Lani tersenyum tipis mengusap perutnya seraya menatap pantulan dirinya di dalam cerminnya. “Hai Sayang, apa kabarnya pagi ini?”
“Mama harap kamu baik-baik saja ya, oh ya siap untuk menghadapi kerasnya dunia hari ini?” gumamnya pelan.
Ia menghela nafasnya kasar lalu kembali menutup perutnya itu dan memoleskan sedikit bedak di wajahnya, karena memang semenjak ia mengandung ia jadi malas berdandan seperti kebanyakan wanita.
Tak lupa ia mengaplikasikan sedikit lipstick di sana agar tidak terlihat terlalu pucat.
Tok tok tok
“Lan, udah siap belum?” pekik Zoya dari luar kamarnya.
“Iya sebentar dulu Zo,” sahutnya lalu kembali merapikan ikatan rambutnya agar terlihat rapi.
“Ayo, tapi lo yang nyetir ya.”
Zoya menatap Lani dengan tatapan malasnya sambil menatap kunci mobil yang ada di tangan Lani, lalu dengan berat hati ia mengambilnya. “Baiklah, ini hanya demi ponakan gue ya Lan, kalau enggak mana mungkin gue mau jadi sopir lo.”
Lani tersenyum tipis lalu memeluk tubuh Zoya erat. “Terima kasih Zoya sayang, lo memang sahabat terbaik yang pernah gue punya.”
*********
Di sisi lain Azka mengernyitkan keningnya bingung saat melihat ibunya yang sudah berberes di apartementnya sepagi ini. “Kapan Mama sampai sini?”
Wanita itu tersentak pelan mendengar suara Azka yang sudah di belakangnya, ia menoleh dan tersenyum manis kepada putra sulungnya itu. “Baru saja, oh ya Mama ada bawa makanan untuk kamu loh Nak. Untuk Sarapan dan makan siangnya juga.”
“Kenapa Mama repot-repot gini? Lagian kalau siang biasanya ada Rima yang membawakannya untuk Azka Ma.”
Wanita itu menggeleng cepat. “Mulai sekarang stop makan makanan luar, kamu hanya boleh makan makanan yang Mama masak. Tidak boleh makan makanan orang lain walau Rima sekalipun,” jawab wanita itu cepat.
“Tapi kenapa Ma? Rima kan anak teman Mama sendiri, masa sih Mama nggak percaya sama dia?”
Tyas menghela nafasnya pelan lalu melangkahkan kakinya mendekati Azka dan menepuk bahunya pelan. “Dia bukan siapa-siapa bagi kamu, jadi tidak baik jika terus-terusan merepotkannya. Apa kata orang nantinya jika melihatnya setiap hari datang ke kantor kamu, lagian kamu baru saja berpisah dari Lani, jangan sampai orang beranggapan kamulah yang sudah mengkhianati pernikahan kalian.”
Azka menatap dalam wajah ibunya itu lalu memegang bahunya pelan. “Ma…”
“Rima masih terlalu muda untuk terjebak dalam kisah kalian Ka, jangan sampai nama baik dan masa depannya hancur karena terlibat dalam masalah kamu dan Lani,” sahut Tyas cepat sebelum Azka sempat menyelesaikan ucapannya.
“Ma, bisa kan tidak membahas masalah Lani sekarang?”
Tyas menghela nafasnya kasar, seperti biasanya Azka akan menghindar jika ia membahas masalah ini. “Pikirkan baik-baik Ka, selidiki semuanya selagi Lani masih ada di hadapanmu. Jangan sampai kamu menyesal nantinya kalau memang yang Lani katakan itu benar adanya.”
Azka menggeleng cepat. “Tidak Ma, aku tidak akan menyesal.”
Ting tong
Seketika Tyas langsung menoleh ke arah pintu apartement Azka lalu menoleh ke arah jam yang terpampang di dinding ruangan itu yang baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
“Siapa yang datang bertamu sepagi ini Ka?”
Azka menggeleng pelan tanda tak tahu. Tyas menghela nafasnya kasar lalu melangkahkan kakinya mendekati pintu dan membukanya.
Ceklek
“Selamat pagi Mas, eh Tante,” ujar seorang gadis dengan senyum manisnya ke arah Tyas.
“Rima?”
“Iya Tante,” jawab Rima dengan canggung.
“Apa yang kamu lakukan di apartment anak Tante di waktu sepagi ini?” tanya Tyas pelan dengan suara lembutnya.
“Eh itu Tante, Rima ke sini buat nganterin sarapan buat Mas Azka,” jawab Rima seraya menunjukkan paper bag yang ia bawa.
Tyas melirik ke arah paper bag itu lalu menghela nafasnya pelan. “Tapi Tante sudah membawakan makanan untuk Azka Nak.”
Seketika senyuman gadis itu pudar mendengar jawaban Tyas. Ia menunduk merasa sedih karena hal ini. “Tapi Tante, Rima udah capek-capek loh bikin ini.”
“Iya Tante Tahu Nak, Tante juga sudah masak capek-capek buat Azka. Ya udah gini aja deh kita makan bersama saja pagi ini gimana?” tanya Tyas cepat sehingga membuat Rima terdiam seribu bahasa, sebenarnya niatnya datang ke apaertement Azka yang sesungguhnya hanya ingin memastikan kalau Azka sarapan dengan baik.
Rima menghela nafasnya pelan lalu mengangguk pelan. “Ya sudah kalau begitu Tante, kita makan bersama saja. Sayang kan kalau dibuang.”
Tyas mengangguk singkat, seraya menyunggingkan senyum tipisnynya. “Baiklah, ayo masuk,” jawabnya sambil memberikan jalan untuk Rima masuk.
Rima mengembangkan senyumannya lalu masuk ke dalam apartement itu, matanya langsung menatap sekeliling ruangan itu dan netranya terpaku pada foto-foto yang terpajang di sepanjang ruangan itu.
Foto kebersamaan Azka dan Lani masih terpajang rapi di setiap sudut ruangan, hubungan keduanya sudah cukup lama kelar namun kenangan mereka nampaknya belum bisa Azka lupakan sampai sekarang.
“Ayo Ri, kamu siapkan saja makanan kamu di meja makan. Nanti Mas cicipi,” ujar Azka kepada Rima membuat senyum gadis itu kembali mengembang sempurna.
Tyas menatap Rima dan Azka dengan tatapan yang sulit diartikan, ia khawatir kalau keduanya akan membuat hubungan rumit sehingga keinginannya agar Azka dan Lani kembali akan sulit terjadi. “Oh ya Nak Rima, lain kali kamu nggak perlu lagi nganterin Azka sarapan ya. Tante yang akan membawakannya setiap pagi.”
“Jaga batasan kalian berdua, jangan sampai orang mengira kalian yang bukan-bukan.”
“Jaga harga diri, apa lagi kamu dari keluarga kaya kan. pasti sangat mudah tersorot, jangan sampai kedekatan kalian mempermalukan kedua keluarga” lanjutnya lagi.
“Iya Tante, maaf kalau sudah membuat Tante tidak senang,” gumam Rima pelan.
“Bukannya tidak senang Nak, Tante senang karena ada orang yang peduli pada Azka, tapi ini tidak pantas dipandang orang apalagi Azka baru saja berpisah dari Lani.”
“Iya Tante, sekali lagi Rima minta maaf,” sahut Rima seraya kembali menundukkan kepalanya .
Tyas menghela nafasnya kasar lalu mengangguk pelan dan tersenyum tipis. “Ya sudah lupakan sejenak masalah ini, ayo kita sarapan bersama. Tante juga kepengen nyicip masakan kamu.”
Rima kembali mendongakkan kepalanya lalu tersenyum senang mendengar ucapan Tyas. “Serius Tante?”
Tyas tersenyum simpul lalu mengangguk pelan. “Iya, Ayo cepat kasih tante sedikit.” Tyas berujar seraya menyodorkan piringnya kepada Rima.
Rima mengangguk cepat dan mengambil piring itu lalu meletakkan beberapa telur sambal balado buatannya. “Ini Tante.”
Tyas tersenyum senang lalu mencicipi makanan yang Rima bawakan. “Hem, enak ternyata.”
********
Di sisi lain Lani berdiri di depan pintu apartment Azka hanya bisa terdiam mendengar suara yang ada di dalam sana. Kotak makanan yang ia bawa hanya bisa ia tatap kali ini, tak jadi ia letakkan di depan pintu tersebut.
Zoya menghela nafasnya pelan, ia merasa iba melihat Lani seperti ini. “Sudahlah Lan, mending kita langsung berangkat kerja saja. Pak Bos sudah kenyang, makan telor balado buatannya Rima.”
Lani tersenyum kecut lalu mengangguk pelan, dengan berat hati ia berbalik meninggalkan tempat itu dengan langkah gontai.
‘Ternyata sekarang bukan hanya makan siang ya Mas, tapi sarapan juga,’ batinnya.