Udah nggak usah berantem, gue panggil penghulu sama dua saksi baru tahu rasa lo," ujarnya santai.
"Ogah gue, mending lo bawa keranda mayat aja deh Lan. Biar si Gio masuk keranda mayatnya, trus gue bakal nelpon tukang gali kuburnya supaya cepat-cepat menyiapkan semuanya."
"Lo nyumpahin gue mati Zo?" tanya Gio tak terima dengan ucapan Zoya.
Zoya menoleh ke arah Gio lalu tersenyum tanpa dosa. "Kenapa? lo takut nggak mampu bayar tukang gali kuburnya ya? Lo tenang aja deh, gue bayarin semuanya kalau perlu gue bakal bayarin deh dana buat tahlilan sampai tujuh hari lo."
"Udah lah Zo, kasihan tuh Gio dari tadi udah bantu lo ngangkat barang, masa mau lo ajak berantem juga," ujar Lani mencoba menengahi perdebatan kedua insan di depannya yang tak pernah habisnya.
Gio menghembuskan nafasnya lega saat mendengar Lani yang membelanya kali ini. "Tuh dengerin Zo, bukannya terima kasih juga lo."
Zoya mencebikkan bibirnya pelan menatap Gio dengan tatapan kesalnya. "Iya iya, ya sudah sekarang barang-barangnya langsung simpan di kamar aja."
"Kamar yang mana?"
"Kamar yang itu," jawab Lani seraya menunjuk pintu berwarna Putih di sebelah kamarnya.
Gio mengangguk pelan lalu membawa beberapa barang Zoya ke dalam kamar itu dan meletakkannya di sana.
"Akhirnya kelar juga," gumamnya pelan.
"Ya udah mending lo pulang dulu deh Gi, ini udah sore. Tapi nanti jangan lupa buat jemput kita berdua ya," ujar Lani seraya menyunggingkan senyum manisnya.
Gio menoleh ke arah Lani dan menatapnya dengan tatapan tak percayanya. "Lo ngusir gue Lan?"
"Ya bukannya ngusir Gi, gue tahu lo juga mau istirahat kan? Makanya gue suruh lo pulang, biar lo bisa istirahat di rumah."
"Kan gue bisa istirahat di sini Lan."
Lani menggeleng cepat. "Nggak ada, Gue sama Zoya juga mau istirahat. Lagian apa kata tetangga gue kalau lihat laki-laki lama di rumah gue."
"Gue lihat tetangga-tetangga di sini nggak ada kok, nggak peduli sama kehidupan orang lain juga."
Gio menghela nafasnya pasrah lalu berjalan keluar dari kamar itu. Namun sebelum itu ia berhenti tepat di depan Lani dan menatap Lani dengan seksama.
"Kenapa lo lihatin gue gitu?" tanya Lani heran.
Zoya mengangguk setuju dengan pertanyaan Lani. "Iya, kenapa lo lihatin Lani kayak gitu? Lo mau macem-macemin Lani ya?"
Gio menghembuskan nafasnya kasar lalu maju selangkah lagi lebih dekat dengan Lani dan mengusap pipi wanita itu pelan. "Lo habis nangis lagi?"
Lani mencebikkan bibirnya pelan lalu mengangguk pelan. "Sorry," gumamnya pelan.
Gio menghembuskan nafasnya kasar lalu mengusap bekas air mata yang sudah mengering itu secara perlahan.
"Kenapa lo minta maaf? Lo nggak salah apa-apa Lan, menangis itu bukanlah kesalahan."
Pemuda itu tersenyum tipis lalu menarik sudut bibir wanita itu agar melengkung ke atas. "Tapi walau menangis itu bukan sebuah kesalahan, itu bukanlah sebuah kebenaran. Jadi akan lebih baik kalau wajah cantik itu tersenyum seperti ini, bukan menangis." gumamnya pelan.
Lani tersenyum kecut lalu menyenderkan kepalanya pada bahu pemuda itu menumpahkan segala rasa sedihnya di sana karena hanya bahu itulah yang kuat menahan beban hidupnya saat ini.
Gio dan Zoya memang sahabat terbaik untuknya, jika Zoya adalah hati dan pikiran yang selalu siap menampung segala keluh kesahnya, maka Gio adalah bahu yang selalu kuat menahan beban hidupnya agar tak berantakan.
Gio dan Zoya adalah keluarga yang sesungguhnya baginya setelah ia kehilangan kedua orang tuanya dan sayangnya ia baru bertemu dua orang itu sejak ia bekerja di perusahaan milik mantan suaminya itu.